Jumat, 28 Desember 2007

KNPI JANGAN HANYA ONGKANG-ONGKANG KAKI

Oleh M.Yunis**

Kepengurusan baru KNPI Sumbar sudah lama terbentuk, secara tidak langsung beban yang maha besar telah tersusung di pundakKNPI. Berbagai macam kesibukan akan menjadi tantangan ke depan, sebab yang menjadi urusan KNPI bukan hanya sekelompok orang tetapi urusan masyarakat Sumbar yang mengagur, miskin, krsisi moral, kegagalan intelektual dan segala macamnya. Inilah yang menjadi tugas KNPI sebagai wadah inspirasi masyarakat. Seperti yang duungkapakan Padang Ekspres 25 Juni 2007, saat ini ‘’KNPI Harus Bisa Lahirkan Tokoh Muda, sempitnya lapangan kerja merupakan akar masalah yang memicu tingginya angka kemiskinan di Sumatera Barat. Permasalahan mendasar ini harus disikapi secara bersama-sama oleh seluruh komponen.Tidak hanya pemerintah daerah saja, bahkan oleh organisasi kepemudaan seperti KNPI Sumbar. Sudah saatnya, organisasi yang mewadahi para kaum muda ini juga ikut memikirkan bagaimana solusi mengentaskan kemiskinan tersebut’’.
Sebab setelah beberapa tahun reformasi bergulir hampir tidak ada buah penyelesaian yang dihasilkan untuk mengatasai persoaalan masyarakat. Padahal permasalahan yang dihadapi hanya itu keitu saja, ujung-ujungnya kemiskinan. Malahan sebagian masyarat berpikir lebih mendingan zaman orde baru tidak terlalu banyak ribut-ribut, tapi setelah reformasi harapan lebih baik tidak juga ada penampakan, bahkan keadaan bertambah parah. Mungkinkah reformasi hanya sekedar pengalihan bahasa saja?
Kita juga bisa perhatikan kebijakan-kebijakan yang dihasilkannya, seakan-akan hanya menambah kesengsaraan rakyat bawah, kenaikan gaji PNS misalnya yang marasai adalah masyarakat bawah, harga minyak goreng yang melambung tinggi rakyat menangis, padahal rakyat bawah bukanlah PNS, ralkayat memang tidak diuntungkan sma sekali atas kenaikan gaji tersebut dan diperparah lagi dengan adanya gaji ke 13.
Kita lihat pula pengalihan dana subsidi untuk masyarakat yang sekarang sudah habis programnya, saat itu semua orang mengaku miskin termasuk pegawai negri, jadi rakyat kecil dapat apa? Sebab kenyataannya kucuran dana itu banyak dinikmatai oleh orang-orang yang tidak pantas menikmatinya. Beralih pula subsidi terhadap pendidikan diperbesar hingga 20 % sampai sekarang belum juga terealiasasi, malahan yang muncul sebagai dewa penyelamat adalah perseorangan-perseorang seperti yang terjadi dengan Wiwit Anisa anak tukang sayur lulus PMDK, Muhammmad Rinaldi Putra, garin yang berstatus yatim ini lulus PMDK Unand, Nesia Riska juga anak yatim dari Nagari Bukik Limbuku Harau Payakumbuh juga lulus PMDK di jurusan BK UNP, mereka-mereka ini kemaren baru siap menerima bantuan hamba Allah. Lalu bagaimana juga halnya dengan pengadaan beasiswa bagi siswa-siswa SLTP? yang kenyataannya penikmat dana tersebut hannya siswa yang mempunyai kedekatan khusus dengan pejabat sekolahan. Seperti yang dikemukan oeleh suardi (40) di Pariaman, Bapak 3 anak ini mempunya anak gadis yangbernama Salmidawati, yang sekolah di MAN lubuk alung, ketika menyusulkan beasiswa untuk sang anak yang diperoleh hanya janji dan beasiswa sudah habis. Kesokan harinya sang anak mendengar teman sebangku yang nyata anak seorang guru yang memperoleh beasiswa. Tapi sekarang sang anak terancam putus sekolah karena tidak bisa ujian dan belum bayar uang sekolah, Pak Suardi sedih (diskusi dengan Bapak Sauardi 3 maret 2007 Toboh Gadang Pariaman).
Memang di Sumbar banyak terdapat organisasi mahasiswa seperti IMM, HMI, KAMMI dan segala macamnya, tapi kenyataanya masyarakat tidak bisa berharap banyak pada mereka, sebab hampir tidak ada yang bisa dilakukan oleh organisasi tersebut. IMM sebagai kader Muhammadiyah sekarang mengalamami stagnasi dan kehilangan kader-kadernya karena partai politik menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka. HMI setelah mendapat bantuan 250.000 juta dalam pembangunan gedung untuk beraktifitas sekarang tidak terdengar lagi kabar beritanya, KAMI sekarang jua tidak terdengar lagi kabar beritanya. Apa lagi organisasi mahasiswa di dalam kampus, semuanya intelektual cangkokan.
Lalu sekarang aktivis 98 mau ambil bagian, karena mereka sadar tujuan reformasi telah jauh melenceng. Aktivis ‘98 membuat suatau wadah yang bekerjasama dengan sejumlah kampus di Padang mengumpulkan kembali aktivis tahun 1998 lalu. Katanya untuk memperjuangkan kembali visi reformasi. Sebab perjuangan reformasi yang telah diperjuangkan dulu belum maksimal artinya. Di kabarkan oleh Padang Ekpres Sabtu, 23-Juni-2007 akan mengadakan dermontrasi besar-besaran begitulah yang dituturkan Ketua Panitia 98 Center Mustar Bona Ventura. Acara selanjutnya mereka berkeliling Indonesia, coba bayangkan betapa banyak dana yang dihabiskan oleh kegiatan tersebut. Aktivis 98 kalau hanya sekedar jalan-jalan dan memperburuk keadaan, sebaiknya kegiatan tersebut dihentikan.
Kenapa kita tidak bisa meliahat apa yang ada di depan mata? Kita pun tahu, revolusi kepentingan sudah dimulai, agama dan adat istiadat tidak lagi mampu berfungsi sebagai filter. Kenyataan bisa dilihat, sudah mulai muncul kepermukaan dimana setiap individu akan terlalu disibukan oleh urusan-urusan pribadi, persoalan mulut dan perut akan menjadi labih utama. Sebab rasa paceklik kian lama semakin menghantui dan menghimpit masyarakat bawah, baik masyarakat tardisional maupun semitradisional. Perkampungan-perkampungan yang dulunya akrab dengan kekeluargaan, kegotongroyongan dan solidaritas akan terbiasa dengan kebisingan, hiruk pikuknya politik, praktis, dalang dibalik dalang akan kian akrab dengan keseharian. Di sini idiologi-idiologi pembaharu tidak akan berlaku, itu hanyalah sebatas nyanyian pelipur lara.
Sejalan dengan itu komitmen-komitmen perstuan patut diragukan, karena secara berangsur-ansur sudah mulai surut, diikuti kocar-kacirnya mimpi kesatuan. Alhasil menjadikan masyarakat sebagai penganut kesempurnaan pluralism. Pada masa ini, kekuatan agama akan dianggap enteng, yang lebih utama ialah kekuatan individu. Inilah sebuah fenomena yang sudah dihadapi oleh seluruh rakyat indonesia. Di awali dengan ini perekonomian akan dikuasai oleh polisi dunia, segala penjuru akan takluk lutut di bawah negara yang adi daya. Kemudian keamanan masyarakat dipegang oleh satu kendali.
BAGAIMANA TANGGAPAN KNPI SUMBAR?

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987