Rabu, 15 Oktober 2008

GADIS IMAJINASI

M. Yunis*

Dulu sebelum aku menjadi seperti ini, aku hanya gadis ladang yang juga sering menerawang seperti dia. Aku beruntung, saat itu paman yang bekerja di ladang mengeloniku pulang ke rumah. Memang sejak tinggal dengan paman 100 parsen hidupku berubah. Aku lebih banyak menyendiri dengan kertas dan pena seperti laki-laki danau itu. Saat itu aku sadar, aku hanyalah sebuah cerpen, cerita yang tanpa sengaja tergores dalam kertas putih. Di kala aku menari bersama senja, aku menjadi sorotan sang pujangga, mereka mulai menggores tubuhku dengan ketajaman pena-pena batin, mereka pula yang menggrayangi harga diri tanpa busana perlindungan. Ya aku bukannya tidak meronta dan bukan pula tidak menolak saat aku diperlakukan seperti itu, tapi aku sendiri telah terlanjur ditelanjangi oleh pikiran-pikiran dunia sebelum diriku benar-benar ditampilkan seperti itu. Semula aku mulai dirangkai dalam bentuk bingkai, tetapi mereka lambat laun memaksakan diri untuk hidup di bawah kukungan pena-pena adi kuasa. Mereka bertahan dengan goresan kalam, kalaupun itu mendapat tempat di hati penikmat koran-koran kehidupan barulah aku berjaya, walau harus mengorbankan harga diriku sendiri tentunya.
Saat aku menari bersama ombak, akulah yang paling berkuasa di pinggiran pantai, aku jugalah yang paling baik, hanya saja terkadang aku jenuh dan aku rayapi semua tanah tepian, kemudian para pujangga juga menulis sepak terjangku, dimulai saat dari mana datangku, penyebab kedatanganku, kepergianku dengan sejumlah korban hingga bekas-bekas yang aku tinggalkan. Pujangga tetap saja menelanjangi diriku tak obahnya saat aku menjelma menjadi sebuah cerpen. Akhirnya aku memang benar-benar tercatat hanya di dalam cerpen-cerpen.
Lalu aku bersiul bersama burung camar, aku pun menulis diriku sendiri karena aku sebuah cerpen, tetapi yang kutulis bukanlah kepintaran burung camar bersiul, melainkan ketertarikan hatiku kepada dunia lain yang ada di sekeliling burung camar, bagiku burung camar hanya bersiul saat lingkungan sudah mulai berubah. Tenggelamnya Tampomas, Iwan Fals menulis siulan burung camar dalam lirik lagunya, aku bukanlah Iwan Fals, karena aku tidak bisa menulis sebuah lagu pun, aku takut akan menjadi dendangan orang-orang yang putus asa akan ketidakadilan. Biarlah aku di dalam sejarah cerpen agar aku selalu tercatat dan bukan didendangkan seperti itu. Tapi anehnya saat aku tercatat, aku disayembarakan, pujangga-pujangga itu kembali menerima keuntungan, bagiku tiada masalah karena pujangga itu aku ada dan dilahirkan, pujangga seharusnya menyadari bahwa dia diadakan oleh sesuatu yang ada sendiri bukan diadakan seperti yang dia lakukan itu.
Aku muak, lalu aku merantau ke dunia syair, tubuhku dicincang oleh bait-bait puisi, ada yang mengatasnamakan dirinya kemiskinan, ada yang menyebutnya ketidakadilan, ada yang menyerupai pahlawan, dan ada pula yang membayangi kebajikan yang seharusnya atau menjadikan dirinya sebuah perjuangan idelisme. Ya!..hanya itulah samurai beracun yang terbuat dari kata-kata, memedihkan, bahkan menyayat tapi tidak mampu menghapuskan bekas yang ditinggalkan, mereka juga menyebutnya bekas kemelaratan atau bekas kehidupan alam fana. Lalu generasi ke 7 akan mengais rezki di antara puing-puing yang berasal dari dunia bekas, segala macam kehinaan bersatu padu di dalamnya, segala kenistaan menjadi semangat naluriah setiap insan-insan yang sementara singgah. Kemudian generasi ke 7 berkata, kenapa nenek moyang kami memakan habis tanah kami berpijak, sehingga kami terpaksa membuat rumah di atas angin, saat datang badai, rumah dan anak-anak kami diterbangkan bersama puting beliung. Kenapa pula sejarah kami sesat dari jalannya sehingga garis takdir kami terpaksa diukir dengan kanvas kemunafikan. Kenapa pula khalifah kami menggadaikan harga diri kami terhadap hawa nafsu sehingga tuhan kami tidak lagi berharga di mata kami. Tiada yang menyangka hatiku seperih ini, pusaka samawi diinjak-injak oleh pemiliknya sendiri, batinku tertahan di saat bangsa ini melebihi kanibalnya Yajud dan Ma’jud. Lalu mereka masih sanggup mengucapkan takdir jatuh dari langit, padahal tuhan telah dibunuh oleh diri mereka sendiri, tahta-tahta-Nya dirampas habis, para malaikat diberhentikan dari jabatannya, iblis dibebas tugaskan, Adam dan Muhammad disingkirkan, lalu para jin dijadikan penasehat disaat mereka menduduki kursi ketuhanan Yang Maha Esa. Kemudian tuhan juga membuat dunianya sendiri dengan kata ‘KUN FAYAKUN’ yang kedua, ciptakan alam baru tanpa mahluk manusia. Kiranya tuhan tobat melukis takdir yang sama, takut lahir kembali tuan Tuhan yang memusuhinya.
Memang sengaja aku ukir beberapa kisah yang tidak akan pernah terungkap oleh para pujangga, tidak bisa dimaknai oleh penyair, tidak bisa pula diganyang oleh para penulis dengan lidah artikel atau opini harian. Aku sendiri merasakan kehadiaranku di dalam cerita itu, sempat aku berpikir apakah aku memang benar-benar ada atau ada tapi ditiadakan oleh penduduk se zaman? Aku juga bisa menggambar kesombongan yang harus ditaklukan dengan kesombongan model baru, lalu kosombongan model baru juga dikalahan oleh kesombongan model baru. Kemudian aku menciptakan lingkaran setan yang aku sendiri terjebak di dalamnya, akhirnya aku melayang di laut tak bertuan, mengawang di langit tiada ujung, mengambang di alam entah berantah. Aku bertanya, apakah aku memang benar-benar ada? Atau hanya sekedar ilusi yang ditakwilkan oleh mimpi-mimpi? Kenapa aku bermimpi sementara aku sendiri tidak ada, aku sama sekali samar di dalam kenangan yang aku sendiri ragukan keberadaannya. Aku tidak pernah tidur! Apakah aku tuhan?
Itulah aku, aku yang kuciptakan sendiri dengan tangan-tangan ini tanpa sepengatahuan bapak ibuku. Sebab ibuku bertengkar dengan bapak hanya karena aku adalah anak mereka. Bapakku bilang aku anak bapak, tapi ibuku bilang aku adalah anak ibuku, tapi aku menyebut diriku adalah anak alam. Aku diadakan oleh alam dalam kefanaan, saat sipenyair besar itu memanggilku, aku akan segera mengahadap untuk selamanya hingga ke tiang Arasy sekalipun.
Sementara laki-laki danau itu menyebutku miliknya, kita telah ditakdirkan bertemu oleh yang maha kuasa, tidak terpisahkan. Tapi lihat saja dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia disesatkan oleh alam imajinasinya, keinginan yang tidak tercapai atau mimpi yang tertunda untuk selamanya bersatu simpul di dalam benaknya. Wajar saja dia disebut gila oleh siapa saja yang mau menoleh ke tepi danau itu. Setiap hari dia terus sibuk mengacak-acak takdir masa depan, sehingga tiada tawa yang menyelingi kesendiriannya. Saat seperti itu aku lebih memilih jarang menemuinya, sebab bagiku dia lebih menikmati itu dari pada aku. Aku sendiri ikut menyebutnya gila tiada penyebab dan tanpa sejarah. Berulang-ulang aku menegurnya agar segera pulang, tapi tidak sedikitpun batinnya bergeming. Sekasar apapun kata yang kulontarkan baginya masih terlalu halus, padahal kulakukan tanpa dasar cinta ataupun sayang.
‘’Engkau ciptakan imajinasimu sendiri, kelak kau akan dipertuan olehnya!’’
‘’Aku hanya berusaha menerka akan kejadian yang tidak pernah usai itu!’’
‘’Kejadian apa lagi yang kau inginkan?’’
‘’Kejadian yang sempurna!’’
‘’Seperti dalam pikiranmu?’’
‘’Tidak persis!’’
‘’Lalu apa? Apa yang kau harapakan dari kenyataaan ini?’’
‘’Aku tidak berharap seperti dirimu berharap!’’
‘’Ah! Sudah begitu usang kata-kata itu, ganti kosa kata!’’
‘’Memangnya ada kata lain selain kesempurnaan?’’
‘’Terserah!’’
Batinku tertususk, aku berlalu meninggalkannya. Apa sesungguhnya yang dia inginkan dari semua ini? setiap kali aku berusaha memasuki imajinasinya, selalu ditutup dengan kata kematian, ya kematian yang dia cita-ciakan itu. Sepertinya aku harus mengakhiri perdebatan siang itu, tanpa memberikan sedikit harapan tentunya, itu lebih baik dari pada berpura-pura. Aku cukup bilang aku bukan miliknya.
Setelah aku menawarkan kata-kata terakhir itu, dia pun berlalu tanpa jejak, kukira dia beranjak menuju senja, saat senja berlalu mengusung malam, diapun seperti malam menuai pagi dan saling menuai malam-malam mencari kepastian yang dia inginkan. Terpakasa kuusir dari dalam hatiku. Tepat sekali, tiada kutemukan lagi gemanya di antara gerombolan penyair dan komunitas penulis lepas yang dulu dia dirikan bersamaku. Berita terakhir yang kudengar dia pergi ke dunia entah berantah atau mungkin dia berhasil menembus alam imajinasinya itu? Tapi bagaimanapun juga aku juga menyesal telah memberikan kata-kata mati itu untuknya, tanpa kata selamat tinggal sebagai penutup perpisahan.
‘’Fatima! Engkau mau melayat atau tidak?’’, suara itu tiba-tiba memecahkan kesunyianku.
‘’Iya Bu! Sebentar lagi!’’
‘’Seka dulu air matamu dan bersihkan mukamu dari kesedihan yang dia tinggalkan. Fatma! masih banyak pendamping yang cukup boleh mendekatimu, kamu hanya cukup menjelajahi alam imajinasimu saja!’’
‘’Oh tuhan aku tidak sanggup kalau harus berimajinasi lagi!’’.
Jakarta, Rumah Gambar ciputat, 08/07/08

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987