Selasa, 28 Oktober 2008

HIKAYAT TUHAN


Oleh. M. Yunis

Walaupun sudah 6 bulan kepergian nenek, Azam yang masih dalam tekat yang utuh tetap meneruskan cita-cita nenek. Pada semester pertama dalam tahun akdemi 2002/2003 di Universitas Andalas, Azam meraih nilai tertingggi di angkatannnya, IP 3, 91, memapah Azam kenuju pintu beasiswa, kali pertama itu Azam benar-benar merasakan nikmatnya uang sumbangan pemerintah. Azam kerap menjadi gunjingan di kalangan teman-teman sejawat maupun sonior. Tidak ada lagi kejelekan Azam yang menjadi buah gunjingan ataupun kata-kata pembuka gurauan desi dengan Ririt, tidak ada lagi kata-kata banci yang keluar dari mulut Yance dan juga tidak ada lagi ketinggalan jaman yang dihadiahkan Ilham saat kemping bersama. Semuan seakan hilang sirna terkubur bersama jasad sang nenek. Lalu bagaimana dosa kepahlawanan yang diembankan di pundak Azam? Akankah julukan anak orang terlibat sirna bersama datangnya pengakuan pemerintah dalam wujud beasiswa?
Azam masih terus mencari jati dirinya, melalui organisasi Fakultas mulai dari Forum Study Islam yang ditawarkan Zul Fakri, Bengkel seni Tradisional Minangkabau yang menjadi kewajiban bagi setiap mahasiswa Sastra Minangkabau, teater, BEM fakultas, semuanya diganyang oleh Azam. Di Bengkel seni Azam pernah mengikuti festival teater tradisional Randai se Sumbar, dalam vestifal tersebut grup teater yang menjadai lembaga pelindung Azam berhasil meraih juara 1 di Sumatra Barat, Azam sebagai tokoh pertama dalam cerita randai, ‘’merantau’’. Bersama itu pula Azam, Zul Fakri, Dasrizal yang tergabung dalam aktifis muda berani buka-bukaan di koran kota padang. Terlalu banyak ide yang harus di tulis, mulai dari maslah budaya, sosial kemasyarakatan, akademik, dan kehidupan mahasiswa. Setu minggu penuh nama-nama mereka muncul bergantian di Koran Kota Padang sebagai penulis.
Zul Fakri yang lebih banyak terfokus terhadap cerpen berhasil meraih Aword di Koran Kota Padang, sementara Dasrizal sendiri berhasil merampungkan bukunya yang berjudul, ‘’Demontrasi Ala Mahasiswa’’, Amin Rais sebagai pengantar. Lambat laun Azam mulai dekat kepada para dosen-dosen di fakultas, malahan Azam maupun Zul sering diajak dosen penelttian ke daerah Bengkulu, jambi, Medan hingga ke Banda Aceh. Di sisni Azam memperoleh pengetahuan yang tidak didapatnya di dalam kelas. Awalnya Azam dekat dengan Drs. Ibrahim, M. Hum, Pak Ibrahim adalah orang yang berpengaruh di tingkat universitas, ata-katanya sangat didengar oleh pejabat rektorat. Hubungan keakraban ini terjadi saat Pak Ibrahim yang ditemani Bapak Pier Carles datang ke rumah Azam di kampung, kedua bapak-bapak itu memang bergerak di bidang Filem dokumenter, saat itu bertepatan dengan maulit nabi di kampung Azam, entah siapa yang memberikan informasi mereka langsung mengetahui rumah Azam, sementara Azam sendiri belum mengetahui siapa yang dinamakan dengan Pak Ibrahim dan Pak Charle Pierce tersebut. Kali keduanya pertualangan dimuali, Azam diajak langsung oelh kedua bapak-bapak tersebut, mereka cepat akrab dan cocok sebagai petualang ilmu pengetahuan. Azam yang sudah mulai agak suka bicara dan paling suka bertanya, menapilkan gambaran sosok Azam yang lugu di hadapan mereka sekaligus menambah perhatiannya kepada Azam, kemana pun mereka pergi Azam selalu ditawari, jika tidak kuliah Azam memilih ikut berpetualan hingga akhirnya Bapak Pier menganggap Azam sebagai anak sendiri, Azam pun sering dibawa Bapak Pier ke rumahnya, saat Azam tidak datang ke rumah Pak Pier, istri Pak Pier selalu menanyakan keadaan Azam, Azam sendiri salut kepada kedua orang itu. Ya! Bapak Pier memang mempunyai banyak anak angkat, mereka selalu berhasil meniti karir selama belajar bersama dengan Bapak Pier. Namun, kedekatan hubungan Bapak-anak berakhir di ujung musibah yang menimpa Bapak Pier saat meliput tsunami di Aceh, jasad Pak peir tidak ditemukan, mungkin telah dikuburkan secara masal oleh relawan yang datang sesudah kejadian.
Bapak Ibrahaim sebagai orang yang terdekat Bapak Pier sedih melihat perubahan sikap Azam yang sering melamun, dengan segala macam cara Bapak Ibrahim berhasil membujuk Azam agar kembali menjadi dirinya. Usaha itu berhasil sehingga Azam kembali meraih beasiswa dan berhasil menamatkan kuliahnya dalam jangka waktu 3, 5 tahun dengan IPK 3, 95 Bapak Ibrahim sendiri sebagai pembimbing satunya Azam ketika itu.
Kini Azam menjadi seorang Sarjana beridealis, cita-citanya hanya satu yaitu ingi memanfaatkan ilmu yang diperoleh bagi kemaslahatan umat. Waktu wisuada seluruh keluarga Azam datang kekampus, Emak, Adek-adek Azam, Paman, tetangga kecuali nenek yang telah lebih dahulu mengahadap kekasihnya. Semuanya ikut merasakan keghembiraan itu, tidak terlepas bidang studi maupun Fakultas Azam sendiri. Awalnya sosok seperti Azam ini yang sangat diharapankan untuk kemajuan fakultas di masa depan, Azam diminta mengapdi kepada almamaternya oleh pimpinan fakultas. Keinginan itu disambut syukur oleh Azam, terbuka lberlah pintu bagi Azam untuk memanfaatkan ilmu yang ditimba di sana, Azam juga dapat lebih banyak belajar, apalagi saat Azam dipercaya memegang kunci Pusat Study olha Dosen yang tidak pernah mengajarnya diwaktu kuliah, bagi Azam tidaklah masaah karena status kedetakan baru itu, menjanjikan akan pershabatan kekal Antara Pak Drs. Pembudi, M. Hum dengan Azam. Tidak berbeda dengan Pak Ibrahim, Pak Pembudi juga mempuinyai jaringan yang cukup kuat di seluruh Indonesia hingga ke luar nergri. Pak Pembudi juga termasuk salah satu orang yang berpenagruh di Universitas, kata-katanya tidak satupun yang dapat membanatah maupun mengkritik.
Azam sendiri mengatakan bahwa Pak pembudi bukanlah seorang Dosen tetapi orang lapangan, bayangkan saja seluruh NGO yang ada di seluruh Indonesia berada di bawah kendalinya, Azam sendiri baru tahu setelah Pembudi memperkenalkan jaringan-jaringan tersebut dan sekalisgus cara-cara kerjanya. Pak Pembudi memang tidak perlu ikut partai politik, tetapi setiap suasana politik dimulai dari pencarian kader hingga terpilihnya calon-calon, Pak Pembudilah salah satu oranng paling sibuk menentukan petaperpolitikan masa depan. Setiap kader politik harus memalui izin Pak Pembudi. Jika Pak Pembudi ingin mangangakat atau memeberhentikan rektor di seluruh universitas, hal itu bisa saja dilakukan Pak Pembudi, dia cukup menggerakan salah satu jaringannya yang bekerja untuk itu. Hanya satu kekalahan yang diakui oleh Pak Pembudi, dia tidak bisa menulis di Koran. Namun, kekurangan itu tidaklah terlalu berpengaruh bagi Pak Pembudi, seluruh media masa juga berada di bawah tangan Pak pembudi, tepatnya Pak Pembudi memang sempurna dibandingkan Dosen-dosen lain yang hanya mengajar lalu pulang.
Tetapi yang membuat Azam bingung,, setelah 1 bulan dekat dengan Pak Pembudi, persaan Azam mulai berubah, dia telah berani menaruh rasa terhadap seseorang mahasiswa Universitas Swasta. Tapi setelah kisah tersebut diceritakan kepada Pak Pembudi, Azam mendapat dukungan sehingga hubungan antara Azam dengan pembudi tidak bisa dipisahkan lagi, diamana ada Pembudi di sana ada Azam, Pembudi budi Junior adalah pangilan baru bagi Azam di NGO.
Suasana yang sangat bersahabat itu, membuat Azam melupakan segala penderitaannnya, Azam lupa dengan Pak Ibrahim yang dulu pernah ada di hatinya, namun setelah Pak Ibrahim menghianati Azam beberapa kali, Azam mulai menjauhi Pak Ibrahim, malahan tindak-tanduk Pak Ibrahim sering menjadi inspirasi tulisan Azam di koran. Sebenarnya antara Pak Pembudi dengan Pak Ibrahim kurang cocok, mereka berdua selalu bersaing, mulai dari keluarga hingga ke jaringan-yang dimiliki oleh masing-masingnya. Zul sendiri direkrut oleh Pak Ibrahim sebagai staf barunya di Pusat kajian perfileman yang dia miliki, Pak Ibrahim bilang kepada Zul, bahwa nanti ada penerimaan staf pengajar muda, Zul adalah calon tunggal yang akan dipertahankan di tingkat universitas. Selanjutnya Zul akan di S2-kan oleh Pak Ibrhim.
Sementara itu Zam sendiri pun mendapat harapan yang sama dari Pak Pembudi, kalau Pak Pembudi bicara pejabat akan menuruti, jadi untuk mengeuliahkan Azam ke tinggkat Master bagi Pak Pembudi tidaklah terlalu sulit, cukup dengan menggerakan salah satu jaringan saja, semua akan klir.
Antara Pembudi dengan Ibrahim adalah sosok-sosok manusia pembaharu yang sangat dibutuhkan bangsa ini, Pembudi berpikiran marxisme memepunyai gaya dan taktik sendiri untuk menundukan semua lawan, sedangkan Pak Ibrahim yang terjun ke dalam tarekat Naqsabadiyah separo jalan, membuatnya sering agak Kapitalis. Tetapi terlepas dari semua itu, kedua orang itu tetap menjadi sosok yang ditakuti oleh teman maupun lawan, kalau saja keduanya menyatakan perang secara terbuka, maka rusaklah seluruh tatanan sosial yang ada ketika itu. Kini Azam sendiri sudah memiliki kemerdekaan, Azam mersa berhak menggunakan fasilitas pemerintah yang ada baik di Universitas maupun di mana saja, jika Azam mendapat kesulitan Azam cukup menyebut nama Pembudi 3 kali, semua akan normal seperti sediakala.
Kebebasan yang dimiliki Azam itu difokuskan kepada menulis, sudah berbagai macam kritikan yang sudah ditulis Azam, muali dari esai, artikel, cerpen, syair maupun berita-berita penting. Tiada seorang pun yang mampu menghentikan kehausan Azam terhadap pemikiran baru, termasuk Pak Pembudi sendiri. Dengan tidak segan-segan Azam berani menyebutkan nama lembaga yang menjadi sorotan di dalam tulisannya, termasuk lembaga tempat bernaungnya sendiri, sebab bagi Azam siapapun punya hak yang sama untuk berpikir dan menumbuhkan ide-ide kreatif utnuk membangun sebuah bangsa yang benar-benar merdeka dari seluruh bentuk penjajahan termasuk penjajahan oleh diri sendiri. NGO-NGO yang sudah menjadi sahabatnya sendiri tidak luput dari sasaran empuk tulisan-tulisannya. Pernah hari minggu Akhir Agustus pimpinan NGO di Kota Padang menemui Pembudi di temapt kediamannya di Indarung, namun saat itu wajah pimpinan NGO tersbut sudah kekurangan cahaya saat berpapasan dengan kehadiran Azam. Azam pernah mencari tahu perihal kejadian itu, namun hanya dibalas dengan satu senyuman oleh Pak Pembudi.
Azam memperhatikan bahwa akhir-akhir minggu itu, Pembudi sibuk terkadang jarang muncul dikampus sehingga dosen-dosen yang membutuhkan saran Pak Pembudi menemui Azam dan mereka merasa cukup mendengar saran dari Azam. Di suatu hari tepatnya di usia ke-70 tahun Universitas, Pak Pembudi menginginkan seluruh dosen menulis naskah buku, kata Pak Pembudi akan diterbitkan seiring diperingatainya acara lustrum. Keinginan Pak Pembudi itu disambut baik oleh pihak universitas, Azam langsung menjadi penerima dan mengumpulkan naskah yang telah layak terbit.
Azam terpaksa melupakan tulisan untuk koran, mau tidak mau Azam harus fokus terhadap penerbitan buku-buku, sebab acara lustrum universitas hanya tinggal 2 bulan lagi, maulai saat ide itu digagas semua panitia sibuk, Azam dan Pembudi sendiri sering menjadi orang jalanan tidur sambil bekerja, bekerja sambil tidur. Masalah sesulit apapun sudah menjadi biasa bagi azam, mulia dari hinaan, harga diri yang dilecehkan, tekakan, semuanya menjadi sarapan pagi Azam. Di sini pekerjaan sungguh benar-benar serabutan, mulai dari tukang angkat buku hingga ke meja komputer shingga Azam sendiri sering terlena di dalam dunia maya. Saat itu pula Azam pertama kalinya melihat uang sejumlah Rp. 700.000.000,00 secara langsung, Azam sendiri yang membawa dan mengembilnya dari BNI dan menyerahkannya ketangan Pembudi. Uang itu dicairkan Universitas untuk pembiayaan penerbitan 65 judul buku. Buku-buku itu pas terbit dan diluncurkan pada hari H lustrum, setelah itu Pak Pembudi tercatat sebagai penerima penghargaan dari MURI, Pembudi senang dan sekaligus bangga setengah mati, sikapnya yang sedikit ceplos-ceplos menyebabkan munculnya penilaian yang jelek dari orang-orang yang belum betul-betul mengenalnya, tapi Pembudi hanya tertawa renyah saat orang mulai mempergunjingkannya. Ya! Saat itu Pembudi menang telak dari Pak Ibrahim, namun tindakan itu berhasil dibalas oleh Ibrahim setelah dia menadapatkan dana penelitian 600.000.000, 00 dari British Council. Proyek pernaskahan yang dikomandoi oleh Pak Ibrahim dihargai mahal oleh jaringannya yang ada di Inggris, kejadian ini tentu saja membuat Pembudi terkejut.
Ya! Pembudi juga tidak senang terhadap sikap Ibrahim yang tiba-tiba pongah, berbeda lain dengan Azam, Azam membenci tindakan Pak Ibrahim karena Pak Ibrahim telah melakukan tindakan fatal. Pak Ibrhim telah menjual kebudayaannya sendiri ke pada orang asing, Azam sendiri telah membayangkan dampak yang akan ditimbulkan kemudian hari, yaitu penjajahan gaya baru yang akan dilakukan oleh pihak asing terhadap Indonesia. Keluhan ini menjadi inspirasi tulisan Azam, tetapi tiada seorang pun yang mau menanggapi, walapun pihak koran masih menerbitkannya, setiap orang yang memebaca tulisan Azam, dan teman sesama penulis pun sering memeperringatkan Azam atas kritikannya yang tajam.
‘’Kamu mengehendaki lawan yang tidak sebanding Zam!’’
Azam sendiri tidak mau meikirkan itu, sebab Azam telah merasa bisa melakukan apa yang dilakukan orang lain, jika jalannya sudah seperti Pak Ibrahim maka Azam sebagai salah seorang yang dibesarkan dengan idealisme berhak bersuara. Azam terus menulis, hingga tulisan-tulisannya dipublukasikan di Internet dan di Blognya sendiri. Seperti halnya pembudi, tiada siapapun yang mampu menghalangi Azam untuk menulis.
‘’Kecuali dengan kepergian Azam dari lembaga, itupun hanya akan memerlambat perjuangan Azam dan bukan untuk menghentikan’’, ujar Ketua Senat dalam suatiu rapat.
‘’Tapi Azam merdeka karena diberi kemerdekaan oleh Good Father!’’, sambut senat 1.
‘’Kita tunggu saat Azam menyerang si Good Father!’’.
‘’Betul dia lebih tahu apa yang harus dilakukan!’’, sambung hadirin yang hadir ketika itu, kemudian rapat senat yang kedua usai.
‘’Sebenarnya Azam telah beberapa kali menyerang Good Fathet dalam tulisannya! Bapak-Ibu pernah membaca tulisan ‘kelicikan intelektual dan pelacur akademik’, di Koran, penulis menggunakan nama samaran ‘YM. Langsung Kawa, di bawahnya tertulis Komunitas Jalan Lurus’, satu-satunya penulis yang bernyali seperti itu hanyalah Azam, dari gayanya bercerita jelas tergambar!’’, terang senat 2.
‘’Ya! Good Father pernah menelusuri berita itu kepada ajudannya yang berada di kumunitas kepenulisan, memang Kumintas Jalan Lurus itu tidak ada di Sumbar ini!’’, lanjut senat 3
‘’Ya! Sebaiknya kita serahkan kepada Good Father!’’, senat 5 menutup pembicaraan.
Setelah beberapa saat setelah rapat senat Azam masih sempat bekerja menerbitkan buku-buku kesusastraan bersama Pembudi. Sejurus dengan itu Azam mulai mulai dilanda berbagai musibah, Azam diusir ibu angkat dari rumah, karena Azam berani berjalan berpapasan dengan gadis cantik, laporan sesorang ternyata telah berhasil meracuni pikiran Ibu Zulaikha Ibu angkat Azam. Selanjutnya Azam diselamatkan oleh temannya yang kebetulan seorang doktor, belum sempat azam memperbaiki tempat berdiri, Azam pun dilanda musibah yang sama, lagi-lagi laporan yang mengancam keutuhan dan nama Baik Pak Dr. Syaifullah sekeluarga. Berita ini pun didengar oleh Pak Pembudi, Azam diselamatkan, waktu itu Azam dirumahkan koskan lebih dekat dari Universitas, Pak Pembudi langsung membayar uang kos Azam selama 6 bulan ke depan.
Sementara itu, di kesempatan lain di sudut fakutas, Goog Father Asyik berbincang-bencang dengan beberapa utusan penting.
‘’Kamu Nurul! Kamu persiapkan segala sesuatu dan buat benteng sekuat mungkin untuk kepentingan NGO-mu itu!’’, jelas Good Father kepada pimpinan NGO.
‘’Baik Pak!’, sambungnya.
‘’Sementara waktu, bagi semua utusan-utusan di sini, kembalilah bekerja seperti sediakala, dia sudah berada di bawah perlindungan saya, mungkin dia sedang mempersiapkan serangan balasan atau gantung diri sebagai akibat kekalahannya oleh situasi, janganlah kalian begitu cemas, dia hanya sendiri, dulu dia pernah cerita bahwa kakeknyanya orang terlibat, julukan itu terpaksa diakui oleh kakeknya, sebagai gantinya si kakek itu dihadiahi gelar pahlawan tanpa penghargaan apa pun!’’, lanjut Good Father.
‘’Untuk Saudara Ibrahim saya harap saudara jangan pergi dulu, ada hal penting yang harus saya diskusikan dengan saudara!’’, cegah Good Father.
Sejurus kemudian, pembicaraan dewan syuro pun berakhir, tinggalah Good Father dengan Ibrahim. Ya! Di masa itu Good Father adalah tuhan yang baru saja datang dari ketidaksadaran seorang manusia, kelebihan-kelebihan itu sengaja dijelmakan ke dalam dirinya. Lihatlah dunia yang diciptakannya sendiri, firmannya yang tegas, perintahkan jaringan-jaringan sebagai malaikat, tapi sayangnya masih menggunakan kolong langit yang sama dengan orang seperti Azam ataupun Zul Fakri, mungkin Azam dan Zul Zul yang lain.

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987