Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2011

BERBURU BABI DI KOTA

Cerpen. M. Yunis

Siang itu Mrs. Bib menyibukan diri di ladang gersang belakang rumah, dia tahu rumah kandangnya sudah terlalu rapuh, mungkin sebentar lagi roboh atau disapu angin kali.Barangkali! di ladang itu masih menjamur bebatuan, pasir, kerikil untuk mendirikan sebuah istana kokoh. Tidaklah, usaha itu tentu pula tidak hanya membutuhkan jangkauan tangannya yang dua pasang, ditambah dua pasang tangan Mr. Bib, plus tangan-tangan jahil. Tapi sekarang Mr. Bib sudah menjadi kenangan indah. Dulu ketika dia awal berjumpa dengan Mr. Bib, laki-laki itu berusaha mengujuknya, dia mengatasnamakan keterharuan yang amat sangat, namun kedangkalan wajahnya tidak menyimbolkan kedalaman apa-apa. Tidak begitu lama Mrs. Bib berpapaan dengan Mr. Bib, pesta kecil selaku mahluk kecil pun berlangsung.  Sakitnya, kisah tragis yang terjadi ketika itu, ulah si pemain sandiwara yang tersesat itu, tidak tau jalan pulang, memutar-mutar di sekeliling perpondokan para Bib Bib yang lain. Mr. dan Mrs. memang sudah mendengar laporan tentang itu, kata si pelapor terdapat seorang pemain sandiwara membawa bunga api yang panjang, tentunya itu dapat membantu memeriahkan pesta kecil malam itu. Namun, anak-anak ketakutan di saat melihat orang itu berjalan tegak dan tidak seperti Bib. Sebagai anggota masyarakat yang terpelajar, Mr. Dan Mrs. memberikan pengarahan kepada masayarakat.
‘’Jangan takut, pemain sandiwara memang berjalan tegak, tidak seperti kita. Kita juga bisa menjadi pemain sandiwara di karnaval esok’’
‘’Tetapi wajahnya dan kostum yang diapakainya Tuan Putri?’’, jawab Bib Wani.
‘’Apakah ada masalah dengan wajah atau kostumnya?’’
‘’Tidak juga, Cuma terliat lebih elegan dari kita’’, sela Mrs. Bib.
‘’Itu wajar saja, mereka para pemain, untuk menghibur kita’’, sambung Mr. Bib sambil berlalu.
Beselang waktu,  berselang letih Mr. Bib menghampiri pemain sandiwara yang terseasat itu dan mengundangnya duduk bersetumpu dengan kaki, Mrs. meminta pesandiwara memainkan kembang apinya, sementara para penikmat menari riuh gemulai sehingga suasana menjadi gemerlap ruap malam itu.
Kembang api itu dipancarkan pemain sandiwara, terbang lurus tepat memeriahi suasan dan mendarat di perut Mr. Bib, Mr. Bib terbahak-bahak dan terjatuh dan ikuti oleh gemercik tawa serta canda semua orang. Seorang anak menghampiri Mr. Bib yang terjatuh, diperhatikan perut Mr. Bib sudah basah, tubuhnya dingin kemudian anak tersebut lari menuju ibunya dan berkata.
’’Bu sampai kapan Mr. Bib tertidur, diakan mempelai laki-laki pada malam ini, kasihan Tuan Putri’’
‘’Dia terlalu banyak minum, tidak ingat bahwa pada hari ini dia sedang dinobatkan menjadi Tuan Muda, ya begitulah jika seseorang yang baru akan menginjak tampuk kuasa, kelakuannya sudah aneh’’
‘’Bu saya mau ke tempat Mr. Bib tidur, mana tahu saya mendapat wejangan dari Mr. Bib’’, anak itu menutup dan berlalu dari ibunya.
‘’Iya, hati-hati sayang’’
Si anak mendatangi kembali Mr. Bib, ternyata tubuh Mr. Bib sudah tidak ada, namun jejak basahnya masih dapat dirasakan di tempat itu.
‘’Apa mungkin Mr. Bib bersama Tuan Putri? Tidak juga Tuan Putri masih menari girang bersama Mbah Lopo, lalu kemana Mr. Bib pergi? Si pemain sandiwara itu juga sudah tidak ada. Ah dasar laki-laki, baru saja bertemu merasa cocok pergi dan menjadi teman, tidak pernah mengingat sedang ada acara penobatan’’, anak itu berbicara sendiri dan kemudian berlari menemui Mrs. Bib, sebab dia tidak suka melihat pemain sandiwra itu berteman dengan Mr. Bib. Mr. Bib orang terpandang di dalam kelompok itu, tidak sepantasnya dan tidak sewajarnya dia berteman terlalu bebas, lalu bagaimana nasib Mrs. Bib, jika kerjaannya suaminya selalu berteman dengan siapa pun. Ya, adat kebiasaan di kelompok itu agak kaku dan tradisional, seorang calon pemimpin harus dikekang apa lagi di saat pernikahan dengan orang terpandang seperti Mrs. Bib, jika diperhatikan Mrs. Bib juga masih keturunan bangsawan yang jarang keluar rumah, dia sengaja dipelihara oleh orang tuanya Mbah Lopo, dia satu-satunya pewaris yang akan melanjutkan Kerajaan Hegemoni waktu itu, siapa lagi? Sebab kelompok itu Ras putih yang hampir punah oleh keganasan alam. Teknologinya juga belum semaju di kota besar, tetapi cara berpikirnya sudah mumpuni.
Anak kecil itu kemudian mendatangi Mbah Lopo dan mengadukan semua keteledoran Mr. Bib, sebagai sesepuh waktu itu Mbah Lopo marah dan mengamuk hingga menghancurkan dinding bambu pesta.
‘’Kurang ajar, dia sudah melecehkan aku dan juga pemain sandiwara itu, awas! aku hancurkan dia!. Anaku ini sengaja kupingit hanya untuk orang baik-baik, bukan untuk dipermainkan seperti ini, Bib kecil! coba kau cari jejaknya di kampung sebelah, mana tau dia melirik perawan lain!’’, perintahnya kepada sang anak.
‘’Baik Mbah!’’, anak itu pun berlari anjing ke kampung sebelah.
Mbah Lopo yang sedang mengamuk sudah sedikit tenang, semua orang termenung dan bertanya keheranan. Tapi tiada seorang pun yang memberanikan diri untuk bertanya termasuk Mrs. Bib, dia paham jika Mbah itu bisa kalap di saat marah, emosinya sedang labil perlu ketenangan untuk beberapa hari.
‘’Bib! Tolongkau ambilkan rantai saktiku di kamar kandang, aku akan pergi dan ingin menyaksikan sendiri apa saja yang dikerjakan Mr. Bib di kampung sebelah!’’
Tanpa berkata Mrs. Bib berlari ke dalam kamar uttuk mengambilkan pesanan Mbah Lopo. Benda ajaib itu tidak terlalu besar tetapi membutuhkan beberapa orang untuk membawanya, Mbah Lopo memerintahkan Bib Gading mengangkatnya, Bib Gading salah satu penduduk yang hadir pada malam itu, dia bertubuh besar. Bib Gadingpun mengangkat dengan sebelah taring dan menyerahkannya kepada Mbah Lopo.
‘’Bib! Pucuk pimpinan aku serahkan sementara padamu, jaga rakyatmu supaya selalu tentram, aku mau pergi mungkin dalam waktu yang cukup lama’’, ucapan Mbah Lopo kepada anaknya.
Kata-kata itu dipahami oleh Si Lidah Terjulur, sambil menelan senyumnya yang lapar dia berkata dalam hati.
‘’Nah, ini ksemapatan bagiku untuk menaikan statusku, aku akan pergi lebih dahulu dari pada Mbah Lopo, aku punya banyak cara untuk mengabulkan keinginanku!’’.
Lidah Terjulur memang sangat dibenci oleh masayarakat ketika itu, berhubung ada pesta dia diperbolehkan hadir oleh Mbah Lopo. Namun, lakahnya selalu diperhatikan oleh Mbah. Untuk mengantisipasi kekacauan, para penduduk tidak boleh berpergian sendiri, kecuali Mbah Lopo yang mempunyai rantai sakti. Sebab Lidah Terjulur badannya memang kecil tapi otaknya dan akalnya panjang, bisa memanfaatkan kesempatan apalagi kesempatan seperti ini.
**
Di kota memang ramai dengan aktivitas hidup, berdagang, berkelahi, politik dan segala macamnya. Semua permainan ada di sana dan semua penduduknya juga bisa bermain sandiwara. Bangunan sangat megah, rapi dan tertata makmur. Sering ditemui penduduknya tertawa renyah tidak seperti perkampungan Bib, di perkampungan Bib peraturan sengaja dibuat untuk tidak tertawa, kalaupun diperbolehkan tertawa, hal itu terjadi hanya di dalam pesta perkawinan, sebab kata Mbah Lopo terlalu banyak tertawa membuat kita lalai, terlalu banyak tertawa membuat kita lengah akan kedatangan musuh. Makanya acara tetawapun sangat sakral bagi perkampungan Bib. Masyarakat di sana sebenarnya rindu tertawa tetapi tabu bagi adat, jika kedapatan penduduk yang melanggar dia akan mendapat hukuman dari Mbah Lopo, dibuang sepanjang adat, dibuang kekampung sebelah, kampung Lidah Terjulur.
Nah, di kota berbeda, adatnya sudah bebas, liberal, kapitalis, sudah banyak orang yang kaya, malahan ada yang mempunyai banyak uang membayar orang untuk berbuat tertawa. Menertawai hukum, orang kecil, keadilan hingga agama. Semua mampu dilakukan dengan oleh orang kota dengan uang. Inilah yang membuat Si Lidah Tejulur berubah menjadi picik, dia sering menyelinap ke kota, kadang bersahabat dengan orang kota, sekali jilatan orang kota akan percaya kepada Lidah Terjulur. Si Lidah Terjulur ingin hidup dan merubah suasana kampung menjadi kota, sudah lama dia memisahkan kelompoknya dari perkampungan Bib, hal itu pun sangat disetujui leh Mbah Lopo, sebab selama ini Si Lidah Terjulur selalu bertindak anarkis dan radikal, karena dia percaya dengan anarkis dan radikal mampu menciptakan revolusi total. Tetapi Mbah Lopo masih menolak cara itu, jika benar rovolusi dilakukan kita hanya akan berpindah masa saja, sementara perlakukan dan sikap terhadap kita akan lebih parah dari biasanya. Mbah belum yakin akan hal itu.
‘’Auh.. kota ini memang indah tapi kosong makna, apa yang bisa dibanggakan dengan hidup seperti ini?’’, Mbah Lopo bicara sendiri. Tetapi masih takut menembus cahaya siang itu, sebab jika jejaknya tercium bisa gawat, sudah melakukan kesalahan, sudah melanggar batas teritorial kawasan, hukuman gantung obatnya.
Sekian lama menunggu datang jugalah malam, tepatnya malam jumat kliwon, Mbah Lopo merangkak lambat menuju pusat kota, suananya mati tetapi keramaian masih terdengar dari dalam dinding, Mbah bingung bagaimana caranya untuk mengetahui berapa saja orang yang hadir di dalam dinding.
‘’Nah, itu ada tangga, mungkin bisa membantuku sementara’’, Mbah Lopo mengambil tangga itu dan didirikan tangga itu tepat mendidindingi tembok. Ekstra hati-hati Mbah Lopo mulai menaiki anak tangga satu persatu.
‘’Duh tinggi sekali pagar yang dibuat orang kota ini, kalau aku jatuh bisa gawat ini’’, umpatnya.
Pada anak tangga ke 10 Mbah Lopo sampai di batas tembok, jantungnya sesak, darahnya naik keubun-ubun.
‘’Begu ganjang! Kurang ajar, memang orang kota tidak belajar adat, tidak beragama, antu balawu, katumbuhan babegu!’’, umpatan itu diluncurkan Mbah Lopo tiba-tiba di saat menyaksikan fenomena di dalam tembok.
Mbah Lopo dendam, sakit hati melihat Bib kecil diperlakukan seperti itu, Bib kecil meraung di saat diganyang oleh Lidah Terjulur, sementara semua orang bertepuk tangan dengan senang, kebiasan biadab orang kota.
‘Si Lidah Terjulur itu, sejak kapan dia di sini lalu Bib kecilku yang malang, miris sekali takdirmu itu, kenapa kau datang ke kota, bukankah kau kusuruh ke kampung sebeleh, ke kampung Lidah Terjulur, kenapa kau ke sini?’’, Mbah Lopo menangis dalam hati dan terus kaku di atas tangga sambil dan matanya tidak penah lepas dari kejadian itu.
‘’Ha..ha..! waktu di perkampungan itu, bolehlah kau  bergembira, sekarang dagingmu akan kusantap habis, ha..ha..’’, ucap Lidah Terjulur penuh semangat.
‘’Dasar tidak berbudi, kau sudah lupa siapa yang menyelamatkan kamu saat berada di mulut Buaya hutan? Mbah aku kan? Tapi kenapa kau balas seperti ini? Lalu siapa orang-orang itu?’’, Bib kecil menangis.
‘’Mereka adalah tuanku semua, mereka senang aku jilati sebentar lagi separoh sentro kota ini menjadi bagian ku, ha..ha’’, Lidah Terjulur kembali menyerang Bib kecil dan diikuti tawa renyah penonton.
‘’Ayo cincang dagingnya....keluarkan ususnya binatang perusak itu..! teriak Wali Kota.
‘’Iya, ayo...cincang, dasar babi kecil....haram...!’’, sambung Ibu Wali Kota.
Tidak lama kemudian Bib kecil tidak berdaya terkapar dengan usus terburai, sebelah kakinya dilumat habis oleh Lidah Terjulur sambil melarikannya ke tepi lapangan. Sesaat itu, penjaga lapangan mengambil tubuh Bib yang sudah tidak bernyawaw dan berkata.
‘’Malam ini kita membuat babi panggang yang enak!’’.
Di sudut tembok itu, sosok Mbah Lopo kekekringan air mata, dia turun perlahan dari tangga, sisa langkahnya terus diserert menunju perkampungan Bib, entahlah, sesekali dia berhenti duduk menagis kembali, terus berjalan kembali berhenti kembali, begitulah seterusnya sehingga sampai di perkampungan.
**
Pagi itu salah seorang penduduk menemukan tubuh Mbah Lopo tidak berdaya, para penduduk behamburan keluar, menggotong tubuh itu ke rumah Tuan Putri. Selama Mbah pingsan semua orang saling bertatapan dan heran apa saja yang terjadi dengan Mbah yang sakti ini.
‘’Usss. Mabh batuk, berarti dia sudah sadar!’’, salah seorang dari mereka memecahkan suasana.
Mbah angkat bicara.
‘’Kita telah di tipu,  Kota Telah dibohongi!, diperdaya, dihianiti!’’.
Siapa yang berbuat seperti itu Mbah?’’, tanga Mr. Bib memburu.
‘’Lidah Terjulur! Bib Kecil sudah dipanggang, Wali Kota itu sedang pesta, Lidah Terjulur memakan kaki kanan Bib Kecil!’’
‘’Oh..tuhan ...malang benar nasib Bib kecil’’, semua orang meraung.
‘’Di kota! Ya di kota! Ke kota!’’, suara Mbah Polo terpuus.
‘’Ayo semua, kumpulkan perbekalan dan persenjataan kita, Mbah sedang sekarat, kita diperintahkan untuk merebut kembali hak kita yang sudah dikapling!’’, perintah Mrs. Bib.
‘’Kembalikan Bib kecil!’’
‘’Gantung lidah terjulur!’’
‘’Hancurkan Kota!’’
‘’Pangkas habis Liberalisme!’’
‘’Kapitalis!’’
‘’Neo imprealisme!’’
Semua orang berteriak dengan semangat berkobar.
‘’Tunggu dulu! Jangan tergesa-gesa, tunggu dulu hingga jumaat kliwon, biarkan mereka terlelap dulu, biarkan mereka menyelesaikan pesta itu!’’, sanggah Mbah Lopo.
Meskipun Mbah Lopo melarang serangan itu, para penduduk tidak sabar untuk membalas dendam tetap mempersiapkan penyerangan, sebagian termotivasi oleh kesenangan kota, harta, jabatan, kekayaan, wanita cantik, kursi, wali, kota.
‘’Aduh senangnya!’’, ungkap salah seorang penduduk.
Semua pasukan dan senjata lengkap sudah dipersiapkan, Mr. Elephan mngasah taringnya, Pak Bateg juga tidak ketinggalan, tenaganya kuat. Semua cula sudah dikasih racun mematikan. Tinggal menunggu kata, ‘’serang!’’.
‘’Semua sudah siap Tuan Putri!’’, lapor komandan perang.
‘’Laksanakan!’’, perintahpun jatuh dari tuan putri.
Serang!
Dengan farmasi kalajengking, pasukan pun berlarian menuju kota.
‘’Bib! Kamu bawa kalungku ini!’’, pesan Mbah Lopo sambil menyerahkan kalungnya kepada Mrs. Bib.
Suasana ketika itu sangat mengaharu biru, setelah pasukan sampai di perbatasan pada jumaat kliwon, tembok kota diruntuhkan oleh semangat pasukan Bib, di kota masing-masing pahlawan menyebar dan memangsa apa saja yang ditemui, ke rumah wali kota, kantor polisi, pemuka adat, pemuka agama, intelektual, peradilan, penjara. Semenatara Mrs. Bib menuju rumah wali kota dan menemukan Lidah Terjulur sedang menjilat kaki Wali Kota. Tanpa menunggu waktu Mrs. Bib pun menyerang Wali Kota lari tunggang langgang, Lidah Terjulur senyum picik atas kedatangan Mr. Bib.
‘’Langkahi jasadku dulu! baru kau dapatkan jasad tuanku!’’, ungkap Lidah Terjulur dengan sombong. Tanpa menunggu waktu terjadilah perkelahian itu, saling memukul, menggigit sehingga Lidah Terjulur terkapar kehabisan darah. Sesaat setelah itu terdengar teriakan.
‘’Wali Kota menyerah!’’
Mrs. Bib keluar dari pekarangan Wali Kota dan bicara kepada pasukannya, sementara sebagian yang lain membebaskan tawanan yang terdiri dari para Bib Bib pekerja.
‘’Mulai saat ini kita berjalan dengan dua kaki, itu aturan tidak boleh dilanggar! Mari kita bangun kota ini!’’, tutup Mrs. Bib.
Seminggu setelah penaklukan Kota Babi, berita itu meluas ke kota Rusa, Kota Srigala, dan menyebarlah virus babi itu kemana-mana.

*Pinggiran Malam, 10-06-09

Kamis, 11 Maret 2010

DIA TIDAK AKAN PERNAH KEMBALI

TA

Sudah dua tahun lebih hatiku menunggunya. Dulu pernah berjanji, jika kau ingat diriku, pergilah ketempat yang pernah membuat kita bahagia! Itu kataku.Akupun serupa, saat aku ingat dirinya, aku juga pergi kesana. Aku tidak tau apakah dia pernah berkunjung kesana, tetapi aku rasakan rohnya hadir, jejak tapak kakinya seakan aku lihat, ya bekas kursi tempat duduknya, saat dia menangis, bengong, aku rasakan semua. Aku nikmati saja bekas-bekas itu, semoga aku bisa bertemu dirinya kembali…ah tapi sudahlah, itukan hanya mimpi saja, dia tidak akan pernah kembali kataku, dia sudah bahagia, tetapi kumerasakan dia tidak sebagahia yang kupikir, dia akan selalu mengingat aku, karena jejakku tertancap disanubarinya selamanya.

Setelah saat itu, aku bersumpah tidak akan pernah lagi kembali ketempat itu, tempat yang pernah membuat aku bahagia sekaligus meghancurkan aku selamnya.
 Sebulan yang lalu akau menangis kembali, entah apalah artinya, dia yang tanpa diundang dating dalam mimpiku, padahal aku tidak pernah memikirkan tentang dirinya yang telah raib bersama awan putih. Dia marah-marah, ‘’’kamu yang pergi dariku dan kamu juga yang membuat aku sederita ini, asalkan kamu tau, aku akan selalu menghantui kamu’’.
Sejak mimpi itu, aku tidak ingin mengenal lebih jauh kaum hawa, setiap kali aku berniat memulai yang baru, bayangannya selalu hadir sambil menangis, kuurungkan niat kembali membuka hati tuk orang lain…tetapi apakah dia mengerti? Aku juga tidak tau dan tidak akan pernah tau, karena seingatku dia telah terkubur bersama derai seribu malam…

Ini hanya sebagian dari kata hati dan sebagian lagi tidak mampu diungkapkan dengan leptop ku yang kecil ini.ku kembali berpikir, sudah bertahun-tahun tetapi dia selalu datang kembali, menghantui meneror kehidupan ku yang ku anggap sudah mulai Normal. Terkadang aku ingin membunuh bayang-bayangnya itu agar aku terbebas dari siksanya..ah sudah lah…titian kedepan semakin lapuk, lebih baik kulewati segara mungkin…

Aku benar-benar pergi…!

Jogyakarta, 2010 



BULAN SABIT TANJUNG MEDAN

M.YUNIS

Sepenggalan tahun 99, Sabtu Rabiul Awal, Tanjung Medan semarak. Gemintang berkedip, gelombang awan terlihat cukup jelas dipantuli cahaya bulan sabit. Saat seperti ini biasanya ada bintang jatuh, jika ini terjadi penduduk Tanjung Medan terkesima, kegiatan dihentikan, selorohan ditutup, hentakan batu domino dimeja-meja lapau tertegun seketika, kartu-kartu joker berserakan di atas tikar pandan lusuh milik Pak Adi. Semua memohon sebuah pinta kepada Bintang yang jatuh atau kepada bulan sabit merah malam itu. Entah apa saja yang diharapkan dari benda langit itu, tetapi begitulah kejadian yang sangat ditunggu-tunggu penduduk kampung.

Sementara Puji lebih memilih duduk menunggu di atas lantai teras tanah di depan rumahnya, dia tidak peduli dengan seringai jangkrik ataupun bintang jatuh yang memecahkan lamunannya ketika itu. Baginya bintang jatuh hanyalah sebuah mitos yag diwariskan kaum animisme dan dinamisme masa lalu, sekarang sudah abad moderen, dan dia membenci terhadap masyarakatnya masih percaya akan kemangkusan mitos tersebut. Terkadang masyarakat tradisional mengatakan bahwa itu suatu petanda baik jika dipandang baik, sebagian bilang itu petanda buruk ketika kita memikirkan hal yang terburuk. Bagi Puji itu sama saja, sebab dia sudah menciptakan tapakan jalan sendiri untuk menuju impiannya, ya dia ingin menyempurnakan rumah yang terbengkalai, sebab sebagai seorang suami ayang baru saja di karuniai seorang putra, mempunyai tanggup jawab masa depan yang besar terhadap keluarga batihnya. Terkadang dia berhayal ingin hidup di masa lalu.
Andai saja kakek buyutnya tidak dibunuh oleh tentara rimba itu, andai saja harta-hartanya tidak diganyangi Tukang Pisang Pauh Kambar itu, tentu hidupnya tidak sedera sekarang. Mungkin gelar Dt. Raja. Amai Said akan jatuh ke tangannya, dan juga harta-hartanya itu, padahal dia sendiri tidak sadar hayalan itu telalu mustahil baginya, sebab Harta Pusaka tinggi hanya akan jatuh kepada keponakan Amai Said. Lalu dua orang nenek perempuannya memilih kabur bersama tentara pusat, ingin dia rajam sejadi-jadinya, Puji menganggap dua orang pelacur itulah yang menebarkan wabah dalam keluarganya, sampai sekarang Puji tidak tahu muara tumpuan hanyut, dan rimba tempat berkuburnya. Apakah mereka itu masih hidup atau keturunannya masih diperlakukan sama seperti dulu, Puji sendiri tidak akan pernah tahu dan lebih memilih tidak mau tahu. Dia mengangap dua orang perempuan masa lalu itu tidak pernah tercatat dalam sejarah keluarganya.
Di saat malam kian merangkak naik, puji gelisah, awalnya dia yakin banyak pasiennya yang akan datang malam minggu itu, jika tidak dia kehabisan akal dan juga kehabisan bekal membeli pasokan susu untuk si Puji muda. Malam inilah andalah satu-satunya.
‘’Aduh, Si Azam, sudah segini malam belum juga muncul, tidak tahu orang sudah sekarat!’’, umpatnya Puji.
‘’Bang tidak makan dulu bang?’’, ajak sang istrinya dari dalam rumah.
‘’Belum lapar Tun, duluan saja!’’
‘’Tapi nasinya keburu dingin Bang!’’
‘’Tidak masalah, nasi basi pun Abang santap, si Buyung bagaimana? sudah kamu suapin?’’
‘’Sudah Bang, tapi baru separoh!’’
‘’Kenapa separoh, apa buburnya tidak cukup Dik?’’
‘Bukan Bang, lenteranya mati, mungkin kehabisan minyak, tapi tidak apa Bang, si Buyung sudah tertidur!’’
‘’Sebaiknya kamu juga tidur! Biarkan aku bekerja!’’
Si Istri manut dengan perintah suaminya itu. Sesaat Puji melirik penunjuk waktu yang tertera di Nokia 330 miliknya, waktu memang sudah berjalan kira-kira separoh malam.
‘’Ya.., sudah jam 12 malam tapi mereka masih juga muncul, sialan itu anak!’’
‘’Dasar keturunan orang terlibat, suka tidak tepat janji!’’
Sementara di sudut kampung lain, Azam masih saja asyik bercengkrama dengan Anton, kegembiraan itu dilengkapi Pil BK yang diselipkan Anton di Kaos kakinya saat di atas bus menuju Bukit gadang. Anton bercerita masa-masa diuber-uber oleh polisi gadungan di Medan hingga dia diselamatkan oleh banci yang kebetulan sedang susah mendapat pelanggan, Anton menjadi penikmat babi panggang di Tepian Samosir Sumatra Utara.
‘’Kamu tau Mbel? waktu di Medan kemaren BB ini sudah menjadi barang harian, teman saya punya 5 hektar perkebunan, enaknya jika saja datang mengunjunginya akhir pekan, saya selalu ketiban rezeki!’’
‘’Rezki apa Mbel?’’, Azam menyela
‘’Kamu memang begok ya Zam? Ya.., BB lah, masak BK!’’
‘’Sekarang kamu punya BB? saya lagi butuh 1 garis!’’, pinta citok pada Anton.
‘’Sekarang sih tidak ada, BK ini beruntung tidak aku buang, saat pulisi hutan razia di Ujuang Batu kemaren Malam!’’, jelas Anton.
‘’Kamu tertangkap?’’, Azam penasaran
‘’Dasar Gembel! Kalau tertangkap tidak mungkin aku ada di depan kalian semua sekarang, begok.., begoook!’’
Azam sakit hati dengan gaya Anton agak kekota-kotaan, padahal Azam tahu Anton dulunya anak yang paling bodoh di Gunung Ujung, dia selalu menangis saat kepalanya di pukul Azam, tapi sekarang malah dia yang sok jawara, Azam lebih memilih membisu, Azam takut Pukulannya melayang, apalagi setengah teler seperti itu.
Udara malam semakin terasa, itu petanda malam sudah mulai merangkak turun, tetapi anak muda itu belum juga sadar bahwa di lapau sebelah dua anak muda berjas hitam terus memerhatikan mereka. Di suasana yang semakin sunyi itu, tidak ada lagi bintang yang jatuh, bulan sabit juga sudah mulai dibayangi awan-awan malam. Citok dan Azam lupa bahwa Puji telah menunggu lama di Tanjung Medan, Azam sadar walaupun setengah teler, Citok sendiri memang sudah ngawur, dia ketawa sendiri, tidak ingat lagi kepada Jupri yang sejak siang minta pertolongan untuk dicarikan BB satu garis, barang itu berguna bagi Jupri meramaikan pesta perkawinan kakak perempuanya yang pertama. Tetapi Azam cepat sadar walau sudah agak terlambat bertepatan dengan munculnya Jupri dengan RX KING.
‘’Citok! Sialan kamu, mana uang aku?’’, tuntut Jupri.
Citok hanya tertawa.
‘’Sudahlah Jup! biarkan saja dia, uangnya saya yang menyimpan, biar saya saja yang ke tempat Bang Puji!’’
‘’Ah.., tidak usah lagi, tamu-tamuku sudah minum Vodka yang dibeli kakakaku!’’ , Jupri agak kecewa
‘’Aku mengerti perasaanmu Jup! sekarang juga aku akan pergi dengan Gembel ini!’’, Azam menunjuk Anton.
‘’Siapa dia?’’
‘’Dia Anton, dia baru saja turun dari Gumarang, terus langsung bergabung dengan kami!’’
‘’Anton!’’, Antin mengulurkan tangan kanannya ke arah Jupri.
‘’Namaku kamu sudah tahu, kamu jangan macam-macam di sini!’’, peringatan Jupri.
‘’Baik lah Jup, Kami berangkat sekarang!’’, Azam pamit
‘’Setengah jam lagi kalian harus sampai di rumahku!’’, gertak Jupri.
‘’Mudah-mudahan!’’, Azam berlalu.
Astrea star itu melaju menelusuru jalan raya Pariaman, angin malam memang sangat menusuk tulang malam itu, beruntunglah mereka berdua selalu mengenakan jeket murahan. Laju motor itu semakin dipercepat saat Azam melihat simpang 4 Pauh Kambar, diperemapatan jalan mereka belok kiri mengarah ke dalam pasar, laju motor terpaksa diperlambat kembali saat bertemu segerombolan pemabuk yang sedang bergoyang-goyang di kesunyian pasar ikan, mereka sepertinya sangat menikmati malam minggu yang merah itu.
Tiiit!..Tiiit!.., klason motor butut menyapa preman tersebut, mereka angkat tangan tanda penghormatan, tidak lama setelah melewati pasar Pauh Kambar motor melewati perwasangan sawah, dinginnya lebih mencekam, sebab hembusan angin di persawangan sawah tiada pengahalang. Tetapi tiba-tiba perasaan Azam tidak enak, filing Azam seketika beraksi saat melihat 2 pemuda tanggung berjeket di simpang Bukit tadi.
‘’Mbel, kamu rasakan sesuatu apa tidak?’’
‘’Tidak! Kamu baru telan 2 pil saja sudah mabuk, ah payah kamu Mbel, biar aku yang bawa motornya!’’
‘’Tidak usah dan aku tidak mabuk, kamu jangan terlalu melecehkan aku Mbel!’’, pinta Azam
‘’Maaf, saya tidak bermaksud melecehkan kamu Mbel, saya memang kebiasan seperti itu!’’, nyali Anton agak menciut
‘’Pokoknya, saat memasuki rumah Bang Puji nanti, kamu diam saja, kamu jangan banyak komentar, sebab kamu belum tahu daerah di sini, mereka bisa ada di mana-mana, kapan saja, dan siapa saja!’’
‘’Maksudmu apa sih?’’
‘’Pokokny mulai sekarang tutup mulutmu yang busuk itu, jika kamu ingin selamat!’’
‘’Okelah kalau begitu!’’
‘’Nah sekarang kita sudah sampai di Tanjung Medan, kamu plaster mulutmu, oke!’’, perintah Azam.
Motor Azam terus menelusuri pertigaan sebelah kanan pasar Medan Baik, kira-kira 2 kilo perjalanan mereka sampai di rumah Puji Tanjung Medan. Jalan yang mereka lalui sudah dibasahi embun-embun pagi hari, dililiriknya arloji yang mencakar ditangan kiri, sudah menunjukan pukul setengah 3 pagi. Namun, ketabahan mereka mengahadapi dinginnya malam Bukit Gadang dan Pauh Kamabr akhirnya sampai juga di Tanjung Medan. 10 meter jarak ke rumah Puji, mereka dikejutkan oleh suara agak kasar tapi berwibawa dari atas motor yang datang tiba-tiba dari depan.
‘’Bang numpang tanya bang!’’
‘’Iya.., ada apa Bang?’’, jawan Anton.
‘’Bang Puji kemana ya?’’
‘’Oh, dia lagi di rumah , kamu juga mau ke sana?’’
Azam terpaku dengan sikap Anton, Azam sudah memperingatkan Anton berkali-kali, tapi Azam tidak bisa berbuat banyak di hadapan 2 orang pria berjeket hitam itu. Mulutnya seperti terpaku, rasa kecut mulai mengusai dirinya, tapi dia tetap kelihatan seperti laki-laki.
‘’Terimakasih ya Bang!’’, dua pria itu berlalu dari mereka, tetapi bukan berbalik kerumah Puji, mereka mengarah meninggalkan Azam dan Anton. Azam masih terpaku dalam emosi, tiba-tiba sebuah pukulan dilayangkan ke muka Anton, seketika Anton berteriak menahan sakit, mungkin pelipisnya pecah.
‘’Bangsat kamu Mbel! sudah berkali-kali kutegaskan, kunci mulutmu itu!’’, hardik Azam kasar.
Namun anton hanya heran dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan tidak akan terjadi apa-apa, tetapi Azam lebih hafal situasi, dia lebih pahan apa yang akan terjadi, kebinasan yang akan menimpa mereka kian dekat. Dengan bandan separo gigil, Azam tacap gas menuju rumah Puji, seperti biasa Azam menyodorkan uang Rp. 120.000 kepada Puji, dan Puji un menyodorkan satu buah bungkusan kecil, tanpa basa-basi Azam kembali kemotor dan berniat untuk berlalu sesegera mungkin, namun Anton menahan dengan deheman, Anton ingin berkenalan dengan Puji. Namun bagi Azam Anton hanyalah mahluk tidak berguna.
‘’Terimakasih Bang!’’, nada suara Azam bergeletar. Sesaat kemudian mereka langsung tancap gas. Azam sama sekali tidak memikirkan perasaan yang menimpa Puji yang sudah lama menunggunya hingga Puji pun rela melewati kesaksian bintang jatuh, dan melepas kepergian bulan sabit yang membelakanginya.
‘’Tadi siapa Mbel?’’, tanya Anton memecahkan suasana hening.
‘’Bapakmu yang bangkit dari kubur!’’
Azam terus melaju motornya, dari kaca sopion kanan Azam bisa menyaksikan sebuah motor supra X mengikutinya, awalnya pelan tapi setelah azam memeprcepat lajunya motor, si penguntit juga mempercepat laju kendaraannya, sementara Anton belum juga sadar apa yang akan terjadi.
            ‘’Baiklah Mbel! saya akan tanya kamu baik-baik!’’, Anton memiringkan mukanya ke belakang.
‘’Mbel sepertinya ada yang mengikuti kita!’’, potong Anton.
‘’Nah sekarang kamu menyadari, apa sebenarnya yang terjadi, pegangan yang kuat dan tutup mulutmu, sebelum kamu bertanya kembali, biar saya jelaskan, sekarang kamu yang Goblok, idiot dan sialan. Mereka itu malaikat maut yang kapan saja siap memborgol tangan kamu, jika kamu mau berteman dengan mereka, kamu turun saja di sini!’’, terang Azam
‘’Lebih cepat lagi Zam’’, Anton mulai dikuasai gigil ngeri.
Kondisisi kejar-kejaran tersebut berlangsung hingga ke Pauh Kambar, tiada jalan lain, Azam menyelip ke jalan setapak dan mematikan lampu motor seketika. Di tengah kebutaan malam itu, motor Azam menubruk kerbau yang sedang tidur, mereka berdua terjun bebas ke dalam rawa yang menganga di samping re kereta api menyusul motor yang mereka pakai. Namun, alam keberuntungan masih memihak kepada Azam dan Antun, kedua pria berjeket hitam itu kehilangan jejak setelah memasuki jalan setapak yang di halangi kerbau yang sedang terkejut marah. Kerbau itu mengira bahwa yang menggangu lelap tidurnya adalah orang yang baru datang tersebut, kerbau mendengus-dengus ke arah pemuda yeng berjeket hitam. Sesaat kemudian mereka berbalik arah.
Sementara Azam dan Anton semakin ditarik oleh lumpur deriata di dalam rawa, mereka harus segera keluar kalau tidak ingin dihisap habis oleh lumpur rawa itu. Dengan segenap tenaga yang masih sisa mereka berusaha menarik motor dan melaju untuk pulang. Terasa sia-sia sudah jerih payah mereka menemui Puji, bingkisan hasil penukaran uang dengan Puji sudah lenyap entah kemana, badan yang terasa seperti manusia lumpur, ciptakan makna tersendiri bagi mereka berdua. Ya!.., malam itu, Dewi Fortuna masih sayang kepada mereka berdua, sekurang-kurangnya kepada Azam, dia sempat sekelabat sempat menyaksikan bintang jatuh tadi, setengah percaya Azam coba-coba memohon sebuah permintaan. Saat ribuan tanda tanya yang tumbuh di hatinya, Azam yang lelah langsung menuju rumah orang tuanya di Bukit Ujung. Sementara Anton sendiri ditinggalkan di Simpang Bukit dengan kesal.
Azam sadar bulan sabit yang jatuh di pelataran tadi, kini telah berubah menjadi bulan sabit jatuh ke dalam lumpur..., kemalangan atau kemenangan yang cukup membingungkan.
**

‘’Azam! Azam! Sudah jam 11 siang, kamu mau tidur sampai kapan? Kamu tolonglah Ayahmu buat persemaian di sawah, jangan tidur saja kerjaan kamu itu! Anak tidak tahu di untung!’’, sauara itu sangat dia kenal, Ya! Itu suara Emak yang sedari tadi membangunkan Azam. Azam memaksakan mengangkat badannya dari tempat tidur bilik belakang, padahal persendianya masih terasa sakit, bilik belakang inilah yang dijadikan Azam sebagai tempat peristirahatan terkhir. Bilik ini memang jarang dipakai, biasanya Emak menggunakanya sebagai tempat menyimpan kerupuk jengkol hasil buatannya sebelum digoreng. Siang itu tubuh Azam benar-benar berbau jengkol bercampu lumpur. Azam mencuci mukanya yang kusut masai, di dalam separoh sadar itu Azam mendengar berita yang dibacakan Mutia Hafid presenter SCTV.
‘’Seorang pengedar tertangkap basah....saat..!’’, berita itu terputus-putus. Azam segera menuju ruang tengah, diruangan tengah Azam mendapai presenter itu sedang menyemapikan kronologis berita.
‘’Seorang mngedar ganja di Tanjung Medan di Dor Tim Serse Pauh Kambar! kejadian itu berlangusng jam 3 pagi di Rumah tersangka......! Pria yang yang dikenal dengan Panggilan Puji itu meninggalkan seorang Istri dan bayi yang masih berumur 3 bulan...............!, Anna Rosa Repoter SCTV, melaporkan dari Padang!’’
Ya.., Azam baru sadar Abang Puji baru saja diganyang berita BUSER Minggu pagi ini. Lalu apa yang mampu dia lakukan selain Azam merenung, mengawang, dan berkelana di alam imajinasi, penyesalan yang bertubi-tubi, mungkinkah tuhan masih mau menunjukan jalan terbaik untuknya, dialah yang sama sekali sedang didera kebutaan...., akhlak, kepribadin dan harga diri.

PERJANJIAN

M.YUNIS

 Sudah tiga kali Fatma melahirkan bayi, namun harapan itu tak jua kunjung datang, kali ini Fatma hamil lagi, usia kandungan itu masih tujuh bulan, tidak beberapa bulan ini janin yang ada di kandungnya itu akan lahir atau mungkin akan bernasib sama dengan bayi-bayi yang sebelumnya. Namun, apa yang harus dia lakukan, selama mengandung Fatma telah berusaha mendekatkan diri pada tuhan, sepulang dari sawah sore hari dia disibukan di dapur, malamnya menyempatkan baca Al kitab, walau suaranya kurang cocok mendendangkan isi kitab itu. Tahajud yang ditunaikan setiap sepertiga malam pun tidak pernah ketinggalan. Hanya satu harapannya ketika itu, mudah-mudahan bayi yang masih dalam kandungan itu jadi orang berguna.

Saat pagi dan sore menjelang Fatma selalu berdoa agar bayinya itu di izinkan pencipta menghirup alam fana sebelum kembali pada-Nya di tiang arasy. Dia sedih di kala menginat bayinya yang pertama pergi sejak dari dalam kandungan, bayi itu tidak mampu membuat kesepakatan dengan sang pencipta. Alhasil, hanya orok yang mampu dilihatnya setelah tersadar dari lelah melawan maut. Sedangkan  bayi kedua Si Sulaiman pergi dalam usia 3 bulan, padahal harapan telah bertumpu pada Sulaiman, hatinya miris dan perih. Fatma tidak pernah meninggalkan Sulaiman sendiri, sewaktu dia pergi ke warung membeli perlengkapan memasak, Sulaiman mungil dijaga oleh suaminya yang ternyata sangat menyayangi buah cinta itu. Terkadang selalu digendong sayang ayah yang dipangil Fatma Uda Rasul, sesekali dicandai dengan mengulur-ngulurkan lidahnya, bayi itu tertawa. Selanjutnya Rasul mengajak Sulaiman kecil berdebat tak obahnya berhadapan dengan politikus. Dia masih tertawa kecil hingga kelelahan dan tertidur di pangkuan Rasul. 
            Sepeninggal Fatma, Sulaiman tidak pernah bertingkah aneh, dia hanya berusaha bersahabat dengan ayahnya. Namun sesampai di rumah didapati Sulaiman kejang-kejang, bola matanya turun naik diringi pekikan hiteris tak obahnya orang yang sedang menjalani siksa kubur. Spontan Fatma histeris tanpa sadar diapun telah menghardik-hardik suaminya.
            ‘’Apa yang Uda lakukan dengan anaku?’’
            ‘’Saya tidak melakukan apa, tadi dia tertidur, kebetulan setelah si Sholeh lewat dia terpikik hingga seperti ini!’’.
            ‘’Apa?’’, Fatma seakan tidak percaya atas kejadian itu. Sholeh dikenal di Bukit Gadang sebagai seorang yang pendian, dia tinggal di Munggu[1] sawah arah barat, kesehariannya juga tidak terlalu menyolok, kalupun ada kegiatan gotong royong dia hanya hadir sebentar dan setelah itu dia menghilang entah kemana. Tapi, sejak kehadirannya di kampung itu banyak penduduk yang resah, apa lagi setelah melahirkan bayi, pakaian-pakaian bayi yang tergantung di luar selalu dipasang dengan dasun[2]. Tubuh bayi sendiri pun tidak luput dari benda aneh tersebut. Memang saat Fatma pergi ke warung dia telah melupakan kewajiban yang satu ini, tapi itu bukan salah Fatma, hari sabtu kemaren dasun habis di pasar Mangga Dua. Sebenarnya Fatma kurang yakin dengan kekuatan magis dasun tersebut, agaknya cara berfikir Fatma lebih terarah dan setengah moderen. Berkali-kali Gandoriah mengingatkan agar Fatma lebih memeperhatikan keadaan bayinya. Tapi nasehat Gandoriah kurang ditanggapi oleh oelah Fatma hingga kejadian itu benar-benar menimpa rumah tangganya.
            Dalam suasana panik itu, Fatma berhamburan ke rumah orang pintar yang tidak jauh dari rumah, sementara Rasul mempersiapkan peralatan yang harus di bawa, seperti kelapa muda, daun obat-obatan si dingin, sitawa, ci kumpai, cikarau, pudiang hitam, sapitan tunggua. Kata orang kampung oabat itu digolongkan ke dalam pa-ureh[3] atau obat pengusir setan dan pengusir energi negatif yang sedang menghinggapi tubuh seseorang. Sesampai di rumah orang pintar yang dijuluki dengan Bapak Punai, Fatma dan Rasul menceritakan kronologis kejadian, namun sayang sekali Punai tidak bisa mengahalangi kedatangan malaikat pencabut nyawa, Si mungil pergi dengan belalakan mata.
‘’Otak anak ini sudah kosong, kalaupun selamat bayi ini akan lumpuh seumur hidup!’’. Hanya itu kata terakhir yang mereka dapatkan dari Pak Punai. Sisa-sisa langkah membopong mereka kembali pulang ke rumah, semetara orok bayi yang baru saja kehilangan nafas terakhir sudah tidak lagi melotot. Rasul mengamuk, dia melemparkan paureh ke atas, sepertinya dia mau mencegah sang pencipta mengambil bayinya. Tapi itu sia-sia belaka, ternyata pencipta lebih menyayangi bayi tersebut dari pada dia sendiri.
            Setelah kejadian itu, Rasul berusaha membalas apa yang telah dilakukan kepada keluarganya.
‘’Akan kubunuh palasik[4] itu!’’
‘’Percuma Uda melakukannya, kalaupun dia mati Sulaiman tidak akan bisa kembali pada kita!’’.
Rasul tidak mau mencurahkan amarahnya kepada Fatma, dia lebih memilih pergi keluar rumah hingga berhari-hari tidak pulang, padahal di rumahnya masih berlangsung prosesi upacara kematian. Agaknya dia tidak bisa menerima kehilangan anak tercintanya.
Sudah dua tahun berlalu, sikap Rasul masih saja seperti itu, aneh dan penuh tanda tanya. Meskipun Fatma divonis sedang hamil kembali oleh Dukun Baranak setempat, Rasul sendiri tidak yakin dengan kehamilan Fatma, kejadian itu sudah ketiga kali dalam rumah tangganya. Rasul selalu bertindak aneh menjelang kelahiran anak ketiga dari rahim istrinya. Setelah bayi itu bernafas di antara pelukan mereka, ramalan Rasul sedikit meleset dari dugaannya. Awalnya dia yakin anak itu akan bernasib sama dengan yang sebelumnya, tetapi setelah dia melihat anak itu beranjak dewasa, bahkan sudah menuntut ilmu di Sekolah Dasar di kampung, Rasul mulai sedikit meramal tentang kebenaran. Anak itu mereka panggil dengan sebutan Syahrir. Pilihan nama itu diharapkan tidak meleset sebab dibalik nama itu tertitip sebuah harapan kelak anak itu menjadi orang besar dan mampu membantu orang se kampung.
Belum cukup lama Syahrir duduk di bangku Sekolah Dasar, guru-guru banyak yang menyukai kepribadian Syahrir, tidak heran pula banyak orang yang ingin mengendong anak ini meskipun sudah duduk di bangku sekolah dasar. ‘’Habis wajahnya itu masih seperti bayi!’’ begitulah tanggapan orang se kampung. Begitupula dengan guru sekolah, kata mereka Syahrir anak yang penurut dan patuh, tapi sikap seperti itu sudah kesehrian Rasul dan Fatma. Keluarga Rasul memang beruntung dianugrahi anak yang penurut, apapun pinta orang tuanya Syahrir tidak pernah membantah. Suatu ketika Fatma menyuruh Syahrir pergi membeli garam ke warung seberang jalan, Fatma tidak tahu bahwa anak laki-lakinya itu baru saja memasukan suapakan pertamanya ke dalam mulut, tanpa komentar Syahrir meninggalkan piring nasi dan pergi melaksanakan tugasnya sebagai anak Itulah Syahrir, tidak heran lingkungannya sendiri cepat menerima keberadaan Syahrir.
Berbeda dengan Fatma, sebagai orang tua dia cukup bersyukur dengan kehadiran anak pertama tetapi ada harapan lain di balik sosok kepribadian anaknya itu. Fatma juga menginginkan Syarir sedikit bisa memprotes, ternyata sikap itu tidak dimiliki oleh Syahrir. Fatma yakin keinginan itu akan terpenuhi jika dia bisa hamil lagi, dia terus berdoa kepada yang Maha Agung.
Di suatu senja yang kusam, Fatma masih betah melamun sesekali diterpa suara gemerisik gelombang laut Ulakan. Sesat dia dihadang seorang pengembara dari Barat. Sementara itu penghuninya kurang yakin, entah kenapa sang pengelana itu bisa selamat melewati rimba larangannya itu. Semua makhluk tahu bahwa rimba itu tidak bisa dilalui oleh siapapun yang tersebut bernyawa, aneh dan lebih banyak lagi keanehan yang tercatat dalam sepanjang sejarah hidup manusia. Jutaan abad lalu pernah datang manusia aneh dari Barat melewati rimba keramat itu, tetapi yang sampai ke seberang hanyalah berita, mungkin dia telah mati terbunuh oleh penghuni-penghuni malam di rimba atau mungkin juga bersahabat dengan malam di sana dan diperbolehkan tinggal untuk beberapa waktu lama, tapi itu hanya perkiraan saja. Ini sudah ke 4 kalinya manusia aneh yang melewatinya dan bahkan sampai ke seberang dalam wujud roh bukan berita seperti kejadian tempo silam.
Atau mungkin munculnya berita yang berwujud jasad itu keturunan dari manusia aneh yang datang dari jutaan abad yang lalu, hanya saja waktu ini kesempatan baginya melihat tepian pulau, dia berkata ‘’Akulah wakil tuhan di tanah ini, aku dianugrahi pengetahuan yang luas akan kuajarkan kepada umat-umatku nanti!’’ tetapi dia sendiri bingung, siapa yang akan menerima ajaran dan anjurannya yang bernada angkuh itu, apakah manusia-manusia hyperealis akan mendengarkannya? Apa yang dia pikirkan sesungguhnya, bukankah dunia baru yang akan dihadang layaknya sama seperti dalam pikirannya bulat dan penuh dengan rimba larangan, aneh dan hanya satu tuhan seperti dirinya saja.
Namun, sudah hampir satu tahun dia hanya mampu berputar-putar di tepian, sebab belum juga jatuh titah dari sang raja penguasa siang dan malam, menguasa waktu dengan ruang, pembuat takdir hingga masa depan, itulah yang dia tunggu-tunggu, perintah untuk menyebrangi samudra mimpi-mimpi yang akan dia taklukan. Ia yakin dengan bekal yang dibawa akan meluluh lantakan bayangan-bayangan masa depan. Pas sembilan masa kejayaan dia lalui, dengan kesabaran menunggu dan terus menunggu, tanpa dapat melakukan permintaan dan harapan-harapan, dia yakin tidak ada lagi yang akan dipinta, semua sudah ada keculi satu yaitu izin penyebrangan, yakin hanya itu saja. Sesaat ubun-ubunnya megerinyit, ledakan Maha dasyat mengguncang suasana rimba larangan menciptakan hempasan-hempasan yang menggentarkan nyalinya, berlutut itulah yang hanya bisa dia lakukan, ‘’Ampun hamba yang Maha Agung, hamba hanya insan yang Engkau utus, kalau Engaku buang hamba jauh, jika Engkau gantung hamba akan tinggi, jika Engkau memutus hamba mati!’’, rangkaian tabir-tabir itu membuka sekaligus tanda menyerah kalah yang muncrat dalam suasana gigilnya.
Seperti biasanya, raja malam itu hanya megirim suara-suara maut, ‘’Engkau! engkau yang akan menempuh dunia jasad! engkau yang akan melaksanakan titah! engkau juga yang akan menjadi paling takut hanya kepada-Ku! Mampukah engkau berjanji demi nama-Ku? Engkau yang akan menjadi jasad, apakah engkau siap menanggalkan seluruh identitasmu? Biarkanlah dia lepas sementara, biarkanlah dia menemui tempatnya sendiri karena Aku juga yang suka berbuat. Saat engkau pulang bawalah dia serta bersama luluhnya jasadmu, sementara jasadmu sangatlah Kularang menghadap kepada-Ku, sebab dia belumlah pantas menemui Aku, kutempatkan dia pada suatu tempat hanya Aku yang tahu. Engkau yang akan berjasad, kelak kedatanganmu bermacam bentuk rupa kepada-Ku, itu semua sangat tergantung kemampuan engkau untuk membawa seluruh identitasmu yang telah aku kirimkan pada tempatnya yang agung, berjanjikah engkau wahai yang akan berjasad?’’, Si mahluk yang belum berwujud menyambut, ‘’Hamba berjanji yang mulia!’’.
Ya! dia tidak lagi mampu menahan hasrat untuk segera menyebrang, pada tapal batas yang tidak bernama, dia menembus dan berpindah dari alam ilmu pengetahuan ke alam fenomena. Namun, apa yang terjadi tidaklah seperti yang dijanjikan oleh keyakinanya, teriakan tangisnya mengutuk, sementara orang-orang di sekeliling hanya mampu tertawa terbahak histeris, senang dan gembira akan kedatangannya, ya! wujudnya hanyalah seorang bayi, tanpa identitas, tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan dia sendiri tidak ingat apa yang sudah berlalu, selain menangis dan hanya menangis demi kepuasan orang-orang di sekeliling itu termaktubkan. Itulah yang dijanjikan untuk seluruh umat manusia. Ya! waktu tidak akan lama singgah untuk meninabobokan kemanjaan-kemanjaan yang sangat dibenci, terkutuk kejadianya di alam roh. 
‘’Azam! Dia akan saya beri nama Azam, bagai mana menurutmu Fatma?’’, Rasul sumringah sambil memandang wajah Fatma yang landai.
‘’Terserah Uda, aku pernah melahirkan 3 orang anak sebelumnya tapi tidak seletih ini, aku ingin istirahat!’’.
Tapi kini Azam telah berumur 4 tahun, dia sering bertindak tanpa kendali sang ibu, Azam suka jalan keluar di saat pintu rumah di malam hari tidak terkunci. Tingkah laku Azam memang lebih agresif dari Syahrir. Syahrir penurut, sedangkan Azam suka komplen dan selalu betanya terhadap apa yang tidak diketahuinya. Di saat Azam bermain sepak tekong dengan anak tetangga, Ibunya sering membujuk agar berhenti main, Fatma takut Azam anaknya agak temprament.
‘’Azam sayang, mari Emak mandiin ya agar badan sehat dan jadi pintar!’’ Fatma membujuk Si kecil yang 4 tahun lalu yang hanya mampu menjerit sementara orang di sekelilingnya terbahak-bahak, sekarang Si kecil sudah maemasuki tahun ke 5 tapi sangat suka bercengkrama dengan kebodohan-kebodohan, sesekali dia menggigit puntungan rokok yang dipungut di depan rumah. Kesalahan Si Bapak ini selalu tercecerkan di sepanjang halaman rumah, entah berapa ribu puntung rokok yang menjerit ingin di tempatkan di tempat selayaknya.
‘’Fatma, puntung rokok itu tidak bisa bicara kalau di dipugut sama anakmu itu, sekarang anak mu saja yang kau pungut dari halaman!’’ ceoteh si lelaki paroh baya itu kepada istrinya. Mungkin si istri kesal saat mendapati sikecil tersendat saat memakan puntuh rokok Si Rasul.
‘’Tiap hari, tiap jam uang dibakar, coba Uda kumpulkan mungkin sudah bisa membeli mobil!’’.
‘’Fatma, kalau saya kumpulkan uang itu lalu saya membeli mobil nanti mobilnya akan terbakar, sekarang kamu didik saja anakmu itu menjadi orang, percuma diberi nama Ibrahim Azam kalau harus menjadi Bram, memangnya anakmu itu mau dijadikan ketua geng preman’’, cetus Rasul sambil berlalu. rupanya Si suami sudah dikirimi sinyal di meja warung sebrang, dia sudah ditunggu oleh beberapa orang yang akan siap mengadilinya dengan kertas remi dan koa. Di kalangan sejawat Rasul memang dijuluki oleh komplotannya dengan sebutan Dewa judi. Tetapi dia punya sebuah kelihaian, selama digebrek oleh petugas akhir bulan lalu dia selalu lolos, entah kenapa sesampai di semak-semak jasadnya menghilang begitu saja.
Azam kecil yang suka protes memang belum cukup umur melarang Ayahnya bermain judi, katanya hanya sekedar hobi tapi menghabiskan uang hingga ratusan rupiah. Hari jumat Rabiul Akhir Azam melihat Ayah tergopoh-gopoh pulang ke rumah, Azam menatap mata si Rasul dengan sayatan-sayatan tajam, seakan dia berkata ‘’Engkau si Ayah mahluk yang hina!’’, tapi Si Rasul yakin dia hanya seorang anak kecil kemaren sore yang kesasar memalui rahim istrinya, namun hatinya berbisik, ‘’Si Azam matanya sampaikan suatu makna kepadaku, apa gerangan amanat yang dibawanya, akankah pesan itu hanya untukku atau..., ah aku capek!’’ detak hatinya ditutup dengan rebahan di lantai rumah yang sudah separoh tanah.


[1] Gundukan tanah yang terdapat ditengah-tengah persawahan.
[2] Se ulas bawang putih
[3] Tumbuh-tumbuhan yang hidup di daerah lembab
[4] Orang yang menganut Ilmu hitam, biasanya bayi berusia 5 tahun ke bawah adalah korbannya.

Rabu, 15 Oktober 2008

GADIS IMAJINASI

M. Yunis*

Dulu sebelum aku menjadi seperti ini, aku hanya gadis ladang yang juga sering menerawang seperti dia. Aku beruntung, saat itu paman yang bekerja di ladang mengeloniku pulang ke rumah. Memang sejak tinggal dengan paman 100 parsen hidupku berubah. Aku lebih banyak menyendiri dengan kertas dan pena seperti laki-laki danau itu. Saat itu aku sadar, aku hanyalah sebuah cerpen, cerita yang tanpa sengaja tergores dalam kertas putih. Di kala aku menari bersama senja, aku menjadi sorotan sang pujangga, mereka mulai menggores tubuhku dengan ketajaman pena-pena batin, mereka pula yang menggrayangi harga diri tanpa busana perlindungan. Ya aku bukannya tidak meronta dan bukan pula tidak menolak saat aku diperlakukan seperti itu, tapi aku sendiri telah terlanjur ditelanjangi oleh pikiran-pikiran dunia sebelum diriku benar-benar ditampilkan seperti itu. Semula aku mulai dirangkai dalam bentuk bingkai, tetapi mereka lambat laun memaksakan diri untuk hidup di bawah kukungan pena-pena adi kuasa. Mereka bertahan dengan goresan kalam, kalaupun itu mendapat tempat di hati penikmat koran-koran kehidupan barulah aku berjaya, walau harus mengorbankan harga diriku sendiri tentunya.
Saat aku menari bersama ombak, akulah yang paling berkuasa di pinggiran pantai, aku jugalah yang paling baik, hanya saja terkadang aku jenuh dan aku rayapi semua tanah tepian, kemudian para pujangga juga menulis sepak terjangku, dimulai saat dari mana datangku, penyebab kedatanganku, kepergianku dengan sejumlah korban hingga bekas-bekas yang aku tinggalkan. Pujangga tetap saja menelanjangi diriku tak obahnya saat aku menjelma menjadi sebuah cerpen. Akhirnya aku memang benar-benar tercatat hanya di dalam cerpen-cerpen.
Lalu aku bersiul bersama burung camar, aku pun menulis diriku sendiri karena aku sebuah cerpen, tetapi yang kutulis bukanlah kepintaran burung camar bersiul, melainkan ketertarikan hatiku kepada dunia lain yang ada di sekeliling burung camar, bagiku burung camar hanya bersiul saat lingkungan sudah mulai berubah. Tenggelamnya Tampomas, Iwan Fals menulis siulan burung camar dalam lirik lagunya, aku bukanlah Iwan Fals, karena aku tidak bisa menulis sebuah lagu pun, aku takut akan menjadi dendangan orang-orang yang putus asa akan ketidakadilan. Biarlah aku di dalam sejarah cerpen agar aku selalu tercatat dan bukan didendangkan seperti itu. Tapi anehnya saat aku tercatat, aku disayembarakan, pujangga-pujangga itu kembali menerima keuntungan, bagiku tiada masalah karena pujangga itu aku ada dan dilahirkan, pujangga seharusnya menyadari bahwa dia diadakan oleh sesuatu yang ada sendiri bukan diadakan seperti yang dia lakukan itu.
Aku muak, lalu aku merantau ke dunia syair, tubuhku dicincang oleh bait-bait puisi, ada yang mengatasnamakan dirinya kemiskinan, ada yang menyebutnya ketidakadilan, ada yang menyerupai pahlawan, dan ada pula yang membayangi kebajikan yang seharusnya atau menjadikan dirinya sebuah perjuangan idelisme. Ya!..hanya itulah samurai beracun yang terbuat dari kata-kata, memedihkan, bahkan menyayat tapi tidak mampu menghapuskan bekas yang ditinggalkan, mereka juga menyebutnya bekas kemelaratan atau bekas kehidupan alam fana. Lalu generasi ke 7 akan mengais rezki di antara puing-puing yang berasal dari dunia bekas, segala macam kehinaan bersatu padu di dalamnya, segala kenistaan menjadi semangat naluriah setiap insan-insan yang sementara singgah. Kemudian generasi ke 7 berkata, kenapa nenek moyang kami memakan habis tanah kami berpijak, sehingga kami terpaksa membuat rumah di atas angin, saat datang badai, rumah dan anak-anak kami diterbangkan bersama puting beliung. Kenapa pula sejarah kami sesat dari jalannya sehingga garis takdir kami terpaksa diukir dengan kanvas kemunafikan. Kenapa pula khalifah kami menggadaikan harga diri kami terhadap hawa nafsu sehingga tuhan kami tidak lagi berharga di mata kami. Tiada yang menyangka hatiku seperih ini, pusaka samawi diinjak-injak oleh pemiliknya sendiri, batinku tertahan di saat bangsa ini melebihi kanibalnya Yajud dan Ma’jud. Lalu mereka masih sanggup mengucapkan takdir jatuh dari langit, padahal tuhan telah dibunuh oleh diri mereka sendiri, tahta-tahta-Nya dirampas habis, para malaikat diberhentikan dari jabatannya, iblis dibebas tugaskan, Adam dan Muhammad disingkirkan, lalu para jin dijadikan penasehat disaat mereka menduduki kursi ketuhanan Yang Maha Esa. Kemudian tuhan juga membuat dunianya sendiri dengan kata ‘KUN FAYAKUN’ yang kedua, ciptakan alam baru tanpa mahluk manusia. Kiranya tuhan tobat melukis takdir yang sama, takut lahir kembali tuan Tuhan yang memusuhinya.
Memang sengaja aku ukir beberapa kisah yang tidak akan pernah terungkap oleh para pujangga, tidak bisa dimaknai oleh penyair, tidak bisa pula diganyang oleh para penulis dengan lidah artikel atau opini harian. Aku sendiri merasakan kehadiaranku di dalam cerita itu, sempat aku berpikir apakah aku memang benar-benar ada atau ada tapi ditiadakan oleh penduduk se zaman? Aku juga bisa menggambar kesombongan yang harus ditaklukan dengan kesombongan model baru, lalu kosombongan model baru juga dikalahan oleh kesombongan model baru. Kemudian aku menciptakan lingkaran setan yang aku sendiri terjebak di dalamnya, akhirnya aku melayang di laut tak bertuan, mengawang di langit tiada ujung, mengambang di alam entah berantah. Aku bertanya, apakah aku memang benar-benar ada? Atau hanya sekedar ilusi yang ditakwilkan oleh mimpi-mimpi? Kenapa aku bermimpi sementara aku sendiri tidak ada, aku sama sekali samar di dalam kenangan yang aku sendiri ragukan keberadaannya. Aku tidak pernah tidur! Apakah aku tuhan?
Itulah aku, aku yang kuciptakan sendiri dengan tangan-tangan ini tanpa sepengatahuan bapak ibuku. Sebab ibuku bertengkar dengan bapak hanya karena aku adalah anak mereka. Bapakku bilang aku anak bapak, tapi ibuku bilang aku adalah anak ibuku, tapi aku menyebut diriku adalah anak alam. Aku diadakan oleh alam dalam kefanaan, saat sipenyair besar itu memanggilku, aku akan segera mengahadap untuk selamanya hingga ke tiang Arasy sekalipun.
Sementara laki-laki danau itu menyebutku miliknya, kita telah ditakdirkan bertemu oleh yang maha kuasa, tidak terpisahkan. Tapi lihat saja dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia disesatkan oleh alam imajinasinya, keinginan yang tidak tercapai atau mimpi yang tertunda untuk selamanya bersatu simpul di dalam benaknya. Wajar saja dia disebut gila oleh siapa saja yang mau menoleh ke tepi danau itu. Setiap hari dia terus sibuk mengacak-acak takdir masa depan, sehingga tiada tawa yang menyelingi kesendiriannya. Saat seperti itu aku lebih memilih jarang menemuinya, sebab bagiku dia lebih menikmati itu dari pada aku. Aku sendiri ikut menyebutnya gila tiada penyebab dan tanpa sejarah. Berulang-ulang aku menegurnya agar segera pulang, tapi tidak sedikitpun batinnya bergeming. Sekasar apapun kata yang kulontarkan baginya masih terlalu halus, padahal kulakukan tanpa dasar cinta ataupun sayang.
‘’Engkau ciptakan imajinasimu sendiri, kelak kau akan dipertuan olehnya!’’
‘’Aku hanya berusaha menerka akan kejadian yang tidak pernah usai itu!’’
‘’Kejadian apa lagi yang kau inginkan?’’
‘’Kejadian yang sempurna!’’
‘’Seperti dalam pikiranmu?’’
‘’Tidak persis!’’
‘’Lalu apa? Apa yang kau harapakan dari kenyataaan ini?’’
‘’Aku tidak berharap seperti dirimu berharap!’’
‘’Ah! Sudah begitu usang kata-kata itu, ganti kosa kata!’’
‘’Memangnya ada kata lain selain kesempurnaan?’’
‘’Terserah!’’
Batinku tertususk, aku berlalu meninggalkannya. Apa sesungguhnya yang dia inginkan dari semua ini? setiap kali aku berusaha memasuki imajinasinya, selalu ditutup dengan kata kematian, ya kematian yang dia cita-ciakan itu. Sepertinya aku harus mengakhiri perdebatan siang itu, tanpa memberikan sedikit harapan tentunya, itu lebih baik dari pada berpura-pura. Aku cukup bilang aku bukan miliknya.
Setelah aku menawarkan kata-kata terakhir itu, dia pun berlalu tanpa jejak, kukira dia beranjak menuju senja, saat senja berlalu mengusung malam, diapun seperti malam menuai pagi dan saling menuai malam-malam mencari kepastian yang dia inginkan. Terpakasa kuusir dari dalam hatiku. Tepat sekali, tiada kutemukan lagi gemanya di antara gerombolan penyair dan komunitas penulis lepas yang dulu dia dirikan bersamaku. Berita terakhir yang kudengar dia pergi ke dunia entah berantah atau mungkin dia berhasil menembus alam imajinasinya itu? Tapi bagaimanapun juga aku juga menyesal telah memberikan kata-kata mati itu untuknya, tanpa kata selamat tinggal sebagai penutup perpisahan.
‘’Fatima! Engkau mau melayat atau tidak?’’, suara itu tiba-tiba memecahkan kesunyianku.
‘’Iya Bu! Sebentar lagi!’’
‘’Seka dulu air matamu dan bersihkan mukamu dari kesedihan yang dia tinggalkan. Fatma! masih banyak pendamping yang cukup boleh mendekatimu, kamu hanya cukup menjelajahi alam imajinasimu saja!’’
‘’Oh tuhan aku tidak sanggup kalau harus berimajinasi lagi!’’.
Jakarta, Rumah Gambar ciputat, 08/07/08

Rabu, 02 Januari 2008

AKHIR MASA

Cerpen
M.Yunis


Rinai masih enggan berhenti membasuh luka-luka Ibu pertriwi. Ya aku tau, hari ini ujung Desember semakin tua, kata orang pada tahun ini segala puncak kejenuhan dilampiaskan, sebagian bilang tempat perhentian terakhir pernak-perniknya dunia, dan bermacam kisah banyak terlahir di ujung Desember, dulu pernah terkenal dengan Desember kelabu, atau hujan di awal Desember, aku kira mempunyai makna yang kurang lebih sama.
Ya! di Ujung Desmber ini gemuruh rintih-rintihan memanggil sepasukannya untuk segera pulang kandang, suatu petanda bahwa hujan akan berhenti atau sekurang-kurangnya istirahat sejenak.
Di ujung Desember ini suara burung geraja tidak lagi tedengar, dua hari yang lalu masih kulihat bertengger di pohon dekat bangunan tua itu, burung geraja juga senang membuat sarang pada puncak-puncak pepohonan yang mati, di samping bangunan tua itu tertancap dua batang pohon ampalan dan satu pohon jambu yang baru saja mati pucuk, hidup malu mati tidak bisa, ya! kemaren aku melihat petir menyambar ketiga pohon jam satu lewat lima menit jumat siang. Setahuku, selama sarang-sarangnya masih ada, burung gereja itu sangat senang berputar-putar di sekitar bangunan. Tapi, aku tidak tau pasti penyebab sarang-sarang itu berserakan 10 meter dari pepohonan. Aku terus berpikir, mungkin burung-burung itu berpindah sarang atau mebuat sarang baru.
Dalam keterpanaan itu, rasa penasaran memboyongku ingin masuk ke dalam bangunan itu, ku perhatikan tonggak-tonggak yang dipenuhi ukiran kaluak paku, agak ke dalam terlihat ukiran tan tandu bararak juga dilengkapi dengan pucuak rabuang, tapi sayangnya ukiran-ukiran itu tidak seperti aslinya sejak dipenuhi boran-boran kecil di sana-sini, namun kelihatannya masih mampu menahan gonjong-gonjong yang runcing di atas. Bangunan itu bisa dibilang tidak terawat, atapnya saja sudah diakari lumut-lumut liar, tapi kokohannya yang mengonjong itu masih sisakan harapan hidup seribu tahun lagi walau segunduk beban mengakar kuat dan tidak juga mau sirna. Setelah igauku tersadarkan, rasa takjub seketika datang, detik-detik selanjutnya aku memilih mengelilingi gangunan itu. Pada bagian belakang bangunan tercermin apik seniman terdahulu, 20 tonggak menjadi sendi berdiri kekokohan, mungkin tonggak-tonggak itu terbuat dari pohon jati atau mahoni, bagian bahawahnya dilengkapi dengan batu landasan, memang bentuknya agak kasar tapi sepertinya telah menyatu dengan tonggak-tonggak itu. Wah! sungguh megahnya bangunan ini dulu, seandainya aku hidup lebih awal tentunya aku tidak mau ketinggalan untuk belajar membuat ukiran sehingga aku dapat mengukir sejarah kebudayaan ini. Ya! aku ingat apa yang dibilang Amak, ‘’di kampung kita ini adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah’’. Apakah mungkin ini yang dimaksud Amak. Rumah dan ruangannya bisa menjadi sebuah perumpamaan dari adat, tapi sekarang mulai reot. Sementara 20 tonggak ini perumpamaan dari syarak dan batu-batu itu sebagai perumpamaan kitabullalh. Antara tonggak dengan batu terlihat menyatu, mungkin sudah terlalu lama dibiarkan membatu, antara batu dan tonggak sudah sejenis, tonggak seperti batu dan batu seperti tonggak. Aku jadi bingung sendiri, kuberusaha mencari kesimpulan dadakan sambil ngomong sendiri dan berputar-putar arah. Ya! aku ngerti sekarang, adat seperti yang dimaksud Amak itu ditopang oleh agama dan Alquraan sebagai kunci. Oh..bukan! yang dimaksud Amak kitabullah, tidak mungkin Alquran sebab setahuku kitabullah ada 4 buah atau kitab yang empat sepertu taurat, zabur, injil sudah terdapat di dalam Alquraan, jadi kitabullah yang dijadikan perumpamaan. Ya! mungkin itu makasudnya. Tapi kok aneh, tonggak dan landasannya masih kokoh tapi bangunnannya semakin renta ditutup sejarah, jika kuperhatikan tidak ada kerja sama yang baik antara atap dengan bangunan, apa lagi antara bangunan dengan tonggak-tonggak itu. Mungkin lebih baik atap langsung saja berada di atas tonggak-tonggak tanpa bangunan dengan begitu kelihatan satu cita-cita, tapi apa jadinya?
Ah..aku pikir lebih baik memasuki ruangan-ruangan di dalam bangunan itu terlebih dahulu agar tanda tanya-tanda tanya yang menghantui terjawab. Semenit kemudian kudapati diriku sudah berada di dalam, seketika tercium aroma alam, sebab sedari tadi perhatianku tidak luput dari keagungan seni yang terdapat di dinding ruangan yang kukira tidak jauh berbeda dengan 2 tongak besar yang berada di pintu masuk tadi. Aku semakin takjub saja, di saat menyaksikan 9 bilik besar melengkapai ruangan tengah. Tapi ruangan-ruangan itu untuk apa dan menyimpan apa? Sepertinya pintu-pintu bilik itu sudah lama tidak dibuka, debu yang berasal dari serpihan-serpian kayu membuatku lebih yakin, lagi pula pada bagian langit-langit tergantung sebuah benda sebesar nyiru, ya! aku tahu itu sejenis serangga setengah mematikan, jika kita digigit badan bisa gemuk dalam sehari. Di sudut rungan terlihat sepasukan kalong bergantungan, rasa letih di malam hari membuatnya kehilangan umur di siang hari, ya! raja-raja malam itu tidak sadar dengan kehadiranku, kalau saja ia terbangun mungkin serangan-serangan fajar akan merobek-robek kesempatanku, aku berusaha lebih-hati hati, lagi pula pengalamam mengendap-endap sudah kuwarisi sedari kecil, saat itu aku berusia 10 tahun, Amak memarahi aku karena aku memecahkan piring nasi, sudah sifatku jika Amak marah akunya pergi dari rumah, kejadian itu diawali jam 12 siang, kata Amak sedang tengah hari jangan kejar-kejaran di dalam rumah, tapi aku tidak mengacuhkan peringan Amak hingga aku menginjak piring, pecah tiga sama besar, belum sempat membilang kata ‘aduh’ mendaratlah ikat pinggang di punggungku yang sepertiga telanjang. Sejak kejadian itu aku selalu murung dan malas makan nasi, padahal Amak sudah membujukku akan mau dibelikan baju baru. Saat malam hari tiba, mataku yang sipit tidak juga terpejam, jam 10 malam aku pergi dari rumah, aku gunakan ilmu mengendap yang kupelajari saat main lakon, surau adalah tempat pelarianku, di surau banyak teman-teman sejawat. Rupanya kemarahan Amak membuatku absen dari keseharian surau. Asyiknya suasana surau kami ketika itu, di sana setelah belajar Alquran, kami belajar silat, pasambahan dan mamangan adat, setelah itu kami bermain lakon hingga main galah. Sekarang, kegiatan ini tidak ada lagi di kampung kami, surau-surau sekarang hanya dihuni oleh pemuda-pemuda yang pulang dari acara orgen tunggal, tapi aku kurang suka dengan pemuda-pemuda itu sebab di pagi hari aku terpaksa membenci surau itu, muntah-muntahan pemuda itu membuatku muak. Aku jadi malas menjenguk kampung halaman yang satu ini, di saat libur kulih pun aku lebih memilih di kosan atau cari kesibukan dalam oragnisasi Mahasiswa di Padang, jika tidak terpakaa atau disuruh Amak pulang, aku tidak pulang. Persoalan biaya tambahan harian kurasa terpenuhi oleh honor tulisan-tulisanku di koran-koran lokal yang terbit di Padang, lumayan buat jajan atau pacaran.
Ya! aku juga ingat, dulu kami pernah main umpat-umpatan dalam bangunan ini, namanya sepak tekong, aku sembunyi di rungan tengah dan tertidur dalam ayunan suasananya yang masih nyaman di lantai papan tempat ku berdiri sekarang, kalau tidak salah jam 5 sore si Andi membangunkan aku, kutahu dia teman baikku, ya! sudah pasti Andi mencariku jika aku tidak dijumpainya di rumah, kata Amak sejak lonceng sekolah berbunyi aku belum mampir kerumah, Amak cemas, ya! aku lupa mengganti pakaian sekolah. Susah mencari teman sejatinya Andi zaman sekarang, sekarang Andi sudah jadi anak rantau yang berhasil membantu orangtuanya, wajar saja, sejak selesai SMP dia sudah mulai mencium keberhasilan itu di Kota Dumai, jika ada gunjingan atau cerita juragan besi tua yang sukses dialah temanku si Andi. Berbeda dengan aku, sikap keras kepala menuntunku ke bangku kuliah seperti sekarang. Tapi aku tidak seberuntung teman-temanku yang lain, di waktu aku lulus SPMB Amak sedang susah, dan terjadilah dosa itu, Amak terpaksa menggadai pusaka untuk keperluan pendidikan aku, sekarang aku tahu bahwa kegiatan menggadai itu tidak diperbolehkan di Ranah Minang, pusaka hanya boleh digadai jika ada 3 perkara: Pertama rumah gadang kebocoran, kedua anak gadis belum bersuami, dan ada kematian tapi biaya penguburan tidak ada. Jadi, tindakan Amak saat itu tidak termasuk salah satu kategori dari yang tiga di atas. Kupikir tidak terlalu berdosa menggadai pusaka karena pendidikan, kuyakin dosa itu terhapuskan jika Amak mampu menebus gadai itu kembali. Mungkin lebih baik dari pada menjual habis. Tapi aku heran, bangunan ini sudah lama kebocoran, kenapa belum juga diperbaiki, ah..itu tidak mungkin kukira, bangunan itu kepunyaan kaum suku jambak, kudengar kabar, dua tahun yang lalu pusaka-nya sudah habis terjual untuk pembangunan Bandara.
Penyesalan ini terlalu dalam bagiku, sejak aku mengetahui bahwa aku sudah bisa bernafas hingga sekarang, aku belum pernah tahu misteri di dalam 9 bilik itu, kuperhatikan pintu-pintunya selalu tertutup rapat hingga angin pun tidak bisa lewat, kunci gembok yang terpasang di bibir pintu itu telah mampu menutup sejarah, karatan dan membasi.. Aku terpaksa melakukan tindakan anarkis, kupukul saja gembok usang itu sampai lepas dari bibir pintu bilik, sekali pukul gembok itu lepas disertainya dengan robohnya konsen dan pintu, aku kaget, cemas, rasa ingin tahulah yang membuatku sekejam ini, tanpa menunggu detik kedua dari jam 4 lewat 10 menit, aku mulai daratkan langkah kaki perdana ke dalam bilik pertama. Astaga, rongsokan dan Alquran berserakan di lantai bilik, kira-kira 10 Alquran, bukan! 12 Alquran, kupungut, kulihat, kubaca, ternyata bukan Alquran tapi sebuah kitab atau sejenis catatatan bertulis tangan menggunakan huruf arab berbahasa Minang. Aku pernah belajar membaca huruf ini di semester 2, mata kuliah itu dinamakan dengan filologi. Ya! aku mengerti, ini adalah naskah-naskah kuno yang dimakasud dalam filologi itu, tergopoh-gopoh aku berpindah ke bilik sebelah, kurasakan suasananya sama dengan bilik pertama tadi, kali ini kutemukan 13 naskah kuno, sebagian dari naskah hangus seperti baru saja dibakar, 2 di antaranya bertuliskan huruf arab asli. Pada empat bilik yang lain juga aku temukan puluhan-puluhan naskah. Dua bilik yang tersisa dikunci oleh suara azan magrib, sesegera mungkin kualihkan perhatian menyususn naskah-naskah tersebut, kubaca permasing-masing judul di antaranya terdapat ajaran tarekat, ilmu mantik dan kitab pengobatan, 2 naskah di antaranya berisi ranji keturunan, entah ranji siapa tidak begitu jelas terbaca akibat kerusakan yang diderita naskah itu, lagi pula tidak mungkin lagi dibaca dengan mata fisik. Di sudut kiri bilik kudapati satu naskah yang berisi petunjuk-petunjuk hari.
Kurasa sudah dua jam lebih kuhabiskan waktu memungut ceceran naskah tadi, kuperbaiki pintu-pintu yang roboh walau tidak seperti sedia kala, dua tunjang ini mulai kugerakan sesaat setelah rasa letih seketika mampir, kuberharap sisa tenaga ini mampu membawaku hingga ke rumah, sesaat suara gemuruh kembali terdengar dan kampung tua itu kembali diguyur hujan lebat, petir bersahutan, berkat usaha maksimal setengah delapan kurang seperempat sampai juga di rumah Amak.
**
Waktu Isya terus merangkak naik, namun lamunan membuatku begitu hanyut, serasa jantung ini membesar, detakannya yang semakin cepat hingga melahirkan bising dan membuat mata ini sulit dipejamkan, aku sedih, gundah bercampur bimbang, nasib naskah-naskah tadi, padahal awalnya mau kubawa tapi niat itu terpaksa aku urungkan kembali saat petir pertama terjadi, entahlah saat itu sifat pengecutku tumbuh, takut terjadi yang Tuhan inginkan. Namun, firasatku mengatakan bahwa bangunan tua itu tinggal menghitung hari, mungkin seminggu atau sebulan, siapa peduli! Kabarnya tanah tempat berdiri bangunan itu akan disulap menjadi saluran irigasi, dua hari yang lalu aku saksikan pegawai pemrintahan sudah mengukur perkubik dari tanah-tanah itu, katanya mau diganti rugi permeter tanah yang terpakai. Tapi bangunan? naskah-naskah? adat ? Syarak? Bagaimana nasibnya?


**Alumni Sastra Daerah Minangkabau

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami
Powered By Blogger

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987