Jumat, 20 Mei 2011

‘’CONSERVATION OF MANUSCRIPTS’’, DARI ELUMINASI HINGGA PENYELAMATAN ALAM SEMESTA

Oleh. M.Yunis* 
Pasca gempa 30 september 2009 di Sumatra barat, meninggalkan kisah pilu. Kepiluan itu tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang tidak mempunyai rumah, seyogyanya peninggalan lama pun tidak luput dari lahapan gempa. Salah satu peninggalan maha karya tersebut adalah naskah lama yang ditulis oleh para pendahulu-pendahulu Minangkabau.
            Berkat kerja sama pemerintahan Jepang dengan Universitas Andalas, rasa pilu itu sedikit terobati. Bertepatan pula dengan ‘rencana gempa’ tanggal 25 november 2010, dan acara yang juga diinisiatifi oleh filolog-filolog Fakultas Sastra Universitas Andalas (Prof. Dr. Herwandi, M.Hum dan Pramono, SS, M.Si) Osaka University (Yumi Sugahara), NRICP Tokyo (Akiko Tashiro, Ikuko Nakajima, dan Itaru Aritomo) dan Manassa Sumbar (Dra. Adriyetti Amir, SU), kecintaan terhadap peninggalan lama itu diwujudkan dalam bentuk, ‘’Workshop on The Conservation of Manuscripts in Earthquake-Affected’’.  Seperti yang dikemukan oleh Yumi Sugahara (Osaka University) dan Itaru Aritomo (NRICP) bahwa kegiatan ini perlu, berhubung pasca gempa kegiatan ini belum terrealisai maka pada kesempatan inilah rencana itu bisa diwujudkan. Di samping melakukan konservasi, dalam workshop ini juga dilakukan eliminasi naskah yang sudah rusak dan tentunya kegiatan ini membutuhkan komitmen yang penuh, sehingga naskah lama bisa diselamatkan.
            Di sela-sela materi yang disampaiaknnya, Yumi Sugahara dan Itaru Aritomo menjelaskan bahwa terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara eliminasi  bergaya Eropa dengan eliminasi  ala Jepang. Ditegaskannya, bahwa eliminasi  bergaya Jepang dapat dilakukan dengan cara manual dan dengan mempergunakan mesin. Di Indonesia mesin eliminasi naskah itu terdapat di perpustakaan nasional Jakarta. Eliminasi ala Eropa lebih diidentikan dengan penggunaan lem yang terbuat, oleh karenannya naskah yang sudah selesai diperbaiki tidak bisa dibuka kembali. Sedangkan eliminasi  gaya Jepang lebih banyak menggunakan methanol sebagai pembunuh kuman dan air sebagai perekat naskah dengan serbuk Tisu Jepang, tujuannnya naskah bisa dibuka atau dipisahkan kembali dari tisu yang melindunginya. Cara ini disiyalir untuk menyesuaikan teknik eliminasi  dengan kemajuan teknologi yang akan datang. Jadi, naskah yang telah dilindungi tisu bisa dibuka kembali dan tentunya naskah tersebut disesuaikan dengan penemuan bahan pelindung terbaru. Gaya ini tentunya sangat berbeda dengan gaya Eropa, yang mana nashkah langsung direkatkan dengan tisu dengan sepenuhnya menggunakan lem, karenanya naskah tidak bisa lagi dipisahkan dari tisu yang melindunginya.
Dijelaskan oleh Yumi, bahwa penyebab kertas naskah cepat rusak dan mudah dimakan rayap sangat tergantung tingkat keasaman kertas naskah tersebut. Kertas Eropa yang memiliki tingkat keasamannnya tinggi mempercepat kerusakan naskah. Berbeda dengan kertas Jepang dan Daluang yang biasa digunakan dalam penulisan naskah Nusantara, kedua kertas tersebut bersifat netral dan sekarang kertas Daluang masih diproduksi di daerah Jawa Barat dan juga masih digunakan dalam penulisan-penulisan. Untuk kondisi naskah yang tidak terlalu rusak, naskah cukup dibersihkan dengan kuas yang terbuat dari bulu kuda. Naskah yang belum dieliminasi disarankannya disimpan dengan ditidurkan. Sebab kebanyakan dari naskah yang rusak sangat rapuh dan kondisi penyimpanan yang tidak selayaknya akan menambah kerontokan halaman nashkah.
Kegiatan konservasi ini dilakukan sudah untuk kesekian kalinya, kegiatan serupa juga pernah dilakukan, tanggal 20 April 2010 Fakultas Sastra Unand dan eliminasi naskah dilanjutkan di Surau Paseban Koto Tangah Kodya Padang, tetapi eliminasi naskah bercorak Eropa. Kegiatan tersebut dihadiri oleh filolog muda dari IAIN Imam Bonjol (Apria Putra). Di sela prsentasinya, Apria mampu menjelaskan penelusuran jejak Ulama di Minangkabau bersama naskah yang ditinggalkannya. Penelusuran itu baru dilakukan pada satu titik yaitu di Kumpulan Pasaman, jelasnya Simpang Tonang. Tetapi sayang sekali, kondisi naskah itu sudah banyak yang rusak, seperti pernyataan yang dikemukan oleh Pramono Filolog dari Sastra Minangkabau, bahwa naskah tersebut sampai sekarang masih banyak berada dan berserakan di lapangan. Seperti Surau Paseban, Surau-surau Kabupaten Padang Pariaman yang sekarang sudah banyak yang roboh, Payakumbuah, Lunang, dan daerah lain yang belum terdata. Di Pariaman sendiri masih banyak Naskah Lama yang dikoleksi secara pribadi, seperti kitab pengobatan orang kerasukan, palangkahan dan lain sebagainya. Kondisi yang sangat memperhatinkan ungkap Pramono, Naskah Kuno di Sungai Limau, di sana terdapat puluhan naskah yang mihrab ke langit. Kondisi ini diciptakan oleh alam, sebuah kondisi yang gawat darurat naskah tersebut tidak berhasil diselamatkan lagi karena tempat naskah itu ditumpuk telah dihancurkan oleh gempa 30 Desember 2009 yang lalu.
Sesuai dengan pendapat Prof. Razak (Malaysia), bahwa penyebab yang sangat signifikan kerusakan naskah di antaranya; pertama berkaitan dengan tempat penyimpanan naskah yang pengap udara. Cuaca panas, membuat udara yang ada di dalam tempat penyimpanan naskah memuai sehingga naskah menjadi sangat kering. Saat datangnya hujan, cuaca sangat dingin sehingga naskah menjadi lembab kemudian kering kembali. Dari fenomena ini dapat dibayangkan kondisi naskah setelah itu, apalagi naskah sudah disimpan selama berpuluh-puluh tahun. Kedua, kondisi naskah yang mengerenyut karena kertasnya sudah terlalu lama. Kondisi naskah yang seperti ini masih bisa diselamatkan dengan distrika dengan strika khusus naskah. Tetapi kendalanya, alat tersebut cukup mahal dan hanya tersedia di Korea. Ketiga, kondisi naskah yang hurufnya hancur, naskah seperti ini menurut Prof. Razak tidak perlu diselamatkan lagi.
Pendapat di atas juga dibenarkan oleh Yumi Sugahara dan menyarankan tidak menyimpan naskah di tempat yang terlalu pengap atau terlalu dingin, karena akan mempercepat kerusakan halaman naskah-naskah. Kondisi yang serupa juga penulis temukan saat berkelana dengan M. Yusuf dan Yusriwal (Alm)  yang juga Filolog dari Sastra Unand di daerah Sumani Solok. Kondisi seperti ini sangat berbahaya bagi pelindungan naskah, penyebab utamanya tempat penyimpanan naskah yang tidak layak, naskah itu ditumpuk naskah di simpan di atas loteng Surau, seperti fakta yang ditemukan di Surau Sumani Solok tahun 2002 yang lalu.
Terlepas dari masalah di atas, timbul pertanyaan, naskah kuno ini mau dibawa kemana dan fungsinya apa? Mengacu pada pendapat Apria Putra, melalui naskah kuno kita mampu menelusuri jejak Ulama di Minangkabau. Menurut penulis, keberhasilan usaha tersebut di atas hanya merupakan salah satu saja dari rahasia yang berhasil dungkap dan tersimpan di balik naskah lama. Menilik pada geneologi, latar belakang baik  kata, kalimat, huruf yang digunakan, masa ditulis, juga mempunyai latar belakang sendiri. Tulisan yang dugunakan kiranya juga mampu mengungkap latar belakang ideologi masyarakat, kebudayaan, dan kekuasaan yang berlaku ketika itu.
Penulis berpandangan, bahwa naskah lama sesungguhnya bisa dikaji melalui pendekatan ilmu bahasa (Linguistik). Senada dengan itu, Al-Fayyadl (2005) juga pernah menyatakan bahwa sesungguhnya Filologi itu adalah Linguistik dan dari sanalah Linguistik itu lahir. Filologi merupakan sebuah cabang ilmu bahasa, di dalam pengkajiannya juga bisa melibatkan ilmu bahasa makro, baik untuk melihat geneologi kata, bahasa, tulisan sehingga kehadirannya teks naskah itu perlu bagi perkembangan generasi. Filologi dalam pengkajian naskah tidak harus ending pada eliminasi, translitrasi dan suntingan teks saja tetapi dibalik teks tersbut kecendikiawanan, ide, pandangan hidup, dan lain-lain.
Berkaitan dengan itu, dirunut dari awal abad pertengahan hingga abad moderen, awal abad pertengahan mulai kehilangan pandangan tentang banyak ajaran kuno dan klasik. Naskah lebih banyak disimpan di tempat tertentu dan hanya orang tertentu yang boleh membacanya. Kemudian Eropa mengalihkan pandangannya ke Timur untuk menemukan kembali dokumen tua yang sudah lama hilang di dunia Barat. Dokumen itu tertulis dengan bahasa Yunani, bahasa Arab, dan Siria. Kebijaksanaan purba seperti Yunani (Plato dan Aristoteles) beberapa waktu tersimpan dalam masyarakat Islam. Oleh karena itu, Eropa ingin belajar kembali dengan melahirkan ‘renaisance’’ (kelahiran kembali). Di zaman itu banyak di antara pemikir kerasukan alkimia, sebab di antara mereka banyak yang menganggap alam sebagai sistem tanda yang suci. Tidak bertahan lama (Renaisance bertahan dari abad ke-14 hingga abad ke-16). Akibatnya, abad pencerahan dikritik dan digoyang awal abad ke-20 dengan datangnya para ‘’mordernis’’, dan kritikus gereja tahun 1910 hingga pecahnya perang dunia II. Para mordernis adalah murid sains yang mengharapkan dunia kuat dan baru, semuanya menggunakan teknologi dan matematika dalam desain mereka. Pada saat ini terjadi kemunduran zaman modern karena kealpaan masyarakat terhadap kebudayaannnya (O’donnill, 2009), kemunduran ini juga disebut oleh Gidden (2001) sebagai ‘tumbal modernitas’.
Alhasil, muncullah kritikus-kritikus penentang filsafat Barat seperti Friedrich Nietzsche dengan filsafat kehendak, kebenaran mutlak dibongkar oleh Derrida, sistem kapitalis dilawan oleh Karl Marx, hegemoni pengetahuan ditentang oleh Michel Foukoult. Nietzsche dengan nalar puitisnya bercerita tentang geneologi moral dalam satu ‘’kehendak untuk berkuasa’’, pengikutnya yang termasyur adalah Michel Foukoult, Jean Paul Sartre, Gileze Deleuze, dan Jacques Derrida. Di Timur sendiri lahir M. Iqbal beserta pemikirannya yang sangat cemerlang dalam menaklukkan kehendak berkuasa. Maka dari itu, Iqbal dikenal sebagai Nietzsche dari Timur. Untuk menanggulangi kerusakan, penganut modernitas kembali melirik Timur, karena di Timur banyak naskah lama masih tersimpan, tertulis dan asli. Usaha tersebut dilakukan untuk mencari jati diri dan kembali pada kosmologi alam. Ekspedisi ke Yunani membawa kaum modernis pada kekhasan naskah-naskah lama yang berbahasa Yunani dan katanya hanya mitos. Namun kesadarannya konensioanalnya mampu menaklukan keganasan, kengerian dan kekejaman alam semesta.  Faktanya iblis sebagai mahluk pengganggu disebutnya Satyr dan bertugas membantu orang manusia (Hamilton, 2009).
Tidak berbeda dengan naskah lama yang terdapat di dunia Timur, di antaranya bersi tentang falsafah hidup, etika terhadap alam semesta, etika pergaulan muda-mudi, dan lain-lain. Jika naskah tersebut diperlakuan dengan layak, polisi kehutanan tidak akan susah menggagalkan ilegal loging, penduduk aman dari ancaman banjir, tanah longsor, bibit-bibit fauna laut pantai selatan juga akan terjaga dari pukat harimau.

*Pemerhati Naskah Lama dan Panitia Pelaksana Workshop on The Conservation of Manuscripts in Earthquake-Affected. 

 catatan: Tulisan ini telah diterbitkan oleh padang ekspres.


Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987