Selasa, 28 Oktober 2008

BULAN SABIT TANJUNG MEDAN

Oleh. M. Yunis

Sepenggalan tahun 99, Sabtu Rabiul Awal, Tanjung Medan semarak. Gemintang berkedip, gelombang awan terlihat cukup jelas dipantuli cahaya bulan sabit. Saat seperti ini biasanya ada bintang jatuh, jika ini terjadi penduduk Tanjung Medan terkesima, kegiatan dihentikan, selorohan ditutup, hentakan batu domino dimeja-meja lapau tertegun seketika, kartu-kartu joker berserakan di atas tikar pandan lusuh milik Pak Adi. Semua memohon sebuah pinta kepada Bintang yang jatuh atau kepada bulan sabit merah malam itu. Entah apa saja yang diharapkan dari benda langit itu, tetapi begitulah kejadian yang sangat ditunggu-tunggu penduduk kampung.
Sementara Puji lebih memilih duduk menunggu di atas lantai teras tanah di depan rumahnya, dia tidak peduli dengan seringai jangkrik ataupun bintang jatuh yang memecahkan lamunannya ketika itu. Baginya bintang jatuh hanyalah sebuah mitos yag diwariskan kaum animisme dan dinamisme masa lalu, sekarang sudah abad moderen, dan dia membenci terhadap masyarakatnya masih percaya akan kemangkusan mitos tersebut. Terkadang masyarakat tradisional mengatakan bahwa itu suatu petanda baik jika dipandang baik, sebagian bilang itu petanda buruk ketika kita memikirkan hal yang terburuk. Bagi Puji itu sama saja, sebab dia sudah menciptakan tapakan jalan sendiri untuk menuju impiannya, ya dia ingin menyempurnakan rumah yang terbengkalai, sebab sebagai seorang suami ayang baru saja di karuniai seorang putra, mempunyai tanggup jawab masa depan yang besar terhadap keluarga batihnya. Terkadang dia berhayal ingin hidup di masa lalu.
Andai saja kakek buyutnya tidak dibunuh oleh tentara rimba itu, andai saja harta-hartanya tidak diganyangi Tukang Pisang Pauh Kambar itu, tentu hidupnya tidak sedera sekarang. Mungkin gelar Dt. Raja. Amai Said akan jatuh ke tangannya, dan juga harta-hartanya itu, padahal dia sendiri tidak sadar hayalan itu telalu mustahil baginya, sebab Harta Pusaka tinggi hanya akan jatuh kepada keponakan Amai Said. Lalu dua orang nenek perempuannya memilih kabur bersama tentara pusat, ingin dia rajam sejadi-jadinya, Puji menganggap dua orang pelacur itulah yang menebarkan wabah dalam keluarganya, sampai sekarang Puji tidak tahu muara tumpuan hanyut, dan rimba tempat berkuburnya. Apakah mereka itu masih hidup atau keturunannya masih diperlakukan sama seperti dulu, Puji sendiri tidak akan pernah tahu dan lebih memilih tidak mau tahu. Dia mengangap dua orang perempuan masa lalu itu tidak pernah tercatat dalam sejarah keluarganya.
Di saat malam kian merangkak naik, puji gelisah, awalnya dia yakin banyak pasiennya yang akan datang malam minggu itu, jika tidak dia kehabisan akal dan juga kehabisan bekal membeli pasokan susu untuk si Puji muda. Malam inilah andalah satu-satunya.
‘’Aduh, Si Azam, sudah segini malam belum juga muncul, tidak tahu orang sudah sekarat!’’, umpatnya Puji.
‘’Bang tidak makan dulu bang?’’, ajak sang istrinya dari dalam rumah.
‘’Belum lapar Tun, duluan saja!’’
‘’Tapi nasinya keburu dingin Bang!’’
‘’Tidak masalah, nasi basi pun Abang santap, si Buyung bagaimana? sudah kamu suapin?’’
‘’Sudah Bang, tapi baru separoh!’’
‘’Kenapa separoh, apa buburnya tidak cukup Dik?’’
‘Bukan Bang, lenteranya mati, mungkin kehabisan minyak, tapi tidak apa Bang, si Buyung sudah tertidur!’’
‘’Sebaiknya kamu juga tidur! Biarkan aku bekerja!’’
Si Istri manut dengan perintah suaminya itu. Sesaat Puji melirik penunjuk waktu yang tertera di Nokia 330 miliknya, waktu memang sudah berjalan kira-kira separoh malam.
‘’Ya.., sudah jam 12 malam tapi mereka masih juga muncul, sialan itu anak!’’
‘’Dasar keturunan orang terlibat, suka tidak tepat janji!’’
Sementara di sudut kampung lain, Azam masih saja asyik bercengkrama dengan Anton, kegembiraan itu dilengkapi Pil BK yang diselipkan Anton di Kaos kakinya saat di atas bus menuju Bukit gadang. Anton bercerita masa-masa diuber-uber oleh polisi gadungan di Medan hingga dia diselamatkan oleh banci yang kebetulan sedang susah mendapat pelanggan, Anton menjadi penikmat babi panggang di Tepian Samosir Sumatra Utara.
‘’Kamu tau Mbel? waktu di Medan kemaren BB ini sudah menjadi barang harian, teman saya punya 5 hektar perkebunan, enaknya jika saja datang mengunjunginya akhir pekan, saya selalu ketiban rezeki!’’
‘’Rezki apa Mbel?’’, Azam menyela
‘’Kamu memang begok ya Zam? Ya.., BB lah, masak BK!’’
‘’Sekarang kamu punya BB? saya lagi butuh 1 garis!’’, pinta citok pada Anton.
‘’Sekarang sih tidak ada, BK ini beruntung tidak aku buang, saat pulisi hutan razia di Ujuang Batu kemaren Malam!’’, jelas Anton.
‘’Kamu tertangkap?’’, Azam penasaran
‘’Dasar Gembel! Kalau tertangkap tidak mungkin aku ada di depan kalian semua sekarang, begok.., begoook!’’
Azam sakit hati dengan gaya Anton agak kekota-kotaan, padahal Azam tahu Anton dulunya anak yang paling bodoh di Gunung Ujung, dia selalu menangis saat kepalanya di pukul Azam, tapi sekarang malah dia yang sok jawara, Azam lebih memilih membisu, Azam takut Pukulannya melayang, apalagi setengah teler seperti itu.
Udara malam semakin terasa, itu petanda malam sudah mulai merangkak turun, tetapi anak muda itu belum juga sadar bahwa di lapau sebelah dua anak muda berjas hitam terus memerhatikan mereka. Di suasana yang semakin sunyi itu, tidak ada lagi bintang yang jatuh, bulan sabit juga sudah mulai dibayangi awan-awan malam. Citok dan Azam lupa bahwa Puji telah menunggu lama di Tanjung Medan, Azam sadar walaupun setengah teler, Citok sendiri memang sudah ngawur, dia ketawa sendiri, tidak ingat lagi kepada Jupri yang sejak siang minta pertolongan untuk dicarikan BB satu garis, barang itu berguna bagi Jupri meramaikan pesta perkawinan kakak perempuanya yang pertama. Tetapi Azam cepat sadar walau sudah agak terlambat bertepatan dengan munculnya Jupri dengan RX KING.
‘’Citok! Sialan kamu, mana uang aku?’’, tuntut Jupri.
Citok hanya tertawa.
‘’Sudahlah Jup! biarkan saja dia, uangnya saya yang menyimpan, biar saya saja yang ke tempat Bang Puji!’’
‘’Ah.., tidak usah lagi, tamu-tamuku sudah minum Vodka yang dibeli kakakaku!’’ , Jupri agak kecewa
‘’Aku mengerti perasaanmu Jup! sekarang juga aku akan pergi dengan Gembel ini!’’, Azam menunjuk Anton.
‘’Siapa dia?’’
‘’Dia Anton, dia baru saja turun dari Gumarang, terus langsung bergabung dengan kami!’’
‘’Anton!’’, Antin mengulurkan tangan kanannya ke arah Jupri.
‘’Namaku kamu sudah tahu, kamu jangan macam-macam di sini!’’, peringatan Jupri.
‘’Baik lah Jup, Kami berangkat sekarang!’’, Azam pamit
‘’Setengah jam lagi kalian harus sampai di rumahku!’’, gertak Jupri.
‘’Mudah-mudahan!’’, Azam berlalu.
Astrea star itu melaju menelusuru jalan raya Pariaman, angin malam memang sangat menusuk tulang malam itu, beruntunglah mereka berdua selalu mengenakan jeket murahan. Laju motor itu semakin dipercepat saat Azam melihat simpang 4 Pauh Kambar, diperemapatan jalan mereka belok kiri mengarah ke dalam pasar, laju motor terpaksa diperlambat kembali saat bertemu segerombolan pemabuk yang sedang bergoyang-goyang di kesunyian pasar ikan, mereka sepertinya sangat menikmati malam minggu yang merah itu.
Tiiit!..Tiiit!.., klason motor butut menyapa preman tersebut, mereka angkat tangan tanda penghormatan, tidak lama setelah melewati pasar Pauh Kambar motor melewati perwasangan sawah, dinginnya lebih mencekam, sebab hembusan angin di persawangan sawah tiada pengahalang. Tetapi tiba-tiba perasaan Azam tidak enak, filing Azam seketika beraksi saat melihat 2 pemuda tanggung berjeket di simpang Bukit tadi.
‘’Mbel, kamu rasakan sesuatu apa tidak?’’
‘’Tidak! Kamu baru telan 2 pil saja sudah mabuk, ah payah kamu Mbel, biar aku yang bawa motornya!’’
‘’Tidak usah dan aku tidak mabuk, kamu jangan terlalu melecehkan aku Mbel!’’, pinta Azam
‘’Maaf, saya tidak bermaksud melecehkan kamu Mbel, saya memang kebiasan seperti itu!’’, nyali Anton agak menciut
‘’Pokoknya, saat memasuki rumah Bang Puji nanti, kamu diam saja, kamu jangan banyak komentar, sebab kamu belum tahu daerah di sini, mereka bisa ada di mana-mana, kapan saja, dan siapa saja!’’
‘’Maksudmu apa sih?’’
‘’Pokokny mulai sekarang tutup mulutmu yang busuk itu, jika kamu ingin selamat!’’
‘’Okelah kalau begitu!’’
‘’Nah sekarang kita sudah sampai di Tanjung Medan, kamu plaster mulutmu, oke!’’, perintah Azam.
Motor Azam terus menelusuri pertigaan sebelah kanan pasar Medan Baik, kira-kira 2 kilo perjalanan mereka sampai di rumah Puji Tanjung Medan. Jalan yang mereka lalui sudah dibasahi embun-embun pagi hari, dililiriknya arloji yang mencakar ditangan kiri, sudah menunjukan pukul setengah 3 pagi. Namun, ketabahan mereka mengahadapi dinginnya malam Bukit Gadang dan Pauh Kamabr akhirnya sampai juga di Tanjung Medan. 10 meter jarak ke rumah Puji, mereka dikejutkan oleh suara agak kasar tapi berwibawa dari atas motor yang datang tiba-tiba dari depan.
‘’Bang numpang tanya bang!’’
‘’Iya.., ada apa Bang?’’, jawan Anton.
‘’Bang Puji kemana ya?’’
‘’Oh, dia lagi di rumah , kamu juga mau ke sana?’’
Azam terpaku dengan sikap Anton, Azam sudah memperingatkan Anton berkali-kali, tapi Azam tidak bisa berbuat banyak di hadapan 2 orang pria berjeket hitam itu. Mulutnya seperti terpaku, rasa kecut mulai mengusai dirinya, tapi dia tetap kelihatan seperti laki-laki.
‘’Terimakasih ya Bang!’’, dua pria itu berlalu dari mereka, tetapi bukan berbalik kerumah Puji, mereka mengarah meninggalkan Azam dan Anton. Azam masih terpaku dalam emosi, tiba-tiba sebuah pukulan dilayangkan ke muka Anton, seketika Anton berteriak menahan sakit, mungkin pelipisnya pecah.
‘’Bangsat kamu Mbel! sudah berkali-kali kutegaskan, kunci mulutmu itu!’’, hardik Azam kasar.
Namun anton hanya heran dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa dan tidak akan terjadi apa-apa, tetapi Azam lebih hafal situasi, dia lebih pahan apa yang akan terjadi, kebinasan yang akan menimpa mereka kian dekat. Dengan bandan separo gigil, Azam tacap gas menuju rumah Puji, seperti biasa Azam menyodorkan uang Rp. 120.000 kepada Puji, dan Puji un menyodorkan satu buah bungkusan kecil, tanpa basa-basi Azam kembali kemotor dan berniat untuk berlalu sesegera mungkin, namun Anton menahan dengan deheman, Anton ingin berkenalan dengan Puji. Namun bagi Azam Anton hanyalah mahluk tidak berguna.
‘’Terimakasih Bang!’’, nada suara Azam bergeletar. Sesaat kemudian mereka langsung tancap gas. Azam sama sekali tidak memikirkan perasaan yang menimpa Puji yang sudah lama menunggunya hingga Puji pun rela melewati kesaksian bintang jatuh, dan melepas kepergian bulan sabit yang membelakanginya.
‘’Tadi siapa Mbel?’’, tanya Anton memecahkan suasana hening.
‘’Bapakmu yang bangkit dari kubur!’’
Azam terus melaju motornya, dari kaca sopion kanan Azam bisa menyaksikan sebuah motor supra X mengikutinya, awalnya pelan tapi setelah azam memeprcepat lajunya motor, si penguntit juga mempercepat laju kendaraannya, sementara Anton belum juga sadar apa yang akan terjadi.
‘’Baiklah Mbel! saya akan tanya kamu baik-baik!’’, Anton memiringkan mukanya ke belakang.
‘’Mbel sepertinya ada yang mengikuti kita!’’, potong Anton.
‘’Nah sekarang kamu menyadari, apa sebenarnya yang terjadi, pegangan yang kuat dan tutup mulutmu, sebelum kamu bertanya kembali, biar saya jelaskan, sekarang kamu yang Goblok, idiot dan sialan. Mereka itu malaikat maut yang kapan saja siap memborgol tangan kamu, jika kamu mau berteman dengan mereka, kamu turun saja di sini!’’, terang Azam
‘’Lebih cepat lagi Zam’’, Anton mulai dikuasai gigil ngeri.
Kondisisi kejar-kejaran tersebut berlangsung hingga ke Pauh Kambar, tiada jalan lain, Azam menyelip ke jalan setapak dan mematikan lampu motor seketika. Di tengah kebutaan malam itu, motor Azam menubruk kerbau yang sedang tidur, mereka berdua terjun bebas ke dalam rawa yang menganga di samping re kereta api menyusul motor yang mereka pakai. Namun, alam keberuntungan masih memihak kepada Azam dan Antun, kedua pria berjeket hitam itu kehilangan jejak setelah memasuki jalan setapak yang di halangi kerbau yang sedang terkejut marah. Kerbau itu mengira bahwa yang menggangu lelap tidurnya adalah orang yang baru datang tersebut, kerbau mendengus-dengus ke arah pemuda yeng berjeket hitam. Sesaat kemudian mereka berbalik arah.
Sementara Azam dan Anton semakin ditarik oleh lumpur deriata di dalam rawa, mereka harus segera keluar kalau tidak ingin dihisap habis oleh lumpur rawa itu. Dengan segenap tenaga yang masih sisa mereka berusaha menarik motor dan melaju untuk pulang. Terasa sia-sia sudah jerih payah mereka menemui Puji, bingkisan hasil penukaran uang dengan Puji sudah lenyap entah kemana, badan yang terasa seperti manusia lumpur, ciptakan makna tersendiri bagi mereka berdua. Ya!.., malam itu, Dewi Fortuna masih sayang kepada mereka berdua, sekurang-kurangnya kepada Azam, dia sempat sekelabat sempat menyaksikan bintang jatuh tadi, setengah percaya Azam coba-coba memohon sebuah permintaan. Saat ribuan tanda tanya yang tumbuh di hatinya, Azam yang lelah langsung menuju rumah orang tuanya di Bukit Ujung. Sementara Anton sendiri ditinggalkan di Simpang Bukit dengan kesal.
Azam sadar bulan sabit yang jatuh di pelataran tadi, kini telah berubah menjadi bulan sabit jatuh ke dalam lumpur..., kemalangan atau kemenangan yang cukup membingungkan.
**

‘’Azam! Azam! Sudah jam 11 siang, kamu mau tidur sampai kapan? Kamu tolonglah Ayahmu buat persemaian di sawah, jangan tidur saja kerjaan kamu itu! Anak tidak tahu di untung!’’, sauara itu sangat dia kenal, Ya! Itu suara Emak yang sedari tadi membangunkan Azam. Azam memaksakan mengangkat badannya dari tempat tidur bilik belakang, padahal persendianya masih terasa sakit, bilik belakang inilah yang dijadikan Azam sebagai tempat peristirahatan terkhir. Bilik ini memang jarang dipakai, biasanya Emak menggunakanya sebagai tempat menyimpan kerupuk jengkol hasil buatannya sebelum digoreng. Siang itu tubuh Azam benar-benar berbau jengkol bercampu lumpur. Azam mencuci mukanya yang kusut masai, di dalam separoh sadar itu Azam mendengar berita yang dibacakan Mutia Hafid presenter SCTV.
‘’Seorang pengedar tertangkap basah....saat..!’’, berita itu terputus-putus. Azam segera menuju ruang tengah, diruangan tengah Azam mendapai presenter itu sedang menyemapikan kronologis berita.
‘’Seorang mngedar ganja di Tanjung Medan di Dor Tim Serse Pauh Kambar! kejadian itu berlangusng jam 3 pagi di Rumah tersangka......! Pria yang yang dikenal dengan Panggilan Puji itu meninggalkan seorang Istri dan bayi yang masih berumur 3 bulan...............!, Anna Rosa Repoter SCTV, melaporkan dari Padang!’’
Ya.., Azam baru sadar Abang Puji baru saja diganyang berita BUSER Minggu pagi ini. Lalu apa yang mampu dia lakukan selain Azam merenung, mengawang, dan berkelana di alam imajinasi, penyesalan yang bertubi-tubi, mungkinkah tuhan masih mau menunjukan jalan terbaik untuknya, dialah yang sama sekali sedang didera kebutaan...., akhlak, kepribadin dan harga diri.

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987