Jumat, 04 September 2009

HIPERREALITAS DAN KEMATIAN INTELEKTUAL

Oleh. M. Yunis

Pengantar
Perkembangan zaman telah membawa segelintir individu hanyut dalam perubahan. Sebagai akibat dari tuntutan zaman yang kian menyesakan, memaksa individu untuk membuang jauh idealisme. Jika tidak, individu tersebut akan tertinggal dan digilas oleh pertarungan global.
Untuk itu, setiap orang berlomba-lomba untuk mencapai pendidikan yang mapan yang berguna sebagai modal di dalam menaungi hidup. Ternyata hal itu sedikit membuahkan hasil, secara berangsur-ansur taraf pendidikan semakin maju dan mungkin tidak jauh tertinggal dengan negara lain. Suatu bukti, semakin banyaknya sarana pendidikan formal bermunculan dalam mewujutkan hal itu. Katakanlah Universitas –universitas swasta maupun negri yang kini telah tersebar di bebagai pelosok. Sarana-sarana pendidikan yang ada tersebut, juga telah mampu menampung dan mempersiapkan calon-calon intelektual yang akan meneruskan agenda reformasi. Penulis pikir tidak ada alasan lagi untuk tidak sekolah, kalau kendalanya hanya masalah biaya hal itu bisa diatasi dengan adanya beasiswa dan tergantung lagi pada individu tersebut. Arti kata, hampir tidak ada lagi generasi muda yang tidak mengecap bangku pendidikan, minimal setingkat SLTA, mudah-mudahan tidak ditabrak mesin simulakrum.
Sejalan dengan itu, sungguh disayangkan perkembangan itu tidak diimbangi oleh pengembangan kualitas, lebih banyak bergerak dan terarah pada pencapaian quantitas. Sehingga, tidak mampu menciptakan sumberdaya manusia yang bisa bersaing dan diperparah dengan ketersediaan kesempatan kerja yang sangat hyper-minim. Alhasil, lahirlah penggangguran-pengangguran bersertifikat, baik setingkat SLTA maupun sarjana. Kalau dulu, pendidikan setingkat sarjana sudah dapat membuka peluang untuk bekerja di sektor manapun. Tapi, sekarang seperti dibilang sebagian orang, tamatan sarjana samahalnya dengan tamatan SLTA dulu, tamatan SLTA dulu samahalnya dengan tamatan perguruan tinggi sekarang dan tamatan SMK dulu sama halnya dengan tamatan Politeknik(D3) sekarang, begitu pula sebaliknya. Jadi, tamatan SLTA sekarang tidak akan berarti apa-apa jika tidak dibarengi dengan skil, skil itu akan dapat diperoleh dengan kursus atau memilih untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Untuk memperoleh skil setingkat perguruan tinggi harus pula melanjutkan pendidikan ketingkat Master. Begitulah seterusnya, selalu terjerat ke dalam lingkaran setan yang berkelanjutan.
Sekilas pandang kita perhatikan, tamatan SLTA masih diperlukan eksistensinya. Sebagai bukti, banyaknya perimintaan-permintaan perusahaan, akademi-akademi ataupun PEMDA terhadap tamatan SLTA. Tapi setelah bergelimang di arena tersebut, pekerjaan yang dialakukan hanya sebatas oke bos dan menunggu tanda seru (!) dari atasan. Mungkin hati berontak, tetapi itu sudah menjadi tugas seorang buruh kapitalis. Alhasil, kreativitas dan imajinasi tidak akan pernah ada, akhirnya sipekerja lebih gampang terjerumus kejalan pintas yang berupa korupsi atau sejenisnya. Kejadian seperti ini adalah wajar, sebab gaji yang diharapkan tidak seimbang dengan kebutuhan hidup.
Begitu juga halnya dengan tamatan perguruan tinggi, ketika disuguhkan kepada lapangan pekerjaan yang tidak sesuai, kejadiannya tidak akan jauh berbeda dengan hal yang di atas. Katakanlah tamatan sarjana pertanian dituntun oleh takdirnya bekerja dperusahaan farmasi atau perusahaan periklanan atau tamatan sarjana ekonomi, sastra, hukum yang menjalani takdirnya di arena yang sangat jauh dari tuntututan ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi. Hal ini, bukannya tidak boleh, persoaalannya muncul ketika hadir sebuah pertanyaan, apakah keahlian mereka ada di bidang yang ditekuni itu? Sebab, tuhan pun sudah menegaskan, ‘’jika sebuah pekerjaan diberikan kepada orang yang bukan ahlinya, maka bersiap-siaplah menunggu kehancuran’’. Lebih menyedihkan lagi sipekerja mengetahui akan hal itu, tetapi tidak ada pilihan lain terpaksa jualah ditapati jalan tersebut walau selangkah demi selangkah. Mudah-mudahan saja konflik batin yang ditimbulkan tidak akan mempengaruhi intensitas pekerjaan yang akan dilakukannya sehari-hari.
Memang realitas sosial sangat berbeda dengan yang diharapakan, tetapi sesungguhnya hal itu telah dijadikan pelarian dari rasa keputus asaan. Karena kalimat ini diyakini mampu menghibur diri untuk sementara waktu, dan tanpa disadari kalimat itu juga mematikan karakter seseorang secara berangsur-ansur. Diperparah lagi bahwa kita juga tidak menyadari ataupun menyadari tetapi pura-pura tidak sadar bahwa kegagalan-kegagalan itu telah bercokol, dan dilengkapi dengan pembunuhan karakter yang dititipkan melalui budaya cemooh, borokrasi yang berbelit-belit serta komitmen yang samar-samar.
Mungkin ini hanya sebagian fenomena yang terterjadi terhadap sistem pendidikan kita yang mencoba mengejar quantitas bukan kualitas, banyak kalah dan jarang menang, kalaupun menang tapi hanya menang secara gotong royong seperti buih di lautan. Sementara itu, untuk bersaing secara proposional tidak punya keberanian sebab skil yang dimiliki tidak mencukupi untuk itu. Dampak negatif yang ditimbulkannya adalah semakin banyaknya berjatuhan korban-korban dari kegagalan intelektual yang diciptakan oleh sistem pendidikan yang selama ini telah diterapkan. Pilihan selanjutnya sangat tergantung pada kita, mau menjadi mayat hidup atau menghidupi intelektual. Jika ingin menjadi mayat hidup, ya kita terimalah hidup sebagaimana adanya. Jika mau menghidupi intelektual, maka sangat diperlukan perubahan terhadap sistem pendidikan kita, kita harus jemput bola dan berbalik mengejar kualitas.

Kerangka Berpikir
Awalnya hanya semiotika (Zoest, 1993) , namun berangsur-angsur terlau menjemukan jika terlalu lama berkecimpung pada tataran struktural sebab ilmu itu sebenarnya masih terputus setelah kematian Charles Sanders Pierce, Sausure berhenti pada tataran Langue dan Parole dan begitu pula Barthes tertumpu kepada mithologies. Padahal teori itu masih bisa dikembangkan seperti yang direalisasikan Umberto Eko dalam pandangannya tentang dunia Hiperealitas yang tercermin dalam bukunya Tamasya Dalam Hyperrealitas (1987) . Sejalan dengan itu Piliang menyebutnya dengan Hipersemiotika, yang mana penanda dan petanda bermutasi menjadi tanda lain. Ada yang dinamakan dengan tanda sebenarnya yang mempunyai hubungan relatif simetris dengan realitas/tanda kejujuran, tanda palsu atau tanda gadungan atau hanya menyerupai, tanda dusta yang mana tanda yang menggunakan tanda dan penanda yang salah, sementara realitas yang dicapai juga salah, tanda daur ulang tanda yang aneh tapi bermanfaat bagi dunia kekinian, tanda buatan yang sengaja diciptakan lewat teknologi mutakhir, dan kemudian tanda ekstrim sebagai tanda yang hiperbola (Piliang, 2003).Begitulah semiotik itu berkembang sesuai dengan keadaan zaman dan realitas yang tampak dan dapat dirasakan.
Tetapi sebelum Piliang dan Eco, Guattari dan Deleuze (Piliang, 2004) juga telah mebahas konsep yang sama, mereka berbicara tentang keruntuhan tembok transenden dengan immanen, dua konsep ini tidak lagi dalam status oposisi biner, keduanya telah membaur. Kemudian Budrillar dalam kerangka patafisika, istlah ini digunakannya untuk menjelaskan realitas yang melampoi fikisa dan metafisika sekaligus. Kemudian simulakra Budrillar juga merangkan, hal-hal yang tidak tercapai oleh pengetahuan ternyata sudah bisa dihadirkan lewat kecanggihan teknologi artifisial virtual. Menghadirkan Karl Marxs dalam dunia simulasi sangat memungkin, ataupun Plato pasa zaman sekarang adalah wajar dan tuhan pun dapat diserupai dalam simulasi. Budrillar mengataknya sebagai solisi imajiner yaitu proses menjadikan suatu yang non-empiris, tidak mengobjekan lewat kecanggihan teknologi simulasi sehinga menjadi sebuah fakta, dapat dilihat, dirasakan, didiami meskipun tanpa melalui hukum fisika sebagai sebuah benda (Piliang 2004;69) Inilah simulasi seperti yang dikatakan Budrillar itu, yang mana realitas diciptakan tanpa pondasi dan realitas. Pas betul seperti konsep yang hasilkan oleh Postmoderen, yang mana Piliang menjealaskan dalam Dunia yang Dilipat, bahwa Postmoderen akan menghasilan dua buah konsep yang saling bertentangan, pertama Ideologi yang timbul tanpa asal usul, tanpa pondasi, tanpa makna, akhirnya mengarah kepada tindakan yang ekstrim dan tidak menghargai idelisme. Berbahayanya ideologi ini telah merambah ke kota-kota besar di dunia, dalam alam nyata, dampaknya masyarakat komsumer menolak aturan moral yang mengikat, mereka berusaha membuat aturannya sendiri dalam dunianya sendiri, beralih ke dalam isu-isu lokal dengan gaya dan corak berlainan. Contohnya saja seks bebas yang melanda remaja di kota-kota besar. Di sinilah mulai tumbuhnya geneologi moral yang pernah diungkit oleh Nietzche.

‘’...yang baik dan yang jahat adalah buatan sejarah. Baik jahat muncul dari sentimen orang-orang kalah secara moral, tidak obahnya merupakn pembalasan dendam yang menggumpal. Padahal moral sebelumnya adalah sesuatu yang kodrati datang dari langit, sekarang moral merupakan sesuatu yang dihidupi di dunia dan hanya lahir dari rahim-rahim kepentingan duniawi saja...’’ (Nietzche dalam Piliang, 2004; 39)

Di dalam geneologi moral tersebut digambarkan manusia resentiment membenci tapi takut bertindak, sehingga kebencian tersebut meresapi segala yang dipikirkan dan diperbuatnya. Orang tahu cara memafaafkan tetapi tidak tahu kekuatan melupakan dan akhirnya menimbulkan dendam, mengingat-ingat masa lalu yang pernah terjadi. Akibatnya, kekuatan resentiment tersebut berbalik kedalam dan menciptakan seorang subjek emosi-emosi yang tidak diungkapkan, si aku (subjek moralitas) yang dilahirkan dari kekecewaan, suatu hasrat yang lahir dari penyangkalan pengakuan (Poole, 1993; 58).
Kemudian Nietzche membebaskan moral tersebut dari penjara sejarah lewat nalar putisnya, sebab selama ribuan tahun moral telah terpenjara dalam sejarah. Baginya matinya moral menandakan hidupnya nalar puitis yang bekerja di atas tanah yang tidak berjejak antara yang relatif dan yang mutlak. Memang Nietzche barangkat dari segala penderitaan yang berkecenderungan balas dendam dari orang lemah untuk menciptaan penderitaan yang penuh makna. Sehingga melahirkan para budak yang berkuasa dengan gaya moralnya sendiri. Apabila impul-impul itu itu tidak dicegah dan tidak dijinaknan akan terjadi subordinasi sehingga menimbulkan kefanatikan yang sangat berbahaya, dalam hal ini yang patut dipersalahkan adalah kontrol sosial dari masyarakat. Sebab kekuatan itu tidak hanya berakibta melemahkan individu yang kuat malahan juga dapat melemahkan budaya luas (Ritzer, 2003: 42). Jadi, yang dinginkan Nietzche sebenarnya individu yang berdaulat untuk menciptakan intelektual yang handal.
Sedangkan ideologi kedua yang ditimbulkan adalah ideologi yang berpondasi, berdasar, dan menghargai idelisme, menghargai perbedaan, multikultural? dan segala macamnya. Masyarakat kembali kepada nilai-nilai tradisional yang bersifat lokal dan beraturan konvensioanal. Jika seperti ini, apakah Postmodernisme tersebut telah gagal mengembangkan sayapnya? Sebab yang dicapai Postmoderen itu kurang lebih sama dengan yang dikemukakan Guattari dan Deleuze atas keruntuhan tembok transenden dengan immanen, Postmoderen menginginkan runtuhnya narasi besar dan melahirkan narasi kecil yang bersifat lokal, menghilangkan konsep dunia Timur ataupun Barat. Lalu bagaimana dengan Edwar Said yang mempertahankan Dunia Timurnya? (Edward, 1977).
Memang konsep ini sudah sering penulis singgung baik di dalam tulisan Koran maupun saat presentasi di dalam mata kuliah Teori Linguistik Kebudayaan dan Semiotika. Tetapi penulis rasa masih banyak yang harus dijelaskan di dalam konsep ini terlebih lagi terhadap ketidakmautahuan sebagian individu. Penulis masih ingat atas vonis yang penulis terima ‘’aliran sesat atau mungkin menyesatkan’’. Namun, julukan itu dirasa sangat membantu, sebab setiap kali julukan itu dilabelkan, maka setiap kali itu pula pengkajian lebih dalam terhadap realitas yang ingin penulis singkap.
Penulis masih ingat di saat salah satu teman di Pasca Linguistk Kebudayaan Unand mengemukan bahwa Hyperealiats itu belumlah terjadi, dan masyarakat yang mana yang tergolong kedalam Hyperealitas tersebut? Hal ini cukup menjadi bukti betapa pentingnya kajian terhadap realitas kerkinian membutuhkan penerangan, sebab jika tidak segera dimulai maka generasi intelektual setelahnya akan terus berpikir perskeptif kata lain dari Postskeptif? atau benar salah. Menurut penulis cara berpikir ini berkembang dari konsep skeptis yang dikemukana Rene Des Cartes dengan konsep cogito orgosumnya . Sedangkan perskeptif adalah sebuah doktrin yang sudah terlalu lama berkembang dan mendarah daging, anehnya cara berpikir itu diwariskan dari generasi hingga generasi sekarang.
Namun, tebalnya tembok hagemoni membuat kita memutar kincir otak. Bagaimana kiranya menaklukan kekuasaan absolut dan menghidupkan kembali intelektualitas? Untuk menjawab hal itu, terdapat 3 cara berpikir yang layaknya dicoba. Pertama berpikir terbalik berguna untuk melawan pembunuh idiologi, kedua berpikir menyimpang berguna untuk melawan tembok hagemoni, ketiga berpikir melompat berguna untuk melawan pikiran Perskeptif/Postskeptis di atas.
Namun begitu, untuk mencapai tiga pola pikir di atas kita harus mengenyahkan dua cara berpikir yang dapat menghilangkan realitas itu, sebab hal itu itu dapat menghambat kita untuk melakukan perlawanan terhadap being yang diciptakan antologi citraan yang selama ini telah bercokol dan membunuh intelektual itu sendiri, pertama berpikir perskeptif seperti yang telah diterangkan di atas, kedua tidak berpikir sama sekali. Mungkinkah dua cara berpikir mampu menentukan terwujudnya keadilan atau tidak?

Politik Sejarah
Kita mulai dari yang sederhana, yaitu ‘’sejarah’’. Sebab sejarah panjang negara ini tentu ikut melatarbelakangi sistem pendidikan kedepan, seperti tindakan-tindakan saparatis daerah terhadap pemerintahan pusat yang sentralistik, muncullah PRRI di Sumatra tengah, DI/TII, GAM, RMS, PARMESTA dan lain sebagainya. Akibat dari itu muncullah Ziscofernia terhadap seluruh daerah di Indonesia. Pasca Komunis di Indonesia melahirkan orde baru yang selalu di dalam terdapat ketakutan tanpa batas, sehingga anak-anak bekas PKI atau tertuduh PKI dideskriminasikan, larangan untuk menjadi pegawai pun direalisasikan, barulah pasca kejatuhan Suharto sebagai simbol kestabilan nasonal hukuman itu dihapuskan. Namun, di tingkat daerah-daerah, sejarah itu tetap berlanjut seperti yang direncanakan. Baik keturunan PRRI maupun PKI adalah sama-sama orang yang bersalah dan sekaligus sebagai korban politik, adu domba, padahal mereka tidak tahu apa-apa dengan masa lalu yang baru saja kemaren terjadi. Natsir pernah menyatakan, ‘’Saya tidak takut dengan ribuan tentara pusat, tapi yang saya takutkan OPR , mereka itu tahu seluk beluk hutan, tahu gang-gang kecil ataupun jalan-jalan setapak di tengah hutan, karena OPR adalah dari kita!’’. Apa yang dinyatakan Natsir itu adalah benar, tentara OPR adalah korban, hansip yang dipersenjatai itu hanya mencari keselamatan dari perang politik tanpa sedikit pun dia tahu bahwa meraka dikomandoi oleh PKI yang membonceng dengan tentara pusat .
Kemuadian saat kedatangan Tentara Pusat ke Sumatra Tengah untuk menumpas PRRI, ada sedikit kebanggan dari masyarakat karena yang datang itu Devisi Barwijaya dan Silingi Wangi, masyarakat merasakan tiada pelecehan atau pun kekasaran tentara itu kaepada masyarakat. Namun, setelahnya devisi Diponegoro pimpian A. Yani datang menggantikan, prasangka masyarakat yang masih sama terhadap tentara pusat akhirnya berubah telak setelah para penduduk tidak bersalah ditembaki, para wanita dilecehkan, diperkosa, perempuan laki-laki dipaksa menceraikan istrinya kalau tidak ditembak, lalu istrinya dipakai layaknya istri sendiri tanpa dinikahi . Wajar saja seorang suami yang dipaksa bercerai dengan istrinya kalut dan lari kehutan kemudian bergabung dengan tentara PRRI. Lalu Rumah Gadang dijadikan pusat pelacuran yang mana wanita Minang dipaksa menjadi pekerjanya. Alhasil, PRRI kalah yang ditutup dengan penyerahan diri M. Natsir yang direncanakan turun 25 september pada jam 2 namun rencana itu meleset Natsir sampai di bawah (di palembeyan) jam 4 sore, sebab di dalam perjalanan di waktu menyeberangi sungai yang arusnya sangat deras (Batang Masang) Natsir hanyut. Namun, hal itu jugalah yang menyelamatkan Natsir dari kematian, seandainya Natsir sampai di bawah jam 2 siang dapat dipastikan Natsir tewas, sebab para tentara sudah diperintahakan pinpinan pusat untuk menembak siapa saja yang turun dari hutan pada jam 2 siang itu. Anehnya yang menjadi komando pos penjagaan di sana adalah ajudan M. Natsir sendiri sewaktu beliau menjabat perdana mentri di Yogyakarta, maka sibak tangis pun memecahkan suasana ketika itu. Namun, berbeda dengan Dahlan jambek sebagai seorang Ustad, dia juga seorang Tentara yang idealis, dia tetap tidak mau menyerah. Dahlan jambek menginginkan dia ditangkap diadili atau ditembak di tempat, akhirnya Dahlan jambek tewas di tangan OPR pimpinan Sugandhi di Desa Lariang Aia Kijang, desa terakhir Agam termasuk Kumpulan daerah Pasaman . Lalu apa bedany OPR dengan Suwardi Idris sebagai Jurnalis Vokal dari Harian ‘’Nyata’’ ketka itu? Selaku wartawan yang idealis, dia pun ikut terjebak di antara dua dunia, akhirnya Harian Nyata terkubur hingga sekarang.
Namun, sejarah itu diputus dari realitasnya sendiri, ditegaskan PRRI sebagai pemberontak telah kalah perang, PRRI sesungguhnya bukanlah pemberontak terhadap negara, Natsir sendiri menyatakan ‘’kita tidak akan membuat negara di atas negara, sekurang-kurangnya ini peringatan terhadap Sukarno yang telah melibatkan PKI di dalam pemerintahan, kita tidak melawan APRI tetapi kita melawan tentara Sukarno dan antek-anteknya’’. Meskipun Dewan Banteng mendesak untuk mendirikan sebuah negara yang terpisah, namun Natsir tetap bersikeras terhadap prinsipnya. Diawali trauma PRRI itulah intelektual pertama mati di Minangkabau.
Setelah PRRI menyerah, pandangan dialihakan kepada PKI sebagai sasaran politik, PKI dideskreditkan, musuh persatuan dan kesatuan, dicap sebagai perusak ideologi negara. Maka ditanamkanlah kebencian terhadap PKI dari segala penjuru, media-media, seperti pemutaran filem G 30/SPKI setiap tanggal 30 September. Dilambanglan Gerwani menyayat-nyayat muka para jendral, menari-nari bugil di hadapan para jendral, A. Yani termasuk salah satunya korbannya. Sedangkan Nasution yang dulu berada dibelakang A. Yani semasa PRRI, dihukum seumur hidup, disisihkan dari percaturan politik Indonesia. Nasution sebagai jendral hebat tetapi berlindung dibalik mayat Ade Irma Suryani yang masih 5 tahunan. Nah, kematian kembali mengunjungi generasi intelektual kedua.
Barulah tahun 1998 yang dipelopori seluruh mahasiswa Indonesia hancurnya simbol kestabilan nasional, Suharto jatuh tapai, namun beberapa orang mahasiswa harus meregang nyawa ditangan peluru-peluru tajam aparat, Reformasi!. Setelah itu para aktifis 98 mendapatkan tempat di dalam kekuasaan, dihargai perujuangannya, tidak ada aktifis 98 yang gagal secara ekonomi, kemudian terputuslah kembali sejarah itu hinga di sini. Orang lupa akan Natsir, Siti Mangopoh, PDRI dan segala macamnya. Sekali lagi intelektual generasi ke tiga mati.
Ternyata realitas telah diwarnai kematian demi kematian intelektual, dengan alasan trauma dan segala macamnya. Akibatnya, Minangkabau sebagai ujung tombak kemerdekaan terputus dari akarnya sejarahnya dan semua berkiblat kepada pusat. Ternyata. Keadaan itu melahirkan pemberontak baru dialah ‘’seniman, penyair, budayawan, satrawan’’, kembali menorehkan ketajaman ujung-ujung penanya untuk menggugat ketidakadilan dan meruntuhkan tembok Hagemoni. Seiring waktu berjalan penguasa kembali risih terhadap kehadiran mereka, maka dibentuklah genta budaya dan DKSB , yang mana di dalamnya tergabung para seniman, budayawan dan segala macamnya itu. Sekali lagi intelektual ke empat kembali mati. Nah, kematian demi kematian itu tetap terus belanjut hingga sekarang, namun penamaan dan tingkatannya sudah agak berbeda dan sedikit elite, sebab kematian itu mulai merayap memasuki dunia akademis.

Tamasya Realitas
Kita kembali ke utopia akan kemajuan yang tidak pernah terealisasikan, masyarakat komsumer ingat akan nostalgia masa lalu, sehingga mengusung lahirnya kembali tanda tanya? Bahkan yang dihasilkan tanda yang berhubungan relatif simetris dengan realitas/tanda kejujuran, tanda palsu atau gadungan, tanda dusta yang penanda salah dan realitas yang dicapai juga salah, tanda rekontruksi/Dekontruksi aneh tapi bermanfaat bagi dunia sekarang, tanda ciptakan lewat teknologi mutakhir, dan tanda ekstrim yang dianggap tanda hiperbola (Piliang, 2003). Sepaham dengan Jean Baudrillard, tiada salahnya kita menikmati hidup dalam dunia simulasi, menikmati hidup dalam Hyperealitas, sebab simulasi itu sendiri menurutnya tidak hanya melipatgandakan ada (being), tetapi sudah menciptakan model yang tanpa asal usul atau realitas, Hiperealitas. Tanda tidak ada lagi acuannya dalam realitas, semuanya berupa penanda. Maka inilah yang dikatakan Piliang (2006) manusia terjebak dalam bujuk rayu dan ketersesatan tanpa bertujuan, citraan adalah segala-galanya bagi manusia. Tanda menciptakan mitosnya sendiri dalam nostalgia dan mengambil alih makna secara atuh, hayalan-hayalan semu tetapi terlihat sangat nyata. Meskipun simulasi mulanya dianggap Baudrillard sebagai strategi intelektual, tetapi perkembangannya membawa dampak menuju hiperrealitas sebagai dampak dari pengalaman kebendaan.
Apakah maksud Piliang dengann masyarakat konsumer terjebak ke dalam belantara bujuk rayu? Berpijak pada awal pembahasan di atas bahwa tembok transenden dengan immanen telah melebur, sulit membedakan mana yang benar mana yang salah, mana yang baik atupun buruk, sesuatu itu buruk jika tidak sesuai dengan cita pribadi, semua itu baik ketika bersesuaian dengan kepentingan duniawi, bukankah Nietzche telah menjelaskan moral telah dilahirkan dari rahim-rahim kepentingan duniawi? Tuhan dilahirkan lewat dunia citraan, seperti media masa. Masyarakat konsumer menggilai apa yang ditawarkan perkembangan teknologi, nafsu sebagai objek. Masyarakat berani membayar mahal asalkan dapat tampil di hadapan orang banyak, kalau perlu dengan harga diri, persoalan moral itu urusan pribadi.
Sejalan dengan apa yang dikatakan Heidegger dalam Piliang bahwa dunia moderen telah dijajah oleh dunia citraan, yang diproduksi lewat kemajuan teknologi sains untuk mengubah potret dunia dan teknologi tersebut menentukan pandangan dunia (Word view) manusia moderen. Keberadaan being hanya dalam representasi itu dianggap sebagai yang real. Tidak sebatas itu, manusia digiring ke dalam sebuah dunia yang mana dikendalikan oleh antologi citra (Levin dalam Piliang, 2004; 81) sebagai predator pamangsa yang berbahaya atas keberadaan being, akhirnya being terputus dari sejarah dan asal muasalnya. Predator itu ialah Media massa yang telah mampu merepresentasikan dirinya dan terobsesi oleh citarnya sendiri. Hal ini menurut Piliang terjadi karena kecendrungan mendefinisiskan being lewat bahasa dan kategori adanya sendiri, Media telah membentuk dunianya sendiri dengan manusianya sendiri, melampoi pandangan dunia dan eksistensi manusia didefinisikan. Di saat Antogi citraan menguasai pikiran-pikiran mangsanya maka pada saat itu pulalah eksistensi manusia itu mati, yang dihasilkan manusia-manusia image dan dunia image yang dihasilkan oleh citraan tersebut. Bayangkan berapa banyak kepala yang terantai dan salah satu ujung rantai itu terikat pada sauatu titik yang disebut mata bola raksasa, kita bisa mengumpamakannya sebagai sebuah mata hari sebagai pusat planet dikelelingi terus menerus oleh planet-planet yang ingin mendapatkan cahayanya, seperti itulah manusia yang digambarkan.
Layaknya media massa telah mampu memanajemen kerinduan masyarakat konsumer akan kesenangan, kemapanan hidup dan harga diri di mata orang banyak. Media menghadirkan dunia Hyper lewat teknologi simulasi virtualnya. Iklan kondom, alat memperbesar dan memperindah tubuh agar tetap tampil menarik, pemuas nafsu, Cyberspace, Holografi, peresmian lokalisasi, bahkan di Sumbar sendiri telah dimunculkan wacana tersebut. Realitas seperti ini jelas memperlihatkan ketidakkomitmenan terhadap aturan-aturan dan moral, sehingga kepentingan berpindah ke dalam arena Postmoral itu sendiri. Inilah yang sebenarnya yang harus ditakuti di dalam diskursus Potmoderen itu, perayaan besar-besaran ideologi tanpa pondasi dan tanpa asal usul terealisasi sudah di tengah masyarakat kita.
Sejalan dengan itu, yang patut menjadi perhatian adalah spiritualitas. Masih adakah? Sekurang-kurangnya sebagai wacana? Nyatanya spiritual sudah dimapatkan ke dalam program ISQ power, Postspiritual, pelatihan-pelatihan spiritual, spiritual sudah dipisahkan dan sudah direncanakan di dalam dunia yang berbeda. Mencapai titik spirittual di dalam dunia hampa makna dan ketiadaan being adalah suatu yang sangat menjenuhkan, sebab alam pikiran bawah sadar masyarakat simulasi telah terasah tajam kedalam ketersesatan hutan belantara bujuk rayu virtual begitulah yang dikatakan Piliang. Sangat menyedihakn saat melihat wajah islam di televisi, sangat kampungan, anarkis, hantu sudah berwujud dan kelihatan, gambaran syurga neraka dihadirkan lewat media, alhasil masyarakat takut untuk berbuat keburukan karena takut menderita seperti yang didakwahkan media, manusia tidak takut kepada tuhan yang sebenarnya, tuhan berpindah pada citraan (ontologi citra).
Selanjutnya tindakan mengeksploitasi libido dan keindahan tubuh, pinggul, paha, dada, betis dan kepuasan puncak hasrat. Hal itu menjadi unsur utama dalam citra media, dengan seperti itu produk yang ditawarkan laku terjual, ideologi yang digambarkan dilumat habis oleh para penonton yang berumur belasan tahun hingga penonton yang sudah uzur. Saat panggilan sholat yang berwujud irama azan datang, sholat ditunda dulu karena cinta pitri masih tergantung, mumpung sebentar lagi iklan. Di saat suasana sholat berlangsung ingatan ters berpaling kepada sinetron yang sedang berlangsung, takut ketinggalan cerita dan sehingga akan melahirkan Imagologi.
Hal di atas sebuah kenyataan bahwa dunia media telah dianggap sebagai simbol perubahan zaman yang menjanjikan kemakmuran, kesenangan, dan kekayaan. Orang sibuk dan berlomba mengikuti kuis berhadiah, limpahan durian runtuh, kuis telkomsel, kursi panas melioner, ketiban mobil, dan LMN sangat menjanjikan kemapanan. Lalu masyarakat lupa akan pentingnya berusaha mengeluarkan keringat, lalu siapa yang akan berdagang, beladang dan bersawah? Jika masyarakat kita telah bertumpu pada dunia maya. Lalu didikan terhadap anak pun sudah dimapatkan, bisa dilakukan lewat televisi. Kalau dulu keindahan suasana mengaji di surau, hingar bingar seloroh teman sesama besar, belajar mandiri secara alamiah hilang begitu saja setelah peran itu diambil alih oleh media. Anak sudah dibuatkan kamar sendiri di rumah bercampur aduk antara anak perempaun dan laki-laki, alhasil hilang rasa segan menyegani sesama saudara, malahan bisa mempraktekkan apa yang dilihat anak dari media kepada saudara perempuanya sendiri. Dulu, anak yang telah berumur 6 tahun ke atas sangat dilarang tidur di rumah karena malu di rumah ada saudara perempuan, sekarang anak laki-laki dilarang keluar rumah, dibilang oleh orangtua anak kecil dilarang keluar rumah karena tidak baik.
Sejalan dengan itu, para ibu rumah tangga mau menangisi kematian tokoh idola dari pada menangisi tetangga yang meninggal, atau salah satu keluarga yang meninggal. Kehilangan tokoh panutan di media sangat menganggu semangat hidup, setiap hari menangisi artis ngetop yang bercerai denga suaminya sementara ibu rumah tangga lupa mempererat tali perkawinannya sendiri dengan sang suami. Akhirnya ala perceraian gaya bercerainya artis ngetop pun menjandi komsumsi. Lalu simbol kemapanan harus dimiliki oleh setiap keluarga meskipun kreditan, karena hal itu sudah berubah menjadi perjuangan harga diri, sementara itu anak-anak memakai baju compang camping ke sekolah, iyuran sekolah belum dibayar, sudah diusir guru tidak boleh ujian, makan dengan sayur kangkung ditambah ikan 1 dibagi empat. Bagimana mau cerdas kalau makan telur saja satu kali seminggu. Kemudian mengemis untuk meminta bantuan beras miskin, bantuan BBM, sementara rumah sudah dilengkapi dengan motor, mobil dan bahkan berstatus PNS.
Akibat dari itu, ujung-unjungnya masyarakat komsumer terpapah kearah Postsosial , yang mengusung kematian ruang sosial itu sendiri. Hal ini diawali oleh timbulnya fatamorgana sosial yang dihasilkan media, seperti mencari sahabat lewat internet, mencari uang lewat internet, berkelahi lewat internet dan segala macamnya. Sehingga silaturrahmi tatap muka tiada lagi, aura silaturrami tersebut hilang ditelan ontologi citraan itu sendiri. Alhasil, ruang-ruang sosial itu mati dan digantikan oleh ruang realitas media seperti internet, manusia sosial tidak ada lagi karena sudah digantikan oleh manusia imajiner tanpa sosial (individual) dan kebudayaan bermoral itu menjauh karena sudah digantikan budaya imaji (budaya massa).

Postmoral
Geneologi moral itu di awali dengan runtuhnya ideiolgi, pujaan hanya hayalan-hayalan akan nafsu, baik nafsu kebendaan, ekonomi, jabatan hingga nafsu seks. Referensi yang tersisa hanyalah konsumen yang memamahbiak hasil dunia citraan, norma baru hanya menjadi bingkai dalam sistem nilai dan akan terus membingkai, sebab konsumen yang dihasilkan Hipereralitas ini pasif, terjebak dalam lingkaran setan, terperangkap ke dalam dunia penampakan, terbongkar dari akar spiritual, tercerabut dari ideologi dan jauh dari mitos-motos masa lalu yang agamais. Derrida pernah menyatakan telah terjadi pemaknaan penanda sebagai penanda dan bukan sebagai tinanda lagi, di sini tanda kehilangan loyalitas kediriannya, membaur dengan nafsu serakah akan duniawi.
Sangat wajar di negara ini KKN tidak pernah terhapuskan, sebab bagimana pun KKN itu adalah jiwa yang tidak takut dengan sosok Antasari Azar. Dulu tahun 1998 pernah muncul wacana bahwa Mahasiswa takut kepada Dosen, Dosen takut pada Presiden, dan presiden takut pada Mahasiswa’’, awal runtuhnya simbol kestabilan Nasional yang berwujut orde baru. Nah, pasca reformasi realitas sudah berlainan, ormas dan organisasi mahasiswa seperti yang dimiliki aktifis 98 itu ternodai oleh sonior-soniornya yang tidak lain adalah sebagian dari aktifis 98 itu sendiri? Dunia akademis diterobos oleh politik, mahasiswa ikut berkampenye untuk calon Wali Kota atau legislatif, otonomi kampus dari pihak asing sudah terlangkahi.
Beriringan dengan itu, sebuah sifat yang sudah teruji, kekeluargaan dan kegotongroyongan pun menciptakan realitasnya sendiri. Kekeluargaan dimaknai di dalam lapangan kerja, kegotongroyongan dibingkai dalam sebuah ‘’awak samo awak’’, alhasil sitem lama terputus dan melahirkan sitem simulasi, Kolusi, Nepotisme individual dan intrelektual tidak dihargai lagi. Kita tidak bisa mengelak bahwa bantuan-bantuan pemerintah baik di bidang pendidikan maupun kemasyarakatan sering tersampaikan dalam sasaran simulasi, contohnya beasiswa lebih didahulukan untuk pegawai negri dibandingkan orang-orang yang tidak mampu tetapi ingin cerdas. Bagimana mau cerdas kalau untuk makan sehari-hari sulit? Bagaimana mau pintar jika kesempatan untuk belajar hanya diberikan untuk orang-orang mapan secara ekonomi? Inilah yang diciptakan dunia simulasi, Hyperrealitas dalam pelipantan dunia yang digambarkan Piliang tersebut.
Adanya bantuan pendidikan sebanyak 20 %, tetapi yang dibantu dan yang menerima siapa? Hanya parsennya saja yang tersampaikan kepada orang yang membutuhkan (kebohongan intelektual) sementara 20-nya masuk kekantong-kantong yang sudah dipersiapkan, anak dosen, PNS, orang-orang kaya, atau mempunyai orang dalam, mungkin pula keluarga yang diangap bersih dan sangat dihargai di tengah masyarakat, itulah yang wajib dibantu dengan dana pendidikan 20 %. Padahal kemerdekaan negara ini didapatkan atas perjuangan orang-orang yang terpinggirkan secara ekonomi, setelah merdeka jasa mereka tidak dihargai, anak cucunya pun tidak tercatat sebagai anak veteran, mungkin pekerjaan mereka sehari-hari tetap saja keladang, ke sawah atau menarik ojek. Lebih parahnya sejarah mencapnya sebagai orang terlibat (PKI) karena sempat dipenjara tanpa diadili atas tuduhan terlibat dan diasingkan dalam waktu yang cukup lama.
Sejalan dengan itu, lihat juga pergaulan antar remaja, gaya berpacaran, zinah hati hingga zinah kelamin. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh remaja tetapi peminpin terpilih pun tidak ketinggalan. Bermesraan di tempat ramai, di pantai, di muka umum dan anak SMU yang membuat VCD porno? Kemudian berhubugan layaknya suami istri, sudah memanggil papa mama. Di saat terjadi kehamilan di luar nikah kedua pelaku dilindungi, bukannya hukum agama menegaskan bahwa pelaku zinah itu dirajam sampai mati, di usir, bahkan pezinah hnya wajib nikah hanya dengan pezinah pula. Bukankah peraturan juga ikut menyediakan sarana bagi remaja untuk berzinah? Perhatikan di sepanjang panati Padang di saat magrib datang, seiring azan dimesjid para remaja juga azan di pondok remang-remang, yang mana para penjaga warung menurunkan tirai untuk menutupi dosa para remaja itu, pakai jilbab juga, juga ikut organisasi mahasiswa islam, ikut nafsu juga, tiada pembatas antara keduanya sehingga di antara remaja tersebut juga tanpa pembatas, berhubungan layaknya suami istri. Lalu realitas yang melampoi itu terus berkembang sehingga bayi yang dilahirkan pun dilabelkan dengan nama Muhammad, Muhammad Alfarezal anaknya Pingkam Mambo vokalis ratu? Hal yang serupa tidak berhenti di sana, semua pengaruh itu merebak ke kampung tradisional yang agamais, desa-desa tradisional, tiada lagi buang siriah bagi si pezinah, tiada lagi memnyemblih seekor kerbau bagi yang hamil diluar nikah, semua disamarkan atas nama menjaga malu, tetapi tiada malu kepada pencipta yang mana matanya selalu terbuka.
Nah, realitas di atas sebuah kenyatan yang sedang menimpa masyarakat kita, apalagi di era serba maju seperti sekarang ini, apakah itu namanya Postmoderen atau Hyperrealitas? Serba menjanjikan, serba semu, fana, alam mimpi, dunia hayal, menyatu dengan kebenaran, kebenaran menyatu dengan kebohongan, mana yang benar, mana yang salah sudah membaur, apalagi bicara soal moral? Moral hanyalah produksi dan dilahirkan dari rahim kepentingan duniawi, Nietzche menyebutnya begitu.

Skizofrenia Tanda
Menerjemahkan alam relitas memang terlalu sulit, melalui pernak penik tanda yang menjelma ke dalam bentuk berbagai macam rupa dan fungsi membuat orang enggan menyadari malahan lebih memilih hanyut di dalam kesenangan, kemalasan yang ditawarkan teknologi firtual. Dunia media yang digambarkan telah menawarkan dunia baru, nafsu baru, ideologi baru hingga ke tuhan baru (ontologi citra). Piliang dalam dunia yang berlari 2004, menjelaskan bahwa mesin hasrat telah menyudutkan tuhan sebagai penguasa dunia, kursi ketuhanan diambil alih, mungkin para malaikat digantikan jabatannya. Lihatlah kemanapun menoleh dan kemanapun tujuan diarahkan selalu dihadapkan kepada permainan tanda, haluisnasi dan kegilaan waham generasi dari skizofrenia.
Produk media ditawarkan dalam skala besar menjajikan dan berlebihan, sehingga menjadi penguasa bagi konsumen, dikatakan piliang (2006, 73) sebuah meme atau pesan kultural yang membentuk pikiran setiap orang dan itu dilakukan berulang-ulang dan tersistem diwariskan dari generasi kegenerasi, dimulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, hingga dunia pendidiakan. Lebih parahnya pemangsa tersebut merambah dunia akademis secara terang-terangan. Sikap merasa lebih dan merasa pintar telah menguasai individu yang memilikinya, sehingga orang berada di bawahnya diangap bodoh dan tidak tahu apa-apa tentang kefanaan dunia. Di saat kritikan dilemparkan atau terdapat kesempatan untuk berbuat lebih memihak kepada orang lain, berontaklah virus mematikan tersebut, penulis menyebutnya skizofrenia kadar menengah (waham). Skizofrenia merupakan sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area fungsi individu, termasuk berfikir dan berkomunikasi, menerima dan mengenterprestasikan realitas, merasakan dan menunjukan emosi dan berprilaku dengan sikap yang dapat diterima secara social. (Ann Isaacs, 2005; 151). Schizofrenia merupakan jenis gangguan jiwa yang paling berat dengan harapan sembuh kecil sekali, selalu kambuh. Biasanya ditandai dengan pembicaraan yang kacau tidak dapat dimengerti maksudnya oleh orang lain. Dengan tingkah laku aneh yang terkadang memperlihatkan gerakan yang diulang atau dipertahankan (Adi Soekarto 2005).
Walaupun secara umum penyebab pasti skizofrenia masih belum jelas, namun konsensus umum menyatakan bahwa gangguan ini disebabkan oleh interaksi yang kompleks antara berbagai faktor, factor tersebut adalah; Faktor Genetik, meskipun genetika merupakan factor yang signifikan, belum ada penanda genetika tunggal yang di identifikasi. Kemungkinan melibatkan berbagai gen seperti; Abnormalitas, perkembangan saraf yang menurut penelitian menunjukkan bahwa malfarmasi janin minor yang terjadi pada awal gestasi berperan dalam manifestasi akhir dari skizofrenia.
Sejalan dengan itu, adanya proses psikososial dan lingkungan, sesuai dengan teori perkembangan seperti yang dikemukan Freud, bahwa kurangnya perhatian yang hangat dan penuh kasih sayang di tahun-tahun awal kehidupan berperan dalam menyebabkan kurangnya identitas diri, salah interprestasi terhadap realitas dan menarik diri dari hubungan pada penderita skizofrenia. Biasanya adanya hubungan kuat antara skizofrenia dan status sosial ekonomi yang rendah dan model kerentanan stres, yang mana model interaksional yang menyatakan bahwa penderita skizofrenia mempunyai kerentanan genetik dan biologik terhadap terhadap skizofrenia. Kerentanan ini, bila disertai dengan pajanan stressor kehidupan, dapat menimbulkan gejala-gejala pada individu tersebut.
Sejalan dengan itu terdapat gejala umum terhadap skizofrenia ini, di antaranya; Waham yaitu keyakinan keliru yang sangat kuat, yang tidak dapat dikurangi dengan menggunakan logika. Sikap waham inilah yang sedang beranak pinak, seperti meme yang digambarkan piliang. Dia hidup dan diwariskan kepada generasi sel;anjutnya, sehingga terdapat waham terhadap ilmu, karya, jabatan, kekuasaan, kecantikan, kegagahan dan menggagahi apa yng tidak menjadi hak. Kemudian terjadinya asosiasi longgar yang mana menjadi penyebab utama adalah kurangnya hubungan yang logis antara pikiran dan gagasan, yang dapat tercermin pada berbagai gejala. Di ranah ini manusia dikendalikan oleh simbol kestabilan dan kemapanan dunia, kolonialisasi hak dan berusaha membentuk tubuh yang patuh terhadap aturan moral buatan segelintir orang, Nietzche menyebutnya moral para budak.
Skizofrenia mampu menetaskan halusinasi yaitu persepsi sensorik yang keliru dan melibatkan panca indra. Di sinilah utopia kemajuan tersebut diungkit-ungkit, mimpi-mimpi postmoderenism diganyang habis. Sudah pada tempatnyanya mercusuar hasrat menanamkan pengaruh baik di dalam pergaulan akademis maupun masyarakat di tingkat akar rumput. Akibatnya sistem tinggal sistem yang sambil lalu tetap memangsa apa yang dapat dimangsa dan kemapanan akan menghantui semua pikiran orang-orang yang terlecehkan secara intelektual. Kemudian Intelektual digantikan oleh meme kemapanan dan berhenti berpikir?
Layaknya sebuah kesalahan menginterprestasikan stimulus lingkungan (ilusi) yang diperparah dengan depersonalisasi/derealisasi, yaitu sikap yang merasa bahwa “dirinya” sudah berubah secara mendasar. Oleh karena itu individu tersebut tidak perlu lagi melakukan apa-apa sebab sudah adanya jaminan masuk sorga atau sejenis surat aflat (penganmpunan dosa) atau ESQ power. Alhasil, adanya; pertama ambivalensi yang berupa konfik atau pertentangan emosi yang menyebabkan sulitnya individu menentukan pilihan atau keputusan. Kedua avolisi, kurangnya motivasi untuk melanjutkan aktivitas yang berorientasi pada tujuan. Ketiga alogia, berkurangnya pola bicara atau miskin kata-kata. Kemapat ekopraksia, meniru tindakan orang lain tanpa sadar. Kelima anhedonia, kurang senang melakukan aktifitas dan hal-hal lain yang secara normal menyenangkan. Keenam pemikiran konkrit, kesulitan berpikir abstrak sehingga ia menginterprestasikan komunikasi orang lain secara harfiah.
Penderita schizophrenia diperkirakan akan kambuh 50% pada tahun pertama, 70% pada tahun kedua (Sullingger, 1988) dan 100% pada tahun kelima setelah pulang dari rumah sakit (Carson dan Ross, 1987). Di Inggris (Vaugh, 1976) dan Amerika Serikat (Snyder, 1981) memperlihatkan bahwa keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi (bermusuhan, mengkritik, banyak melibatkan diri dengan penderita) diperkirakan kambuh dalam 9 bulan. Hasilnya, 57% kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi yang tinggi dan 17 % kembali dirawat dari keluarga dengan ekspresi emosi yang rendah (Vaugh dan Snyder), penderita mudah dipengaruhi oleh stress yang menyenangkan (naik pangkat, menikah) maupun yang menyedihkan (kematian, kecelakaan).
Dari gambaran di atas jelaslah skizofrenia itu sangat berbahaya di dalam dunia keintelektualan. Kudeta kesempatan, rampas aklak menjadi pokok utama untuk mencapai apa yang disebut dengan kemapanan, sehingga secara tidak langsung ego kekuasaan telah menzalimi truktur di bawahnya, dan strukutur di bawah akan melemparkannya ke segala penjuru dan begitulah seterusnya.
Begitupun media melalui pemadatan bahasa mampu menjadi puncak pengendali, virtualisasi lewat sarana langue dan parole merekayasa kebutuhan konsumen akan kemapanan sehingga para konsumen berhenti berpikir untuk sesuatu yang abadi dan mengorbankan hidup ke dalam kefanaan.

Apa yang anda pikikan?
Sebagian orang mungkin akan berpikir, bahwa orang-orang cerdas sebelumnya pernah ada seperti Plato, Socrates, Marxs adalah orang-orang latar belakangnya hancur lebur karena kondisi Hyperealitas tetapi menang secara intelektual. Buktinya mereka itu masih hidup hingga sekarang melalui karya intelektualnya. Namun, permasalahan akan muncul di saat zaman Plato, Socrates maupun Marxs berbeda dengan kondisi sekarang, sekarang pendidikan telah maju wealaupun dalam tahapan wacana tetapi sekurang-kurangnya telah meninggalkan masa Plato dan Socrates yang paceklik. Kalau boleh dibilang dari satu sisi inilah kejahatan simulasi yang sangat berbahaya, sebab akan memperextrim tindakan extrim yang pernah ada dan di sisi lain sebagai strategi intelektual kuno yang harus diremajakan.
Sejalan dengan itu, di saat wacana tentang Hyperrealitas muncul seakan-akan ketenangan masyarakat kita merasa terusik, sebab kebiasaan mereka disinggung-singgung dalam sebuah wacana maupun catatan pinggir di koran-koran lokal. Berbagai macam tuduhan akan dilempar secara serampangan, penanaman ideologi, orang yang Hyper, aliran sesat oarng yang latar belakangnya hancur dan apa saja kata-kata yang menunjukan kekalahan dalam bentuk penolakan. Di sini perang urat leher akan berlangsung, hingga menimbulkan tidak bertegur sapaan selama berhari-hari, dunia intelektual yang aneh. Seharusnya sebagai intelektual kita harus berpikir karena itu adalah kewajiban intelektual.
Terlepas dari itu, yang patut mendapatkan perhatian adalah asal muasal kematian entektual yang digulung realitas tersebut. Berawal dari perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan cita-cita realitas dan perkembangan ideologi yang bergerak melampaui kodrat. Manusia beruasaha menciptakan dan merealisasikan kemajuan yang dianggap tidak pernah terrealisasikan dalam kehidupan realitas, masyarakat membentuk budayanya sendiri dalam ranah budaya massa, masyarakat membatasi moralnya sendiri berdasarkan kepentingan akan duniawi, nafsu benda. Sementara itu ketajaman intelektual tidak diasah dan tali spiritual tidak dipertebal, kiranya sebuah kejenuhan dengan utopia politik, sejarah dan budaya yang selalu menawarkan kemapanan baik di bidang pendidikan maupun ekonomi. Masyarakat sebagai individu yang mandiri butuh energi agar tetap hidup untuk bisa mencapai tahap itu, dilihat juga peraturan dan norma yang disepakati berubah dari mengatur menjadi mengekor mengikuti ke arah mana budaya masa berkembang. Maka, hiduplah geneologi moral yang mengusung Hyperrealitas, yang setiap saat akan memangsa siapa saja yang menderita, terlecehkan dan teraniaya.
Seiring dengan itu, dunia Hyper juga dilatari oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi untuk memenuhi nafsu manusia yang tidak pernah merasa mapan. Sehingga teori-teori ilmu pengetahuan itu pun ikut berkembang melampoi realitasnya. Piliang menyebutnya dengan Posteori adalah dimana teori-teori ilmu sosial maupun eksakta telah berreproduksi melampau kodratnya, seperti posmetafikika, Postsemoitika dan segala macam bentuk post dalam artian perlawanan terhadap teori asal.
Namun begitu, terdapat 2 buah teori yang sangat berperan penting dalam melihat dunai realitas. Pertama semiotik yang awalnya tanda (signifier) mengacu pada petanda (signified) sekarang telah berreproduksi atas kepetingan, tanda itu sendiri di dalam masyarakat tidak sebagai penanda tetapi tetap sebagai tanda. Siapa saja yang mampu memepermainkan tanda, dengan mengangggap penanda (subjek) sebagai pengauasa yang mengeksploitasi petanda (objek) dialah yang akan maju, sementara bagi siapa yang cenderung diam akan tergilas dalam percaturan global kedua. Kedua Langue dan parole, juga telah berkembang melewati kodratnya, bagi siapa yang dapat mempermain langue untuk kepentingan makna dia akan menghasilkan penikmat parole sebanyak mungkin, semakin banyak permaian terhadap parole maka semakin hancurlah dunia ini. Semua orang akan dikendalikan bujuk rayu dan manisnya bahasa yang kemudian menghasilkan tindakan yang membuat aturan moralnya sendiri. Inilah yang dapat disebut sebuah kegagalan Postmoderen yang mana pada awalnya ingin meruntuhkan narasi besar dan melahirkan narasi kecil yang bersifat isu lokal dan diikuti dengan kegagalan intelektual dalam memanajemen tanda, langue dan parole.



DAFTAR BACAAN

Eco, Umberto. 1987. Tamasya Dalam Hyperrealitas. Yogyakarta: Jala Sutra
Isaacs, Ann. 2005. Keperawatan Jiwa Dan Psikiatrik. Jakarta: EGC.
Idris, Soewardi. 2008. Perjalanan Dalam Kelam. Yogyakarta: Beranda.
Piliang, Yasraf Amir. 2006. Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melanpou Batas-batas Kebudayaan. Yokyakarta: Jala Sutra.
-----------------------. 2004. Post-Realitas, Realitas Kebudayaan dalam Era Postmetafisika. Yogyakarta: Jala Sutra.
-----------------------. 2003. Hiper Semiotika, Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna. Bandung: Jala Sutra.
----------------------. 2003. Hantu-hantu Politik dan Matinya Sosial. Solo: Tiga Serangkai.
Poole, Rose. 1993. Moralitas dan Modernitas. Yogyakarta: Kanisus
Ritzer, George. 2003. Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Juxtapose Research And Publication Study Club dan Kreasi Wacana.
Said, Edward.1977. Orientalism. London: Penguin
Wawancara Hari Efendi dengan Abdul Samat saksi PPRI, di Bukittingi, 6 september 2008, Jam 10 pagi.
Wawancara Hary Efendi dengan Tan Kabasaran saksi PPRI, di Bukittinggi, 6 September 2008, Jam 12 siang.
Yuwono, Untung dan T. Cristomy. 2004. Semiotika Budaya. Depok: Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia.
Zoest, Art Van. 1993. Semiotika. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.

Mahasiswa Paska Linguistik Unand

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987