Selasa, 28 Oktober 2008

SENGKETA TANAH

Oleh. M. Yunis

Minggu pagi itu, mentari terbangun agak lambat dari hari biasa, terpaan angin perkampungan membuat orang-orang malas beraktifitas. Sepertinya akan datang badai lalu disusuli oleh hujan. Sebagai daerah yang tergolong tradisisonal, masyarakat percaya tanda-tanda alam, seperti dalam pepatahnya, ‘’gabak di hulu tando ka hujan’’ (mendung di langit petanda akan datang hujan). Kenyataan seperti itu memang berlaku di Nagari Bukit Gadang hingga sekarang, berdasarkan perkembangan zaman kepercayaan seperti itu sudah mulai tidak mangkus. Sebab kondisi lapisan ozon yang telah menipis, gundulnya hutan, dan pembuangan sampah di mana saja, mampu mengalihkan makna dari kepercayaan itu menjadi sebuah mitos atau mungkin jatuh ke arah Syirik. Tetapi generasi penerus yang telah menyecap pendidikan tinggi jauh dari kampung terkadang selalu menenggelamkan pengertian ke dalam hal-hal yang logis menurut pandangannya sendiri, baginya tanda-tanda alam seperti ini dianggap tidak pernah ada. Begitulah dua moderen selalu membuang jasa, jasa yang perenah memebesarkannya, jasa yang membuat dia ada dan mengada-ngada.
Ya! Kehidupan kampung memang damai, tentram, gemah ripah loh jenawai, untuk sekedar makan kita tidak perlu mengemis di kampung, sebab kampung adalah ladangnya beras, tetapi kampung pulalah yang melahirkan kemunafikan, ketamakan, keangkuhan, hingga lambat laun dia menjadi sebuah realita yang mengganas.
Nenek cumbu bersaudara merasa puas tinggal di kampung, apa yang dubutuhkan segala ada, tersedia dalam berbagai bentuk dan berbagai rupa. Satu harapan yang membuat dia mungkin bahagia, kepulangan cucu yang baru hanya baru berupa kabar yang dia terima. Kata anggrani anaknya yang pertama, cucunya itu cantik, di pinggiran Jakarta Tanah Abang, cucunya itu sekuntum bunga anggrek bulan, sering dikejar laki-laki yang tau dengan keindahan, sekarang dia berhasil menamatkan studinya di Universitas terbaik di Jakarta. Nenek cumbu rindu dan ingin rasanya membandingkan kecantikan cucunya itu dengan usianya di waktu muda dulu hingga dirinya berakhir di tangan laki-laki yang terpaksa dia cintai seumur hidupnya.
Di usia yang sudah uzur itu, nenek cumbu tidak mau berhenti berharap akan nasib baik akan menjemput dan membawa seluruh kepahitanya. Ternyata doa yang terpatah-patah itu berkhir hari Sabtu kemaren, saat-saat dia benar-benar menyaksikan Dwiyanti cucunya yang tercantik. Memang di kampung sakral itu belum ada seorang gadis pun yang mampu menyetarai dirinya. Ya! Dwiyanti sudah mendapatkan anugrah yang terlalu agung dari yang maha kuasa, sebagai seorang gadis muda lahir dan besar di Kota Besar, dia juga ditakdirkan sekreatif mungkin dalam menjalani hidup ini. Entah apa yang terbesit di hati Nenek cumbu waktu itu, akhirnya terpaksa mengurungkan niat ciptakan perbandingan kecantikan, dia merasa tidak pantas mengatakan bahwa dia dulu itu cantik, diminati banyak jejaka muda yang kaya-kaya lagi gagah. Sesungguhnya tiada yang kurang dimiliki oleh Nenek cumbu, harta pusaka, sawah yang berhektar-hektar, kuturunan yang banyak meski hidup diperantauan, hingga suku Jambak yang diwarisi anak cucunya didapat dari hasil kasih sayang Buyung Labai si suami yang berawal dari penjual Pisang Pauh Kambar. Berbeda dengan saudaranya Nenek Zaitun, dia terlahir kembar bersama si Cumbu, namun jalan hidup yang dia pilih adalah wujud kekecewaan yang mendalam dari kehidupan, yang dia mampu lakukan hanya hidup menumpang dari keringat Nenek cumbu, dia memang tidak berminat dengan keduniawian, tidak pula iri kepada si Cumbu menikah dengan Yung Labai, baginya kasih sayang Yung Labai hanyalah tanggung jawab seorang manusia ke pada sesama, jadi wajar saja situasi itu dia nikmati.
Sekarang Nenek zaitun juga mendapat kelimpahan rasa bahagia, meskipun Dwiyanti taidak berasal langsung dari rahimnya. Baginya kehadiran Dwiyanti di hari-hari yang senja seumpama mendapat maina baru. Semua kisah yang telah dilalui telah didongengkan kepada Dwiyanti, mulai dari kisah pelarian, bertemu sipenjual pisang, di gagahi sebelum naik kereta, hinga hadir di tanah pusaka suku jambak.
Namun bagi Dwiyanti itu hanyalah kisah sejarah buruk yang kadang-kadang membuatnya getir tapi tidak gentar, dia tahu kecantikannya tetapi tidak ada sesuatu apapun yang membawa dirinya kepada kesombongan. Baru saja 1 bulan sampai dikampung, Dwi sudah akrab dengan masyarakat sekitar, termasuk tertua-tertua adat, pejabat hingga politisi Kabupaten. Seperti kebiasan orang kota setiap pagi Dwi harus keluar dari rumah, dia bisa jalan-jalan ke tempat-tempat wisata, kepasar, sepertinya dia ingin menaklukan seluruh wilayah. Inilah bakat petualangan yang di pelajarinya sewaktu bergabung dengan Aktifis HMI. Sering orang terpikat dengan cara dia berbicara, sikap yang membuat orang penarasan. Hanya satu kekurang Dwi, dia tidak bisa memasak.
Dwiyanti juga mendengar nenek cumbu bercerita tentang tanah pusaka yang dia dapatkan dari suku jambak, kata nenek Cumbu dudlunya tanah yang dia tempati sangatlah luas, setelah Pik Uniang menadi kepoakan di Bawah Lutut dari suku jambak, dia juga diterima tinggal di tanah pusaka jambak, akhirnya jatah Nenek cumbu berkurang. Bagi nenek cumbu Nenek Uniang datang setelah bebarapa tahun setelah kedatangannya, diawali pembersihan besar-besaran yang dilakukan pemerintah.
‘’Suku jambak kasihan melihat nasib yang menimpa Nenek Uniang!’’, jelas Nenek Cumbu.
‘’Kasihan kenapa Nek?’’, tanya Dwi Penasaran.
‘’Dulu dia itu dikategorikan orang buangan, suaminya terlibat’’
Ya! Kata-kata terlibar bagi Dwi sudah sering didengarnya, walau dia jauh dari kampung.
‘’terlibatkan sudah kata-kata umum, disamakan dengan antek-anteknya PKI ya Nek?’’
‘’Iya, tami tidak menggunakan kata itu di sini, kami masih menghargai pertobatannya’’
Mulai saat itu, Dwi membenci tetangga yang bersebelahan dengan neneknya itu, dia menjadi dendam, karena dialah neneknya menderita seperti ini, kalau tidak Kakek buyutnya mungkin masih hidup samapi sekarang.
‘’Saya ingin mengusir mereka dari sini!, sebab mereka sudah mempunyai tanah di Gunung Besi’’, tegas nenek
‘’tapi kenapa mereka masih meilih tinggal di sisni nek?’’
‘’itu karena sifatnya sudah seperti itu, kamu lupa dia itu siapa? Setiap kali durian berbuah mereka selalu meu meiliki, dia perintahkan anak cucunya untuk turut serta menunggu durian, padahal yang menanam durian itu adalah kakek kamu, memang sebagian batang durian itu sudah berada di tanahnya mereka, tapi itu karena batang durian itu sudah lama dan besar, jadi uratnya yang tunggang merambat ke tanah mereka, Eh.., enak saja mereka mengatakan bahwa durian itu kekek mereka yang menanam, malahan kita yang dikatakan orang yang menompang, sakit hati nenek!’’
‘’Iya, Dwi sudah mengerti’’, diiringi dengan anggukan-anggukan kecil.
Lambat laun, sikap Dwiyanti sudah mulai mengendus-endus, dia berusaha mencari data dari masyarakat kampung, jawabannya hampir bersamaan. Dwi sendiri pernah melihat nenek cumbu berebut durian dengan si Yos, tangn Yos berdarah, dia mengadu sama neneknya, saat itu m,ulailah pertengkaran-perengkaran kecil, sudah bisa di tebak siapa yang menang, jelas orang yang mempunyai batang durian. Bahkan samapi buah durian itu habis pertengkaran terus terjadi, akata nenek hal itu terjadi setiap kali durain berbuah, sehingga nenek cumbu jenuh, ujung-ujungnya nenek cumbu mengadukan kejadian itu kepada Wali Nagari, tetapi jawab wali nagari itu keitu saja, ‘’tenang saja dia tidak akan berani!’’. Tetapi di saat Dwi mendatangi Pak Wali kerumahnya ucapan Pak Wali sudah berubah, ‘’tenang saja semua bisa di atur!’’, tetapi realisasinya tidak kunjung terjadi. Dwi bingunging sehinga di nekat menghubungi kakanya yang sudah pinadh tugas di jakarta, dulunya kakanya itu seorang Intel Polisi yang ditudaskan di Kabupaten, namun lambat laun karirnya melambung lalu ditarik ke Jakarta. Tetapi saat di Dwi menmghubungi kakak, tapi si kakak hanya membeikan sebuah nama yang harus di ubungi, dia adalah Bapak Harun di Kabupaten. Padahal keinginan Dwi kakaknya itu pulang dan mengurusnya secara Hukum, tetapi Dwi tidak putus Asa, dia juga tamatan Hukum, dia tahu hukum-hukum yang wajib mengayominya.
Sementara di ujung kampung Bukik Bandar, hidup sebuah keluarga yang sederhana, dialah anak ke 3 dari 6 orang bersaudara terlahir dari rahim Nenek uniang. Kondisi yang entah berantah memaksa dia hidup mengikuti suami yang berasal dari Bukit Bandar. Dia juga sudah membuat rumah di sana, resminya dia pun berpindah kampung. Dia memang tidak terlalu suka tinggal bersama nenek Uniang, di samping menyusahkan, gunjingan-gunjungan kerap dia dengar dari tetangga-tetangganya yang iri. Kadang-kadang dia mengajak Ibunya Nenek Uniang tinggal bersama, tetapi nenek uniang orangnya tidak mau diatur kadang tinggal di sana kadang kembali kerumahnya di Bukit Ujuang. Cucunya Si Azam sering memperingatkan, setiap Azam pulang dari padang, Azam selalu melihat nenek uniang ke Bukit Ujung dan mengajalnya ke Bukit Bandar, tetapi setelah Azam kepadang nenek kembali seperti sedia kala. Senangnya diwaktu neneknya itu mengikuti sembayang 40 , si nenek membawa kasur ke surau, jadi Azam bertambah dekat sama nenek, sebab surau tersebut terletak sepadan dengan kedua kampung itu.
Terkadang Azam sendiri kesal dengan neneknya itu, orangnya terlalu sosial, semua orang yang membutuhkan bantuan selalu dikhabulkan, dia tidak peduli kalau sikapnya itu akan bisa membahayakan. Mungkin itu cara bagi nenek Azam untuk hidup bermasyarakat. Nenek itu sendiri merasa senang melakukan tugas-tugas kemasyarakatan sehingga dia diberi jabatan sebagai orang salapan , waktu itu nenek Azam menjabat sebagai pimpinan. Jadi setiap kegiatan sosial di dalam masyarakat digelar, mulai dari kenduri perkawinan, pengangkatan penghulu dan sejenisnya, nenek Azam selalu menjadi orang yang terdepan. Tanpa disadari, Azam juga mewariusi sikap yang dimiliki nenek, hanya saja Azam kurang suk dengan sikap nenk yang sudah keterlaluan, sholatnya sering lalai demi kepentingan orang lain, Azam benci saat mendengar jawaban Wali Kampung, Azam hanya minta agar neneknya diistrirahatkan dari jabatannya, sebab neneknya itu sudah tua, tidak akan mampu lagi mengemban tugasnya yang terlalu berat, bagi Azam ini sudah termasuk exploitasi.
Minggu pagi itu nenek Azam datang marah-marah, Azam berpikir neneknya bertengkar lagi dengan tetangga.
‘’Ada apa nek, kok nenek marah-marah lagi?”, tanya azam
‘’itu si Cumbu itu, kurang ajar sekali dia, lihat adikmu ini, tangannya berdarah, padahal durian itu anaknya hanya ketika dikerongkongan saja, tetapi malahan di aniaya orang yang belum tahu apa-apa!’’
Azam melihat tangan Yos sudah dibalut dengan kain, sisatangsinya yang tertahan masih tergambar dari wajahnya yang polos.
‘’Yos! Kamu diapakan sama mereka?’’
‘’saya dapat durian, lalu tiba-tiba datang nenek cumbu bersama cucunya yang hiyam itu, durian ditanganku langsung direbut dari belakang, aku terjatuh!’’, terang Yos.
‘’lalu kepalamu yang bengkak kemaren, itu karena siapa?’’
‘’itu bukan karena durian, tapi dipukul Topik sam rudi!’’
Darah Azam turun naik seketika mendenga keterngan adiknya itu.
‘’kenapa kamu tidak bilang sama Uda? Kenapa kamu sembunyikan itu dari kami?’’
‘’Aku tidak mau mengadukan maslah perkelahian kepada siapa pun ,termasuk sam kelurga!’’
‘’tapi kamu sudah dikeroyok oleh anak cucu si cumbu itu!’’
‘’tapi aku yang salah!’’
‘’Salahmu apa?’’
‘’aku dikejar anjing si rudi, lalu aku pukul dengan kayu, kelihatan sama topik, dia adukan sama rudi, kemudian mereka mencariku di sekolah, mereka langsung memukul aku dari belakang, juga sitopik, setelah itu datang nenek mereka, dia juga ikut memukul punggungku dengan bambu!’’
Azam makin terbakar, azm tidak menerima perlakukan itu, sebab kejadian itu sudah berulang-ulang menimpa adiknya itu, Azam tidak pikiir panjang, dia langsung pergi kerumah Nenek cumbu mrina pertanggung jawaban. Keinginan Azam itu tidak tercegah oleh nenek, namun setelah Azam mendekati rumah nenek cumbu dia melihat sanak keluarga nenek cumbu reme duduk di luar, Azam pun membelokan langkahnya ke rumah neneknya, di sanapun sudah berantakan, batang pisang sudah roboh bekas ditebas parang, anak kelapa yang baru ditananm sudah terbongkar, dinding rimah nenek juga ditulis dengan huruf PKI, ikan-ikan di kolam peliharaannya sudang mengapung. Azam pun memberanikan diri ketempat nenk cumbu, sesampai di sana dia telah di hadang denga sebuah parang mengkilat di tangan Zinaldi anak nenek cumbu yang tertua.
‘’kamu mau mati kesini?’’, serobotnya seketika.
‘’Maaf da! Sebenarnya apa yang terjadi?’’, tanya Azam.
‘’jangan berlagak pilon! Kurang ajar sekali kamu itu, sudah dianggap saudara, malahan kamu itu ingin minta lebih!’’
‘’saya tidak mengeri maksud ud!’’
‘’sebenarnya keluarga kamu yang datang menumpang di sini, bukan kami, jadi alanghkah lebih baiknya jaga mulut kamu itu, tapi sekarang sudah terlambat, kamu dan keluarga kamu harus angkat kaki dari tanah kami ini!”, sambil mengayunkan parangnya ke arah azam, namun azam segera menghindar dan mengambil bambu yang ada di kainya untuk melindungi diri. Perkelahan tidak seimbang itu terjadi, azam mundur berlalri menyelamatkan diri, semetara keluarga nenek cumbu terus mengejar Azam hingga kerumah nenek, azam terus berlari, ruah nenek di robohkan mereka bersama-sama, Azam hanya terus berlari sesekali lmelirik kebelakang, kemudian api melahp rumah nenek yang terbuat dari kayu.
Sementara dari lejauhan terlihat sosok perempuan yang datang bergegas.
‘’Bagimana dwi, ketemu Bapak itu?’’, tanya Topik
‘’Ketemu!’’, imbuh Dewi dengan nada sedikit penyesalan.
‘’kamu istrirahat saja di dalam, suasana sedang panas!’’, perintah Rudi.
Di dalam kamarnya yang empuk, Dwi menangis mengingat kejadian yang baru saja menimpanya. Dia ingat sambutan ramah istri Pak Harun, anak-anaknya, tetapi setelah mereka istrinya pergi ke pasar, anak-anaknya juga pergi, kami tinggal berdua dengan Pak Harun, Dwi mengajukan keluhannya. Awalnya Bapak itu menanggapi dengan serius, tapi Dwi tidak menyanghka, lirikan mata Bapak Harun itu membuahkan petaka.
‘’Dek zaman sekarang idealisme itu akan kalah, setiap kerjaan ada upahnya, begitu juga pekerjaan yang harus akau lakukan, tentu ada upahnya, ngerti kamu?’’, ucap Bapak Harun.
‘’Maksud Bapak?’’, Dwi keheranan.
‘’kamu jangan berlagak begok begitu, kamukan anak Jakarta, seharusnya kamu lebih mengerti, kamu cantik’’, jakun Pak Harun naik turun. Pak harun dengan sigap telah menangkap Dwi dan memapahnya ke kamar istrinya. Dwi menangis, tetapi Dwi harus melakukan itu, dia cinta kepada neneknya, juag pada keluarganya, dia harus membahagiakan sang nenek. Dwi terhenti dari tangisnya dan ikut berkumpul dengan keluarga yang lair di halaman, sepertinya dwi juga siap menghadapi kemungkinan yang akan terjadi.
Semetara Azam yang masih dikejar rasa takut, hanya mampu mengunci diri dalam kamar, dia berusaha menenangkan dirinya, sesekali terbayang kilatan-kilatan parang dari keluarga nenek cumbu, lalu rumah nenek yang terbakar, ikan yang mati dan setelah itu apa lagi. Sesaat pinti diketok dari luar.
‘’Zam, kamu tidak kuliah besok, kapan berangkat ke padang?’’, tanya emak.
Azam hanya diam, dia benar-benar tidur, dia takut buakn karena parang, tetapi takut dia membunuh orang, dia pucat bukan karena kurang darah, darah itu sendiri sudah berkumpul di kepala, sesaat bisa meledak jika saja tidak segera dinetralkan. Sejurus dengan itu, suara ribut-ribut sudah meramaikan ruang tengah rumah Azam, azam mendengar paman mengocek, nenek menangis, dan emak histeris, namun Azam tidak mau keluar dari perenungannya.
‘’sudah keterlaluan sekali, tidak bisa di kasih amapun!’’, ucap paman kesal.
‘’kamu jangan salah bertindak, kamu cari pamanmu di Bukit Mansi, bawa datang dia ke sini, lalu kamu Pik, kamu terponlah paman kamu yang dipekan baru itu, kalau perlu kakakmu yang di Surabaya itu suruh datang segera, ini sudah gawat, mereka bisa saja datang ke sini dan membenatai kita semua, aku sudah hafal sekali situasi seperti ini, sebab aku sudah mengalaminyanya juga dulu, sementara biarkan saja Azam di kamar, anak yang satu itu jiwanya sama dengan si Buncit, kalau dia dipakasa keluar, dia pasti kembali ke sana, dia pasti mati, mereka jumlahnya banyak dan laki-laki dan perempuan memegang parang!’’, perintah nenek bijak.
Meskipun nenek sudah tua, tetapi kebijakannya ini masih didengarkan oleh anak-anaknya, karena nenek sudah terbiasa mengahadapi hal yang sesulit apapun. Setelah paman pergi dan emak juga pergi, nenek menemui penghulu suku Jambak, kemudian nenek juga mengunjungi saksi-saksi sejarah yang semasa dengannya.
Matahari sudah lama berada di ubun-ubun, azam sudah berada du teras ruamah, netanh berapa batang rokok sampoerna yang dihabiskan, Azam tidak bisa berpikir jernih, tangis yang tertahan membuatnya tersiksa, entah kapan situasiitu berakhir, dia yakin sudah pasti kuliahnya akan terganggu.
‘’Ya! Allah aku ingin menjadi orang baik-baik!’’, hanya kata-kata itu yang keluar dari sela-sela tangisnya yang tertahan. Azampun tertidur di kursi plastik di teras rumah.
Sejurus dengan itu, saudara nenek yang tinggal di Bukit Mansi datang, dia tidak berani membangunkan Azam, kemudian disusul Emak, nenek, Dt. Sati penghulu Suku, paman, dan juga saudara-saudara sesuku yang bersimpati. Azam masih tertidur dikursi luar.
‘’bangunkan dia’’, perintah paman kepada Emak.
‘’biarkan saja, kalau dia bangun dia tidak akan kenal kalian, bisa-bisa kalian yang jadi sasarannya’’, cegah Nenek
‘’sekarang bagaimana? Rumah telah terbakar, pisang telah ditebang, kolam sudah ditimbun!’’, ucap Emak lirih.
‘’sekarang begini, kita selesaikan dengan pikiran jernih!, saudara kamu yang di Pekan Baru bagaimana Ning?’’, tanya Penghulu.
‘’kalaupun dia pulang, dia akan memihak kepada mereka, aku lebih tahu sifatnya dari dulu, dari dulu dia suka sama Zaitun itu, tapi aku tidak mengizin Burhan menikahi Zitun itu!’’, jelas nenek.
‘’Biar saya yang memngatur, akau tahu betul sejarahnya’’, sambung Bpak Punai.
Sere hari mejelang kedua belah pihak yang bermasalah berkumpul di Rumah Penghulu suku, termasuk saksi sejarah dan Juga Burhan dari Pekan Baru. Beberapa saat musyawarah berlangsung, Azam datang dan ikut bergabung dalam musayawarah, Topik yang masih emosi langsung berdiri melihat kedatangan Azam, dia langsung mengejar Azam, sementara Azam sudah menyiapkan diri dengan segala kemungkinan, Kakek Azam dari Pekan baru berdiri dan mencekik leher Azam, sementara Topik dihalangi langsung oleh Dt. Zubir saudara kerabat jauh nenek. Akibat kejadian itu, rapat tidak bisa dituntaskan. Azam yang kembali terpancin emosi, memilih pergi ke Padang.
‘’Rapat dilanjutkan minggu depan, pihak yang bertikai diharap bersabar dan menahan diri, saya bisa saj mengambil tanah itu kembali’’, Peringatan penghulu kepada kedua belah pihak.
Nenek terpaksa pulang ke Bukit Bandar bersama emak, untuk sementara, pihak keluarga Nenek Cumbu berkuasa penuh atas tanah nenek. Namun hari kedua setelah rapat, nenek mencium gelagat aneh, nenek sudah berkali-kali melihat pejabat kabupaten keluar dari jalan yang menuju rumah nenek cumbu, nenek tidak tahu siapa namannya, tapi dari baju yang dia kenakan dan mobil plat merah yang dipakai, jelas menunjukan bahwa orang itu dari pemerintahan.
Azam sendiri memang sudah berada di Padang, hal itu lebih baik bagi Nenek, sebab nenek melihat sikap Azam yang keras kepala akan memeprsulit keadaan, Azam memiliki kesamaan sifat dengan si Buncit saudaranya itu. Untuk sementara, nenek sudah sedikit lega, nenek kembali pada aktivitasnya membuat joadah yang tertunda di ruamh salah satu warga yang akan melangsungkan prosesi perkawinan di Bukit Ujung. Namun sebelum kepergian Azam ke padang, nenek masih sempat membuatkan sambal rendang untuk Azam, Azam telah melarang, tapi nenek tetap bersikeras membuat sambal itu.
‘’Sudahlah nek! Nenek sedang banyak kerjaan, saya bisa saja buat samabal di Padag nanti!’’, tolak Azam.
‘’Kali ini kamu jangan menolak, ini mungkin yang terkhir bagi nenek, bisa membuatkan sambal untuk kamu!’’.
‘’terkhie maksud nenek? Nenek seperti orang meninggalkan perangai saja!’’, sambung Azam.
‘’Maksud nenek, mungkin setelah ini Nenek akan sibuk sekali, hingga ketemu kamu pun nenek tidak akan sempat!’’.
‘’Baiklah kaalu begitu, tapi jangan banyak-banyak, syaratya saja ya nek!’’.
‘’Tunggu kira-kira setengah Jam!’’.
‘’Baik nek!’’.
Setelah menerima bingkisan dari nenek, Azam masih mendapat teguran dari nenek.
‘’Oh, iya sejadah nenek masih adakan, jangan beli sajadah lagi, akai saja yang itu dulu!’’.
‘’Iya nek, masih ada, Asalamualaikum!’’, ucap Azam sambil berlalu dan Nenek kembali kerutinitas hariannya.
Rabu pagi itu, Nenek bangun lebih pagi dari biasa, setelah menuanikan kewajibannya kepada tuahn, nenak mempersiapakna baranng-barang yag akan dibawa ke rumah orang yang akan melangsungkan prosesi, nenek tahu masih terlalu pagi untuk memulai aktifitas, se saat dilihatnya jam dinding sudah menunjukan jam setengah tujuh, nenek berpikir jika pembuatan joadah dikerjakan lebih cepat selesainya akn cepat pula, tanpa pikir panjang nenek pergi berjalan kaki, kira-kira 10 menit dengan jarak 15 meter menyusuri jalan lintas, nenek akan sampai di lokasi. Begitulah cara berpikir nenek, sehingga cepat diterima dalam hidup bermasyarakat, ulet, gigih, dan terlalu jujur, kerena keterlaluan kejujur itu pulalah nenek selalu menerima perlakukan tidak enak sebagai balasannya, tetapi yang dipikirkan nenek tidaklah imbas balik terhadap dirinya, yang panting nagi nenek pekerjaan yangdia lakukan membawa kepuasan tersendiri bagi batinnya.
Setelah memakai kain sarung batik nenek langsung menuju ruamah tujuan, nenek lebih meilih sebelah kanan jalan lintas arah Qiblat, nenek tidak pernah menoleh kebelakang, sebab sering menoleh adalah keragu-raguan, akhirnya pekerjaan kurang maksimal hasilnya. Setelah beberapa langkah berjalan, tiba-tiba motor Sogun yang datang kencang dari belakang ,menubruk tubuh nenek hingga terpental dan terhempas ke aspal jalan, kaki nenek menyusup kejari-jari motor, kaki neneklah yang menjadi rem mendadak motor itu setelah beberapa meter menarik tubuh nenek 5 meter dari tempat nenek berjalan. Suasana hening seketika, semua orang seperti terpukau, tidak mampu berbuat, berkata-kata, bertindak, sedih maupun menangis, jelasnya tiada seorang pun yang mengira paginya kejadian itu, kemaren si nenek yang masih punya keberanian mempertahankan jati dirinya, kini terbaring dengan tubuh bersimbah darah. Namun keheningan itu pecah setelah tubuh nenek diangkat oleh seorang anak muda yang kebuetulan lewat bersama motornya menuju lubuk Alung. Semua tersintak, sadar dengan kejadian pagi itu. Nenek di bawa ke tempat ahli tulang H. Khaidir, namun luka nenek sudah benyak mengeluarkan darah, H. Khaidir merujuknya ke RSU. M. Jamil Padang.
Ya! Kejadin pagi itu, membawa berkah bagi sebagin orang dan sudah barang tentu membawa duka yang mendalam di pihak nenek Uniang. Tiga hari nenek di Rumah sakit, nenek pun dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Azam, Emak, paman, dan kakek-kakek lain tidak menyangka, Nenek yang dulunya terjebak di lobang perang, nenek yang dulunya berhadapan langsung dengan serdadu pusat, kini berbaring lemas dibalut kain kafan. Azam berpikir, siapakah yang akan meneruskan cita-cita nenek untuk keluar dari gelar pahlawan suaminya yang tak lain adalah kakek Azam sendiri?
**
Suasana di rumah Azam masih diliputi awan kesedihan, kapan saja hujan-hujan air ata siap membanjiri seketika. Namun ustad di kampug pernah bilang, tidak boleh menangisi si mayat, karena itu akan membawa penderitaan baginya di alam barzah.
‘’Simayat sudah selamat dan sudah usai tugasnya di dunia, panjang pejalannanya, singkat permintaannya, yang memiliki datang menjemput, yang menanam datang mencabut, sekarang telah berpulang ke rahmatullah. Sekarang yang harus dipikirkan adalah kita yang masih hidup, apakah kita sudah siap untuk mengahadapi kematian yang datang seperti siluman, seperti simayat contohnya, dulu waktu dia masih hidup dia adalah sosok perempuan yang tangguh mengahadapi situasi sekarat, dia pernah terkurung dalam lobang yang mana di atas kepalanya berdentunam granat-granat dan muntahan peluru, karena masa itu belum takdir baginya, dia masih bisa bertahan hingga rabu kemaren. Nah, sekarang dia pergi, tabarakan hanya sabagai salah satu penyebat dari dari kepergianya, kalu pun tidak karena tabrakan dia akan tetap pergi seperti yang telah dijanjikan dan seperti yang tercatat dalm buku takdir!’’, ustad berusaha menenangkan hati keluarga yang ditinggalkan.
Tetapi bagi azam perjuangan nenek belumlah selesai selama dosa kepahlawanan benar-benar terhapus dari keluarganya, perjuangan itu aan berlanjut entah sampai kapan.
Wali kampung tidak membiarkan suasana khusyuk itu berlama-lama, 7 hari kemetain nenek, Wali kampung mempelopori pertemaun kedua belah pihak, tempat nya masih dirumah Penghulu Suku.
‘’sudah panjang perlangkahannya, sudah singkat permintaannya, yang punya datang menjemput, yang menanam datang menacabut, Almarhum yag bernama Gandoriah telah kembali ke rahmatullah, kecelakan lalu lintas hanya sebagai penyebabnya saja, bukan begitu Pak Harun?’’, uacap Wali kampung sambil mengarahkan pandangannya ke arah Bapak Harun yang duduk bersebelahan dengan Dt. Zubir.
‘’Pik, keluarkan semua kwitansi pengobatan, seluruh biaya termasuk uang Azam yang terpakai’’, sambung Paman Azam dari Surabaya.
‘’total semua Rp. 5.000.0000,00 dan itu sudah dibantu dengan askes’’, jelas emak.
‘’tapi Motor kami ditahan polisi, si Salim juga cedera dikaki, Jinun boncengan tetapi dia juga cedera!’’, jelas Emak Salim.
‘’Sekarang begini saja, uang pengobatan di bagi tiga, pihak korban membayar spertiga, sepertiga pihak Salim, dan spertiga pihak Jinun!’’, sabung Nawazir paman Salim.
Azam spontan langsung mininggalkan rapat, samapi di luar ruangan, dia membakar sebatang rokok Ji Sam Su, sementra kerabat lain terus menenangkan Azam.
‘’Kalau begini bagaimana? Kami keluarkan motor yang ditahan polisi, biarlah kami yang membayar biaya rumah sakit, hitung-hitung amal bagi kami!’’, jelas Paman Azam dari Surabaya.
Seketika suasana berubah terlebih lagi pihak keluarga Salim, menggambarkan rona kecerahan.
‘’Tapi!’’, sambung Paman Azam.
‘’Tapi! Tolong hidupkan orang tua kami!’’, tegas paman.
Semua spontan bersuara, mata-mata terbelalak, sebagian kerabat nenek azam satu persatu sudah hilang dari rapat.
‘’Rapat apa ini? Sekarang saya bertanya kepada hadirin, memangnya si koraban ini yang menabrak motor salim yang sedang berjalan? Tidakan? Lalu kenapa biaya pengobatan harus dibagi tiga? Pantas saja anaknya bicara seperti itu, tidak apa kalu kalian sanggup menghidupkan orang tuanya!’’, ucap DT. Zubir membela. Setelah situasi kembali dikuasai oleh kesabaran, pihak salim mengalah, dia membayar seluruh biata rumah sakit dan mempertanggung jawabkan kejadian itu di kantor polisi setempat atas nama kecelakaan lalu lintas. Ya! Secara lahir maslah itu sudah selelsai, namun di dalam batin masing-masing siapa yang tahu. Sebab setelah itu akan menyusul masalah tanah yang mana pelaku masih orang yang sama.
Namun 40 hari setelah kematian nenek rapat sengketa tanah pun dilangsungkan, piha Azam dengan keluarganya kalah dalam rapat, tanah milik nenek Azam terpakasa di bagi dua dengan Nenek cumbu yang juga nenek kandung dari Salim. Sementara saksi kunci telah meninggal dan saksi sejarah raib entah kemana. Setelah kejadian itu Pak Harun lebih sering datang ke tempat Nenek Cumbu.

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987