Minggu, 10 Agustus 2008

PARA PAHLAWAN

Oleh: M. Yunis

Senja itu, Lansi memang berhasil lolos dari amukan senapan-senapan para pejuang, baik dari pejuang rimba maupun pejuang pemerintahan, listrik yang diharapkan masyarakat bisa menerangi suasana kampung telah diganti dengan percikan api-api dari mulut senapan, sesekali besar, saat apinya membesar penduduk malahan ketakukan, kapankah perang ini akan usai, seperti cita-citakan pejuang terdahulu.
Dulu waktu mengusir Belanada Lansi adalah orang pertama yang mampu mengobarkan semangat para pejuang, dia mau tampil paling depan di medan perang, kemampuan Lansi melempar bambu runcing dari jarak jauh telah menciupkan nyali musuh-musuh kemredekaan ketika itu, sempat pula Belanda menjuluki Lansi Pimpinan Inlander. Jika Belanda mengumandangkan ‘’impinan Inlander mengamuk’’ semua serdadu Belanda ketakukan, serdadu Belanda percaya bahwa Lansi tidak mempan ditembak dengan peluru biasa. Keluhan yang sama juga diderita oleh serdadu Jepang saat awal kehadirannya di Nagari Bukit, Jepang merasa kewalahan menghadapi Lansi, yang membuat Jepang kesal adalah kelicikan Lansi. Saat bergabung dengan tentara asuhan Jepang Lansi sering meminta kepada pimpinan pasukan Jepang agar pesukan Lansi juga diberi senjata lengkap, Lansi berjanji membantu Jepang membersihkan pemberontak ataupun invasi sekutu di daerah kekuasaannya, setelah Lansi memperoleh senjata Lansi berbalik menyerang Jepang hingga pasukan Jepang bercerai berai.
Kejadian ini sering terulang tetapi Lansi untuk kesekian kalinya berhasil meyakinkan Jepang, lagi-lagi lansi selalu berhasil meraih kembali kepercayaan Jepang. Suatu ketika Hokaido pemimpin pasukan Jepang di daerah Sumatra Barat marah besar terhadap Lansi, dia mengadakan sandiwara untuk menangkap lansi namun akhirnya Lansi masih tetap lolos dan bahkan sebaliknya, pasukan Lansi berhasil mengusir Jepang dari Nagari Bukit Gadang, kejadian itu berlangsung setelah Lansi berhasil mengubur lebih dari separoh serdadu Jepang di lobang satasiun galian Jepang sendiri. Saat itu 50 orang serdadu Jepang sedang berjaga-jaga di stasiun, Jepang memaksa para romusya membuat lorong bawah tanah yang panjang, rencananya terowongan itu akan tembus hingga ke Asam Pulau Lubuk Alung, Lansi pada waktu itu menjabat sebagai komando pekerja, Lansi memberi laporan kepada Jepang, bahwa terowongan itu sudah tembus ke seberang. Sesaat kemudian, serangan fajar kaum petani ke stasiun membuat Jepang lengah, 50 orang serdadu Jepang yang di tempatkan di stasiun kewalahan, saat seperti itu terowongan penyelamat sangat dibutuhakn oleh Jepang. Serdadu yang terkepung diasarankan Lansi masuk keterowongan. Petani yang mengamuk terus mendekati pusat serangan tepat berada di depan terowongan.
‘’Berhasil komandan!’’, salah seorang penyerang menyapa Lansi.
‘’Laksanakan segera, agar serdadu itu tahu bahwa kita ini bukanlah orang-orang bodoh!’’, Perintah Lansi.
Para kaum penyerang berdiri siap sedia di mulut terowongan, satu persatu serdadu Jepang tewas di pintu terowongan, Jepang yang menemui jalan buntu itu kembali keluar dan ada pula yang mati kehabisan napas, sebab terowongan itu belum sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran Jepang tetapi sesuai dengan taktik perjuangan Lansi ketika itu. Sorak sorai kemenangan ramaikan suasana di stasiun, tetapi Lansi tahu bahwa serdadu itu akan kembali menuntut balas atas kekalahannya.
‘’Dengar semuanya, ini adalah awal dari perang besar, kita harus siap dengan segala kemungkinan, sebab Jepang itu adalah bangsa Ainu, mereka juga salah satu pewaris bangsa Yajud dan Ma’jud, merekalah bangsa berkuda yang ganas, ingat kalian tembok besar cina, pagar penyelamat itu sengaja dibuat dari adonan besi oleh Zulkarnain putra Amenhotip ke IX Si Fir’aun yang telah menemukan kebenaran, wasiat itu atas permintaan bangsa Cina sendiri, artinya mereka akan kembali datang ke tanah ini!’’, peringatan Lansi mengakhiri.
Begitulah cerdiknya Lansi, sepertinya Lansi sendiri tidak kehabisan akal untuk mengahadapi serdadu penjarah. Tapi sekarang Lansi sedikit kewalahan menggagas taktik perangnya, dia tidak tahu siapa yang dia perangi dan perangnya untuk siapa, semuanya terjadi begitu cepat. Sejak Pariaman jatuh ke tangan serdadu rimba, Lansi menjadi orang yang paling dicari oleh siapa saja, siapa yang berhasil membawa kepala Lansi akan diangkat menjadi komandan pergerakan dan tentunnya akan menjadi cikal bakal pucuk pimpinan yang baru.
Selama perjalanan ke rumah istri keduaya, Lansi lebih memilih jalan setapak di pinggiran sawah, di perjalanan itu sering terjadi baku tembak antara pasukan pelindung Lansi dengan penyerang yang datang dari segala penjuru arah. Pukul 21:00 WIB Lansi sampai di rumah istri keduanya, saat Lansi memasuki rumah pasukan pengawal berjaga jaga di luar. Mereka adalah para remaja hasil didikan Lansi sendiri, kamanapun Lansi pergi selalu dikawal oleh meraka, pemuda yang paling lama mengikuti jejak Lansi adalah Saparudin, dia rela berkorban nyawa untuk Lansi, bagi Saparudin sendiri Lansi adalah orang yang paling berjasa, Lansi pernah menyelamatkan Saparudin sekeluarga dari kejaran serdadu tahun 1946, waktu itu Saparudin masih berumur 10 tahun, namun Saparudun sangat hafal wajah persahabatan Lansi ketika itu. Sekarang adalah kesempatan emas bagi Saparudin untuk membalas budi kepada Wali Lansi.
Lain pula halnya dengan Komaini, dia juga tergabung sebagai pasukan pelindung Lansi, awalnya dia hanya anak kecil yang dibawa Lansi dari daerah Tanjuang Barulak Tanah Datar. Lansi kasihan melihat Si Buyung ditinggal mati oleh keluarganya saat pembantaian besar-besaran terjadi di Batu Busuk, sengketa berawal saat salah satu warga Batu Busuk terlibat konflik dengan anak Raja Sumpur Kudus, sebenarnya keluarga buyung Komaini hanya korban salah sasaran, hanya saja bapak dan ibu Komaini dan juga 3 orang adik perempuan datang berkunjung ke rumah neneknya di Batu Busuk, Komaini saat itu sedang berada di Bukittinggi, tikar pandan buatan ibunya selalu dijual Komaini ke Bukittinggi, sepulang dari Bukittinggi Komaini membeli barang-barang pesanan ibunya, sesampai di rumah dia tidak lagi menemukan keluarganya, dia tahu bapak, ibuk dan adik-adiknya pergi kerumah nenek ke daerah Batu Busuk, namun Komaini keburu didatangi kabar bahwa kaum Raja Sumpur Kudus mengamuk di Batu Busuk, semua keluarga yang ada di sana dibantai, dia hanya bisa menangis dan pasrah.
Tiga hari setelah pembanataian itu dia jalan-jalan di Pasar Baru Tanjuang Barulak, di sinilah dia bertemu dengan Lansi, kebetulan sekali Lansi juga sedang mengunjungi pucuk pimpinan pergerakan di Tanjung Barulak, beliau juga selesai menjual cangkeh dari di Pasar Padang Panjang, saat yang bersamaan Komaini berpapasan dengan Wali Lansi, suasana yang memang ramai di Pasar Baru menarik minat Komaini menarik kambut yang terikat di pingggang Lansi, tarikan Komaini tidak terlalu kuat untuk seorang pencopet seukuran dia, dia terjatuh, Lansi membujuk agar Komaini bercerita kenapa dia sampai melakukan tindakan itu. Setelah mendengar cerita Komaini Lansi kasihan, lalu Komaini diajak ke Bukit Gadang. Sekarang Komaini yang berwajah seadanya itu tergabung dalam pasukan pelindung Wali Lansi.
Tidaklah begitu lama Lansi di dalam rumah, dia kembali melihat pengikut setianya, beberapa jenis makanan dibawa keluar lengkap dengan kopi panas. Sesampai di luar rumah Lansi terlambat menyadari, Saparudin, Komaini serta merta hilang ditelan pekat malam, dalam suasana penuh tawaduk Lansi tersungkur pasrah dengan tubuh bersimbah darah, separoh sadar Lansi masih sempat berpikir, dan berkata dalam hati.
‘’Inilah akhir perjalanan yang tak berujung itu, baiknya begini, perang! Ya! perang ini untuk siapa? perang melawan siapa?’’, hatinya perih.
Sejurus kemudian dentuman senapan terhenti diikuti dengan kemunculan Komaini dan Saripudin dari arah kepala Lansi yang menghadap kiblat.
‘’Mengapa Pak Wali tidak tetap berada di dalam rumah?’’, serobot Saripudin penuh sesal.
‘’Jika saya kembali ke dalam rumah, kalian juga akan membantai anak dan istriku, mereka sama sekali tidak tahu menahu, Saripudin dan kau juga Komaini!, kalian sudah cukup berjaya bagiku!’’, napas Lansi terputus-putus.
‘’Terimakasih komandan!’’, Saripudin terharu.
‘‘Tapi kalian harus tunaikan kewajiban kalian sebagi pejuang, jangan beritahu siapapun atas maut yang menjemputku!’’, kata-kata terakhir Lansi diikuti kemunculan puluhan pasukan dari sekeliling rumah.
‘’Saya mau kepala dia! Saripudin potong kepala tidak berguna itu!’’, komando pasukan bicara lantang, namun perintah itu terasa memaksa hingga Saripudin pun naik pitan.
‘’Saya bisa saja memerintahan semua pasukan berbalik membantaimu, saya juga bisa memotong kepalamu dan potongan tubuhmu akan jadi santapan anjing saya di pagi hari! hitung-hitung hari esok buru babi ditiadakan’’.
Spontan komandan pasukan itu menekankan mulut senapannya ke kepala Saripudin, belum sempat menarik pelatuk, Mayor Sugandhi ambruk, letusan mulut senapan Badrul tepat memecahkan otak belakang Mayor Sugandhi.
Dengan lantang Badrul bicara lantang, ‘’sekarang kita kembali ke pusat komando, untuk sementara jasad Pak Wali kita biarkan saja di sini, esok pagi kita kembali, kita akan urus jasad ini!’’.
Pasukan berangkat menuju Sintuk, sementara itu letusan kembali terdengar, dua jam perjalanan pasukan sampai di Simpang Sintuk, mereka kembali menyebar saat pekikan kematian kembali pecahkan kesunyian malam itu.
‘’Badrul! Kita telah diserang serdadu pusat, mereka salah sasaran!’’, teriak Saripudin.
‘’Kamu jangan bodoh! bagi sedadu pusat kita ini abu-abu, bisa dianggap serdadu rimba atau pasukan yang pro pemerintah, bagi mereka sama saja!’’, hardik Badrul menyadarkan Saparudin.
’’Betul! Tugas mereka membersihkan sampah kemerdekaan, kita ini sudah terlalu lama menjadi sampah kemerdekaan, tentara tidak, rakyat biasa pun tidak’’, sambung Komaini.
‘’Kita pertahankan hidup kita!’’, seru pasukan. Di akhir perlawanan maksimal, pesawat pengintai itupun jatuh setelah ekor belakangnya terbakar, berasap dan lebur bersama robohnya batang kelapa.
Anggota pasukan yang hanya tinggal 15 orang pun berhasil sampai di pusat komando, Badrul langsung mengambil alih pucuk pimpinan, langsung mengirim kawat ke Ibu Kota.

‘’Kerbau telah disemblih!
keadaan aman terkendali!’’

a.n. Pucuk Pimpinan Laskar Pejuang Muda, sdr. Badrul Kemal.

Kawat tersebut langsung ditanggapi setelah beberapa saat pasukan yang tersisa terakapar diselimuti letih di ruangan komando yang hanya diterangi lampu minyak tanah.

‘’Laporan diterima
semayankan layaknya pahlawan!’’

a.n. Brigjend.Urip Langsungkawa, sdr. Panco.


‘’Ayo bangun semua! Waktu subuh hampir habis, kewajiban kita menyemayankan Jenazah seorang pahlawan.
Bukit Tangah yang kini diterpa duka berimbas sudah ke bukit Ujung, kelihatan sekali wajah tenang yang dilakoni Gandoriah. Sebagai istri pertama hanya dua patah kata yang perlu disampaikan kepada madunya Wali Lansi tersebut.
‘’Janganlah terlalu menikmati kesedihan, itu hanya penamaan lain dari rasa gembira, kamu perhatikanlah ribuan wajah di sini, sepatutnya mereka itu tidak boleh sedih, karena tidak sesuai dengan rona wajah yang dipancarkan saat suasana perang!’’, terang Ganndoriah
‘’Perang untuk siapa Ni? Siapa yang diperangi? musuhnya siapa? Dan temannya juga siapa? Siapa yang menjadi tentara? Siapa pula yang pahlawan?’’, Sabai menelan tangisnya yang tersisa.
‘’Awalnya aku juga menciptakan pertanyaan seperti ini, namun lambat laun aku dipaksa mengerti, pertanyaan itu terjawab saat penganiayaan adikku yang pertama, Si Mahmud, Alim muazim Surau, kemudian kepala Si Buncit, sekarang kepergiannya’’, sambil memandangi jenajah yang terkapar pasrah.
Sejurus kemudian wajah-wajah pejuang pun datang dari mudik jalan, mereka itu adalah Laskar Pejuang Muda didikan Lansi sendiri. Mereka disambut Syukur oleh pimpinan pasukan pejuang Rimba Larangan, Kopral Suryadi. Sementara di lokasi duka sendiri, para pelayat menunjukan berbagai macam rona kesedihan, kesedihan bercampur sejuk, kesedihan akan kehilangan Dewa penolong, dan ada pula kesedihan penuh penyesalan. Terpaan matahari siang hari siang itu menyibak wajah Wali Lansi yang kaku, wajah pejuang yang nyaris tidak berbentuk, dadanya yang remuk belum mampu menandingi remuknya kerabat yang ditinggalkan, terlebih lagi Gandoriah. Sementara itu Badrul masih termanggu di kursi rotan halaman rumah, dia sadar betapa dasyatnya tokoh yang dilakoninya tadi malam.
‘’Berdasarkan pesan almarhum, jenazah dipusarakan di makam pahlawan Pariaman, karena bagi kami almarhum adalah seorang pejuang sejati!’’, suara komandan Suryadi menggema lantang.
‘’Betul! Sudah selayaknya seperti ini!’’, ulas Badrul.
Menjelang Zuhur merangkak naik, Jenazah dimandikan lalu dikafani layaknya orang meninggal, setelah disholatkan di Surau Tangah, Jenazah diusung ketempat peristirahatan terakhir. Di perjalanan menuju liang penghabisan itu, mars-mars perjuangan selalu dilantunkan. Untuk sesaat tiada lagi perang, tiada lagi permusuhan, dan tiada perjuangan, semua senjata hanya diarahkan kelangit biru, serentak letusan-letusan menyalak ke atas langit, seakan menuntut keadilan tuhan, akankah peluru-peluru panas itu menembus singasana tuhan di atas langit? Penghormatan-penghormatan terakhir dari segala penjuru berdatangan tanpa diminta. Serdadu rimba, serdadu pejuang sengaja keluar dari rimba untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Wali Lansi, tiada kata lain selain ungkapan berlangsungkawa.
Ya! Jenazah yang dipanggil Kakek oleh Azam itu dianugerahi dengan sebutan pahlawan, di kuburkan Taman Makam Pahlawan Pariaman. Belum genap satu minggu kepergian Wali Lansi, para pejuang kembali memperjuangkan apa yang patut diperjuangkan, baku tembak kembali terjadi, tetapi tidak separah saat Lansi masih menjadi pimpinan bahkan kehadiran serdadu pusat lebih terkontrol, mereka sering sekali datang Bukit Gadang, dan juga paling sering menangkapi orang-orang yang diduga terlibat, Gando sendiri tidak tahu apa artinya orang terlibat, apakah terlibat tentara rimba, laskar pejuang, PKI, terlibat sebagai rakyat, tapi yang jelas bagi mereka kata-kata terlibat adalah suatu perintah, yang membedakan mereka-mereka itu hanyalah masa dan waktu kehadiran mereka, jika tentara rimba dan laskar hadir setelah 1950, pasukannya itu akan termasuk angkatan bersenjata RI. Sebenarnya kehadiran mereka terlalu pagi, sehingga terlalu banyak pehlawan yang dijuluki pahlawan. Salah satunya kakek Azam yang pensiunan Mayor terpaksa menjadi pahlawan, tapi satu bulan setelah kepergiannya Gandoriah melihat Badrul berjualan beras di pasar Pauh Kambar, lalu Komaini menarik bendi. Mulai saat itu Gando sudah jarang mendengar suara letusan. Hanya saja 2 adik Gando yang masih belum terlihat batang hidungnya, masih mengungkit-ungkit jiwa penasaran. Si Burhan entah ikut pasukan apa di Pakan Baru, kemudian Nazrul, setelah dikeroyok penduduk, kabarnya masih hidup, berdasarkan kabar terakhir dari Badrul, dia pernah bertempur dengan Nazrul di rimba larangan, saat itu pasukan Badrul yang kalah jumlah terpakasa mundur ke daerah Tiku.
Setahun setelah zaman bergolak, Rusli mendatangi rumah Gandoriah dengan maksud melamar janda kembang tersebut, kedatangannya tersebut ditengarai oleh 2 perempuan muda, katanya dua gadis itu butuhkan pertolongan. Bulan kedua Gando resmi menikah dengan Rusli, dua perempuan itu dihibahi sebuah rumah layak huni oleh Rusli di atas tanah Gandoriah sendiri, rumah itu terletak di depan Jalan Pedati yang berhadapan langsung dengan kediaman Gandoriah, mereka itulah yang sering dijuluki si Cumbu dan Zaitun. Lalu kehadiran itu laki-laki tua yang ada di rumahnya sekarang itu dulunya seorang pedagang pisang di Pauh Kambar, dia salah satu korban penyelewengan sejarah setelah di cap PKI, masyarakat sekitar biasa memanggilnya Abdullah, sementara yang kesumat kepada setiap laki adalah Zaitun, dia rela tidak disentuh oleh laki-laki secara terang-terangan.
Lalu apakah yang dirasakan oleh sebagian orang, kebanggaan atau benci? Semuanya samar dan mengabur, tatapi bagi Gando mereka itu adalah pejuang yang ditakdirkan menjadi korban berdirinya sebuah Republik, agar bangsa ini kelihatan mempunyai sejarah yang rumit. Dengan begitu bangsa asing akan kesulitan untuk menaklukan Republik ini, tapi tidak juga, kenyataannya sekarang siapa saja diperbolehkan memperebutkan apa yang dia inginkan dari negara ini. Terlepas dari sejarah perjuangan, apakah kekeknya seorang pejuang atau sampah kemerdekaan.

Bersambung...!

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987