Jumat, 28 Desember 2007

SYEH SITI JENAR DALAM KEMELUT SUFI

Oleh: M.YUNIS**

Sebuah kisah yang terjadi berpuluh-puluh tahun silam, di saat kerajaan Demak Bintoro masih memerintahdi Pulau Jawa. Masa itu, Islam baru mulai berkembang di bumi persada, di masa itu pula wali songo begitu agresif menjalakan perannya mengembangkan ajaran Islam. Di samping 9 wali itu, hidup salah seorang penganut tasawuf yangkurang disukai oleh wali songo, dialah Syeh Siti Jenar. Syeh Siti Jenar merupakan salah satu guru tasawuf yang tersohor di masanya, beliau adalah salah seorang murid dari Sunan Bonang dan sauadara seperguruannya Sunan Kali Jaga. Dua bersaudara ikatan batin ini pernah menerima wejangan tingkat tinggi (kasampurnaan) dari sang guru, di atas sebuah perahu bocor, yang kemudian ditambal dengan tanah liat. Meskipun sama-sama menerima ajaran yang sama dari sang guru, kedua bersaudara itu mempunyai pemahaman yang berbeda tentang hubungan pencipta dengan mahluknya.
Ketika itu, kemuliayan Syeh Siti Jenar (Syeh tanah kuning) begitu cepat tersohor di tanah jawa, nama-namanya yang heterogen menjdi bukti bahwa Syeh Siti Jenar cukup berpengaruh di kalangan masyarakat. Nama atau gelar yang disandangnya adalah Syeh Lemah Abang, Syeh Abdul Jalil. Sedangkan nama kecil beliau dipanggil dengan San Ali.
Tapi sayang sekali, ajaran Wihdatul Wujut yang diajarkan menimbulkan berbagai kecaman dari Kesultanan Demak Bintaro dan bahkan Dewan wali pun (wali songo) menanggapinya. Hingga akhirnya membawa mala petaka bagi kelangsungan hidup Syeh Siti Jenar. Kenapa demikian? Apakah ajaran itu benar-benar sesat?
Menurutny, Wihdatul Wujud adalah penyatuan diri dengan tuhan setelah seseorang mencapai wejangan tingkat tinggi, hal ini dapat dirasakan ketika dalam keheningan malam dan penuh kesunyian, manusia dapat menyatu dengan tuhan. Hidup ini hakekatnya adalah mati, mati hakekatnya adalah hidup. Kesamaan hak dan kewajiban di antara manusia adalah dibenarkan, tidak diakui adanya raja, sultan dan penguasa-penguasa di atas bumi ini, yang suatu ketika dapat memerintah siapa saja.
Bahkan tuhan dapat dilihat dengan mata batin, ketika kita sudah bersatu dengan-Nya. Bagi masyarakat biasa, ajaran tersebut sangat sulit dicerna, inilah yang dinamakan dengan Wihdatusy Shuhud. Di saat beliau berdiskusi dengan dewan wali, beliau mengatakan ’’oleh karena jasad yang dibicarakan, oleh sebab itu kita sama-sama membuka aling-aling, maka sudah sepatutnya kita menjauhi prasangka agar kita saling mencapai pengertian’’ (Bianglala, 2005). Pandangan seperti ini tidak bisa diterima oleh dewan wali, kemudian Syeh Siti Jenar meninggalkan diskusi tersebut dan tidak pernah hadir lagi.
Menurutnya kasampurnaan, dapat dicapai ketika seorang manusia benar-benar sudah keluar dari kehidupan duniawinya dan mencapai makrifat yang tinggi serta bertujuan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Ternyata, tidak semua orang yang mampu untuk menerima ajaran ini, apalagi masyarakat awam yang ketika itu masih kurang pemahamannya terhadap agama islam. Hal tersebut tentunya sangat meresahkan masyarakat ketika itu, sebagai akibat dari rendahnya pemahaman umat terhadap ajaran agama. Peluang seperti ini dimanfaatkan oleh pihak ketiga yakni kesultanan Demak Bintaro. Demak Bintaro menganggap, bahwa kebebasan yang digembor-gemborkan Syeh Siti Jenar dianggap sangat membahayakan posisi Kesultanan Demak. Kemudian diciptakan sebuah isu, bahwa Syeh Siti Jenar telah mengakui dirinya tuhan, dan dibumbui fakta hayal bahwa murid-murid Syeh Siti Jenar melakukan pembunuhan di mana-mana, bahkan isu tersebut masih melekat hingga sekarang, dan bahakan dijadikan sembuah dasar imajinasi dalam pembuatan filem-filem laga, yang bertemakan perjuangan 9 orang wali dalam mengembangkan ajaran islam di tanah jawa. Di dalam sinetron laga tersebut digambarkan bahwa murid-murid Syeh Siti Jenar melakukan pembunuhan di pasar-pasar, di jalan-jalan dan di berbagai tempat umum lainnya ’’ lebih baik mati berkalang tanah, dari pada hidup bercermin bangkai’’. Kemudian, samapailah isu itu kepada dewan wali, sehingga dewan wali menemui Syeh Siti Jenar dan meminta beliau meninggalkan ajaran itu. Walaupun sembilan orang wali Allah tersebut mengakui akan kebenaran ajaran itu, kenyataannya dewan wali tidak punya pilihan lain, demi menjaga ketentraman masyarakat Demak pada dewan wali berusaha nenutup kebenarannya, lagi pula faham tersebut tidak patut diajarkan kepada semua orang. Kemudian, kesultanan Demak Bintaro meminta kepada Syeh Siti Jenar menyerahkan diri, kalau tidak pedukuhan dan murid–muridnya dihancurkan. Namun, panggilan itu tidak diindahkan oleh Syeh. Untuk menghindari korban nyawa yang tak berdosa, sebagai akibat dari serangan Demak maka dewan wali cepat tanggap sehingga mereka mendatangi pedukuhan Syeh Siti jenar. Namun, Syeh Siti Jenar tetap bertahan pada keyakinannya, dia rela meninggalkan dunia ini dari pada menjadi orang yang munafik. Kemudian Syeh Siti Jenar meminum air yang bernama air hayyat (tirtamarta) dan meninggallah Syeh Siti Jenar pada saat itu juga, serta diikuti oleh beberapa orang muridnya. Anehnya, dari jasad beliau kerluar darah yang berwarna putih, dapat diartikan bahwa Syeh Siti Jenar meninggal dalam keadaan suci dan terhormat.
Dengan meningalnya Syeh Siti Jenar, bukan berarti berakhir pula isu tentang kesesatan Syeh Siti Jenat. Bahkan isu tersebut diperbaharui, bahwa Syeh Siti Jenar mati dihukum pancung dan jasad Syeh Siti Jenar berobah menjadi bangkai anjing. Hal ini dilakukan agar masyarakat tidak menguikiuti ajaran Syeh Siti Jenar.
Isu yang diciptakan di atas bertujuan hanya untuk mengelabui masyarakat awam tentang kebenaran ajaran Islam, kebebasan dan keadilan yang di ajarkan Islam mengancam kepentingan penguasa pada saat itu. Ajaran tersebut sangat mengganggu kestabilan sosial - politik. Oleh karena itu, penguasa mengeksploitasi stigma atau pelabelan negativ terhadap kesesatan Syeh Siti Jenar, tanpa mengikutsertakan kebenaran di dalam ajaran itu.
Dapat dicermatai, betapapun Dewan wali melarang penyebaran ajaran Wihdatul Wujud, tetapi Dewan Wali tetap memaklumi dan menghormati ajaran dan faham itu. Hanya saja dikhawatirkan dampak yang ditimbulkan oleh ajaran itu, karena pada masa itu pemahaman masyarakat terhadap Islam masih awam. Berawal dari anggapan, bahwa ajaran Wihdatul Wujud terlalu sulit untuk dicerna, sehingga ditakutkan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kekufuran, bid’ah dan kemurkaan di tengah umat.
Perlu digaris bawahi, ajaran Syeh Siti Jenar atau Syeh Lemah Abang adalah soal Agama-agama. Beliau mengatakan ‘’bahwa hakikat agama adalah sama, dengan mengambil perbandingan Islam dengan Agama Budha, perbedaannya hanya terletak pada nama-nama, bahasa-bahasa, serta tatanan pada keduanya. Jika siwa Budha pangkal penciptaan mahluk disebutnya Brahma, maka dalam Islam disebut dengan Al-khalik. Siwa sebagai penguasa mahluk disebut Prjapati, dalam islam disebut Al-Malik. Lingga di jadikan Siwa sebagai sarana bantu, menurutnya sama dengan Ka’bah dalam Islam. Hanya saja, pertentangan antara agama terjadi karena ketidaktahuan umatnya terhadap hakikat ilahi, atau ciptaannya dan aturan-aturannya. Kita mencela Agama Budha, karena kita tidak tahu di dalamnya terdapat ajaran rahasia yang dinamakan dengan Adwayastra (tauhid) untuk mengesakan tuhan. Begitupula hindu, mencela Agama Islam dan mengatakan pekerja kuburan Muhammad, karena ketidaktahuan mereka terhadap ajaran islam yang sempurna.
Jadi, yang membedakan agama-agama tersebut adalah zaman dimana bagian-bagian dari sebuah agama itu dijalankan. Perbedaan Nabi, kitab suci, dan tempat juga membedakan antara agama-agama tersebut. Contohnya saja falsafah adat Minang yang memakai ’’ adat basansdi syarak, syarak basandi kitabullah’’ kenapa tidak memakai ‘’adat basandi syarak, syarak basandi Al-qur’an ‘’ bukankah kitabullah itu banyak? Maka sangat tidak lazimnya kalau kitabullah dipakai sebagai sandaran adat Minang.
Kembali pada pokok persoalan, keberadaan Syeh Siti Jenar dapat disamakan dengan keberadan Syeh Abdul Qadir Al-Jailali, yang mana beliau selalu melakukan puasa sepanjang hari, dan sebelum berbuka beliau membagikan roti terlebih dahulu kepada fakir miskin. Seandainya kita memvonis Syeh Siti Jenar sesat, kenapa kita tidak memberikan hukuman yang sama terhadap Syeh Abdul Qadir Al-Jailani, karena keduanya menempati posisi yang kurang lebih sama. Kita juga tidak bisa memvonis Syeh Abdul Qadir Al-Jailani sesat.
Hal di atas hanya bagian kecil dari kekuasaan yang tanpa batas, takut kehilangan jabatan sehingga kebenaranpun bisa dibuat samar akahirnya menjadi kesalahan yang perlu dikutuk. Dan bagaimana pula, keberadaan Syeh Siti jenar- Syeh Siti Jenar zaman sekarang, mungkinkah akan memilih jalan yang sama seperti yang dilakukan Syeh Siti Jenar terdahulu?


Alumni Sastra Daerah Minangkabau

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987