Selasa, 28 Oktober 2008

ORANG TERLIBAT

Oleh. M. Yunis

‘’Dasar PKI!, Lihat saja nanti, di antara keturunanmu itu tidak akan ada yang menjadi orang seorang pun, percayalah!, percuma kamu ke Surau, kalau sudah dasarnya PKI tetap saja PKI, tidak bertuhan, dasar perempuan PKI!’’, suara-suara itu spontan membangunkankan Azam terlalu pagi dari biasanya, padahal sejak tadi malam dia belum sempat tidur, ya! begitulah hidup di kampung, lagi pula Ery teman SMAnya itu buat acara terlalu mendadak, Azam mengira hari H-nya jatuh malam minggu besok, nyatanya minggu dini hari.
Azam sendiri harus meminjam motor kepada Ayah, setelah memenangkan perdebatan dengan adiknya Yos Ya! Azam sudah ditaksirkan menjadi anak yang tidak mau kalah, jangankan kalah draw saja dia tidak rela, ini terpaksa lakukannya sebab Ery tercatat sebagai teman setianya sewaktu masih duduk di bangku sekolah menengah tingkat atas. Dia msih ingat masa-masa MOS (Masa Oriantasi Siswa) di SMU 1 Lubuk Alung, awal karirnya di dunia penjelajahan, Dia sadar waktu satu tahun sudah terlalu lama untuk mengganggur, sebenarnya dia baru saja pulang dari Surabaya. Satu tahun di sana, Azam lari ke Kota Padang dan bekerja sebagai buruh jahitan hingga dia mendaftar di SMA.
Hari pertama masuk SMU itu Azam bertengkar dengan siswa kelas 3, katanya gaya Azam terlalu MPO alias Manusia Pendek Ongeh atau Menarik Prahtaian Orang, ya dia sadari itu, memang Azam terlalu bangga terhadap loyalitas kampung sebagai kampung anak orang bergolak. Cerita itu hanya didapat Azam dari nenek-nenek di kampung, pada zaman dulu orang Bukit Gadang sering berperang ke daerah lain, masalah sepele pun dapat memicu konflik, misalnya jika terdapat salah satu anggota masyarakat Bukit gadang yang terdiri dari 23 Jorong di aniaya oleh masyarakat luar Bukit Gadang, maka pecahlah perang hebat hingga pembunuhan. Lubuk Alung adalah salah satu tempat sasaran yang paling sering diperangi, lagi pula Preman-preman Lubuk Alung terlalu sering buat gara-gara dengan orang-orang baru, begitulah dongeng yang diterima Azam sebelum bergelut dibangku pendidikan. Hal tersebut membawa bias terhadap perkembangan kepribadian Azam, terkadang dinilai menarik perhatian orang, padahal yang ada dalam pikiran Azam hanya ingin sebatas mencari teman. Namun, anak kelas tiga kurang yang merasa menjadi sonior suka dengan gaya Azam yang sok akrab seperti itu. Azam pernah ditegur kasar oleh Munaf siswa kelas tiga.
‘’Hei..kamu jangan macam-macam di sini!’’
‘’Tidak Bang, saya hanya satu macam Bang! kalau Abang tidak percaya coba saja cari lagi orang semacam caya!’’.
‘’Menantang kamu rupanya!’’
‘’Tidak Bang, saya tidak menantang Abang, malu bang, masa iya saya baru masuk menantang sonior, kelas 3 lagi, takut saya Bang!’’
Spontan Munaf mangayunkan pukulan kewajah Azam, spontan pula Azam mengelak, ya Azam memang punya sedikit pengalaman mengelak saat belajar silat dengan pamannya di kampung, jadi sikap Azam yang biasa saja saat menanti pukulan menambah emosi Munaf seketika. Sejurus kemudian, dia menendang Azam dengan sepakan belakang, Azam kembali menghindar ke arah samping kiri, Azam sendiri tidak tahu, ternyata suniornya itu terjatuh hingga keningnya berdarah terbentur semen lantai, setengah kasihan Azam terpaksa tertawa, Munaf berdiri dan lari ke luar sekolah.
‘’Awas kamu! saya balas!’’
‘’Tunggu Bang! Sayakan tidak melakukan apa-apa Bang? bukannya Abang itu jatuh sendiri?’’
Namun Munaf tidak menggubris rujukan Azam, dia terus berlari-lari anjing menuju warung seberang jalan, dia terjatuh, mungkin pusing karena darah terlalu banyak keluar dari jidaknya yang bocor. Saat dia berdiri, kembali kakinya yang sedikit pincang terpeleset ke pinggir kolam di depan sekolah dan kolam itu pun menyambut pasrah. Azam yang sedari tadi keheranan, memang berniat menolong sonior itu, tapi pupus setelah Munaf berjuang keluar dari kolam, Azam terpana dan tidak tahu apa yang akan menimpanya setelah berhadapan dengan para tukang pelonco. Secepatnya pandangan Azam menembus bayangan Munaf, secepat itu pula Munaf sampai di warung Mak Etek sebrang jalan. Di warung itu Munaf dikerumuni oleh para siswa sonior, sesekali meunjuk ke Arah azam, sementara Azam sendiri masih berdiri mematung menatap kearah warung, Azam berpikir mungkin Munaf berusaha mengompori teman-temannya tersebut.
‘’Lihatlah gayanya itu, sepertinya dia menantang kita semua, ayo kita beri pelajaran!’’, ajak salah seorang siswa sonior.
Dari kejauhan, Azam melihat siswa yang berbadan kurus berjalan ke dalam sekolah, Azam hanya memperhatikan langkah demi langkah yang tertancap di sela-sela nafasnya yang tertahan, kurus badannya lebih dekil dari pada Azam, sejarak 5 langkah dari tempat Azam berdiri, dia segera mengarahkan telunjuk kanannya kemuka Azam, Azam sempat memperhatikan dari caranya berpakaian, lenggokan langkah hingga pundak sebelah kiri yang menempel simbol ‘STM YDB’. Azam sadar, ternyata siswa kurus ini bukan salah seorang dari soniornya, dia siswa sekolah YDB di dekat pasar. Kira-kira satu tendangan jaraknya dari Azam, siswa itu memberi tanda-tanda agar Azam mengikutinya keluar menuju warung, dengan jentelmen Azam pun mengikuti ajakan tersebut, sesampai di warung Mak Etek Azam dikelilingi oleh para siswa yang mengaku lebih sinior, entah sonior di bidang apa mereka siendiri pun tidak tahu, yang penting sonior itu tidak pernah salah. Bahkah di lingkungan mereka sudah dberlakukan 2 buah pasal yang tidak pernah salah. Pasal satu sonior tidak pernah salah, pasal dua jika sonior salah kembali ke pasal satu. Di hadapan mereka Azam mengangkat kepalanya ke atas untuk melihat muak-muka mereka yang memang agak terletak lebih tinggi dari leher..
‘’Wah besar-besar orangnya, seperti bangau!’’, ucapnya dalam hati.
‘’Hei anak kecil! kamu jangan macam-macam di sini, kamu pernah melihat gigi meraton?’’, gertak si jangkung.
‘’Belum bang, memangnya gigi bisa juga ikut turnamen!’’, jawan Azam sekenanya.
‘’Kamu mau merasakan?’’
‘’Tadi kata Abang melihat, koq merasakan?’’.
‘’Duh! idiot anak ini!’’, sumpah si jangkung.
‘’Sudah! hajar saja, tunggu apa lagi, nanti keburu sore!’’, ucap si gendut tidak sabar.
Sesaat kemudian, dari celah lingkaran mereka yang sengaja memagari Azam, terengah-engah menyelip seorang siswa berpotonagn cupak.
‘’Sebentar Bang!’’, serunya.
Para siswa sonior menoleh serentak kearah datangnya suara tersebut, mungkin siswa sonior sedikit terpana karena menyangka siswa itu salah seorang dari mereka.
‘’Kamu dari mana, kampungmu dimana, kesalahan kamu apa?’’, tanyanya memberondong.
‘’Aku dari Bukit Bang!, kesalahanku tiada kesalahan!’’, spontan siswa sonior adu pandanagan, ke kiri dan kanan, semenit kemudian satu-persatu dari mereka pergi membeli rokok, duduk dan kemudian menghilang. Entah beriata penting apa yang baru mereka dengar atau mereka takut dengan kedatangan si cupak atau taklut dengan keluguan Azam atau mungkin kata-kata bukit membuat mereka letih sebelum mendaki.
‘’Sekarang begini saja, sebaiknya kita duduk dulu di dalam rumah Metek, kita musyawarah saja!’’, ajak si jangkung ramah.
Azam manut masuk ke rumah Mak Etek, mengiring 6 orang yang berbadan besar, si cupak tepat dibelakang Azam, kemudian si cupak mengulurkan tangan kanan sebagai tanda persahabatan kepada Azam.
‘’Saya Ery, juga dari Bukit!’’ curinya setengah berbisik
‘’Azam!, kamu salah satu dari mereka?’’, ulas Azam
‘’Bukan, kebetulan pasar Lubuk Alung tempat permainanku sehari-hari, ayahku sering di pasar, aku sendiri pernah sekolah di SMP 2 Lubuk Alung’’, terangnya.
‘’Kamu kenal dengan mereka?’’
‘’Saya sih tidak kenal dengan mereka, tapi sering lihat wajah mereka, atau mungkin mereka kenal dengan aku, tapi yang jelas orang Lubuk Alung takut dengan orang Bukit!’’
‘’Itu aku juga tahu, tapi mereka tahu apa tidak dengan sejarah Bukit?’’
‘’Mungkin kamu belum tahu, sebelum kamu dapat masalah di sini, dulunya orang Bukit juga sering dapat masalah, tidak hanya orang Bukit, pokoknya semua anak baru yang masuk ke sini, jadi sonior kita yang berasal dari Tobohlah yang menciptakan sejarah itu di sini!’’
‘’Jadi mereka mulai gentar ketika saya menyebut kata-kata Bukit tadi rupanya!’’
‘’Persisnya, Iya!’’
‘’Apa maslahmu dengan munaf?’’, tanya sijangkung pada Azam.
‘’Sudah kujelaskan tadi, bahwa keslahan aku belum ada kesalahan’’, suara Azam agak meninggi, karena dia tahu, saat itu dia sudah mulai mengusai situasi.
‘’Santai saja dek! Kitakan musyawarah, Iyakan?’’, sela si Gemuk.
‘’Musyawarah, musyawarah Bang, kenapa semua pada kabur? takut? Karena kami hanya berdua? Atau takut sama nama kampung kami? jentelmenlah dong Bang!’’, emosinya mulai membakar.
‘’Sekarang kita berkenalan dulu! Saya Don!’’, aajak si Jangkung ramah.
‘’Saya Indra! di samping kiri saya, Baim, kedua Roy, terakhir Paiz! Kemudian di kanan saya, Riki dan kedua Budi!’’, sela si Gemuk menutup perkenalan.
‘’Lalu yang kabur tadi siapa saja namanya Bang?’’, emosinya mulai menurun.
‘’Oh! yang tadi? mereka anak rajin, mereka masuk lokal, nanti saja saya perkenalkan pada adek!’’
‘’Yang bocor kepalanya tadi di mana Bang, saya mau minta maaf atas ketidaksalahanku!’’
‘’Itu Munaf, dia lagi di tempat Bidan!’’
‘’Apa saja yang dia katakan sama Abang sehingga Abang-Abang semua membuat pagar betis di sekeliling aku?’’
‘’Tidak usah dibahas lagi, kami yang salah paham, mudah-mudahan tidak ada dendam di hati adekadek berdua!’’
‘’Aku? tidak bang! tapi Munaf kayaknya tidak senang karena terpeleset lalu keningnya berdarah, itu bukan salah Aku Bang, dia sendiri yang tidak hati-hati!’’
‘’Kami tahu! kami tahu! biar saya yang menerangkan pada dia besok!’’
‘’Oke!, kita bersalaman agar bisa menjadi teman baik nantinya!’’, sela si Gendut.
‘’Sama-sam ya Bang’’, balas Azam.
Mulai pada hari itu, Azam akrab dengan Ery, Azam selalu di antar Ery ke rumah setelah sekolah usai. Azam juga sering dijemput Ery saat mau berangkat. Spontan Azam dipanggil ketua oleh siwa laki-laki di sekolah, sementara Ery tetap lebih suka dipanggil dengan sebutan Ery, karena bagi Ery nama pemberian kedua orang tua adalah sebuah do’a.
Begitulah Azam sendiri susah melupakan Ery, walupun hanya sebatas teman bukan saudara, loyalias satu kampung telah mengikat hubungan mereka berdua. Sudah sepantasnya bagi Azam saat Ery melangsungkan pesta sang kakak pantang bagi Azam tidak menghadirinya.
‘’Gandoriah perempaun PKI! perempuan PKI! Neraka Jahanam tempatmu, cucumu si Azam yang sok berani itu! percuma dia sekolah! dia tidak akan jadi orang! kita lihat saja nanti!’’, suara-suara itu semakin menyayat hati Azam.
‘’Astaga! Kok namaku disebut-serbut, ah! jangan-jangan nenek lagi nenek lagi’’, Azam ngebut keluar, sekektika langkahnya terhenti di halaman, dari kejauhan dia melihat nenek sedang sibuk meladeni Rosni tetangga sebelah rumah Emak.
‘’Kamu memang anak si Jalut yang durhaka, memang aku masih ada hubungan darah dengan nenekmu, tapi hubungan kita sudah terlalu jauh karena ulah dan sikapmu itu membuat aku jenuh dan juga tolong sampaikan kepada saudaramu Si Rosna! Sekali lagi dia menyebutku orang datang akan kupatahkan tungkainya yang bengkok itu!’’
Iya! Itu betul nenek Gandoriah, nenek Azam yang keras kepala, dia dari dulu disebut orang kampung Kartini kampung, sebagian bilang disusupi arwah Rasuna Said.
‘’Sudahlah nek, mari kita pulang, sebaiknya orang waras jangan meladeni orang gila!’’, ajak Azam sembari menarik tangan nenek menuju rumah
‘’Lihat cucumu yang baik itu, dari tampangnya saja kejam jelas seperti PKI!’’, menutup celanya, kemudian berlalu.
Azam pun berbalik sambil menuntun tangan nenek menuju rumah.
‘’Zam!, besok nenek tinggal di Hilir saja, di rumah lama nenek, tak kuat nenek di hina terus di sini!’’, pinta nenek.
‘’Iya! tidak apa-apa, kalau nenek maunya di sana, tapi nenek sendirian di sana!’’
‘’Tidak apa-apalah Zam, ini salah kakekmu juga, mengapa juga dia terlibat dengan organisasi macam-macam itu, katanya perjuangan, entahlah dia berjuang untuk siapa dan musuhnya siapa, dia sendiri tidak tahu!, ujung-ujungnya si Buncit, Nazrul, dan Burhan jadi Korban, kalau tidak, mungkin saudara-saudara nenek masih hadir sekarang, tapi malahan si Jalut itu yang dihidupkan takdir, nenek pikir takdir telah diselewengkan oleh iblis, takdir juga menghadirkan mahluk ular seperti Rosna dan Rosni!’’
‘’Sudahlah nek!, kakek Nazrulkan belum meninggal, sedangkan kakek Burhan di Pekan Baru!’’
‘’Ya betul, tapi mereka itu tidak seperti dulu lagi, si Burhan sejak pergi ke Pakanbaru tidak lagi ingat kakanya ini, dia tidak ingat neneklah yang memandikan dan memasangkan popoknya sepeninggal Emak, sekarang dia lebih memilih menikah dengan orang Pekan Baru, katanya jadi tentara di sana. Lalu Si Nazrul sifat kelali-lakianya telah hilang sejak peristiwa itu, dia juga di panggil PKI oleh orang kampung!’’
‘’Biarlah nek!, mungkin itu sudah masanya!’’
‘’Tapi nenek bukan PKI, dan juga mereka yang gugur itu bukan PKI, menurut nenek mereka hanya berjuang untuk hidup, membela harga diri mereka yang diinjak-injak oleh serdadu pusat itu!’’
‘’Menurut nenek siapa yang PKI?’’
‘’Nenek tidak bisa menunjukan siapa yang PKI, tapi yang jelas munculnya kata ‘PKI’ ada kaitannya dengan sejarah bangasa ini, nenek pikir itu sangat politis, PKI hanya ada di pusat, bukan di sini, kampung kita hanya terkena biasnya saja, saat itu banyak bermunculan perlawananan atas ketidakadilan pemerintahan yang belum terorganisasi dan realisasi kemerdekaan meurut orang pusat sampai sekarang belum kelihatan hingga sekarang, alasannya penyebaran penduduk tidak merata, jadi terlalu banyak pengangguran, sebenarnya bukan penyebaran penduduk yang menjadi kendala tetapi kerakusan mereka yang terlalu menjadi-jadi!, kamu bisa perhatikan siapa yang berkorban untuk negara ini selain orang miskin? Yang terkena lonsor penduduk yang tinggal di lereng tebing atau gunung, kemudian banjir, korban penggusuran oleh aparat, ini bukan kesalahan mereka, mereka tinggal dan menacari hidup di sana karena tiada tempat lagi bagi meraka, kemudian kesempatan kerja hanya diberikan kepada orang-orang yang beruang, yang sanggup bayar lebih tinggi mereka yang beruntung, sementara simiskin yang otaknya encer tapi tidak beruang jangan pernah berharap yang muluk-muluk. Jadi kamu sempat kuliah, nasehat nenek jangan pernah bercita-cita menjadi PNS!’’.
‘’Wah! nenek cerdas juga kalau sedang emosi!’’
‘’Iya Zam, nenek lebih dahulu makan asam garam dari pada kamu!’’
‘’Tunggu Nek, kenapa saya tidak boleh bercita-cita jadi PNS?’’
‘’Kamu dikurung undang-undang buatan penguasa!’’, ucap nenek sambil berlalu.
Betul kata nenek, Azam juga teringat waktu di SD, waktu itu Azam bertengkar dengan Irwan anaknya Uni Azizah, dia juga diteriaki PKI, Azam sendiri tidak mengeri apa makananya PKI, padahal Irwan mencuri pensil Azam di bangku saat Azam berjualan tabu waktu istirahat, Azam pernah melihat Irwan memakai pensil itu, Irma juga bilang dia sendiri yang melihat Irwan mencuri pensil itu, tapi Irwan berkilah malah dia memukul Azam berkali-kali, Azam yang tubuhnya kecil tiada pilihan lain selain mengadu kepada Bapak Nadirman guru Agama, anehnya Pak Nadirman memaki Azam habis-habisan.
‘’Jangan sembarangan tuduh orang baik-baik apalagi tanpa bukti yang jelas!’’, vonis Pak Nadirman kasar.
‘’Irma melihat sendiri Pak!’’, jawab Azam bertahan.
‘’Irma itu juga bohong sama dengan kamu!’’
‘’Aku tidak bohong Pak!, nilai agamaku sama Bapak selalu dapat 9, mana mungkin aku berani bohong!’’
‘’Zam! nilai itu tidak mencerminkan tingkah laku seseorang, ngerti kamu!, sekarang kita keruangan Pak Kepala Sekolah!’’, ajak Pak Nadirman semabri menarik tangan Azam.
Dengan terpaksa Azam menuruti Pak Nadir keruangan Kepala Sekolah, sementara itu Irwan asyik bermain kelereng bersama Andi di lapangan tempat upacara. Sesampai di rungan Pak Kepala sekolah, Pak Nadir menceritakan kronologis kejadin kepada Pak Kepala Sekolah.
‘’Oh! jadi ini anak yang suka berantam itu, suka membuang sampah tebu di halam sekolah?’’, tuduh Kepala Sekolah.
Azam hanya terpaku dan menundukan kepala, saat itu tiada gunanya bagi Azam membela diri, semakin membela diri akan bertambah fatal dan hukum akan dijatuhakan akan bertambah berat. Setelah di sidang di ruangan Kepala Sekolah itu Azam diskor selama 2 hari. Azam sedih, dia memeilih tidak pulang ke rumah Emak, melainkan dia merajuk ke rumah nenek yang 10 meter jaraknya dari SD itu, Azam menceritakan peristiwa yang baru saja menimpanya di sekolah kepada nenek, mendengar perlakuan tersebut nenek hanya menelan ludah, sebab nenek sendiri apa yang menjadi penyebab kejadian yang mendera cucunya itu.
‘’Sabar ya Zam!, nanti kelak kamu akan mejadi orang yang beridealis, tapi sekali lagi, jangan bercita-cita menjadi pegawai negri, kamu tidak akan bisa mencapainya!’’, bujuk nenek.
Azam hanya mampu menangis di pelukan nenek yang keriput hingga tertidur pulas. Azam baru bisa memahami ucapan nenek setelah dia memasuki jenjang SLTA. Hal itu juga berawal dari kejadian miris saat Azam mendapat beasiswa dari sekolahan, awal sekolah di SLTA di Lubuk Alung Azam giat belajar, Azam dapat meraih peringkat ke-III di dalam kelas, itupun didukung dengan nilainya waktu SMP dan SD. Saat Azam mendaftar, dia terhalang oleh surat keterangan miskin dari Wali Nagari. Azam tidak tahu bagaimana cara mengurusnya, dia mengabarkan keluhan itu kepada Emak dan Ayah, Emak dan Ayah malah sedih mendengar berita baik tersebut.
‘’Kamu belajar saja dengan serius, selama Emak dan Ayah kamu mampu membiayai, kamu jangan khawatir, tapi kamu sekolah hingga SLTA ini saja, untuk selnjutnya mungkin Emak dan Ayah tidak akan mampu lagi!’’.
‘’Emak kok mematahkan semangat aku? Apa salahnya kita mencoba dulu, Emak yang nguruskan surat ke Wali Nagari, biar aku yang mengurus pendaftaran beasiswanya di sekolah, gimana?’’
‘’Kamu masih belum mengerti!, kamu tahu kakek kamu itu seperti kebanyakan orang bilang adalah orang terlibat!’’
‘’Baiklah Mak, katakanlah kakek terlibat, tapi apakah dosa-dosa kakek selama itu harus aku tanggung?’’
‘’Ya! kenyataannya seperti itu, hanya itu yang diwariskan kakekmu, bukan kita saja yang mendapat warisan itu, semua orang yang dicap terlibat di kampung ini, tidak akan bisa berdekatan dengan pemerintahan, apalagi menjadi bagian dari pemerintah, kamu mengertiZam? Boro-boro mengaharapkan besiswa segala, mimpi di siang bolong!’’
‘’Pokoknya aku harus coba, sebab aku juga punya tuhan yang sama dengan mereka itu, Emak tahukan tuhan kita masih sama dengan mereka?’’
‘’Kamu salah Zam, tuhan mereka sudah tidak ada, sebab mereka itu sendiri telah melakukan kudeta kepada tuhan, jabatan tuhan sudah diperebutkan oleh manusia-manusia sombong, mereka berpikir mampu menjadi tuhan, kita lihat saja nanti!’’
Sejurus kemudian, Emak diam seribu bahasa, entah dia mengalah berdebat dengan Azam atau ada suatu yang lain yang membuat dia tutup mulut. Tapi yang jelas Emak memang kecewa, tapi entah kecewa pada siapa, Azam pun tidak tahu persis.
‘’Emak aku harus mendaftar beasiswa, kalau tidak aku kembali ke Surabaya, biar aku jadi preman lagi di sana!’’, Azam mengancam.
Esokan adalah hari selasa, Emak terpaksa pergi ke kantor Wali Nagari, tapi Emak tidak berhasil membawa surat keterangan miskin itu, kata Emak kita tidak mempunyai Kartu Kelurga, kita harus mengurus dulu KK lalu ke Kecamatan minta Paraf. Hari Rabu Azam sengaja tidak masuk sekolah, dia pergi membonceng Emak ke Kantor Wali Nagari mengurus KK, jarak 12 Km dari rumah memang tidak terlalu jauh jika menggunakan motor ke Kantor Wali Nagari, setengah jam perjalanan mereka sampai di Kantor Wali Nagari, sementara itu jam di dinding kantor sudah menunjukan jam setengah 11 siang.
‘’Asalamualikum!’’
‘’Walaikum salam!, ada apa Uni, tidak seperti biasanya datang ke sini, mau ngurus keterangan miskin lagi? Kemarenkan sudah saya bilang harus pakai KK!’’, sambut Dian Sekretaris Nagari agak cuek.
‘’Begini Dik Dian, saya mau membuat KK dulu, setelah itu baru surat keterangan miskin!’’, balas Emak.
‘’Sebentar ya Uni!, saya bicara dulu dengan Pak Wali Nagari di ruangnnya!’’, Dian berlalu menuju ruangan Wali Nagari.
Di susdut ruangan lain, terdapat fasilitas yang serba lengkap, telpon, seperangkat komputer Fax dan kursi tamu, baian tengah adalah kursi Wali Nagari.
‘’Asalamulaikum Pak!’’, pinta dewi.
‘’Walaikum salam, ada apa dek Dian?’’, Pak Wali menyambut kedatangan Dian.
‘’Ini pak, Uni Fatmawati mau mengurus KK, dibolehkan Pak? Soalnya diakan,.....!’’, ucapan Dian Terputus.
‘’Saya tahu itu, layani saja tapi hanya sebatas KK saja ya Dek!’’.
‘’Baik Pak!’’, Dian kembali menjumpai Azam dan Emak.
Dian terus mengintrogasi Emak mengenai jumlah keuarga, anak, pekerjaan, keturunan dan segala macamnya.
‘’Uni KK nya di ambil besok saja ya Ni, sekarang Uni bayar Administrasinya dulu Rp, 50.000!’’.
‘’Kok sebesar itu, kemaren Uni Baidar hanya membayar Rp, 15.000.!’’ lirihnya Emak dalam hati.
‘’Bagaimana ini Zam, Emak tidak punya uang sebanyak itu, ada uang Emak tapi hanya cukup untuk belanja dapur besok!’’.
‘’Berikan saja itu dulu Mak!’’
‘’Nanti kita makan apa? Kamu tahukan Ayahmu hanya tukang ojek, sekarang jelas dia tidak mengojek, motornya kita pakai, apa kamu mau makan dengan cabe rebus atau garam?”
‘’Mau Mak asal halal!’’
‘’Baiklah kalau begitu!’’
Emak langsung menyodorkan uang Rp, 50.000 kepada Dian.
‘’Besok dijemput ya Ni!’’, ulas Dian.
Kemudian Dian berlalu memasuki Ruangan Pak Wali. Sementara itu Emak dan Azam menuju motor yang terbakar terik matahari di parkiran halaman kantor.
‘’Tunggu Mak, sandal saya ketukar!’’, Azam kembali ke depan ruangan Sekretaris Wali Nagari, tanpa sengaja Azam melihat Wali Nagari sedang mengitung helaian uang, lalu memberikan Uang Ribuan kepada Dian, kira-kira 20 lembar uang ribuan. Azam berceloteh dalam hati, ‘’Ah itu bukan urusan aku!’’, sesaat kemudian Azam kembali ke parkiran, di sana Emak sudah kelelahan menunggu Azam, kemudian tanpa sepatah kata pun mereka berlalu dari kantor Wali Nagari Bukit Gadang.
‘’Mak! pegawai negri biasanya terima gaji tanggal berapa ya Mak?’’
‘’Kenapa pertanyaanmu seperti itu?’’
‘’Ah! tidak apa-apa Mak, hanya ingin tahu saja!’’
‘’Biasanya tanggal 1, memangnya kenapa?’’
‘’Tidak mak, sekarang tanggal 16 Agustus ya Mak?’’
‘’Iya, ah.., sudah konsentrasi saja bawa motornya!’’
Esokya emak kembali ke Kantor Wali Nagari sendiri mengih janji Sekretaris Wali Nagari, sekalian mengurus surat keterangan Miskin yang dibutuhkan Azam. Sementara itu Azam sendiri pagi-pagi sekali sudah dijemput Ery kesekolahan, Ery memang belum cukup lama tinggal di Bukit Parupuak cukup jauh juga dari rumah Azam dari Bukit Luar, tapi Motor Supra yang diganakannya sehari-hari memutus jarak tersebut meskipun Ery harus berbalik arah dari arah sekolahan. Tidak begitu lama Azam disekolahan, jam 13:30 Azam sudah berada di rumah, memang tidak seperti biasanya pulang sekolah Azam langsung pulang kerumah, namu Ery pahan kegembiraan yang dirasakan Azam saat itu, belum sempat menukar seragam putih abu-abu, Azam langsung mencari Emak, ternyata Emak tertidur letih diterpa terik matahari siang yang membakar, seketika Azam mendapati Emak sedang bergolek di kamar depan.
‘’Bagaimana Mak? dapat KK dan suratnya?’’, serbunya.
Seketika Emak berbalik dari baringannya.
‘’Sudahlah Zam, lupakan saja harapanmu itu!’’, balas Emak kecewa.
Azam kaget dengan perkataan Emak yang begitu tiba-tiab, sesaat Azam memperhatikan mata Emak bengkak, bola matanya kelihatan memerah, mulai saat itu Azam semakin pahami situasi yang menghilangkan harapannya, Azam tidak mau lagi mendesak Emak terhadap hal-hal yang dianggap tridak mungkin, begitu pula dengan nenek, dan Ayah.
‘’Zam tamat SLTA kamu berdagang saja, kamu bisa sekolahkan Si Yos, Novembri, Anita, Annisa , Pedri, dan Ibrahim kalau bisa!’’, Emak mengulas dengan harapan.
‘’Insya Allah ya Mak, tapi aku butuh doa Emak dan Ayah!’’
‘’Emak selalu berdoa untuk keberhasilan kamu dan adek-adek kamu!’’
‘’Semoga Emak!’’
Namun Azam sendiri tidak pernah merasa tenang saat mendengar kata-kata PKI yang dilemparkan kepada keluarganya, di saat suasana sekusyuk apapun jika mendengar kata-kata PKI dia selalu terkejut seolah-lah kata-kata itu hanya ditujukan untuk dirinya. Pagi berikutnya, Azam memaksakan diri turun ke halaman rumah, sorot matanya yang masih kabur melihat sosok nenek sedang yang sedang membela diri, sesekali tetangga sebelah memperagakan pantatnya kepada Nenek.
‘’Kamu sama dengan ini!’’, Rosni tetanggang sebelah menggoyangkan pinggul sambil mengangkat kain sarungnya ke arah nenek.
Emosi nenek memuncak, bambu yang masih ada dalam genggaman nenek rencananya akan digunakannya untuk mengambil buah nangka di depan rumah Emak, kini dilemparkan ke arah tetangga.
Se segera mungkin Azam membujuk nenek untuk kembali pulang.
‘’Sudahlah Nek! untung saja bambu itu tidak mengenai kepalanya, kalau kena bisa berdarah, Nenek masuk penjara!’’, bujuk Azam.
‘’Tidak sepantasnya dia seperti itu, nenekan orang tua, sementara dia itu masih jalan anak bagi Nenek!’’.
‘’Iya! Azam tahu nek! tapi sebaiknya jangan nenek layani dia, kan sudah Azam bilang dia itu orang gila kalau dilayani kita lebih gila lagi dari pada dia, sebagai orang waras, kita harus mengalah! kenapa Nenek bisa bertengkar lagi dengan Mak Rosni itu?’’
‘’Dia telah mencuri kelapa yang nenek kumpulkan kemaren, padahal tanah ini sudah dibagi-bagi, tapi dia masih juga mau merampas apa yang menjadi hak kita!’’
‘’Biarkan saja! kita masih punya banyak kelapa!”
‘’Iya kita masih banyak kelapa! tapi sikap penjajahnya itu membuat nenek kesal Zam! Zam kamu tahu tidak! sebenarnya tanah ini dibagi dua, kita mendapat separoh dari pembagian dari Uda Bakarudin, nenek kasihan dia juga juag punya adik perempuan si Rosna, nenek rela tanah ini dibagi tiga!’’
‘’Sekarang nenek mandi, makan, lalu nenek pergi ke Surau, Nenekkan sedang sembayang 40 , biarkan saja dia sendiri yang sesat!’’
Ya! Sekeras-kerasnya hati nenek, saat Azam bicara lembut sikap keras nenek luluh lantak, tiada pilihan lain selalin mengikuti saran Azam dan pergi ke surau.

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987