Selasa, 28 Oktober 2008

HUJAN AGUSTUS


Oleh. M. Yunis

Pagi itu cahaya matahari sedikit buram, bagian hilir langir sedang digerogiti mendung sebuah petanda yang cukup lama dikampung bahwa sebentar lagi bumi ini akan duguyur hujan lebat, tidak seperti biasanya ini bulan Agustus, biasanya musim hujan datang pada sepetem hingga desember kalu tidak awal januari. Lagi-lagi petanda tidak baik bagi masyarakat kampung.
Kapolsek itu memang tidak terlalu jauh dati pasar Lubuk Alung, kita bisa sampai di sana dengan angkot menuju pasar Sicincin, kira-kira 1000 ongkos dari pasar Ungku Saliah itu kita bisa sudah mencapainya, kantor tepat berada di tanah Sungai Abang, 20 meter ke seberang jalan berdiri sebuah SLTA ngetop, orang menyebutnya SMA standar. Di sana pernah sekolah seorang anak yang bernama Ramadatul Azam, namun sekolah itu terlihat sepi di saat para murid belajar dalam kelas, jauh berbeda dengan dulu, saat Azam masih di sini, meskipun jam pelajaran belum usai masih ramai oleh murid-murid yang nongkrong diwarung depan ataupun di warung Andunag di belakang sekolah tepatnya sejauh tiga petakaan sawah warung lontong itu berdiri. Pemilinya sudah cukup tua, kira-kira berumur 65 tahun sekarang, namun dia dianggap penyayang oleh murid yang suka bolos, sebab disaat guru olah raga mengejar mereka yang bolos orang tua itulah yang menyembunyikan para siswa tersebut di dalam ruang tengah rumahnya. Kini warung itu sudah dibasmi hanya tinggal puing-puing lama yang telah dimamah rayap atau mungkin oarang tua penjual lontong itu telah berpulang.
Sementara warung seberang jalan di depan sekolah adalah warung yang bersejarah bagi para siswa metal, dulu warung itu dukuasai oleh Genk Pemburu, Genk itu pertama kali ada setelah Azam menjadi siswa yang disegani oleh seluruh sentro Lubuk Alung, tanpa disangka Azam dijuluki ketua oleh para siswa yang mengaku takluk dan meminta perlindungan terhadap loyaliasnbya Azam. Hal itu berlaku selama mereka tersebut engakui keberdaan Azam sebagai ketua. Namun itu dulu, setelah kepergian Azam dari sekolah itu sepintas lalu terlihat damai dan asri. Azam yakin terdapat Genk oposisi di skolah itu, sebab bertepatan dengan perpisahan anak kelas 3 dulu Azam dengan sangat arif membubarkan Genk yang dia pimpim meskipun gelar ketua masih sering di tujukan kepadanya sampai sekarang. Azam mengganggap Genk tersebut hanya membuat kekacauan, dia ingin kembali kefitrahnya sebagai manusia biasa tabpa harus menjadi ayah dari banyak orang yang meminta perlindunghan dari preman Lubuk Alung.
Kapolsek itu memang sejak dari dulu sudah berdiri di dfekat sekolah itu, Azamm pun pernah dipanggil kesana setelah tawuran pelajar yang terjadi antara Siswa macho SMA standar dengan SMA YPP, waktu itu banyak korban luka-luka abibat lemparan batu dan keroyokan. Dia sempat ditahan selama 3 jam sebelum disuruh pulang oleh kepala polisi. Sekarang kapolsek itu telah berubah, bangunannya kantir diperlebar keluar, polisi yang berjaga disanan sekarang juga sudah rame tidak seperti dulu yanghanya dua orang, tapi apakah birokrasinya masih seperti dulu? Tiada seorang pun yang tahu.
Tetapi ada sesuatu kejadian yang sedang berlangsung di Kantor tersebut, di sana hadir Wali Nagari Kampung Gadang dan dua orang Wali Kampung Jorong Bukit Ujung dan Bukit Luar Banda. Tiga tokoh masyarakat tersebut asyik berseloroh dengan kepala polisi, sesekali mereka menhirup suguhan kopi panas di atas meja piket, sekarang 3 tokoh itu menyerupai polisi yang sedang piket dari pengaduan masyarakat. Entah sampai kapan mereka sanggup membuang-buang waktu, sementara tuga-tuga polisi tersebut makin bertumpuk, kadar luasa dan hilang begitu saja. Akhirnya jam 2 siang 3 tokoh masyarakat tersebut enyah dari Kapolsek menuju rutinitas mereka yang sempat tertunda sesaat.
Sementara di Kampung Bukit Luar Bandar, seorang laki-laki muda masih menunggu berita kedatangan pihak keamaan yang akan meringkus penjahat kelas kampung, sesuai dengan perjanjin keamaan itu akan datang jam 9 pagi, tapi sekarang jarum jam sudah menunnjukan jam 2 lewat seperempat. Azam tidak mau melewatkan ujian Mid semester Hukum Masyarakat di kampus jam 4 sore.
‘’Sebaiknya aku bersiapp kepadang, sudah jam 2 lebih, mungkin sudah menjadi kebiasaan janji karet mereka’’. Azam mengunci seluru pintu ruamh dan menunaikan semua perintah ibunya sewaktu mau berangkat ke sawah tadi pagi, kemudian dia pun berlalu menuju jalan lintas. Di perjalanan itu Azam bertemu dengan Ibu Rosna sembari tyersenyum runcing kepada Azam.
‘’Kenapa terlambat anak mahasiswa? Sibuk menunggu polisi? Percayalah mereka tidak akan datang sebab bayaranku lebih tinggi dari pada bayaran kamu itu!’’, sapanya menyindir.
Azam tetap berlalu tanpa satu kata pun, dia berpikir tentang ucapan Rosna barusan, ‘’Apa makna yang tertuang dalam kata-kata si Rosna itu, dia bicara bayar membayar, dia membayar siapa dan aku membayar siapa? Atau mungkin dia sudah gila, ah! biarkan saja semoga hajinya bertambah Mabrur’’. Sesaat Azam berhenti di dipinggir jalan, dia ingat kemaren malam dia membuat pengaduan ke kapolsek, sementara samapi sekarang keaman itu tidakkunjung datang lalu si Rosna menyebut persoalan bayar membayar.
‘’Aku tahu, keamanb itu tidak terlambat tapi sengaja tidak datang karena telah dibayar oleh Rosna! Tapi kapan si Rosana itu pergi kekantor polisi? Atau mungkin dia punya orang suruhan! Oh tuhan aku gagal lagi menyelamatkan keluargaku, aku berserah diri dari godaan syetan yang berwujud manuisia ya tuhan, semoga mereka itu masih mempunyai akal sehat dan keluagaku tidak diganggu lagi!’’, dia terus melantunkan puji-pujian dan meminta kepada pemilik jagat raya hingga dia benar-benar raib di telan bus Kawan yang ditumpanginya tersebut.
**
‘’Saya tahu usaha Azam itu tidak akan berhasil!’’, Fatma memandang ke arah suaminya.
‘’Kalau kamu tahu untuk apa kamu datang ke polisis itu?’’.
‘’Saya hanya ingin menenangkan Azam, dengan cara tersendiri, lebih berbahaya jika anak itu menusuk Bujang dengan belati itu, kita yang akan menanbgung semuanya!’’.
‘’Ya sudah, lain kali kamu jangan terlalu agresif terhadap sikap Rosna itu, biarkan saja dia gila sendiri, jika diladeni kita juga ikutan gila, dia itu Haji yang gila darii Mekkah makanya dia mau menurunkan sifat gilanya kepada kita semua agar kita menjadi pengikutnya, benar-benart sifat Dajal yang dimilikinya’’.
‘’Uda sudah mendengar berita?’’
‘’Berita apa?’’
‘’Itu anak Sriningsih keponakan orang Tanjung masuk lulus ter polisi!’’.
‘’Seharusnya kamu senang, merekakan Bako kamu!’’
‘’Iya saya senang, semoga saja tidak seperti yang lain’’.
‘’Memangnya mereka bayar berapa?’’
‘’Berdasarkan keterangan yang saya dapat, Sriningsih membayar 40 juta hingga lulus!’’.
‘’40 juta itu sedikit, di waktu aku dijakarta dulu temanku memberikan 100 juta untuk anaknya hingga dinas di Polda Metro Jaya, tapi mereka itu orang kaya keturunan Tiongha campuran jawa’’.
‘’Di kota dengann dikampung itu jelas berbeda Uda! Disana Kota Besar sementara di sini kampung yang masyarakatnya kampungan tradidional!’’.
‘’Kapan ya kita bisa seperti ini sehingga kelurga kita bisa lebih sedikit diharga oleh masyarakat?’’
‘’Jangan menghayal muluk-muluk Da, dapat makan saja sudah syukur’’, ucapan Fatma menutup sembari berlalu menuju dapur.

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami
Powered By Blogger

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987