Selasa, 28 Oktober 2008

MENDUNG


Oleh. M. Yunis

Di suatu pagi awal tahun 2002, Desi asyik bercengkrama dengan Ririt, memang udara dipagi hari itu tidak terlalu dingin, apalagi Universitas Andalas terletak diperbukitan yang jauh dari pusat kota, jadi terhindar dari segala kebisingan. Segala macam pepohonan tumbuh disana, dimulai dari pohon beringin, pohon karimuntiang, pohon rambutan, hingga kepohon idealisme. Bukit karimuntiang begitulah tempat itu dinamakan oleh masyarakat setempat. Yang paling membut mahasiswa betah berlama-lam di kampus adalah udara sejuknya selalu berhembus membelai sehingga mahasiswa banyak yang terbawa kantuk saat sore menjelang.
Persoalan sarana tidak diragukan lagi, komputer, internet, perpustakan yang terbesar di Kota Padang yang setengah jadi, 23 bus kampus selalu siap sedia mengantarkan mahasiswa kekelas masing-masing, asyiknya lagi bus ini juga diperbolehkan disewa oleh masyarakat setempat, ada yang menyewa hanya sekedar jalan-jalan, run away, hingga takziah apabila ada salah seorag mahasiswa yang sakit atau meninggal dunia. Staf pengajar yang berskala nasional maupun internasional tersedia ini kampus ini. Hingga saat itu tercatat pada masing-masing fakultas diasuh oleh 10 orang guru besar, semuanya lulusan luar negri. Aduh betapa nikamtnya mengecap pendidikan tinggi di Universitas ini. Di masing-masing fakultas juga terdapat perpustakaan, tempat ini selalu diramaikan oleh mahasiswa yang mau bikin tugas, buku-bukunya banyak, sumber dana petama adalah dari sumbangan sonior-sonior yang akan diwisuda.
‘’Rit? Tau nggak, saya pernah mendengar omongan teman-teman mahasiswa lain di atas bus kampus tadi pagi!’’, pancing Desy menghilangkan kantuknya, kemaren malam Desy memang kurang tidur.
‘’memangnya mereka bialang apa Ci?’’, timpal Ririt.
‘’katanya jika ada orang yang bertanya kamu kuliah di mana? Kita menjawab kuliah di Unes, mereka bilang, Eh.., bisa tu?’’, katanya
‘’trus!’’
‘’jika kita menjawab kuliah di UBH, mereka bilang, Eh.., kaya tu?’’
‘’Trus!’’
‘’jika kita menjawab kuliah di Universitas Negri Padang , mereka bilang, Eh.., Guru tu? Katanya’’
‘’Trus!’’
‘’jika kita menjawab kuliah di Universitas Andalas, mereka bilang, Eh.., pintar tu? kata mereka’’
‘’trus!’’
‘’Ih.., kamu terus!, terus! Terus kemana? Nanti tabrakan!’’
‘’Ih.., Cici bisa aja!’’
‘’Habis terus!, terus!, gak ada belokannya!, jalan ke kampus kita kan banyak belokannya!’’
‘’Ha..!....ha...ha..!’’, mereka larut dalam tawa.
‘’Iyalah Ci, kampus kitakan no 2 di Sumatra, dari dulu tamatan Universitas ini sangat dihargai orang di manapun, kalau tidak, tidak mungkin dijuluki Universitas Andalan, memang andalan semua orang’’, cetus Ririt.
‘’Iya, kampus kita termegah di Asia Tenggara, betul gak?’’
Sem,entara itu di pelataran parkir yang tidak jauh dari Rektorat Kampus, terlihat sosok laki-laki yang tinggi semampai, kulit sawo matang mengkilat diterpa sinar tengah hari. Kemejanya yang putih kini kuyup oleh keringat yang membanjiri seluruh pori-pori tubuh. Terlihat warnanya agak menguning karena sering dipakai, tapi baginya baju itu adalah hadiah terindah yang pernah di milikinya setelah ditinggal pergi sang Ayah untuk selamanya, kecelakaan maut di ujung Desember 2001 itu telah merenggut tulang punggung satu-satunya, padahal masih banyak orang yang bergantung di pundak tua tersebut, 3 orang adik perempuan yang masih perlu kasih sayang sang Ayah sekarang masih duduk dibangku SMA, SLTP, SD dan juga termasuk dirinya sendiri. Pilunya kejadian itu menyusup hingga ke seluruh persendian tulang belulang, namun ada secercah cahaya yang sangat dia dambakan, jalan terang itu mulai tampak setelah mendapatkan PMDK di Sastra Indonesia Universitas Andalas.
Tetapi hanya kemeja putih itu yang dimilikinya saat memasuki kelas pertama, sebab terhitung tahun 2002 mahasiswa yang berpakaian kaos oblong dan bersandal jepit tidak dibenarkan memasuki ruang kelas, apalagi ke Dekanat Fakultas. Dia tidak mau memikirkan apa yang akan terjadi esok, yang jelas setiap pulang kuliah dia selalu mencuci kemeja itu lalu menggantungnya dengan anger yang dipinjam dari teman satu tempat tinggal di musolla. Sebenarnya kemeja itu adalah pemberian ayahnya di Pasar Banto Bukittinggi, kata Ayahnya baju itu untung penjualan cengkeh yang dipetik kemaren. Sekarang baju itu telah menguning, pundaknya sudah sedikit robek dimakan asinnya keringat.
Sesampai di Fakultas, dia langsung melancong ke perpustakaan sebab perpustakaan baginya adalah sebaiknya tempat untuk melumat ide dan memutar otak. Dia mengambil sebuah koran yang berlabel Harian Umum Singgalang, dibolak baliklah koran tersebut hingga lusush, ya! masih di meja yang sama terdapat pula koran Padang Ekspres, Republika, semuanya telah dibaca dan dipejari.
‘’Oh.., bisa ya!’’, ucapnya tiba-tiba, ‘’ternyata di koran-koran ini menyediakan kolom-kolom bagi penulis lepas’’, ujarnya dalam hati dan kemudian diiringi dengan angguk-anggukan kecil. Seketika dia teringat kembali kepada 3 orang adik perempuannya, semangatnya seakan sempurna pulih, walau dia sendiri tidak tahu akan bertahan sampai kapan.
‘’Akan saya kuliahkan kalian semua, adek-adekku sayang!’’, matanya meleleh.
‘’Kenapa Zul? kamu sedih?’’, tegur lelaki berjenggot yang muncul tiba-tiba dari belakangnya.
‘’Ah.., tidak, hanya teringat adek-adek saya yang masih di kampung, kamu sendiri sedang mencari apa Das?’’
‘’saya sedang perlu Koran Republika, minggu kemaren saya mengirim cerpen keredaksi, saya tidak tahu apakah diterbitkan atau tidak!’’
‘’Ini yang kamu cari?’’, sambil memberikan koran Republika.
‘’Oh.., terimakasih, Alhamdulillah Cerpen saya diterbitkan Redaksi!’’
‘’jadi Darman Putra itu kamu?’’
‘’Iya, Zul, Alhamdulillah bisa untuk ansuran bayar tunggakan SPP’’
‘’Zul, sebenarnya saya juga ingin menulis seperti kamu itu, tapi saya masih bingung dari mana harus memulainya, apa kamu mau menunjuk ajari saya Das?’’
‘’Ah.., kamu jangan terlalu meuji, aku takut menjadi sombong’’
‘’Das ini serius! Saya mempunyai adek perempuan 3 orang mereka masih membutuhkan bantuan biaya, Ibu tidak akan sanggup membiayai mereke bertiga, Ibu saya petani’’, Zulfakri menunduk.
‘’Memangnya Ayah kamu Di mana?’’
‘’Ayah kami meninggal ditempat saat kecelakaan maut menimpanya sepulang dari pasar Banto!’’
‘’Innalillah!, maaf ya Zul, saya tidak menyangka, saya pikir saya mahasiswa yang paling susah di Fakultas ini, ternyata masih ada orang yang lebih susah dari pada saya’’
‘’Tidak apa Das, saya mau belajar menulis’’
‘’kamu bisa pasti bisa Zul, semua orang pasti bisa, kata orang belum lengkap menjadi mahasiswa sastra kalu tidak bisa menulis, saya akan meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan kamu’’
‘’terimakasih ya Das’’
‘’Oh.., ya! Besok kamu kemana Zul, kalau tidak ada acara datang ya ke Taman Budaya, disana ada bedah buku menepis ombak, karya Suryadi, saya pamit dulu ya Zul, ada kuliah jam 14;30!’’
‘’sekali lagi teimakasih ya Das’’
‘’Iya, sama-sama, Asalamualikum!’’
‘’Waalaikumussalam!’’
‘’Tidak percuma saya jalan kaki dari musalla ke kampus ini, ternyata saya temukan jalan baru di sini’’, hatinya girang.
Sementara di Dekanat fakultas, seorang laki-laki berkulit hitam, mondar-mandir membawa surat-surat. Dia mengetuk-ngetukan telunjuk ke kepalanya, hal itu menandakan bahwa dia sedang memikirkan jalan keluar. Sesaat dia kembeli kedalam Dekanat, setengah mengemis dia memohon kepada Bapak Badrul bagian Akademik.
‘’Pak, saya benar-benar minta bantuan Bapak!’’
‘’Tetapi saudara tidak ada tanda slip setoran dari Bank BNI, Saudara harus mempunyai slip setoran itu dulu’’
‘’tapi waktu pendaftaran tinggal sehari lagi Pak!’’
‘’Y saudara kan bisa meminjam uang dulu sama teman atau jemput kekampung dulu!’’
‘’Terimakasih ya Pak’’
‘’Iya, sama-sama, tapi besok hari jumat, tapi saya akan tunggu saudara sampai jam 3 sore’’
‘’Sekali lagi terimakasih ya Pak’’, sambil berlalu dari hadapan Pak Badrul. Dengan wajah sedikit kecewa dan penasaran dia keluar dari Dekanat, sepertinya dia tergesa-gesa, sehingga tanpa disengaja bersenggolan dengan laki-laki yang ber kemeja Putih.
‘’Aduh!’’
‘’Maaf Bang!’’, wajahnya yang hitamnya bertambah hitam karena malu.
‘’Ga apa-apa!, maaf seperinya saudara tergesa-gesa sekali ada apa? Atau mungkin saya bisa membantu!’’, ucap laki-laki berkemeja putih, sebab baginya ini adala cara yang terbaik untuk mencari persahabatan.
‘’Begini.., Eh .. maaf saya Azam dari Bukit gadang Pariaman!’’, Azam mengacungkan salam persahabatan.
‘’saya Zul bahkri dari Bukittinggi!’’
‘’Aku punya masalah yang agak rumit, samua belum bayar uang POTMAS, jadi saya belum bisa mengembalikan KRS ini, pengembaliannya terakhir besok! Saya bingung Zul’’, ucapnya lirih.
‘’POTMAS kan Rp 200.000, 00, kamu sudah coba sampikan keluhan itu kepada PA kamu?’’
‘’Belum Zul, saya malu! Itu menyangkut persoalan uang, hatiku agak berat untuk meminta bantuan pada orang lain’’
‘’kanapa harus malu, kamukan tidak mencuri! Coba saja dulu, mana tahu dia PA bisa bantu kamu! atau kamu pulang kampung saja dulu’’
‘’Sulit Zul, hutang gadai tanah kemaren belum ditebus!’’
‘’Kok kamu sampai menggadai tanah Zam?’’
‘’Biaya pendaftaran kemaren 1.500.000, 00, itupun sudah digabungkan dengan uang Nenek Rp. 500.000, 00’’
‘’kalau kamu mau, saya mau menemani kamu menemui PA!’’
‘’PA saya sekarang lagi di dalam kelas, jam 13:00 baru keluar Zul!’’
‘’kita tunggu saja hingga dia keluar kelas, PA kamu siapa? kalau saya boleh tahu?’’
‘’PA saya Drs. Muchlis A, Zul!’’
‘’Oh.., kamu mahasiswa Sastra Minangkabau?’’
‘’Iya Zul, itulah jurusan yang saya mampu kejar di waktu SPMB dulu!’’
‘’kamu jangan sedih begitu Zam, kamu kenal Suryadi? Dia sekarang di Belanda lagi mengambil Program Doktor di sana! kamu tahu tidak dia Alumni dan Jurusan apa?’’
‘’Tidak Zul, sayakan orang baru di sini!’’
‘’saya juga orang baru, tapi kebetulan teman saya Das menyampaikan kepada saya bahwa dia Alumni Sastra Minangkabau angkatan 86, kebetulan sekali besok di Taman Budaya ada acara bedah buku menantang ombak, dialah penulisnya, kalau kamu tidak sibuk kita bisa berangkat bersama besok! Saya penasaran ingin melihatnya!’’
‘’Baiklah kalau begitu, kita barengan saja besok!’’
‘’Zul! itu Pak Muchlis!’’
‘’betul, saya akan temui dia, terimaksih ya Zul, besok saya tunggu di Pasar Baru jam 9 pagi!’’
‘’Baiklah kalau begitu, saya duluan pulang ya Zam?’’
‘’Hati-hati ya Zul!
Azam berlari-lari kecil menemui Pak Muchlis di dalam ruangan Jurusan Sastra Minangkabau, sementara Zul berjalan kaki menuju musolla yang terletak di bawah gerbang Universitas Andalan.
**
Seperti biasa, selesai kuliah di gedung C, menunggu singgahnya mendung di sore hari, Azam berkumpul bersama teman-teman barunya di pelataran Gedung C, mereka kelihatan akrab, maklum baru saja berpindah dari sekolah menengah ke perguruan tinggi. Keakraban ini wajar saja terjadi di saat awal masuk kuliah. Entah esok, lusa, sebulan atau setahun lagi keakraban yang serupa akan terasa sangat langka bagi mereka yang sudah mempuyai kesibukan masing-masing, organisasi, pacaran, dan bahkan kerja sambil kuliah pun kerap dialami mahasiswa di kampus ini, hal ini mereka lakukan untuk memenuhi biaya persemester atau biaya kos. Azam ialah salah satu mahasiswa yang bekerja sambil kuliah, selesai kuliah di sore hari Azam langsung menuju Air Cemar, ini adalah salah satu tempat bagi Azam untuk menutupi biaya perkuliahannya, sebab janji ini tidak bisa tidak, harus ditunaikan Azam, jika tidak karena janji ini, Azam belum tentu sampai ke kampus termegah ini. Karena janji itu pula Azam diizinkan oleh kedua orangtuanya melanjutkan pendidikan. Sengaja, kegiatan Azam yang dipandang rendahan oleh sebagian mahasiswa ini disembunyikan dari teman-teman sesama mahasiswa. Bukan malu yang ditakuti Azam, tetapi fitnah yang dapat menghancurkannya seperti dulu.
Tetapi, ketahanan tubuh Azam yang makin melemah, mengundang tipus untuk menjanggiti tubuhnya, hal itu memaksa Azam meninggalkan pintu rezkinya Air Cemar. Namun harapan tidak terhenti hanya sampai di situ, Azam yang sudah terbiasa memutar otak sekarang berpikir terbalik, dia mulai memikirkan lumbung uang yang dihasilkan dengan pikiran dan bukan dengan fisik lagi, sebab bagaimanapun juga Azam harus membiasakan dirinya seperti itu, Ya! Azam harus jadi pemikir yang mampu melahirkan ide-ide cemerlang.
‘’Ya! Aku harus jadi yang terbaik!’’, teriak Azam dalam hati.
Dalam suasana tunggu itu, tiba-tiba onggokan mahasiswa itu dikejutkan oleh suara halilintar disambut dengan hujan desar yang diiringi badai. Paramahasiswa berhamburan menacar tempat berteduh, kelompok Azam bersama teman-temannya juga tidak luput dari amukan cuaca di sore itu. Halilintar yang sambar menyambar sebarkan tanda-tanda bemberontakan, ketidakrelaan, pilu namun penuh pertualangan.
Belum sampai satu jam hujan membasahi bumi karimuntiang, tanah-tanah perbukitan yang bercampur itu telah memberi mewarnai awal kehidupan Azam, air-air yang mengalair di sepanjang jalan yang lereng, seakan menyapu semua ketidakadilan yang mulai menapakan kakinya di dunia intelektual. Azam terus saja menghisap rokok sampoerna yang hanya tinggal sebatang, maklum dinginnya angin sore tidaklah seperti biasanya, kali ini angin menyampai kabar-kabar yang masih jauh dari jangkauan, sesekali merunduk kemudian kembaliu terbang memutar-mutar kepada siapa saja yang pantas menerima kabar itu. Sejurus kemudian, kabar itu menjelma menjadi sebuah berita, ia terhenti tepat di hadapan Azam. Azam kaget dan jiwanya membaur bersama kebimbangan, saat dikejutkan oleh munculnya suara laki-laki dari belakang. Wajahnya sedikit kusut, jiwanya kuyup walau hujan sudah mulai reda.
‘’Zam!’’, tegurnya, canda teman-teman Azam terhenti spontan, saat nama Azam dipanggil oleh laki-laki itu, dia pun menoleh ke belakang.
‘’Oh.., Bang Mansyur!’’, wajah Azam keheranan, namun di dalam batinnya ribuan tanda tanya meronta.
‘’Begini Zam, Emakmu tadi terjatuh, sekarang dia berada di Rumah Sakit Jati, dia tidak apa-apa, kamu bisa ikut dengan saya sekarang’’, ucap Mansyur memapah.
Tapi Azam sudah mulai merangkai tanda-tanda alam yang sedari tadi bertubi-tubi telah dikirimkan kepadanya, kata tidak apa-apa mempunyai makna lain bagi Azam, Azam pamit kepada teman-teman sekelas, kemudian menguntiti Mansyur dari belakang. Sepanjang perjalanan Azam hanya memaku diri, tiada satu katapun yang mampu diungkapankan, tiada satu puisi pun yang mampu dia rangkai, atau sekurang-kurangnya untuk merangkai langkah kaki yang semakin berserakan. Sementara, Mansyur sendiri agak sedikit cemas melihat Azam, dimulai perubahan raut muka hingga gemetar yang dia rasakan saat memegang pergelangan tangan Azam diwaktu melintasi jalan raya. Mansyur menyetop sebuah angkot, mereka berdua naik menuji Rumah Sakit jati, Azam semakin dingin saat sorot matanya tajam membelah kepura-puraan Mansyur.
‘’Bang! Kejadiannya seperti apa? Bisa Abang jelaskan kepada say sekarang?’’, pinta Azam.
‘’Zam tenangkan dirimu, dia tidak apa-apa, berdoalah!’’
Azam semakin diaduk oleh 51% kemungkinan, dia tahu dikampung sedang musim durian, biasanya konflik sering terjadi sebab durian tersebut tumbuh berdekatan dengan Tanah Nenek Zaitun dan nenek Cumbu, jika Durian sedang berbuah anak-anak dan cucu-cucu mereka sering bertingkah aneh, mengesalkan penunggu durian lain seperi adek-adek Azam, kemudian fenomena sengketa tanah yang sudah mulai tercium oleh Azam saat pulang kampung minggu kemaren, Azam belum mau berpikir sejauh itu. Ya! Kemaren nenek Cumbu memnyumpahi adik Azam Novembri dengan cucu orang menompang.
‘’Hei.., cecunguk kemarikan durian itu!, ini bukan tanah pusaka kamu tau apa tidak?’’, hardiknya kepada Novembri. Sesaat kemudian didapati Novembri telah tersedu-sedu saat duriannya itu direbut paksa hingga tangannya berdarah. Nenek sebagai orang yang tertua tinggal di tanah pusaka itu, menasehati Nenek Cumbu, tetapi nenek Zaitun ikut kebakaran jenggot, sambil menunjuk-nunjuk ke arah nenek.
‘’Uni! Tolong di ajari cucu Uni itu, masak durian sudah ada di tangan Si Cumbu mau diambil juga, ajari dia bagaimana bersikap jangan seperti PKI!.’’
Jantung nenek mulai terbakar, tapi nenek tidak mau meladeni mereka berdua, Nenek masih ingat masa lalu, karena nenek ada mereka itu ada, kalau saja tidak dibawa oleh suaminya.., entahlah. Memang tanah yang ditinggali nenek ialah Tanah Pusaka hibah dari DT. Sati penghulu suku Jambak yang tak lain adalah penghulu suku nenek sendiri.
‘’Mudah-mudahan hayalan saya tidak terwujud’’, ucap Azam tiba-tiba.
‘’Maksumu apa Zam?’’, tanya Mansyur.
‘’Ah.., tidak!’’, nada suara Azam sudah agak sedikit datar.
Setengah jam kemudian, Azam menadapati dirinya bersama Symasul berada di depan Unit Gawat Darurat, disana sudah menunggu paman Azam dan Emak, wajah mereka yang sunyi memancarkan aura kesediahan, hampir tidak ada harapan yang digambarkan oleh wajah-wajah tua itu. Azam sadar, bahwa neneklah yang terkena musibah dan bukan emak seperti dikatakan Mansyur, Azam juga memperhatikan wajah Mansyur yang kelelahan, Ya! Telah terjadi Miss Komunikasi antara Mansyur dengan Paman si penyampai berita. Bersamaan dengan datang berita, Mansyur saat itu sedang berada di Air Cemar, dia hanya menerima kabar dari Paman Azam melalui telpon.
‘’Nenek kamu sedang dioperasi sekarang, kakinya terluka sedikit!’’, sambut Emak.
‘’Cerita bagaimana Mak?’’
‘’seperti kamu tahu, dia keras kepala, sudah kubilang, tunggu pagi agak terang baru berangkat ketempat perhelatan! Tapi dia pergi juga!’’
‘’Lalu!’’
‘’Dia ditabrak motor Salim dari belakang! Saat itu tiada satupun orang berai menolong, kata nya takut melihat darahnya yang keluar banyak, setelah 5 menit Junaidi mengangkat nenek dan membawanya ke rumah H. Khaidir, dia memberikan rujukan agar nenek dibawa kerumah sakit ini!’’.
Azam larut ke dalam ketidak berdayaannya.
‘’Mengapa Salim seorang anak yang idiot, tidak bisa membawa motor bisa menabrak nenek, bukankah Si Salim kemaren habis memukul Novembri saat berebut durian yang Jatuh?’’, terawang Azam. Azam mulai tersedu-sedu di ujung kursi ruang tunggu Instalasi Gawat Darurat.
Tiga hari di dalam ruangan Gawat Darurat adalah waktu maksimal bagi pasien melewati masa-masa kritis, kata sebagin orang kita harus banyak berdoa dan baca Surat Yasin pada hari ketiga ini. Rabu Malm Jumadil Akhir, Azam mengeluarkan Al Quran kecil yang terbungkus oleh potongan sajadah tipsr dari dalam tas sandang, Azam pun melakukan seerti yang ditakwilkan orang-orang, Azam pun tertidur kelelahan di koridor Instalasi Gawat Darurat. Sementara Paman Azam masih menerawang sambil menghisap rokok Panama yang dibelikan ibi sesampai di rmah sakit, entah berapa batang Panama lagi yang harus dihabiskan paman, hingga jiwanya benar-benar menyatu dengan tubunyanya yang ringan. Emak sendiri sudah bersikap kedokter-dokteran, dia terus memandangi senyum Nenek dalam ketidaksadarannya.
Sepertiga malam mulai turun, seorang dokter muda keluar dari ruangan Intalasi Gawat Darurat.
‘’Keluarga Gandoriah?’’, suara dokter terdengar sayup.
Azam tersintak diikuti Emak dan Paman, mereka saling berpandangan cemas.
‘’Saya Dok!’’, tangkis Paman.
‘’Ibu Anda sudah beristrihat damai, baru saja sang pemilik datang berkunjung, kemudian membawanya serta’’.
‘’Innalilalhi Wainnailahi Rajiun’’, ucap mereka serentak.
Tiada seorang pun yang melepas kepergian nenek untuk selamanya, tangis-tangis ketidakberdayaaan tertahan membuat nafas mereka sesak, namun senyum nenek yang terkhir memaksa Emak, Paman, dan Azam untuk rela.
‘’Tuhan lebih sayang nenek!, tuhan lebih mampu menjaga nenek dari segala dera dan derita dibanding kita’’, ucap azam lirih.

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987