Minggu, 10 Agustus 2008

Sisi Lain Kehidupan Veteran RI, 34 Tahun Merangkum 64 Hukum Adat di Indonesia

Minggu, 03 Agustus 2008

Sample Image Tentara ternyata tidak hanya piawai di medan laga. Sebagian mereka, menyempatkan diri mempelajari adat dan budaya di tempat tugas. Berkomunikasi, diskusi, mencatat dan merekam setiap pembicaraan dengan tokoh-tokoh adat.

Kebiasan langka inilah yang dilakoni Kolonel Inf (Purn) Zainuddin K, SH (60) selama 34 tahun di TNI AD hingga bisa merangkum 64 hukum adat di Indonesia. Salah satu hasil diskusi dan wawancaranya yang sudah dibukukan tahun 2000 lalu Edisi VIII tentang Hukum Adat Minangkabau.

Untuk meramu buku setebal 152 halaman ia memanfaatkan masa tugas selama 34 tahun dari Aceh hingga Indonesia Timur untuk berdiskusi dengan para datuk yang sudah lama merantau dari Ranah Minang. Dari pengembaraan intelektual itu, ia sudah menjumpai sekitar 300 datuk dengan beragam pendapat. Ia juga melahap buku-buku sejarah untuk penyempurnaan rangkuman tulisan tersebut.

Awal tahun 2000 pertama diterbitkan sekitar 20 ribu copy langsung ludes. Namun ia enggan memasukkannya ke percetakan resmi. Baginya buku bukan untuk orientasi ekonomi tetapi hanya bagian kecil sumbangan pikiran untuk generasi muda dan pengabdian untuk bangsa. Selain hukum adat Minang merangkum 63 hukum adat lain yang pernah ia singgahi dalam tugas kemiliteram sejak masuk Akademi Militer Nasional (AMN) tahun 1970.

Namun tidak dibukukan secara langsung tetapi hanya ditulis rapi dan diserahkan ke tokoh adat setempat. Saat ditemui Padang Ekspres di rumahnya yang sederhana di Komplek TNI Tarandam Kota Padang No 27 A, kecintaannya terhadap kegiatan tulis menulis memang tergambar dari ruangan depan rumahnya. Dua almari besar berisi ratusan buku dengan dominasi buku sejarah dan agama. Ia juga tak pernah bosan berdiskusi dan tanpa terasa kami sudah mengabiskan waktu selama empat jam.

Tapi ia seakan tak pernah lelah dan terus bersemangat membahas perjuangan, sejarah bangsa dan adat di Indonesia. Namun perjalanan 34 tahun merangkum 64 hukum adat itu ternyata tidak lah mudah. Ia menceritakan pengalamannya saat menggali hukum adat Banjar di Kalimantan periode 1975 sampai 1985. Apalagi, saat itu mereka sangat benci dengan militer. Namun sebagai mantan anggota Irtanas ia memiliki banyak strategi. Kecintaannya terhadap kegiatan keagamaan seperti tharikat akhirnya membuka peluang untuk bergabung dengan komunitas masyarakat lokal.Sample Image

Selain bermodalkan pena dan buku kerja ia juga tak jarang membawa rekaman tanpa sepengetahuan si tokoh. Zainuddin K yang juga Wakil Ketua Legium Veteran Republik Indonesia (LVRI) Sumbar ini dengan NPV 21.157.647 mengakui ia melakukan ini bukan untuk maksud apa-apa termasuk untuk kegiatan inteligen.



Zainuddin K berada di depan rak-rak bukunya yang didominasi buku sejarah dan agama.

Namun lahir atas rasa miris dan sedih melihat banyak generasi mudah yang enggan menulis terutama bidang sejarah. Padahal lambat laun tokoh-tokoh adat dan orangtua yang tahu adat dan budaya satu per satu mulai tutup usia.

Selama ini terang Zainuddi hukum adat hanya disampaikan melalui kata-kata kiasan seperti cerita hikayat, pantun dan petatah petitih yang disampaikan dari generasi ke generasi. Padahal, saat ini generasi muda banyak yang meninggalkan kampung halaman. “Kita tidak ingin mereka seperti kacang yang lupa kulitnya. Dengan pemahaman adat ini mereka juga bisa menyesuaikan diri dimanapun berada,” tandas putra kelahiran VII Koto Pariaman ini.

Ia juga mengaku miris dengan kondisi bangsa yang selalu dilanda konflik berkepanjangan sejak masa Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Apalagi, otonomi daerah dengan kewenangan terbatas makin membuk peluang konflik antar daerah dan suku di Indonesia. Lebih-labih kalau terjadi kesenjarangan ekonomi. Padahal, kalau dirunut sejarah suku-suku bangsa di Indonesia jelasn Zainuddin semua berasal dari ras Melanesia.

“Hanya, saja kurun waktu kedatangannya berbeda-beda. Itupula yang membuat adanya perbedaan antara satu suku dengan yang lainnya. Nah, perbedaan ini jangan sampai menjadi sumber konflik tetapi kekayaan yang bisa menjadi pemersatu bangsa dalam kerang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pesan itu yang ingin saya sampaikan lewat penuturan yang dirangkum dalam buku ini,” ungkap Mantan Dandim Lhokseumawe, Provinsi Nangro Aceh Darussalam ini.

Ditengah usianya yang mulai senja Zainuddin tak pernah berhenti menulis. Kini ia sedang mempersiapkan tulisan yang fokus dengan tema-tema keagamaan. Di antaranya tinjauan terhadap latar belakang turunnya ayat-ayat Al-Qura’n dan pengalaman panjang turunnya ayat-ayat Al-Qur’an. “Saya berusaha menulis hal-hal yang kurang terpikirkan orang lain. Tentara itu kan penganggur intelektual. Apalagi kalau sudah pensiun, hari-hari bisa dihabiskan untuk membaca dan menulis,” ujarnya menutup pembicaraan. (*)

http://www.padangekspres.co.id/content/view/14303/119/

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Sebagai koreksi,beliau adalah bukan lulusan AMN tahun 1970 melainkan lulusan AKABRI tahun 1974.Trims

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987