Rabu, 06 Agustus 2008

SAYEMBARA

1.

Oleh M. Yunis

Lirikan laki-laki itu setapak demi setapak merangkak lambat mengisi jelang sore yang tertatih-tatih. Sudah dua hari ini matahari agak terkesima bangkit dari peraduan lusuhmya. Siang itu terasa terlalu cepat, mungkin bencana-bencana yang datang silih berganti membuat orang melupakan waktu-waktunya tercecer dikejar kecemasan, pegawai kantoran, pejabat pemerintah hingga klining service, berhamburan saat mendapati dirinya sejengkal dengan kuasa maut pagi. ‘’Gempa! Gempa! Lari keluar!’’, teriakan itu selalu mengisi hari demi hari.
Kota Padang merupakan salah satu Kota pinggiran Indoneisa yang berlangganan gempa, hampir tiap menit, detik, ramai orang disuguhi segala macam kekalahan. Namun, di Ranah ini pernah lahir Hamka, Agus Salim hingga Hatta. Sayangnya, kepergiaannya mereka meninggalkan sejuta kenangan masa lalu sekaligus luka. ‘’Air sudah sampai di simpang haru! Air sudah sampai di simpang By Pass!’’, teriakan ini pula yang selalu menciptakan relitasnya sendiri. Jumaat malam akhir 2006 kembali isu bencana menyeruak, bahwa akan datang gempa besar berkekuatan 9,5 SR, berbondong-bondonglah para penduduk berhamburan ketempat yang dianggap tinggi dan jauh dari jangkauan malaikat maut. Hingga satu minggu berbagai macam tenda-tenda darurat pun berdiri, tak obahnya Pemerintahan Darurat RI tempo dulu. Sejenak waktu berlalu, koran memberitakankan, televisi pun tidak ketinggalan, berikutnya RRI yang juga tak luput dari informasi terbaru bahwa banyak di antara penduduk kebablasan, jantungan karena ketakukan, tersiar kabar 2 pengunjung terjun bebas dari lantai 8 Minang Plaza, di Ujung Gurun sana ibu-ibu menggorok lehernya. Sementara itu, di sudut genung kota di kaki bukit seorang laki-laki berjenggot masih saja sibuk menepis segala kemungkinan yang dia ciptakan sendiri. Dia sendiri lupa bahwa malam ini jumatnya kian sempit, apa lagi teringat wajah-wajah pengusiran, serasa waktu ini makin menipis, hantui segenap pikiran, hanya satu pejaman mata relakan moment untuk nafas melintas, sesaat nafsu larat kembali memaksa, ‘’tukikan busur-busur mata lajangmu itu!’’, kata-kata itu yang terlintas di dalam rimba imajinasinya, ya masih bermuara pada denotatum yang sama, komputer, buku dan segunduk harapan. Dia ingin sekali melarikan diri, hingga dia sendiri pun tidak tahu akan harapan dan segenap impian itu mengunjungi tursina. Ya.., dunia semakin terbuka, sertifikat pujian yang masih bercokol kuat dan terkadang selalu menjadi buah bibir masih terlalu manis diucapkan orang-orang, padahal masih ribuan tema yang mengharapkan sorotan, mereka protes, itupun tidak akan mampu mengubah kerusakan dunia ini. Namun, dia juga menyadari bahwa makna hidup hampir separoh selesai, dia sendiri dihadang oleh Semiotik saat sesampai di persimpangan generasi. Mungkin hal itu memang benar-benar terjadi.
‘’Inikah hasil pengambaraan itu?’’, sebuah tanya memprotes.
‘’Aku tidak meniadakannya begitu saja, kamu terlalu terlibat dalam hayalan orang-orang itu, padahal dulunya aku terlalu bangga padamu, karena kamulah aku bisa, tapi karena kamu jugalah aku menjadi seperti ini!’’, kata-katanya begitu datar tetapi mengandung pembelaan atau kekalahan?
Namun dia hanya menganggap ini hanyalah serangan fajar yang datang agak terlambat, sesaat kemudian dia pun telah berlalu didera terpa hembusan nafas-nafas malam atau menguap sama sekali seiring berlalunya embun di pagi buta. Dan begitu cepat pula matahari membakar iga-iga yang sembul, celaka.., lebur juga dunia ini!.
Ya, dia si lelaki yang telah melakukan sebuah kesalahan, hanya sebuah itupun dosa yang pernah dibawanya sejak dia dihadirkan di dunia ini, hitungan anak-anak, remaja, dewasa dan mungkin menjelang uzur tua, tapi wujudnya baru dilihatnya saat ulang tahun pertama sekaligus yang terakhir. Dia menganggap inilah sebuah kado idealisme pengganti kepergian sang nenek untuk selamanya tahun 2002, siapapun tak akan mengira sengketa tanah pagi itu ikut mengusung neneknya ke peristirahatan terkhir, tapi dia yakin masa itu perang baru saja akan dimulai.
Semasa hidup Si Nenek itu terlalu kolot atau primitif yang memang cocok terlahir pada masa itu, masa transisi sekaligus masanya langit membara. Sapaan akrab Gandoriah adalah sebutan yang telah diwarisinya setelah berlalu dari rahim Upiak Mala, Mala sendiri berasal dari darah Upiak Andong. Sebenaranya Upiak Andong sendiri masih punya pewaris lain seperti Jala dan Budur. Tetapi mereka telah tinggal berpencar, bukan karena zaman bergolak, melainkan kepribadian mereka masing-masingnya berbeda-beda. Budur menetap Matrilokal di Mangga Dua, setelah 2 tahun menikah dia lebih memilih berperan dalam penyerbuan ke Kota Pariaman yang sudah 5 tahun diduki Belanda. Saat itu serdadu Belanda berhasil memukul mundur pasukan pribumi, nyatanya dalam penyerangan itu Budur tertangkap dan duhukum mati oleh Belanda.
Sedangkan si Jala dipanggil Jala karena sikapnya menyerupai penjajah yang haus darah, dalam bahasa Minang kata Jala itu sendiri berarti menjelajahi dan menyantap habis apa saja yang ditemukan, masyarakat membencinya dari belakang, ketika dia lewat di hadapan khalayak ramai puji-pujian menyambutnya hingga dia sendiri keblingar dan lubang hidungnya tertunggang ke atas, se saat dia berlalu semua orang hanya membicarakan kejelekannya. Dia juga suka menghasut mengadu domba sanak saudaranya yang masih sedarah, semua orang tahu di dalam dirinya sudah mengakar tunggang sifat iri dan dengki. Di saat saudaranya Si Gandoriah mendapatkan limpahan rezeki panen padi di sawah, Gandorish menjadi topik terhangat pengganti koran pagi sampai-sampai Jala menderita demam tinggi. Sayangnya koran berjalan itu tidak sanggup hidup lebih lama, dia tutup usia saat berumur 60 tahun dan meninggalkan 3 orang anak, 2 perempuan, satu laki-laki, ternyata buah tidak jatuh tidak jatuh jauh dari batangnya, ketiga anaknya mewarisi sifat ibunya si Jala. Dari segi namanya tiga orang anak Jala itu termasuk ke dalam kategori islam santri, Rosna misalnya, dia rajin sholat tetapi urat betisnya berpilin tiga, hatinya menghitam karena selalu mengadu domba orang yang bersaudara. Sedangkan yang satu lagi bernama Rohani, dia juga rajin sholat, pengajian di Surau tetapi sikapnya seperti katak hijau, mata duitan, suka mempergunjingkan orang yang bersaudara, kalu tidak berantam dengan Si Rosni, dia berrantam dengan Fatma. Sesekali mereka Join untuk menhadapi Fatma anak tua Gandoriah tetangga mereka. Pertengkaran itu selalu diawali dengan harta pusaka yang tidak lain adalah tanah yang mereka tinggali tersebut. Fatma sebagai anak Gandoriah tidak lagi tinggal bersama ibunya di Bukit Ujung, sejak menikah dia dibopong oleh suaminya ke Bukit Luar Bandar. Dulunya di Bukit Luar Bandar terdapat tanah pusaka yang ditinggal mati oleh penghuninya, pemilik tanah itu adalah Malin Deman orang terkaya di Bukit Luar Bandar. Dia disebut oeleh orang kampung orang habis, yaitu orang yang tidak mempunyai keturunan. Menjelang kematiannya dia berwasiat agar salah satu keturunan dari Gandoriah mau meninggali tanah pusaka yang dimilikinya itu, dia tidak rela jika anak-anak Si Jala meningggali tanah tersebut, semasa hidup dia sempat mengusir keturunan Jala terasebut dengan membakar pondok yang mereka tempati itu. Malin Deman sudah lama membenci keturunan Jala yang bersikap semaunya, awalnya Jala sendiri yang meminta kepada Malin Deman agar mereka diperbolehkan menumpang di tanah tersebut, Malin Deman sebagai orang yang terpandang sangat mengahargai nenek moyang mereka yang masih satu suku dengannya, pinta tersebut dikabulkan, tetapi dia terlanjur berjanji dalam hati, bahwa mereka diperbolehkan tinggal di tanah itu hanya sepanjang Malin Deman masih bernapas. Setelah Malin Deman tiada mereka harus pergi dari tanah itu dan digantikan oleh keturunan Gandoriah.
Sebenarnya Gandoriah sendiri sedikit keberatan memenuhi wasiat Malin Deman, karena dia tidak suka berdekatan tinggal dengan anak saudara sepupunya itu, Gando yakin akan selalu pecah pertengkaran dengan mereka. Namun keinginan Malin Deman itu tetap dipenuhi, tidak baik menolak peremintan teerkhir orang yang akan meninggal. Kebetulan sekali setelah menikah Fatma di bawa suaminya pindah ke Bulkit Luar Bandar, Gando meminta anaknya Fatma menuruti keinginan sumainya, kemudian Fatma pun menetap di tanah pusaka Malin Deman. Keputusan tersebut mendapatkan sanggahan dari keturuan Jala yang terlebih dulu tingal di sana, kenyataannya belum cukup satu bulan menetap di tanah itu Fatma dengan Rohani bersaudara cakra-cakaran dan unjuk-unjuk pantat hingga menurus kepada lemparan batu.
Kejadian tersebut tercium oleh saudara laki-laki Rohani bersaudara Si Mahyudin, sikapnya kurang lebih sama dengan kedua saudaranya itu, tetapi sebagai laki-laki dia tidak tahan mendengar gunjingan masyarakat tentang keluarganya yang selalu membuat masalah, dia pun pergi dan menetap di rumah istrinya di tanah pusaka Dt. Rajo Sampono di ranah Katapiang. Meskipin begitu, sesekali dia tetap datang ke Buku Luar Bandar walau hanya sekedar memngambil hasil panen buah kelapa. Di dalam kebudayaan Minangkabau, Mahyudin dijuluki oleh masyarakat urang sumando lapiak buruk di rumah istrinya, dia hanya sibuk dengan rintang anak istrinya tanpa mau peduli sedikitpun dengan keluarga batihnya. Dia juga sering ribut dengan anak Si Rosna yang masih tercatat sebagai kemenakannya sendiri, bahkan Mahyudin pernah diburu dengan parang peninggalan Belanda oleh kemenakannya Si Bujang. Setelah kejadian itu Mahyudin mulai jarang menjadatangi rumah Rohani bersaudara.

Bersambung...........

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987