Minggu, 10 Agustus 2008

POLITIK SEJARAH


Oleh: M.Yunis


Genap 2 bulan setelah perang yang mengahancurkan hampir dari separoh rumahnya, Gando tidak lagi mendengar suara Alim yang selalu mengumandangkan azan di Surau kayu di depan Labuah Pedati. Kemaren, si Alim masih sempat azan sebelum lari ke rimba, hari Sabtu kepalamya sudah dipaku di tiang utama Surau. Dinding Surau itu diberi ukiran arit dan palu, warna dasarnya merah darah, tentunya darah si Alim, sebagian orang bilang lambang itu adalah simbol pembaharuan, sebagian lagi menyebutnya lambang organisasi kaum petani tertindas, sementara Rubiah mengatakan lambang itu adalah tanda yang dilihatnya di pakaian kebesaran suaminya saat dia pergi ke sawah, kalau tidak di bawahnya tertulis huruf I-B-T (Ikatan Buruh Tertindas) atau mungkin P-B-T (Persatuan buruh Tertindas), entahlah Rubiah itu memang tidak bisa membaca, yang jelas huruf yang seperti itu hanya ada di baju beberapa orang, Gando sendiri sebagai istri Wali Lansi tidak tahu arti huruf itu walaupun dia juga pernah melihat huruf yang sama di pakaian kerja si Alim saat dia datang menemui suaminya ke rumah. Saat itu Gando hanya mendengar sayup ucapan Alim dari halaman.
‘’Sudah bersih Pak!, tinggal lapau Uni Darwis di Lubuk Alung, di sana memang banyak sampah, tapi saya sudah menitip pesan pada Raza’i agar membersihkannya, terangnya dia juga punya teman yang bisa membantu!’’, ujar Alim dengan lagak pejuang yang sedang melapor kepada pimpinan.
Lansi tersenyum puas mendengar caranya kerjanya si Alim.
‘’Kamu menang ahli situasi, tapi ingat jangan sampai kerbau itu lepas lagi, jangan pula dia sampai berkubang lagi dengan tanah, dia akan menanduk perut-perut kalian!’’, nasehat Lansi.
Memang setahu Gando, suaminya itu selalu membagi-bagikan kartu berstempel kepada setiap orang yang ditemuinya, katanya para serdadu sering razia, siapa yang tidak punya kartu ditembak langsung oleh serdadu, Gando sendiri juga punya kartu itu, stasiun kereta api di Bukit Gadang adalah incaran utama para serdadu, kereta api di sana selalu singgah sebentar memuat penumpang menuju pasar Lubuk alung. Sebelum penumpang menaiki kereta para serdadu berbaju loreng lengkap dengan senapan laras panjang akan menghadang setiap menumpang kereta, siapa yang tidak punya kartu dibawa ke belakang stasiun, di sana sudah tersedia lubang galian sedalam 10 meter dan panjangnya entah berapa, lubang itu dulunya tembus ke daerah Asam Pulau Lubuk Alung, setelah suara letusan, serdadu itu akan kembali ke pintu penjagaan. Sabtu kemaren, ada 2 orang gadis cantik ingin ikut menaiki kereta api menuju Lubuk Alung, mereka itu baru datang dari Pariaman, ayahnya seorang saudagar kaya, mati terbunuh saat perang berkecamuk di Pasar Pariaman, ayahnya juga salah seorang Raja di pariaman, Datuak Amai Said begitu orang mengenalnya. Saat ayahnya ditembak tentara rimba, mereka dilarikan oleh pedagang pisang ke pasar Pauh Kambar, pedagang pisang itu berniat menjual mereka kepada Wali Nagari Pauh Kambar, namun kedua gadis itu berkesempatan kabur dengan menumpang pedati arah Nagari Bukit dan menuju stasiun.
Setelah sampai di stasiun dua gadis ini langsung disisihkan dari penumpang lain, sebab di tidak mempunyai kartu, semenit kemudian mereka dibawa ke dalam sebuah ruangan dalam stasiun, satu persatu serdadu bergantian keluar masuk ke dalam ruangan itu. Setelah beberapa jam, kedua gadis ini keluar dengan tampang kusut dan baju yang acak-acakan. Sementara kereta api yang belum lepas berangkat, masih diantri oleh banyak penumpang, terakhir menyusul 2 nenek pedagang kue. Sebenarnya nenek ini mempunyai kartu, tapi kedua kartu itu terlanjur direbut serdadu, kemudian menyerahkannya kepada kedua gadis ini dan mereka pun mengantri pada barisan terakhir. Sedangkan, kedua nenek itu terpaksa menyusul para korban lain yang tercatat sebagai sampah kemerdekaan. Terlepas dari berbagai macam kejadian itu, Wali Lansi sudah memperlihatkan itikad baik dalam mengendalikan perang agar terarah dan rapi. Yang jelas itulah tugas Lansi yang pernah terlihat oleh Gando, hanya membagi-bagikan kartu pelindung kepada penduduk.


Bersambung..!

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987