Kamis, 27 Desember 2007

KERINDUAN PADA MINANGKABAU

Oleh: M. Yunis

Mobilisasi terus melaju tanpa siapa pun sanggup membendung, secara berangsur-ansur mobilitas itu telah melindas kebudayaan Minangkabau yang cenderung hanya dipertahankan oleh orang tua-tua. Sejauh ini telah berlaku praktek-praktek deviant di tubuh kebudayaan itu sendiri, dimulai dari melemahnya system mufakat, hilangnya prinsip kekeluargaan kegotongroyongan terus kepada kerapuhan jati diri. Alhasil, menimbulkan dampak yang hampir sempuran buruknya, sebutlah dengan adanya KKN di tubuh DPRD, pendekatan emosional dalam mencari pekerjaan hingga pelacuran anak kemenakan sampai kepada anak jalannan di lampu merah di seluruh sudut Minangkabau. Tidak salah lagi, bahwa Sumatra Barat sebagai bagian dari Minangkabau diberi peringatan berkali-kali, masih pada peringatan yang sama, ‘’ancaman tsunami’’.
Sangat fenomenogis, liatlah rumah rumah gadang yang bocor, mayat yang dibujurkan di tengah rumah, gadih gadang kawin sendiri karena harta pusaka sudah habis dijual oleh penghulu kaum. Siapa yang akan mengira Minangkabau nan jaya berakhir seperti ini. Kalau dulu, harta pusaka hanya boleh digadaikan ketika tiga perkara, ‘’rumah gadan katirisan, mayat tabujua di ateh rumah, dan gadih gadang alun balaki’’. Seharusnya harta pusaka hanya turun pada pihak yang telah ditentukan oleh adat, namun sekarang harta pusaka tersebut ditentukan oleh uang dan gelar datuak sendiri sudah jadi barang bisnis.
Jangan heran, parahnya krisis kebudayaan sesungguhnya disebabkan hilangnya loyalitas kepemimpinan yang dapat dijadikan panutan dalam masyarakat. Sehingga menumbuhkan benih-benih individualisme di dalam tubuh individu sebagai anggota masyarakat, sebab rasa keputusasaan yang telah menghimpit individu, melahirkan sikap merasa mampu mengatur hidupnya sendiri tanpa bantuan orang lain, akhirnya pemimpin yang dulu mereka pilih hanya menjadi simbol belaka. Waktu kampanye beribu janji telah diucapkan untuk menyenangkan hati masyarakat, namun setelah terpilih bagaikan burung lupa akan sarangnya. Kemudian keputusan-keputusan yang diciptakan hanya menguntungkan segelintir orang, sementara rakyat bawah akan terus bernasib sama, dijajah oleh teman sendiri, saudara sendiri, dijajah oleh adat sendiri, bahkan di ajajah oleh bangsa sendiri.
Sejalan dengan itu digagaslah sistim kembali ke nagari, sebab krisiskebudayaan yang terjadi mendorong masyarakat Minang untuk introspeksi diri. Mengingat bahwa minangkabau dulunya adalah daerah yang paling jaya serta tangguh melawan dunia urang (marantau). Sitem pemerintahan desa kembali dihapuskan repoblik kecil direkontruksi. Selanjutnya kembali kesurau, guna untuk melaksanakan adat basandi syarak syarak basandi kitabullah seperti tempo dulu. Seperti itulah kerinduan orang Minang akan kenyamanan, kebersamaan, dan kekeluargaan yang nyatanya telah mampu membawa Minangkabau kepuncak kejayaan dan kecerahaan.
Namun itu semua kesannya terlalu dipaksakan sehingga apa yang diharapkan tidak terealisasikan. Kita menerapkan kembali kenagari mungkin secara administrasi oke-oke saja, sebab yang harus dilakukan adalah mengangkat wali nagari serta jajarannya yang berdasarkan keinginan masyarakat.
Lainhalnya dengan kembali kseurau apakah kembali tidur di surau? Sebab dulu surau selain tempat bernaungnya laki-laki Minangkabau yang belum menikah surau difungsikan sebagai tempat pembelajaran bagi generasi muda baik ilmu agama dan ilmu kehidupan. Tidak hanya bagi para remaja, anak-anak yang berumur 6 tahun keatas sudah menjadikan surau sebagai rumahnya. Di surau ini dipelajari Alquran, adat sitiadat, skill, dan ilmu bela diri. Di samping itu di surau ini anak muda ditempa dan dilatih dengan kebijaksanaan sebab disurau berlaku hukum alam, contohnya jika kita yang tidur di surau melakukan kesalahan seperti buang air kecil di celana maka pemuda yang lebih besar dari kita akan memerintah membersihkan hasil perbuatan tersebut. Begitulah didikan yang diberikan kepada generasi muda seakan-akan terjadi sangat alamiah. Kerinduan sepertri di atas sangat didambakan oleh Masyarakat Minang sekarang.
Untuk mewujudkan keinginan itu digangkitkan harapan menerapkan kembali adat istiadat Minangkabau, segala macam usaha telah dilakukan mulai dari diskusi kecil hingga keseminar yang lingkupnya internasional, berarti kita sebagai orang Minang sudah tidak mampu lagi menyelesaikan permasalahannya sendiri sehingga harus membutuhkan bantuan dari dunia internasional. Jalan ini ternyata semakin membuka pintu bagi orang luar untuk lalu lalang di dalam kebudayaan Minangkabau, penelitian-penelitin tentang Minangkabau sudah banyak mereka lakukan. Mulai dari kesenian randai oleh Kristin Pauka, Silat dengan seluruh alirannya, makanan khas kepunyan Minang, dan hubungan rantau dengan daerah asal yang akan dilakukan oleh Mariana dari Ceko tahun 2008 di Daerah Sumaniak dan Rao-rao Tanah Datar. Belum lagi ulu ambek, rabab, kaba, indang, naskah kuno, dan segala macamnya kepunyaan orang Minang sebentar lagi akan habis terjual.
Namun yang mereka lakukan tidaklah salah sebab ilmu pengetahuan itu sifatnya universal, tetapi anehnya orang Minang sendiri tetap diam dengan seribu gagasannya, sampai sekarang belum mau melakukan perbaikan, sekurang-kurangnya melakukan hal yang serupa. Padahal di ranah ini sudah terlalu banyak orang pintar dan intelektuar yang masih muda belia yang penulis pikir mampu menmpati posisi seperti Hamka dulu, M.Yamin dulu, dan Bung Hatta dulu.
Terjadi sekarang dan itu benar adanya, bahwa pada suatu saat orang intelektual itu banyak tetapi seperti buih di lautan hanya menang keroyokan, bersama gelombang dihempaslah tepian pantai, ketika gelombang surut semua kembali tiada tersisa. Ketika poryek ada, mari bersama-sama kaji Minangkabau sedetil-detilnya, ketika proyek habis mari tinggalkan Minangkabau dengan segala kerumitan adatnya. Begitulah keadaan ranah ini sekarang, serba matrealis dan serba simpel. Sekarang mari kita pertanyakan, apakah perlu melibatkan orang asing untuk mengkaji Minangkabau?

*Alumni Sastra Daerah Minangkabau

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987