Selasa, 28 Oktober 2008

POTONGAN SAJADAH

Oleh. M. Yunis

Terpaan terik mentari pagi menembus kaca-kaca beranda rumah, terasa sejuk, saat itu pula dera menghilang tanpa jejak, ingin rasanya Azam berceloteh bersama embun-embun menjelang kepergiannnya untuk kesekian kali. Di dalam hidupnya, suasana pagi ini begitu lain dari pagi sebelumnya, sangat istimiwa baradu imajinasi atau tenggtelam kedalam dunia sejuta hayal, menggapai mimipi-mimpi yang datang tidak teratur, menyeka peluh-peluh pagi, membelai sinar mentari, atau mati di perkosa malam untuk selamanya. Ya!.., pagi itu sebuah karunia bagi Azam, dia merasakan ada sesuatu dorangan dalam dirinya menuntut sebuah reformasi, Azam tidak tahu gerangan-gerangan terbaru yang akan muncul setelah paginya berlalu. Tapi Azam yakin esok atau lusa, pagi mungkin akan menjelang, dia mengharapkan suasananya masih sama, embun-embun, mentari, cicit burung pipit padi akan selalu menemani sejuknya lamunan, ya lamuan pencarian makna, begitulah yang dia rasakan.
Perasaan yang sama terus membuai, menjanjikian mimpi-mimpi silam yang belum perah terwujud, tanpa terbesit sedikitpun bahwa di hatinya masih terdapat rongga kosong tiada berpenghuni, sering azam menanyai diri, rongga itu milik siapa? Akankah tumbuh di dalamnya sebuah bibit kemulyaan, sungguh tiada dapat mengerti, rongga-rongga itu hanya dihujani puluhan pertanyaan Azam yang tercipta masih di sekitar rahim onggokan daging tersebut.
Hari itu hanya senen yang cerah, azam mulai memanjakan diri dengan lebih cepat merasakan dinginnya pagi, sedikit malu dia melirik sumber detang di dinding depan, dia tidak tahu waktu ketika itu sedang asyik mencandainya, lihatlah putaran teratur dari jarum-jarum halus itu telah mampu mengelabui pandangan siapa saja, padahal tanpa dia sadari jarum pendek dan jarum panjang yang lain sudah menempel terlebih dahulu sebelum kedatangan Azam. Azam tahu benda waktu itu masih bergulir seperti amanah yang telah dititipkan kepadanya, dia takut kalah dengan jam dinding di depan rumah itu, entah apa yang dia pikirkan, dia hanya mampu mebuntuti desahan-desahan hati kecilnya itu, semenit kemudian azam telah menadapti dirinya di kamar mandi.
‘’Nawaitul Wudlu Liraf ’il Hadaisil Askhari, Fardan Lillali Ta’ala’’, Azam berucap seperti orang-orang aneh, Ya!.., ucapan yang sama juga dia ucapkan dulu sewaktu belajar membaca Al Quran di Surau. Ucapan itu juga yang sering didendangkan orang di kala subuh menerobos mimipi-mimpi, dalam hayalan-halayan yang tidak bertepi. Sekarang azam kembali mengucapkan masih dengan nada yang serupa, sesaat dia kembali dibuaikan oloeh bayangan masa kecil, main galah setelah usai mengaji, sembar lakon, kelereng hingga menonjok teman-temanya yang usil. Azam berhasrat mengulang kekanak-kanakan itu, tetapi setelah dilihat dirinya di cermin, kumisnya semakin bercokol, jakunnya membesar, suaranya menggelegar terkadang tidak bisa ramah. Azam tahu waktu itu tidak akan bisa diputar kembali, sebab jarum-jarum jam dinding yang menempel di dinding rumahnya hanya mempunyai satu tujuan, yaitu mengikuti jarum halus yang selalu melenggok santai.
Azam membentangkan sajadah bolong pemberian Nenek, mungkin Azam mempunyai harapan lain terhadap sajadah itu, seperti Emak, Ayah, dan nenek terhadap Azam. Ya!, azam bertingkah laku lebih aneh lagi, dia tegap menyerupai orang menyembah dalam ketakutan, sesekali membungkuk, kemudian bersujud dengan seribu pinta, dua kali peristiwa itu diulangi Azam. Sejurus dengan kejadian itu, azam menengadah ingin melihat sesuatu di ruang kosong, tetapi adannya selalu ada, dan bukan diadakan oleh siapapun, azam menampung kedua tangan meminta sesuatu, kali itu azam tidak bisa bersuara lantang seperti meminta kepada Ayah atau Emak, Azam, begitu lembut, miris namun penuh harapan. Lalu azam menyapukan berkah yang dia dapat pagi itu kemuka yag sudah sedikit kasar berlobang.
Yos bilang kepada Emak dan Ayah, bahwa Abangnya bertingkah aneh di kamar belakang. Emak pergi mendapati azam di kamar berlakang, tirai pintu transparan yang dibakar lampu pagi itu, tidak mampu menyembunyikan bayangan azam dari prnglihatan Emak. Emak memang tidak menyempatkan diri masuk ke kamar itu, emak yang baru tersadar dengan kejadian itu, haru bercampur gembira, Emak kembali keruang tengah.
‘’Abang sedang mengapa Mak?’’, buru Yos penasaran.
‘’Abangmu itu sembahyang!’’
‘’Oh.. iya, aku juga pernah belajar melakukannya di surau, aku juga di ajari Uni Fazri, tapi mengapa Uni Fazri menyebutnya dengan sholat ya mak?’’
‘’Sembayang istilah kami-kami ini, sholat itu istilah kalian sekarang, kamu bisa perhatikan gerakannya yang sama, yang diucapkan juga sama!’
‘’Mengapa bisa sama ya Mak?’’
‘’Kerena tuhan kita masih sama!’’, ulas Emak.
Emak berlalu menuju dapur.
‘’Ah! Emak buat asap lagi, emak selalu begitu selalu buat orang batuk-batuk, memang orang tua kalau pagi-pagi hobinya tidak ada selain ciptakan asap!’’, oceh Yos kecil.
Sementara Azam belum juga berhasrat keluar dari kamar belakang, padahal asap-asap yang pekat sudah menyesakan bilik itu yang hanya dibatasi oleh tirplek papan tipis. Di kamar itu, Azam memotong sejadah pemberian nenek dan membuang potongan bagian bawah yang berlobang, kata nenek dulunya sajadah ini pemberian kakek waktu mengucapkan akad nikah, Al Qurannya juga masih ada sampai sekarang, tapi kitab itu ditulis dengan tulisan tangan biasa, sekarang tidak bisa dibaca lagi, isinya juga bolong-bolong, ya! begitulah orang-orang dulu, selalu mewariskan peninggalan yang sudah kurang sempurna.
Tetapi kejadianya berbeda apabila pewarisnya Azam, azam terang-terangan sudah memotong sebagian dari sejadah itu dan membuangnya keonggokan kain bekas di dalam bilik. Azam yakin sebagian dari sajadah itu sudah sudah dipergunakan oleh nenek dan sekarang hanya tinggal sebagian saja dalam genggaman azam, ya! itulah pemberian nenek kesayangannya, potongan sajadah. Azam tersenyum bebas penuh kemenangan sementara. Kini potongan sajadah itu menjadi barang yang paling berharaga bagi Azam.
Jam tujuh senen pagi itu Azam berangkat kesekolah, seperti biasanya, azam di jemput oleh Ery, temannya itu tidak tahu apa yang terjadi dengan azam pagi buta barusan, bagi Ery Azam masih ketua yang dihoramati teman maupun lawan, Ery tidak perrnah berpikir bahwa jabatan itu akan terasa sangat menggangu, sebab kelas 3 SMU adalah masa yang cukup tua bagi mereka untuk berleha atau memukul orang hingga tawuran seperti biasa.
Berbeda dengan Azam sendiri, panggilan ketua yang sangat dihormati itu hanya kebetulan saja, nama Nagari Bukit gadang yang telah menjadi simbol kegentaran masyarakat sekitar, berpapasan dengan sikapnya yang keras kepala, tidak mau kalah, bahkan Azam anak Bukit Gadang selalu sering menjadi payung perlindungan bagi setiap siswa yang menggunakan namanya di saat berkelahi. Rutin satu kali dalam seminggu perekalahian antar siswa pasti terjadi di Kota Kecil Lubuk Alung, ujung-ujungnya nama Azam tercatat di dalam buku Kuning sekolah-sekolah hingga kapolsek Lubuk Alung, hanya saja Kapolsek setempat belum berani meringkus Azam sang ketua, sebab bagi pihak keamanan ini mereka belum cukup bukti melnyapkan loyalitas yang dimiliki Azam secara kebetulan.
Dua tahun yang lalu, saat nama azam mulai melejit di seluruh sentro Lubuk Alung, Azam hanyalah salah seorang siswa polos dari Bukit Gadang yang, kalau tidak bisa dikatakan anak yang jujur. Hanya bermodal kemauan untuk meberubah jati dirinya saja, namun kesempatan emas yang datang tiba-tiba membuat azam kembali menunjukkan taringnya, awalnya dia tidak mengubris kesemapatan itu, tetapi peristiwa bersama Wali Nagari dan harapannya yang terkubur bersama kekecewaan, membuat dia kehilangn beasiswa. Awalnya azam sangat menggantungkan harapannya pada budi baik pemerintah itu, tetapi dosa yang diwariskan kakek terhadapnya terlalu hitam sehingga menyatu dengan warna kulitnya yang legam atau terbakar terik mentari saat mencangkul di Sawah, apa bedanya bagi Azam antara sawah dengan sekolah.
Apa lagi sejak Puji diganyang Undang-undang di dalam program Buser SCTV, nyali Azam menciut saat itu, namun takdir memapah azam kewacana lain namun masih di dalam makna yang sama. Untuk kesekian kalinya Azam langsung menjadi kakitangan penyalur dari Medan. Persitiwa itu bermula saat kperkenalan Azam dengan Erik. Pertemuan yang tidak disengaja saat Azam pulang sekolah. Sabtu Siang, Azam seperti biasanya seusai pulang sekolah selalu mampir di Warung Predy di pinggiran kali Pasar Lubuk Alung, kebetulan sekali Ery sahabat setia Azam tidak masuk sekolah, jadi azam terpaksa pulang sendiri, di pelataran Warung Predy Azam sedang menikmati Jus Jeruk yang selalu sudah tersedia saat Predy meliaht Azam dari kejauhan.
‘’Tumben Ketua, Ery kemana?’’, Sapa predy bersahabat.
‘’Bang sebenarnya Ery itu punya jalan yang sedikit berbeda dengan aku!’’
‘’Kenapa, kelihatannya hubungan kalian sejati sebagai teman.’’
‘’Iya, aku tahu, tapi terkadang Ery timbul kemanjaannya, saat seperti itu aku kurang suka pada Ery!’’
‘’Memangny Ery ada acara Ketua?’’
‘’Ery selalu punya acara saat dia mendapatkan motor Bapaknya sering tidak dipakai, sekarang Bapaknya lagi perlu Motor, jadi dia tidak berangkat sekolah!’’
‘’Bapak Erykan punya motor Yupiter, ketua?’’
‘’Iya aku juga tahu, dan aku juga tahu Bapaknya itu orang ternama di sini!’’
‘’Saya juga tahu itu ketua, kemaren di warung depan Pasar itu ada sebuah rapat, Bapak Ery langsung sebagai pimpinannya, saya tidak tahu persis hasil pembicaraan rapat itu, tapi isu yang saya dengar, mereka akan melakukan pembersihan, termasuk di sekolah-sekolah. Aku juga baca berita di TV, menonton berita radio, dan mendengar berita koran, seorang TO berhasil kabur dari Medan, kata orang dia lari ke Padang, tapi entahlah, saya juga tidak tahu apakah ini hanya sekedar isu politik atau bukan, yang jelas dalam waktu dekat Pemilu akan dilaksanakan!.’’
‘’Kalau mendengar Abang bicara, aku berhak menyebut bahwa Abang salah pilih jalan!’’
‘’Kok begitu ketua?’’
‘’Seharusnya Abang itu menjadi salah satu bagian dari mereka!’’
‘’Maksud ketua?’’
‘’Otak Abang terlalu encer bagi orang setingkat kami, seharusnya Abang ikut serta memperebutkan kursi di tingkat pusat, paling rendah di tingkat propinsi atau kabupaten!’’
‘’Ah, ketua bisa saja, janganlah terlalu meuji, saya hanya penjual Es Jeruk di pinggir kali ini!’’
‘’Itulah sebenarnya kesalahan Abang!’’
‘’Biarlah Ketua, enak jadi orang miskin seperti saya, semua terasa aman dan damai!’’
‘’Tapi sayangnya Abang hanya memikirkan perut sendiri!’’, ucap Azam sedikit meninggi.
‘’Ketua! Pernah mendengar kalimat ini? Kata orang adakalanya kita itu diam dan ada juga kalanya kita itu berteriak!’’
‘’Tetapi diam bukanlah suatu soluis, sampai kapan? Sebenarnya Abang lebih beruntung dari pada aku, 3 tahun setengah, terlalu mudah bagi Abang untuk menyelesaikan study di Iniversitas terbaik, tapi hasilnya hanya seorang penjual Jeruk, maaf ya Bang!, aku sedikit kesal, karena Abang tidak mau jujur padaku, aku tahu Abang itu mahasiswa berprestasi dulunya!’’
Sebenarnya Predy mengakui kekalahannya tersebut, ya! waktu 3 setengah tahun terlalu cepat menamatkan study du Fakultas Hukum Negri tersebut, tetapi keadaan, ketidak adilan dimana-mana membuat Predy mundur teratur dari perjuangannya. Pernah dulu Predy mendaftar di Kejaksaan, nama Predy tercatat di dalam papan pengumuman dan juga di Harian Umum Kota Padang, tetapi setelah predi mengejarnya ke Jakarta, kekecewaan telah menghanyutkannya kembali ke muara keputus asaan. Masih terngiang ucapan menjaga meja.
‘’Maaf Pak, tempat itu sudah di isi oleh Predy, Bapak siapa dan Predi yang mana?’’
‘’Ini nomor penadaftaran saya Pak, 1388729 atas nama Predy dari Sumatra Barat’’, tegas predy.
‘’Tunggu sebentar Pak, saya cek dulu!’’, penjaga meja itu pergi keruang kepala. Setengah jam kemudian dia kembali membawa harapan seperti impian Predy.
‘‘Bagaimana Pak?’’
‘’Maaf Pak! Yang dimaksud Predy yang berasal dari daerah Surakarta, kalau Bapakan Predi dari Sumbar, setahu kami nama Bapak tidak tercatat dalam daftar kami, hanya nama Syarifudin yang tercatat di dari Sumbar, Bapak mau mengisi jabatan Syarifudin!, kebetulan Syarifudin tidak mendaftar, tukar dulu identitas Bapak, nama asli hingga nama orangtua sesuai dengan daftar Syarifudin, bagimana pendapat Bapak?’’, ajak Penjaga meja setengah membujuk.
‘’Terimakasih Pak, saya tidak perlu menukar identitas saya, saya mencari pendapatan sendiri saja, bersyukurlah Bapak negara ini masih sayang sama Bapak, mungkin leluhur Bapak seorang pejuang kemerdekaan, jadi Bapak mempunyai tempat bergantung yang tepat!’’, cetus predy menyindir. Sejurus kemudian Predy berbalik arah menuju Sidoarjo, tidak lama hidup di sana predi Pulang Ke Padang, katanya dia tidak tahan iman melihat dunia pinggiran Rel di terminal larangan.
Dua tetes banyu bening menyeruak di sudut mata predy.
‘’Bang predy! Kenapa Abang bersikap seperti itu?’’, hardik Azam
‘’Maaf ketua saya teringat kenangan lama!’’.
Sementara di ujung pelataran warung Predy, seorang laki-laki berjeket levis, celana robek di lutut sesekali melirikan mata sipitnya kearah mereka berdua, sendal jepit yang sudah dijahit memperjelas bahwa dia seorang pemuda terlantar atau pelarian. Tetapi dengan cara duduknya yang santai memperlihatkan bahwa dia seorang yang berwibawa, caranya memetik rokok, ramah tamahnya terhadap Predy saat memesan minuman, lengkap menjadi petanda terdapatnya segudang pengalaman yang dirahasiakan. Gembel unik itu berkata di dalam hati.
‘’Remaja ini bisa diolah sebagai ladang bisnisku yang sempat terhenti, ya, ini kesempatan emas, dia juga memiliki link yang cukup membuaikan, aku kira aku aman jka bersahabat denganya!’’, kepalanya mengangguk-angguk puas.
‘’Maaf saudaraku! Boleh bergabung?’’, sapanya bersahabat.
‘’Oh.., tentu!’’, jawab Azam.
‘’Saya Erik!’’
‘’Azam!’’
‘’Predy!”
‘‘Sepertinya Abang habis dari perjalan jauh?’’, selidik Azam.
‘’Tidak juga, saya sebenarnya dari Pasar, terus saya lihat di sini ada Es Jeruk, kebetulan sekali keronggkokangan saya sangat kering, lalu saya istirahat di sini!’’
‘’Memangnya kegiatan apa di Pasar?’’, lanjut Predy.
‘’Itu tadi ada kakak mau berangkat ke Jakarta, saya membantu menggkat barang bawaan dari rumah!’’
‘’Sepertinya kampung Abang juga jauh dari sini, kalau boleh tahu Abang berasal dari mana?’’, predy terus mengintrogasi dengan akarab. Sepertrinya Predy lebih simpati dari pada Azam, mungkin mereka merasa cocok, sedangkan Azam hanya sebuah idiologi yang sedang berpakaian SMA. Namun, cara serobot Predy yang sok akrab membuat Pemuda itu mengalihkan pandangannya ke arah Azam, sesekali dia balas juga celotehan Predy dengan sesungging senyum yang meluncur dari bibirnya yang sumbing. Pemuda itu sangat berharap kepada Azam, entah apa yang dia harapkan predy dan Azam tidak mengerti, tapi yang jelas pemuda yang bernama Erik itu ingin memperluas pergaulannya sebagai orang yang baru datang.
‘’Sebenarnya saya mengelola usaha motor Boot di Pulau Samosir, tetapi usaha itu saya hentikan karena Ibu saya meninggal di kampung, baru jumat kemaren di kuburkan di Bukit Apar!’’, lanjut Erik.
‘’O.., jadi Abang juga dari Bukit?’’, sambung Azam menunggu jawaban Erik.
‘’Iya!’’
Setelah tiga jam bercengkarama, suasana yang mendukung membuat mereka cepat akrab, sesekali diselingi dengan tawa-tawa kecil dari ketiga pemuda itu. Setelah sore menjelang Azam pamit untuk pulang kepada Predy, kali ini Azam bukan bersama Ery tetapi Erik, baginya Erik cukup dewasa bagi siswa seusia dia.
Setelah 2 minggu jalan bersama, Azam dapat dengan cepat memahami karakter Erik, begitu juga sebaliknya. Azam telah lupa isu yang dia dengar dari Predi dua minggu yang lalu. Erik juga telah menerangkan beisnis sebenarnbya yang dia geluti, Azam pun menyambut baik keinginan Erik untuk menjadikan Azam kaki tangan Untuk daerah Sumbar, awalnya di mulai di sekitar Lubuk Alung.
Tanpa sepengetahuan Ery Azam pun melancarkan bisbsi barunya si sekolahan, 2 minggu berjalan pasien Azam sudah banyak, bahkan ada yang meminta dikirimi barang yang benyak, katanya juga ingin menjalankan usaha yang menggiurkan itu, tetapi Erik belum memberikan izin sebelum Erik sendiri bertemu muka dengan mereka yang berharap tersebut. Sementara Ery yang tidak begitu dihiraukan Azam bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan yang terjadi dengan persahabatan mereka, setahu Ery tidak terjadi apa-apa antara mereka berdua, tapi kenapa Azam bersikap agak berbeda, kalu tidak bisa dikatakan dingin.
Di suatu siang di warung Mak Etek Ery melamun, perasaannya kurang Enak, rasanya semakin hari tteman-teman semakin jauh, Azam yang selalu menjadi pendamping setianya sudah jarang dia temukan di Warung Mak Etek, kadang-kadang dia menemukan Azam berjalan tergesa-gesa, lalu hanya tersenyum terhadap Ery. Di sela lamunannya da sebuah aktiviotas yang sangat menarik perhatian Eri di warung Mak Etek, setiap istirahat siang selalu ada 2pemuda yang berjeket kulit hitam singgah membeli rokok di warung itu, lalu disusul oleh seorang siswa dari dalam sekolah, mereka bertiga berbincang-bincang, kadang tawanya terdengar renyah, sementara siswa itu yang menjadi teman berbincang pemuda itu adalah anngogota kelompok Azam dan juga Ery sendiri, dia adalah Setia Budi, katanya dia berasal dari padang. Budi sebagai orang luiar mempunyai hubungan baik dengan Eri dan juga Azam, pernah dulu Budi di keroyok preman di pasar Lubuk Alung, esoknya Budi minta bantuanAzam dan Ery, setelah itu preman yang ada di pasar lari tunggang langgang setelah dikejar siswa SMA tempat Azam dan Ery menuntut ilmu. Sampai sekarang Budi sangat aman dan nyaman di bawah lindungan Ery dan Azam. Ery berpikir mungkin pria berjeket itu teman Budi atau saudara Budi dari Padang, sebab kehadiran dua orang pemuda itu pas sehari setelah Budi di keroyok preman.
Namun kedatangan 2 orang pemuda anewh itu juga tercium oleh Azam, walau sesudahnya Ery tetap mengabrkannya kepada Azam. Tatapi Azam menegaskan kepada Ery bahwa hal itu biasa saja terjadi sebab Budi baru saja di keroyok preman, mungkin saudara, teman atau famili Budi dari Padang. Namun, aktivitas Budi dengan kedua pemuda berjeket itu tidak terlepas dari pengamatan Azam, dia tetap memberi peringatkan kepada pasien-pasiennya, Ery sebagai tulang punggung Azam untuk informasimasi terbaru seputar Lubuk Alung masih bersedia menjalani takdirnya sebagi teman sejati Azam, walu Ery sendiri tidak pernaha tahu dan tidak mau tahu aktivitas rahasia Azam.
Bertepatan dengan acara perpisahan kelas tiga, peristiwa itu terjadi. Ape bersifat play boy berkelahi dengan siswa YPP yang bertepatan bercokol di sampaing kanan warung Mak Etek, Ape babak belur dihajar siwa YPP saat penampilan kabaret berlangsung di SMA Standar, peristiwa tersebut diketehaui Azam dan Ery setelah Mak Etek sendiri mengabarkan kepa mereka.
‘’Dimana Ape skarangMak Etek?’’, desak Azam
‘’dia aman istirahat di rumah Mak Etek’’, sambutnya.
Tanpa semapt berpikir panjang Azam dan Ery meninggalkan acara kabret sekolahan di SMA standar. Mereka tidak sabar ingin segera mengetahui keadaan Ape, sesaat kemudian mereka telah sampai di kamar rumah Mak Etek.
‘’Ape! Kenapa kamu bisa babak belur begini’’, serobot Ery
‘’Saya bertengkar dengan Si Don, sebenarnya sih perang mulut saja, tapi begibilah akhirnya’’, jelas ape.
‘’kamu dikeroyok?’’, sambung Azam
‘’tepatnya iya’’
‘’kamu jangan bertele-tele Pe!’’, hadik Azam
‘’sekarang aku sendiri pergi ke YPP itu, dimana si Don?’’, tanya Azam.
‘’dia masih di YPP’’
‘’kamu bisa berdiri Pe?’’, ulas Ery
‘’kayaknya kaki saya terkilir’’
Azam dan Ery bertatapan keheranan, padahal si Don sendiri siswa SMA Standar, danmasih tercatat salah sati siswa yang mih minta perlindungan Azam di saat berkelahahi, Nah, sekarang di menganiya temannya sendiri, lalu meinta perlindungan kepada siswa YPP, padahal lebih dari separoh siswa YPP masih termasuk komplotan Azam dan Ery. Azam memeras otak, menrjemahkan makna-makna di dalam otaknya.
‘’sekarang begini saja, kmu Ape kami antar dulu ke tempat pengobatan, sebaiknya ketempat H. Khaidir Saja, rumahnya di Bukit Apar, sepertinya kaki kamu patah, bukan terkilir’’, jelas Azam. Setelah mengantar Ape ketempat ahli tulang, Azam minta bantuan Ery menemani Ape di malam pertamnanya di rumah pengobatan. Sementara dia sendiri pergi entah kemana, tapi yang jelas sejak kejadian itu Azam terus menguras otaknya, Ery menajdi kasihan melihat Azam.
Senen pagi di sekolah Ery dan Azam di panggil kepala sekolah, taidak lama di ruangan Kepsek, Ery kembali kekelas, saat itu hanya Azam yang dintrogasi oleh Kepala Sekolah, mulai dari perkelahian yan terjadi tiap minggu, ado jotos di sekolah hingga permasalahan Ape. Azam dihardik-hardik oleh para guru yang memang sengaja datang mendengar pengakuan Azam.
‘’kamu dipanggil ketua di dalam kelompok kamu, iya apa tidak?’’, serobot Kepesek
‘’tapi saya tidak meminta mereka memanggu aku seperti itu Pak’’ ‘’Kamu menjadi dalang tawuran-tawuran itu Azam?’’
‘’Aku juga koraban dari dalang-dalang yang lebih besar Pak!’’
‘’Kamu juga membaut siswa perempuan takut Azam?’’
‘’Mereka hanya meinta perindungan Pak Kepala sekolah!’’
‘’kami punya aturan sendiri untuk membuat para siswa kami tentram’’
‘’saya juga siswa Bapak!’’
‘’kamu membuat masyarakat sekitar was-was dan cemas Zam!’’, hardik guru Agama di samping Azam
‘’itu karena setiap hari minggu saya dan teman-teman datang ke sini untuk kerja bakti Pak!’’
‘’kamu mematahkan kaki anak Pak Buzar Guru Olah Raga Kita’’
‘’aku hanya meneylamatkan santi yang hampir diperkosa Pak’’
‘’sudah dibilang,kami punya aturan sendiri!’’, hardik Kep sek
‘’aturan memperbolehkan memperkosa belum ada Pak!’’
‘’Tutup mulutmu!’’, Hardik Pak Buzar.
‘’tutup saja mata batin Bapak!’’
‘’Ape teman kamu sendiri, kenapa kamu tega menganiaya Zam”
‘’itu rekayasa Pak!’’
‘’kamu siap menanggung resiko apabila permasalahan yang sama terulang lagi?’’, desak Kepsek
‘’Vonis berhenti saja dia Pak’’, jawab para guru di rungan Kep Sek.
‘’surat ini adalah surat segel dari Kapolsek setempat, jika masalah terulang lagi, kamu kami relakan dibawa polisi’’, gertak Kepsek.
Setelah dintrogasi habis-habisan Azam masuk kelas, sementara di dalam kelas sedang berlanggsung palajaran PPKN kalu dulu namany PMP. Buk Nadya guru PPKN bercerita sejarah perjuangan merebut kemerdekaan dengan titik darah pengahbisan, sehimngga tahun 1945.
‘’Tanggal 17 Agustus 1945 negera ini terbebas dari penjajahan. Untuk itu, kita wajib membela negara kita, kita wajib mengisi kemerdekaan ini dengan belajar, dengan kejujuran, idealisme, sehingga memperpersempit celah terjadinya KKN, bagi yang menjadi pejabat nantinya berlakulah adil kepada masyarakat, bantulah orang yang tidak mampu, fakir miskin anak-anak terlantar, dan hamba sahaya. Kemerdekaan ini selalu di uji, mulai dari pemebrontyaan PKI dimadium hingga menjalas ke darah-daerah, presiden kirta Bpak Suharto trelah berjasa untuk mempertahan negara ini, dialah satu sayunya pahlawan kita, dia berhasil mengahncurkan Partai Komunis Indonesia Hingga keakar-akarnya. Untuk menajaga kejadian itu tidak terulang lagi, dibuat undang-undang, agar tidak mengangkat PNS orang yang berhubungan lanmgsung dengan sejarah PKI’’.
‘’Maksud Ibu, bagai mana, saya tidak mengerti’’, tanya Badawi dikursi belakang.
‘’Begini, kalau ada nenek atau kakaek, ayah, saudaranya dahulu terlibat membanti pekerjaan ataupun misi PKI di Indonesi ini, dilarang menajdi PNS, ini demi menjaga keutuhan negar kesatuan kita, termasuk orang yang keturunan langsung dari antek-antek PKI’’, tegas Bu Guru.
Sementara Azam di kursi belakang diam seribu bahasa, kata-kata seperti itu sudah sering dia dengar, dia sendiri samapi sekarang harus menanggung dosa bawaan dario sang kakek sewaktu menjadi Wali Nagari Bukit Gadang, pemerintahan Pusat mengahdiahkan Gelar pahalawan kepada kakeknya setrelah kekek rela dicap sebagai nateknya PKI. Iya, pengorbanan kakek Azam terlalu besai untuk kelancaran perpolitikan di negara ini dulunya, namun dosanya mungkin terlalu banyak hingga Azaam dan keluarganya harus menanggung keburukan itu, dapatkah azam diberikan gelar pahlawan oleh Pemerintahan?Azam sendiri tidak tahu.
Jam 13:30, pelajaran di sekolah hari rabu itu selesai, menjelang pulang Azam dan Ery mampir di Loker Koran di Pasar Lubuk Alung, tetapi Azam tidak juga menemukan Si Don di Pasar, koran itu belum dia baca, rencananya mau mampir melihat kondisi Ape. Sampai di sana, ternyata Ape telah dipindahkan oleh orangtaunya entah kemana, begitulah keterangan yang diberikan H. Khaidir kepada Azam dan Ery. Dalam perjalanan pulang itu, Azam menyempatkan melihat halaman utaama Koran. Azam sekelabat melihat 2 pemuda orang pemuda berjeket sedang berbicara dengan salah seorang Warga Bukit Apar, tapi mereka tidak menyedari bahwa Azam telah melewati mereka, merekalah pemuda yang selalu datang ke Warung Mak Etek, dan juga datang ketempat Jupri dulu.
‘’Asataga! Ry, kita putar haluan ke Lubuk Alung, tapi kita lewat jalan setapak di Pantai!’’, pinta Azam
‘’ada apag Zam’’, tanya Ery penasaran
‘’sudah nanti aku terangkan’’
Hanya butuh waktu setengah jama lewat seperempat bagi Ery untuk mencapai Rumah Beben di Asam Pulau, lubuk Alung, dengan kecepatan 120 Km/Jam membuat mesin motor supra itu berasap menelusuri jalan bebatuan terkadang hanya berbentuk tanah di pinggiran pantai. Setelah sampai di tempat Beni, di Azam berbisik kepada Beni. Kaget bercampur linglung, Beni mengambil kendaraan dan memacunya kearah pasar.
‘’Ry kita pulang saja!’’
‘’sebenarnya apa yang terjadi Zam?’’
‘’demi kselamatan kamu, sebaiknya kamu jangan mengetahui’’, suara Azam meninggi. Y!.., jiak suara Azam sudah seperti ini sulit bagi Ery untuk berusaha membuka mulutnya, ribuan tanda tanya bernaung dalam pikirab Ery, tapi apa boleh buat, setelah mengantar Azam, Ery melaju Pulang ke Bukit Parupuak.
**
Azam masih memutar otak, dan berusaha menghubungkan tanda-tanda, yang ada di dalam benaknya adalah Puji mati tertembak-Si Budi akrab dengan 2 pemuda berjaket kulit-Ape di keroyok si Don-Aku diintrogasi Kepsek-Nenek Zaitun punya cucu yang dinas di Kepolisian-trerlibat-Wali nagari-Erik alias Komar juga akan mati-dua pemuda yang sama-REKAYASA!-Predy! Mungkinkah?
Azam telah berhasil mempertemukan tanda-tanda, dia minta sama Ery agar tidak di jemput dan juga tidak diantar hingga situasi aman kembali, ‘’kalau perlu kamu jauhu sya dahulu, demi keamanan dsan keselamatan kamu’’, pinta Azam kepada Eri dio Wartel. Kali ini Azam pergi ke sekolah menaiki angkot, sesmapi disekolah suasana beriubah total, dia menguping pembicaraan para Guru, persoalan tertangkapnya Si Komar TO yang kabur dari Medan ke Padang.
‘’Berdasarkan informasi terbaru dari koran Harian Umum Kota Padang, ada lagi jaringan lanjutan Si Komar di Lubuk Alung ini ya Buk?’’, cerita Buk Wati kepada Buk Nadya Guru Agama SMA standar.
Azam yang dikejar kerisauan masih memutar otak, memang tidak seberapa siwa yang masuk sekolah waktu itu, terlebih lagi siswa yang laki-laki, Azam sendiri pahan dengan kondisi itu, tetapi Azam hanya melihat-melihat perubahan situasi, dia sendiri memilih tidak bergabung dalam mata pelajaran yang disuguhkan, warung Mak Etek pun sudah dipandang Azam tidak lagi steril-SMA-nya Azam?
Sejak kejadian ini, Azam terus mengembang potongan sajadah hadiah dari nenek, dari sana Azam dapat melihat cahaya kebenaran Hakiki yang serta merta hadir bersamaan kabut masa lalu, di balik sejadah usang itu pula gerbang-gerbang perjuangan baru, suasana baru mulai terbuka. Tapi terkadang Azam masih gamang setelah menyaksikan fatmorgana-fatamorgana hidup, azam sendiri berpikir bahwa dia terlalu muda untuk mengetahui itu semua.
SeIring berlalunya waktu, pagi-paginya Azam selalu mengarahkan kecerahan, walau terkadang awan hitam selalu muncul dari salah sudut kegamnangannya. Tapi dia masih yakin terhadap keterangan-keterangan pagi yang tersembul di balik hadiah keikhlasan nenek tersebut. Pada catur wulan ketiga di kelas III/IPS 2, Azam mencapai peringkat ke III di kelasnya. Namun Azam sendiri menginginkan kehadiran isu tersebut tidak mempengaruhi setiap orang yang mengenalnya, ternyata doa Azam terkabul, bertepatan dengan pemebrian hadiah dari sekolah setelah upacara bendera hari senen, nama siswa yang memiliki peringkat dipanggil satu persatu ke depan lapangan uapacar. Setelah beberapa urutan nama, maka tibalah saatnya urutan III /IPS 2.
‘’Sekarang bagi siswa kami Lokal III/IPS 2 yang dibacakan namanya diharap maju kedepan’’, pinta Protokol
‘’Juara ke-III kelas III/IPS 2, Ramadhatual Azam! Juara ke-II kelas III/IPS 2, Rizki Saputra! Juara ke-I kelas III/IPS 2, Sridinul Putri!. Bagi siswa kami yang disebutka namnya ini, dipersilahkan maju ke depan!’’, perintah protokol tegas.
Semua siswa yang dibacakan tersebut sudah tampil dalam bersaf di hadapn semua murid yang hadir pada waktu upacara, sekarang mereka seperti ikan asin yang dijemur ditengah teriknya matahari, kecuali seorang yang tidak tampil, protokol sudah berkali-kali membacakan nama yang sama, namun Azam masih tetap pada penderiannya, Azam hany bilang dalam hati.
‘’Aku belum berhak menyandang jura apapun dan tidak akan pernah men yandang juara apapun, selama kepicikan masih bercokol di Bumi ini’’, lirihnya.
Hanya seorang guru yang percaya bahwa yang bernama Azam layak tampil didepan seperti siswa yang lain, dia terssebur adalah Ibu Armeni wali kelas Azam sendiri. Semenentara di susut yang lain, seiswa-siswa lain seakan terpukau, tidak percaya bahwa Azam seorang yang dinilai berwatak buruk, keras, suka berkelahi dan membuat onar tiba-tiba namanya dibacakan berulang-ulang dihadapan khalayak ramai.
Sejurus dengan itu mereka yang menjadi teman Azam atau berpura-pura menjadi teman Azam terharu akan teguhan pendirian Azam, padahal sebenarnya Azam merasa malu dan belum pantas menyandang Juara tersebut. Namun diantara mereka tiada seorang pun yang mampu mengusik kekhusukan Azam ketika itu, mereka masih takut bercampur segan, ada sebagian yang hormat, dan ada pula sebagin yang benci.
Setelah hadiah dibagikan kepada masing-masing juara, semua murid masuk kelas, sudah bisa ditebak apa yang terjadi kemudian. Para guru mulai menggunjingkan nama Azam di dalam kantor, ada sebagai bilang tidak yakin dengan juaranya Azam, jangan-jangan hasil rekayasa belaka, ada yang menyebut Azam anak yang putut dikeluarkan dari sekolah ini, dan ada juga yang membilang preman pasar, mafia, dan segala macamnya. Tapi bagi Azam sembilu-sembilu itu sudah tidak mampu menoreh kulit Azam, hujan di daun, semuanya telah berlalu, selesai sudah studinya di SMA itu. Sekarang Azam ingin melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negri di Kota Padang.
Sebelum Azam menuju rumah, sendiri, Azam masih menyempatkan diri untuk mampir ke tempat predy, tapi yang ditemuinya di sana hanya Ani, adik predy yang perempun, seperti biasanya Azam selalu minum es jeruk tapi kali ini Azam sendiri yang meminta kepada Ani. Azam memulai pembicaraan.
‘’Maaf, ini adik Abang Predy yang bernama Ani ya?’’
‘’Iya.., Bang! Kok tahu?’’
‘’Abangmu pernah cerita! Sekarag Abang Predy dimana?’’
‘’Abang ketinggalan informasi, sekarang Bang predy direkrut oleh BIN, sekarang Bang predy mengikuti tes tahap terkhir di sana!’’
‘’Oh.., begitu!, terimakasih ya! Ani, berapa semua?’’, ucap Azam sayup dan sedikit lirih
‘’Rp. 2000, 00 saja Bang!’’
Azam mengeluarkan uang ribuan dua buah, kemudian memberikannya kepada Ani.
‘’sekali lagi terimakasih ya Ani’’, Azam pun berlalu.
‘’Oh.., iya Bang, Abang Predy kirim terimakasih pada Abang’’, teriak Ani dari kejauhan.
‘’sama-sama’’, timpal Azam.
Entah apalagi yang dirasakan pemuda itu, semua orang mau ..., ya! semua orang mau berhasil, begitulah kata-kata terkhir yang terbesit dalam hati Azam.

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987