Senin, 14 September 2009

SAWIRMAN SANG PENCETUS TEORI LINGUISTIK TERAPAN e-135

Oleh: M. Yunis, S.S

Setelah saya membuka dan menelusuri blog pembelajaran www.sawirman-e135.blogspot.com., saya melihat kolom bagian profil masih belum terisi tulisan. Saat saya melakukan konfirmasi dengan yang bersangkutan, Sawirman menjawab:

“Saya merasa belum pantas mengisi kolom profil tersebut, saya belum ada apa-apanya. Apa yang saya ketahui adalah apa yang diketahui oleh setiap orang”

Jawaban sosok penganut “Proses adalah sentral dalam pembelajaran, kebenaran hanyalah bagian dari proses itu” menggugah saya untuk menulis profil ini. Ferdinand de Saussure bukan terkenal karena buku yang ditulisnya, tetapi buku yang ditulis oleh para muridnya. Socrates juga demikian halnya. Dia menjadi terkenal karena muridnya Aristoteles. Terilham dari dua sosok dimaksud tulisan ini disarikan dari (1) Buku Diary Sawirman berjudul “Kalau Saja Hidup Bisa Diulang” dengan sub-judul “Perasaan, Pikiran, Penglihatan, Pendengaran, Bacaan, dan Hayalan Saya” ; (2) full CV Sawirman yang ditulis untuk dan atas permintaan Universitas Sydney dengan tujuan Visiting Scholar dan International Joint Research bulan Juli 2009; (3) sejumlah tulisan dalam blog www.sawirman-e135.blogspot.com; (4) makalah berjudul “Menciptakan Paradigma Linguistik disebut dengan e-135” yang dipresentasikan dalam forum Dosen Berprestasi tanggal 11 Juni 2008; (5) Makalah untuk Lanjutan Seleksi Akhir Peserta Nominasi Dosen Anugerah 2 Universitas Andalas tahun 2009, (6) sejumlah tulisan ilmiah Sawirman dalam berbagai jurnal; (7) wawancara dengan yang bersangkutan, (8) wawancara dengan keluarga terdekat (istri dan mertua yang bersangkutan); (9) wawancara dengan para teman sejawat yang bersangkutan; (10) observasi lapangan seputar aktivitas harian yang bersangkutan; dan (11) Saat ini Beliau adalah Dosen empat mata kuliah penulis dari empat mata kuliah (Wacana, Semiotika, Bahasa dan Media, Bahasa dan Ideologi, dan Teori Linguistik) yang pernah diasuhnya bersama Tim pada Program Magister Linguistik Universitas Andalas.


A. Motto Hidup Sang Pecetus Teori Linguistik Terapan e-135

Kombinasi dua institusi (formal di sekolah umum dan informal di pesantren) melahirkan motto hidup sang pakiah (sebutan santri dalam bahasa Minang): “berupayalah menjadikan semua aktivitas sehari-hari bernilai ibadah”. Niat baik dan ucapan Bismillahirrahmanirahim setiap memulai pekerjaan menjadi filosofi hidupnya untuk menjadikan semua pekerjaan bernilai ibadah. Innamal ‘akmalu binniat ‘semua pekerjaan tergantung dengan niat’ ungkapnya mengutip Hadist. Yang terpenting dalam hidup menurut Sawirman adalah:

“Lakukan semua tugas yang diemban sebaik-baiknya, hasilnya biarlah Tuhan yang menentukan dan manusia lain menilainya. Ingat, Anda adalah apa yang kau tabur. Jangan sekali-kali mengharapkan imbalan, penghargaan dan sejenisnya dari sesama (maksudnya sesama manusia lain, red), bila itu niatnya maka bersiaplah untuk kecewa. Semua niat dan pekerjaan baik, sekalipun sudah dihargai ibadah di mata Tuhan, belum tentu dihargai pujian di mata manusia. Cacian, hinaan, iri, dan dengki adalah tumpukan honor kita pula yang harus diterima dalam dunia kehidupan, berorganisasi, dan bermasyarakat, itu kodrat kita yang tidak perlu dilawan. Banyak manusia dikodratkan terlahir untuk melihat sisi lemah manusia lain, bukan kelebihan dan kebaikannya, itu wajar pula. Memahami semua itu akan memberi kita sebuah kebijaksanaan hidup”.

Tampaknya inilah filosofi hidup sang pencetus e-135 yang menjadi spirit dan energinya untuk melakukan yang terbaik.. Lanjutkan perjuangan, lebih cepat lebih baik, ha.a.a!

B. Sang Guru Mangaji

3 September 1968, Sawirman dilahirkan di Toboh Padang Pariaman. Tamat di SDN Pauh Kambar, Sawirman melanjutkan studinya ke SMPN Pakandangan atas inisiatif dan doa Ibu tercintanya agar dapat sekalian mengecap Pendidikan di Pesantren Darul Ikhlas. Tahun 1982-1988, secara resmi Sawirman memiliki dua institusi, siang hari di jalur formal (SMPN Pakandangan/SMAN Lubuk Alung) dan malam hari di Pesantren. Pengalamannya di pesantren, sejak SMP sampai SMA, lebih dikenal sebagai Guru Mangaji. Ajo Uniang, begitu Sawirman lebih akrab disapa oleh para murid mangajinya. Mantan Qori yang pernah mendapat Juara Pertama Pensurah Alquran tingkat Kabupaten Padang Pariaman dan Harapan I tingkat propinsi ini disebut Buya oleh teman-teman SMA-nya hingga sekarang.


C. Sang Aktivis yang Kutu Buku

Semasa kuliah pada Strata 1, Sawirman tercatat sebagai mahasiswa berprestasi yang tidak hanya disegani di kalangan para aktivis kampus, tetapi juga oleh para dosennya. Beberapa jabatan strategis organisasi kemahasiswaan semasa S1 antara lain Ketua Umum Senat Mahasiswa, Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), dan Ketua Umum Keluarga Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemar (KMA-PBS) di tingkat universitas pernah disandangnya. Selain sebagai penulis aktif di Media Ganto dan Haluan Minggu, puluhan artikel dan laporan ilmiah pernah ditulisnya. Beberapa forum makalah masa S1 pernah pula ditulis dan dipresentasikan di berbagai forum nasional dalam dan luar propinsi (Padang, Unsri Palembang, Masa S1 di Jurusan Bahasa Inggris UNP Padang diakhirinya dengan predikat Lulusan Terbaik tahun 1995. Berikut salah satu dari puluhan cuplikan liputan media terhadap dirinya yang didapat dari album pribadinya.





Salah satu kliping dari puluhan kliping tentang aktivitas dan tulisan Sawirman semasa S1. Acara kegiatan kemahasiswaan pertama yang mengantarkan Sawirman ke pucuk pimpinan kemahasiswaan.










Kegiatan pertama dari puluhan kegiatan kemahasiswaan yang diketuai Sawirman semasa Strata I.




Foto-foto ini hanya permulaan Sawirman memimpin acara, sebelum yang bersangkutan menjabat Ketua Umum Senat Mahasiswa fakultas, Ketua Umum Badan Perwakilan Mahasiswa fakultas dan Ketua Umum Keluarga Penerima Beasiswa Supersemar Universitas.






Sawirman (kanan) dengan sahabatnya Brandon Spars (kiri) dari US. Hubungan mereka berlanjut sampai ke Bali. Bersama Brandon di Pulau Dewata, Sawirman menerjemahkan semua arsip penting ke dalam Bahasa Inggris. Sekian bule dihadirkan Sawirman (paling kanan) sebagai Tim Juri Speech dan Reading Contest-nya. Sejumlah media lokal sampai Hello Magazine terbitan Jakarta meliput acara ini.



C. Bersepeda Dayung ke Australia

Waktu berlalu musim pun berganti. Beasiswa Ikatan Dinas (TID) sebagai jalan by pass menjadi pegawai negeri diabaikannya demi spiritnya melanjutkan studi ke Program Magister. Awal tahun 1996, LoA dari Wolverhamton University di Inggris pernah dikantonginya. Sayang, beasiswa Yayasan dari Universitas Perbankan Riau yang dijanjikan untuk ke sana batal keluar tahun itu. Pihak Universitas yang menjanjikan secara lisan tahun depannya terpaksa diabaikannya karena Universitas Udayana kala itu mengalokasikan beasiswa S2 untuk non PNS sekalipun di tahun kedua. Bermodalkan sepeda dayung yang disebutnya BMW (“bebekku merah warnanya”, kebetulan sepeda tersebut berwarna merah), masa-masa sulit di S2 dapat terbantu dengan mengajar orang asing berbahasa Indonesia, penerjemah dan interpreter di berbagai kursus dan hotel. Alhasil, di tahun 1997, Beasiswa TMPD yang ditunggunya untuk membiayai Program S2 didapatkan juga. Di tahun yang sama, hasil tabungan dengan sepeda dayung dapat menambah biaya yang bersangkutan untuk mengikuti Kongres Linguistik ke 22 di Universitas Southern Queensland Towoomba Australia bulan Oktober 1997. Masa S2 di Jurusan Linguistik dengan titik fokus Linguistik Mikro diakhirinya dengan IPK 3,70 tahun 1999 dan “BMW” sebagai kenangan.





Pergi ke 22nd Annual Applied Linguitics Congress Oktober 1997 dengan modal sepeda dayung (“BMW”).
Sawirman keliling Sydney dulu sebelum berangkat dengan Bus ke University Southern of Queensland Toowoomba












Kala Sawirman mewakili para wisudawan/wisudawati








D. Suami-Istri menjadi Guru di Universitas Andalas

Rencana di tangan manusia, keputusan di Tangan Allah. Hasrat yang bersangkutan untuk melanjutkan studi S3 ke luar negeri dibatalkan saat Ketua Penguji yang juga Ketua Program S3 Linguistik Universitas Udayana kala itu, almarhum Prof. I Wayan Bawa, menawarkan yang bersangkutan untuk Studi S3 di universitas yang sama dalam Forum Ujian Tesis dan dihadapan lima penguji (setelah predikat lulus diumumkan). Tampaknya Sawirman bukan penganut filsafat dek arok buruang tabang tinggi, punai di tangan dilapehan. Setelah melalui Sholat Istikhorah, tawaran Ketua prodi pun diambilnya.

Di kala Sawirman baru menginjakkan kaki di semester pertama Prodi Doktor, keinginannya untuk mengabdi di kampung halaman menjadi kenyataan. Tahun 2000, Sawirman diterima sebagai PNS di Fakultas Sastra Unand. Setelah mengabdi selama 1 tahun, Sawirman kembali melanjutkan program Doktornya dengan spesifikasi sama. Program Doktor Linguistik diakhirinya tahun 2005 dengan mencetuskan Teori Linguistik Terapan e-135, Lulusan Terbaik, dan membawa dua ijazah (selain ijazah doktor, ijazah Magister Kedokteran Reproduksi dari universitas yang sama juga dikantongi sang istri tercinta Yessy Markolinda, M.Repro ). Mengikuti jejak sang suami, sang istri sekarang juga Dosen tetap di PSIKM Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang.




Kala Sawirman menerima bingkisan sebagai Lulusan Terbaik Program Doktor Linguistik Wisuda 4 Agustus 2005 Universitas Udayana dengan IPK 3,80 (Skala 4).



E. Di Mata para Dosen/Teman Strata Satunya

Sawirman dari dulu sampai sekarang tetap membina hubungan baik dengan siapa saja yang pernah dikenal. Menurutnya biarlah kehilangan duit daripada kehilangan teman. Terbukti sudah berkali-kali rumahnya dijadikan tempat berkumpul teman sejawat dan reuni dari berbagai jenjang pendidikan, terlebih lagi di bulan puasa. Tahun 2008 lalu, acara buka bersama teman-teman strata satunya diketuai oleh konconya Edwards, sang PR dari Negeri Kanguru. Ungkapan senada dari mantan dosen, senior, yunior, dan teman seangkatannya juga saya baca dalam milis www.jurdikbing.com. Sawirman juga terlibat aktif dalam blog pembelajaran dimaksud yang banyak mendiskusikan keilmuan, isu-isu terkini, tata cara pembuatan lesson plan, SAP, GBPP, silabus, dan sejumlah penawaran beasiswa.

Sejalan dengan itu, saat saya melihat kumpulan arsip yang bersangkutan, mata saya tertuju pada surat rekomendasi untuk yang bersangkutan mengikuti program pasca sarjana dari mantan Rektor UNP Padang M. Ansyar, Ph.D (surat resmi) dan rekomendasi dua mantan Dekan FPBS universitas yang sama almarhum Prof. Dr. Amir Hakim Usman (tulisan tangan) dan Prof. Dr. H. Agustiar Syahnur, M.A (surat resmi) untuk mengikuti program yang sama berisi untaian senada bahwa Sawirman selain sebagai lulusan terbaik di masa wisudanya, juga dianggap sebagai sosok yang suka membaca dan menulis, suka bekerja sama dengan sejawat, luwes dalam pergaulan, dan sering dipercaya sebagai wakil universitas ke berbagai forum mahasiswa daerah dan Nasional. Yang membuat saya sedikit heran, sepanjang pengetahuan saya, amat jarang mahasiswa direkomendasi oleh Rektor dan Dekan untuk mengikuti Program Magister. Mungkin karena aktivitas, tulisan, dan kemampuan bersosialisasi, Sawirman amat dekat dengan para pemimpin kampus kala itu.



F. Di Mata Para Mantan Dosen Program Magister dan Doktor

Adalah almarhum Profesor I Wayan Bawa yang berulang kali memuji rancangan disertasi Sawirman . Sayang almarhum tidak sempat mengantarkan salah seorang murid kesayangannya menjadi doktor. Bersamaan dengan Sawirman memasuki Ujian Kualifikasi Doktor, sang promotor juga dirawat di Rumah Sakit Sanglah. Konon, saat para dosen dan penguji membezuk sang mantan Ketua Program Doktor di rumah sakit bertepatan setelah Sawirman usai ujian, Pak Bawa masih sempat melontarkan pertanyaan seputar hasil ujian Sawirman dan mengharapkan sang penguji agar betul-betul membaca disertasi Sawirman. Dua hari setelah Sawirman Ujian Kualifikasi, sang promotor pun meninggalkan anak bimbingan bersama Program Magister dan Doktor yang dirintisnya buat selama-lamanya. Penghargaan tulus kepada Prof. Dr. I Wayan Bawa (sang mantan promotor) ditulis oleh Sawirman dalam Pengantar Disertasi Doktoral.

Posisi promotor pun digantikan oleh Prof. Dr. Aron Meko Mbete, selain Dede Oetomo dari Unair, dan Prof. Dr. Sutjiati Beratha, M.A. Pujian pertama yang disampaikan Prof. Dr. Aron Meko Mbete kepada teman-teman Sawirman usai yang bersangkutan Ujian Tertutup adalah sikap santai dan rileks yang ditampilkannya saat ujian. Pertanyaan bernada pujian juga dilontarkan Prof. Aron pada saat yang bersangkutan melakukan Ujian Terbuka 15 Juli 2005. Pertanyaannya kira-kira begini: Kemanakah e-135 diuji setelah disertasi ini? Adalah juga Prof. Aron yang memberikan ringkasan disertasi Sawirman kepada penulis posmo terkenal kita Yasraf Amir Piliang (Dosen ITB) dan penulis Levi Strauss Ahimsa Putra (Dosen UGM) yang hadir ke Universitas Udayana dalam rangka kepentingan lain. Tidak hanya itu, menurut keterangan yang bersangkutan, tanggal 18 November tahun 2006 (setahun Sawirman telah meninggalkan Universitas Udayana tepat saat Sawirman mempresentasikan makalah dihadapan alumni Sastra Inggris Unand), Prof. Aron menelepon Sawirman agar segara menemui sosiolog Indonesia Ignaz Kleden. Disertasi pun diberikan kepada Ignaz Kleden bersamaan dengan seminar proposal Hibah Bersaingnya di akhir Desember 2006 di Jakarta. Tentu bukan hanya sekadar hadiah, adalah harapan sang promotor agar sang anak didik bisa mencetuskan cita-citanya untuk menjadi guru kehidupan dan penulis terkenal di tingkat internasional seperti yang termaktub dalam buku diari sang pencetus e-135.

Bila ada yang kuliah dengan Ibuk Sutji (begitu panggilan akrab Prof. Dr. Sutjiati Beratha, M.A) , pasti mengetahui bahwa Sawirman adalah salah seorang yang sering disebut-sebut namanya oleh profesor ini yang juga diminta Sawirman sebagai salah seorang tim mitra bestari dalam jurnal Linguistika Kultura terbitan Jurusan Sastra Inggris yang dipimpinnya bersama kawan-kawan.

Pujian dari Prof. Dr. I Wayan Pastika seputar e-135 dan draf disertasi pasca Ujian Kualifikasi juga tidak kalah pentingnya. Saat e-135 masih dalam draf, Pastika sudah mulai mengapresiasinya. Berikut coretan tulisan tangan Pastika yang masih disimpan dalam draf proposal disertasi Sawirman sebelum Ujian Tertutup (dikutip dari Sawirman, 2009).






Saran Pertama Pastika seputar e-135




Saran Kedua Pastika seputar e-135



Saran Ketiga Pastika seputar e-135



Bulan Juli 2009, saya I Wayan Arka, Ph.D (mantan dosen Sawirman di Universitas Udayana yang juga peneliti sejak lama di Universitas Sydney). Dalam email yang dikirim ke Universitas Sydney untuk mengikuti Program of Academic Recharging (PAR) Dikti, I Wayan Arka menulis tentang Sawirman sebagai bright students dan full of enthusiasm. Berikut email I Wayan Arka yang di-cc-kan ke sawirman03@yahoo.com yang saya kutip apa adanya (kecuali cetak tebal).



On 29/05/2009, at 11:00 AM, Wayan Arka wrote:

>>

>>> Dear Bill and Jane,

>>>

>>> A former student of mine, Sawirman, from Universitas Andalas

>>> Padang (West Sumatra) is applying for a four-month fellowship from

>>> the Department of Higher Education Indonesia.

>>> Hi is planning to do a small project on Anthropological linguistics

>>> investigating issues of address forms among the Minang migrants in

>>> Sydney.

>>> I reckon that Sydney U might host him for his visit, and he is

>>> very keen to meet Bill -- as Sawirman has read Bill's book on

>>> Anthropological linguistics.

>>>

>>> He needs a letter of support from the department here, and his

>>> visit is fully funded by the Indonesian government. I was told

>>> that there is some financial contribution to the host as well.

>>>

>>> He is a bright student, full of enthusiasm. He got his doctorate

>>> from Udayana U.

>>> I hope that you could help him with a letter of support for his

>>> application.

>>>

>>> Best,

>>> -Wayan

G. Kiprah Sawirman di Universitas Andalas sejak 2006-2009

Sepanjang pengamatan saya, ada beberapa prestasi Sawirman (baca pula Sawirman, 2009b) yang pantas dihargakan tinggi dan dikenang sejak kepulangannya dari Program Doktoral, yakni (1) sosialisasi teori linguistik terapan e-135, (2) salah satu perintis Program Magister Linguistik Unand, (3) merintis, memimpin, dan mengeditori jurnal Linguistika Kultura, (4) mengkader para peneliti junior agar mampu bersaing dalam penelitian nasional,, (5) mengikutsertakan mahasiswa dalam penelitian, dan (6) mengkader para dosen muda untuk melahirkan RPKPS, Silabus, GBPP, SAP, dan Learning Contract sesuai dengan perannya sebagai Penatar Pekerti/AA dan Learning Consultant di Fakultas Sastra.



G.1 Penggagas Teori Linguistik Terapan e-135 di Mata Teman Sejawat

Entah apa yang misteri dari kombinasi angka 135, saya tidak pernah tahu. Sampai saat ini, formula angka ini setidak-tidaknya sudah digunakannya untuk teori linguistik terapan yang dirancangnya. Puluhan forum ilmiah dan puluhan artikel ilmiah sudah dimanfaatkannya untuk memperkenalkan teorinya dimaksud. Hasil penelusuran saya dari buku Simmel berjudul Misteri Angka-angka juga belum mampu mengungkap misteri dimaksud. Paduan angka dimaksud semata-mata hanya untuk memadukan landasan filosofis (hermeneutika), landasan paradigmatis (formalis, kritis, dan cultural studies), serta lima tahapan analisis (elaborasi, representasi, signifikasi, eksplorasi, dan transfigurasi). Sebelum dipatenkan, nama e-135 bisa saja berubah karena banyaknya permintaan agar dari pembaca agar berkenan mengubah namanya menjadi lebih linguistis (termasuk di blog yang bersangkutan).

Baik di kalangan dosen Fakultas Sastra maupun di kalangan mahasiswa linguistik Unand, Teori Linguistik Terapan e-135 mendapat sambutan positif. Berikut aplikasi e-135 yang dikutip dari Sawirman (2009a).


1. Usul penulis untuk mengubah nama jurnal jurusan Sastra Inggris Universitas Andalas dari Jurnal Andalas (nama awal yang disepakati rapat jurusan) menjadi Linguistika Kultura juga disetujui jurusan. Penulis mencantumkan ciri khas Kajian Linguistik-Sastra Berdimensi Cultural Studies di setiap cover terbitan dengan memberi alasan akademis penamaan pada Pengantar Redaksi Vol 1 No 1 Juli 2007 jurnal tersebut. Saat ini Sawirman terpilih sebagai editor ahli/pimpinan redaksi jurnal dimaksud yang sudah terbit enam volume.

2. Sawirman salah pembawa makalah untuk menentukan ciri khas atas permintaan Direktur Pascasarjana Unand secara tertulis dalam workshop Pembukaan Program Studi Magister Linguistik dan Ilmu Sejarah tanggal 25 Februari 2006 di Program Pascasarjana Unand dengan judul makalah “Memaknai Linguistik secara Cultural Studies” seperti harapan e-135. Berdasarkan SK Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 2087/D/T/2007 tertanggal 2 Agustus 2007, ciri program magister dimaksud adalah Linguistik Kebudayaan yang bermakna kajian linguistik berdimensi cultural studies. Sawirman adalah salah seorang perintis Program Magister Linguistik Universitas Andalas sesuai dengan SK Dekan Fakultas Sastra Nomor 41/XIII/D/F.Sastra-2006 tanggal 17 Februari 2006.

3. Respon positif dan rekomendasi lisan dari Prof. Dr. Herwandi, M.Hum (dosen Pascasarjana Program Ilmu Sejarah dan Linguistik Kebudayaan Universitas Andalas, sekarang Dekan Fakultas Sastra Unand) agar penulis terus mengembangkan e-135 menjadi Mazhab Linguistik Limau Manih (Universitas Andalas) yang disampaikan dalam forum informal di Fakultas Sastra tahun 2008. Sembari memberi usulan agar nama e-135 yang terkesan matematis diubah menjadi lebih bernuansa linguistis, Herwandi menambahkan mengatakan: “Orang baru berbicara soal Derrida, Sawirman sudah menempatkan pikiran Derrida dalam konstruksi berpikirnya”.

4. Respon positif dan rekomendasi lisan dari Fadlillah, M.Si (dosen Sastra Indonesia Universitas Andalas) dan Suryadi (Universitas Leiden) agar e-135 ditulis di jurnal internasional untuk mendapatkan pengakuan internasional (data lisan).

5. Apresiasi Prof. Dr. Oktavianus agar penulis terus mengembangkan e-135 “di forum-forum ilmiah”, disampaikan Beliau saat menyajikan makalah sebagai key note speaker dalam forum National Seminar on Language Literature and Language Teaching FBSS UNP Padang tanggal 11 Oktober 2008 (data rekaman).

6. Khanizar, S.Sn., M.Si (Dosen Sastra Daerah Universitas Andalas) sangat mengagumi teori e-135 terutama pada bagian tahapan dekonstruksionis. Ungkapannnya disampaikan dalam bahasa Minang yang bahasa Indonesianya kira-kira begini: saya merasa cukup banyak membaca buku tentang posmodernis, akan tetapi gebrakan pikiran pada bagian analisis yang diformat dengan puluhan lingkaran membuat saya salut. Khanizar juga berjanji akan menjadikan frame e-135 dalam salah satu artikel yang akan digarapnya (data lisan).

7. Adalah mantan Ketua Jurusan Sastra Inggris Drs. Josefino, M.Si., Dip. App.Ling menjuluki Sawirman dengan “Superman III”. Saat saya menindaklanjuti pertanyaan ini, mantan Kajur yang juga menempatkan Sawirman sebagai Tim Ahli dalam penelitian Hibah Strategis Dikti Tahun 2009 yang diketuainya itu hanya memberikan jawaban berupa analogi ala gurauan, “Superman I dan Superman II sudah ada, Superman III ya itu Sawirman” sembari memberi nasehat agar yang bersangkutan jangan lupa menjaga kesehatan.

8. Adalah Rima Devi, S.S (mantan Ketua Jurusan Sastra Jepang yang saat ini mahasiswa Magister Unpad Bandung) yang pernah menyampaikan secara terang-terangan dalam forum rapat fakultas tentang vitalnya peran learning consultant sembari menyampaikan hasil diskusinya dengan Sawirman seputar mata kuliah Syntax di Sastra Jepang).

9. Sambutan mahasiswa magister akan diutarakan pada uraian selanjutnya



Sebutan tersebut tidak terlalu berlebihan bila melihat kegigihan dan semangat juang Sawirman dalam berkarya. Bila Inggris dikenal memiliki daerah jajahan “di mana matahari terbit”, saya menyebut Sawirman dengan julukan “Matahari selalu terbit”. Saya menyaksikan ketangguhan Beliau menulis dan membaca dari “pagi sampai pagi”. Boleh dikata, selain kesibukan mengajar, ibadah wajib dan rutinitas harian, sisanya selalu digunakan untuk menulis dan membaca. Usut punya usut, rupanya kebiasaan ini sudah terbina sejak kuliah. Menurut pengakuan istri dan mertua Beliau, semasa kuliah terutama Program Doktor, Sawirman mampu membaca di lokasi yang sama sejak pagi sampai larut malam. Saat dikonfirmasi dengan Beliau, rupanya dia terinspirasi dari Abraham Lincoln. Menurutnya, mantan Presiden AS tersebut bukanlah sosok yang jenius seperti Einstein, tetapi bisa menjadi pemimpin legendaris karena kegigihannya.

Semasa studi, Beliau mampu melahap buku dalam satu hari bila hanya memiliki halaman sekitar 300-an. Saat dikonfirmasi tentang hal tersebut, Beliau menyebutnya dengan “CBSA” (cara baca buku sampai habis) sejak dari Kata Pengantar sampai Indeks dengan menandai bagian penting dan beri tanda tanya pada bagian yang tidak mengerti, setelah itu tulis saripatinya. Mungkin ada benarnya, saat diobservasi, sekitar dua ribuan buku yang saya amati dari pustaka pribadi Beliau memang habis dengan coretan, tanda tanya, dan lipatan.

Menurut saya, mungkin strategi belajar tersebut yang menyebabkan mengapa Sawirman mampu mencetuskan Teori 135 (Teori Analisis Wacana beretika), sekalipun yang bersangkutan menyebutnya dengan e-135 (hanya sebuah eksemplar atau model). Rupanya teori yang sudah dilahirkan secara de facto dan diseminarkan dalam beberapa forum sejak tahun 2002 tersebut, sudah digunakan untuk membedah disertasi setebal 500-an halaman dengan judul Simbol Lingual Wacana Politik Tan Malaka: Eksplorasi, Signifikasi, dan Transfigurasi.

Dalam perkembangannya, e-135 menurutnya mengalami modifikasi ontologis, epistemologis, dan aksiologis sekalipun tidak menjauhi dari maksud awal penciptaannya sebagai suatu konstruksi berpikir untuk menggali makna terdalam objek wacana, teks, dan tanda. Baik masukan, kritikan, dan input berharga maupun respon positif dan apresiasi lisan dan tulisan dari sejumlah pihak membuat penulis secara berkelanjutan merevisi e-135 agar semakin teruji secara akademis.

Penyebutan e-135 sebagai sebuah teori pembelajaran dan aplikasi linguistik yang menjanjikan di masa depan bukan hanya saya sendiri yang mengatakan. Teori e-135 serta persepsi banyak pihak dan mahasiswa magister linguistik Unand seputar teori e-135 Sawirman dapat dibaca secara lengkap di blog pembelajaran yang bersangkutan www.sawirman-e135.blogspot.com. Penulis sudah beberapa bulan membaca draf teori yang diberikan Sawirman dan membaca draf buku Simbol Politik Tan Malaka yang akan diterbitkan sebagai aplikasi praktis teori dimaksud.

Penulis juga memperhatikan konteks linguistik di tanah air, teori inilah salah suatu exemplar yang berpijak pada spirit ketimuran, kemanusiaan, objek terlupakan, masyarakat terhegemoni/termarjinalkan, dan spirit multi-disiplin berbasis ilmu sendiri seperti harapan cultural studies perlu dilahirkan dan diciptakan agar linguistik yang berada dalam ranah humaniora ini menjadi semakin humanis, bukan malah semakin sebaliknya. E-135 ditawarkan sebagai salah satu teori alternatif ke arah itu amat menjanjikan.


G.2 Penggagas Program Magister Linguistik Unand

Sawirman yang berpikiran terbuka menyadari dan sudah waktunyalah Linguistik Unand di lirik oleh dunia, oleh karena itu tahun 2006-2007 dia pun bersama teman-teman mengaggas berdirinya Pasca Sarjana Linguistik Unand. Melalui permintaan surat Direktur Pasca Sarjana No: 250/J.16.S2/LL-2006 kepada yang bersangkutan, Sawirman meluncurkan makalah dengan judul “Memaknai Linguistik melalui Cultural Studies”. Harapan baik itu pun terwujud dengan keluarnya SK Dikti No: 2087/D/T/2007 tanggal 2 Agustus 2007. Sampai sekarang Program Magister Linguistik Unand sepanjang pengetahuan saya sudah menerima tiga angkatan mahasiswa.


G.3 Pengkader Dosen Muda dan Mahasiswa

Mungkin pengalamannya yang malang melintang dalam dunia organisasi, upaya pengkaderan tampak sekali dalam setiap sepak terjang dan misinya. Beberapa contoh yang terlihat nyata antara lain sebagai berikut.

Pertama, selain Dra. Dian Rianita, M.A., semua staf redaksi Jurnal Linguistika Kultura yang dipimpinnya, umumnya diisi oleh para dosen muda (golongan III-b ke bawah). Misinya hanya menjadikan jurnal ini sebagai salah satu jurnal yang akan terakreditasi di Universitas Andalas. Setelah itu, menurutnya Sawirman akan menyerahkan tongkat estafet kepada yang muda-muda dan akan berperan di belakang layar (mungkin sebagai mitra bestari, katanya). Seiring dengan hal itu, bimbingan kepada penulis muda pun juga sering dilakukan agar sejumlah tulisan mereka dapat dimuat di jurnal ilmiah (termasuk di jurnal yang dipimpinnya).

Kedua, perannya sebagai learning consultant di Fakultas Sastra yang di-SK-kan oleh Dekan Fakultas Sastra juga diperuntukkan bagi dosen muda. Perannya sebagai salah seorang Learning Consultant sejak tahun 2007 antara lain diejawantahkannya bersama Tim dan Pembantu Dekan I Fakultas Sastra untuk mencanangkan SCL dan KBK dalam forum pembuatan RPKPS semua mata kuliah di Gedung E Universitas Andalas.

Ketiga, beberapa kali Sawirman juga sering dilibatkan untuk membimbing peneliti muda yang dibiayai oleh DIPA Unand. Selain yang lulus seleksi, seperti penelitian tentang bahasa kampanye dengan biaya DIPA Unand tahun 2007 yang menempatkan namanya sebagai pembimbing, beberapa di antaranya belum lulus seleksi. Sejumlah mahasiswa selalu dilibatkannya dalam setiap penelitian yang dilakukannya baik sebagai asisten peneliti maupun sebagai teknisi. Penelitian Hibah Bersaing tahun 2007 yang diketuainya melibatkan satu mahasiswa Strata II dan dua mahasiswa Strata I. Penelitian Hibah Bersaing tahun 2009 yang diketuainya melibatkan lima mahasiswa Strata II.

Keempat, tiga kali seminar bulanan fakultas dengan sponsor dana rutin diketuainya untuk mempersiapkan dosen muda untuk melanjutkan program pasca sarjana di manca negara sejak tahun 2006. Topik-topik yang dihadirkan pada kegiatan yang dihadiri para nara sumber tamatan S2/S3 luar negeri tiga kegiatan dimaksud memang ditujukan untuk merangsang pada dosen muda untuk studi lanjut, seperti (1) informasi beasiswa dan short course manca negara, (2) tata cara pengisian formulir, dan (3) filsafat penelitian.

G.4 Penyelamat Mahasiswa dengan “Buka Praktek Dokter”

Istilah ini Penyelamat Mahasiswa bukan saya yang mengemukakan. Adalah disebut oleh Condra Antoni di dalam Blognya, http://www.anacondra.co.cc/2009/01/cita-cita-saya-kok-overload-begini-oleh.html, ‘’Nah, akhir-akhir ini, saya sering telpon-telponan dengan Bapak Dr. Sawirman, yang merupakan “penyelamat” saya di Sastra Inggris Unand dulu. Bercerita dengan beliau sungguh saya betul-betul ingin menjadi ilmuwan linguistik yang berwawasan multicultural’’.





Condra Anthoni diambil dari http://condranasir.blogspot.com/




Saat ditanya apakah yang dimaksudkan Condra Anthoni (salah seorang mahasiswa brilian dan penulis) sebagai penyelamat seperti yang disebut dalam blog dimaksud, Sawirman juga tidak mengerti. Saya hanya menjalankan tugas kampus semaksimal mungkin, katanya. Konon kabarnya, salah seorang pembimbing Condra sempat mengundurkan diri di saat skripsinya sudah hampir rampung. Kedatangannya menemui Sawirman tampaknya menemukan solusi. Sawirman bersedia menggantikan posisi yang lowong tersebut sekalipun dalam waktu yang sangat mepet. Saat tinggal di rumah kontrakan, di Jalan Dr. Moh. Hatta alias Jalan Tunggang, saya sangat sering menyaksikan Sawirman membuka ruang konsultasi di atas sebuah palanta (tempat duduk dari papan besar) berwarna hijau, sejak usai Magrib sampai jam tamu habis setiap Jum’at malam sampai Minggu malam (terkadang sampai jam 11-an malam) seperti “Praktek Dokter”. Para mahasiswa yang pernah tinggal di sekitar Jalan Tunggang sekitar tahun 2006-2007 pasti bisa diminta kesaksiaannya.

Saya juga termasuk yang dibimbing Sawirman secara informal sekalipun Sawirman sendiri bukan terdaftar sebagai pembimbing I atau Pembimbing II saya. Adalah beralasan mengapa saya menyebut Beliau sebagai “Pembimbing III” alias tidak di-SK-kan. Sepanjang pengetahuan saya, peran Sawirman sebagai “Pembimbing III” bukan hanya saya sendiri, tetapi puluhan mahasiswa dari berbagai jurusan Sastra Inggris, Sastra Indonesia, dan Sastra Daerah. Sepengetahuan saya, Sawirman selalu meladaninya. Saya kenal dengan nama-nama mahasiswa dimaksud. Termasuk menyelamatkan mahasiswa-mahasiswa yang berkasus seperti Condra Anthoni. Sayang sejak tahun 2008, sekarang Sawirman sudah berdomisili di Perumahan Mewah (“perumahan mepet sawah”, istilah Beliau) yang agak jauh dari jangkauan mahasiswa. Alhasil, “Buka Prakteknya” terpaksa dilakukan di kampus (data rekaman video).

G.5 Pengayom Mahasiswa

Sebagai salah seorang penatar Pekerti dan AA (Applied Approach) di Universitas Andalas sejak tahun 2007, Sawirman memang selalu mencanangkan dan menerapkan SCL serta KBK dalam metode/strategi pembelajaran seperti yang dicanankan oleh Unesco, Dikti, dan Rektor Unand. Menurut Sawirman, saat ini mahasiswa bukan masanya lagi dijadikan sebagai objek pengajaran, tetapi harus dijadikan sebagai subjek pembelajaran. Diakuinya, penerapan metode SCL yang dibakukannya dengan e-135 bukan seperti membalikkan telapak tangan. Saat ini sekalipun berbagai metode SCL/KBK sudah dicoba untuk diterapkan antara lain melalui “metode panelis” (kelompok A presentasi dan kelompok B sebagai pereview makalah kelompok A dan seterusnya), peer review, tugas lapangan (real task), book review, article review, individual presentation, hingga pemberian kasus “ala blog PBL” dan discovery learning, akan tetapi tidak semua metode tersebut cocok untuk semua level (S1 dan S2) atau cocok untuk semua mata kuliah. Mata kuliah tertentu dan level tertentu tampaknya harus dikelola denga metode SCL tertentu. Diakui oleh Sawirman, metode dan strategi yang sama pernah diterapkan pada mata kuliah yang sama pada level berbeda tidak membawa hasil yang signifikan. “Metode panelis” yang pernah diterapkan pada level S1 dan S2 pada mata kuliah semiotika, ternyata dampak keberhasilannya lebih tinggi di Strata II daripada Stata I. Tugas lain kita yang juga masih sulit menurut Sawirman adalah mengubah imaji mahasiswa yang menganggap kehadiran dosen sebagai teacher, bukan sebagai fasilitator atau tutor. Terus terang saya masih terus mencari dan mencari metode yang tepat, akurat, dan praktis untuk semua level terutama semua mata kuliah baik yang saya asuh maupun bukan.

Sekalipun demikian, selain sebagai penyelamat, Sawirman juga salah satu sosok yang disenangi mahasiswa. Sosoknya yang terbuka di bidang keilmuan, metode SCL yang diaplikasikannya, serta kejujurannya untuk mengakui keunggulan mahasiswa membuat banyak mahasiswa merasa segan. Dian (mahasiswa non reguler Sastra Inggris) pernah menceritakan kepada temannya di Riau agar meniru strategi mengajar Pak Sawirman (data rekaman). Menurutnya, baru relatif terbatas dosen yang menerapkan metode SCL di Universitas Andalas, salah satunya adalah Pak Sawirman. Tentu tidak hanya Khairul Huda (alumni jurusan Sastra Inggris) yang sangat memuji cara dan sikap Sawirman dalam merangsang mahasiswa belajar dan berinterpretasi, tetapi juga Ica, Mona, serta ratusan mahasiswa yang tergabung dalam sejumlah mata kuliah. Adalah Ca Ud yang amat kecewa saat Sawirman tidak sempat menghadiri acara wisudanya karena Sawirman berhalangan, padahal Ca Ud mau memperkenalkan Sawirman dengan orang tuanya. Non Martis selaku mahasiswa S2 Linguistik Angkatan ke 2 menyatakan pula dalam sms-nya kepada saya berupa sikap terharu, dinyatakannya, ’’rasa kangen ingin bertemu lagi dengan Pak Sawirman di dalam kuliah Bahasa dan Ideologi’’. E-135 yang sedang dikembangkannya untuk kepetingan pembelajaran, penilaian, dan pengaplikasian linguistik ke dunia realitas mendapat sambutan positif dari mahasiswa. Silakan baca blog Beliau www.sawirman-e135.blogspot.com sebagai buktinya. Bisa dilihat bahwa Sawirman adalah sosok yang mampu mengayomi mahasiswa.

G.6 Kepala Labor Bahasa, Pimred, Koordinator MKDU, dan PHKI

Suasana yang mengharu biru terus diisi dengan kreativitas dan karya intelektual oleh Sawirman. Bulan Juli 2006 dia pun terpilih melalui forum jurusan dan fakultas sebagai Kepala Labor Bahasa Universitas Andalas yang di-SK-kan Rektor hingga tahun 2010. Masih pada tahun yang sama 26 Mei 2006 dia pun terpilih menjadi kandidat konsultan Diknas Sumatera Barat sebagai utusan Univesitas Andalas. Visi-Misi Pengembangan Kapasitas (Building Capacity Pendidikan SMP di Sumatera Barat adalah tulisan yang disampaikannya kala itu. Sejak Januari 2007 sampai saat ini dia juga terpilih untuk menjadi Pimpinan Redaksi (Pimred) sekaligus Editor Ahli Jurnal Linguistika Kultura (3 volumes/year) di Fakultas Sastra Unand. Tahun berikutnya Januari hingga Desember 2008 dia terpilih kembali menjadi Co-ordinator of English for Academic Purposes (MKDU) of Andalas University dan untuk tahun 2009 dia juga di-SK-kan Rektor sebagai salah satu tim penyusun proposal PHKI (Program Hibah Kompetisi Berbasis Institusi) Dikti di Universitas Andalas. Setelah proposal dinyatakan lulus, jabatan sekretaris untuk mengelola PHKI dimaksud pada Jurusan Sastra Inggris Unand dipercayakan kepadanya selama tiga tahun.



G.7 Ketua Penyusun Buku Panduan Labor Bahasa Dikti

Sejak bulan Juni hingga Desember 2007 dia juga diserahi tugas oleh DIKTI sebagai Ketua Penulis Buku Panduan Labor Bahasa Berbasis Standar Minimal untuk Universitas di Indonesia. Setelah survei lapangan di Jawa dan Sumatera serta tiga kali pertemuan di Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta, draf buku tersebut akhirnya difinalisasi di Yogyakarta bulan Desember 2007 yang selanjutnya diserahkan ke Tim Dikti untuk di follow up (dicetak).



G.8 Ketua Panitia dan Pemakalah di Forum Alumni Unand

Tanggal 28 November 2006 dia juga mengetuai Mubes Nasional English Alumni Department. Selain sebagai Ketua Panitia, pada acara yang disponsori oleh PHK-A1 DIKTI tahun 2006 tersebut, Sawirman juga berperan sebagai pemakalah tunggal dengan judul “Jurusan Sastra Inggris: Sebuah Analisis Swot”.



G.9 Memfasilitasi Pelatihan Menulis

Selain tiga kali seminar bulanan yang diketuainya untuk mempersiapkan dosen muda untuk studi lanjut di manca negara sejak tahun 2006 seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, tanggal 16 Maret 2007 dia juga mewujudkan tulisan Pendekatan Kualitatif-Kuantitatif dan Pemaduannya dalam Mewujudkan Penelitian Linguistik Berbasis Cultural Studies dalam Monthly Seminar of Letters Faculty (Series II) yang amat membantu para dosen muda untuk membuat proposal penelitian ke manca negara. Melalui SK Rektor No: 12331/XIII/A/Unand/2008, Sawirman juga mengetuai pelatihan penulisan ilmiah untuk para staf dosen di Universitas Andalas tahun 2008.



G.10 sebagai Tim Ahli

Sawirman pernah dipercaya sebagai Tim Ahli dalam dua penelitian Hibah Strategis sesuai Prioritas Nasional yang diketuai oleh (1) Drs. Josefino, M.Si., Dip. App.Ling tentang pekerja outsourcing untuk pengentasan kemiskinan di Sumatera Barat dan (2) penelitian Khanizar, S.Sn., M.Si. tentang Anjal dan Gepeng di Sumatera Barat.



G.11. Pembimbingan Mahasiswa

Saat ini melalui “Buka Praktek Dokter”-nya dia sudah membimbing dan menguji ratusan mahasiswa Strata I dari berbagai jurusan (Sastra Inggris Unand, Sastra Jepang Unand, Tadris IAIN Imam Bonjol Padang). Tiga mahasiswa Strata II Magister Linguistik Unand dan satu Mahasiswa Strata III (Doktor) Wacana Sastra Universitas Udayana tahun ini juga dibimbing oleh pencipta Format Penilaian dengan format ICT sederhana yang sudah diaplikasikan sejak akhir tahun 2007 di Universitas Andalas ini.

Beberapa draf buku ajar sudah diselesaikan tetapi baru dua buku ajar yang Insya Allah siap beredar di akhir tahun ini. Sejak 2006 sampai sekarang, Sawirman sudah pernah memegang 27 (dua puluh tujuh) mata kuliah di Program Magister Linguistik dan Strata Satu Universitas Andalas.



G.12 Penatar Pekerti/Applied Approach (AA)

Sejak tahun 2007 hingga sekarang, dia juga diserahi tanggung jawab sebagai instruktur dalam pelatihan Pekerti (pelatihan pengajaran untuk dosen muda) dan Applied Approach (pelatihan pengajaran untuk dosen senior) yang diadakan secara rutin oleh Universitas Andalas di bawah naungan P3AI of Universitas Andalas. Sejumlah topik yang pernah dipresentasikannya adalah (1) pada AA XXIX bertemakan Constructivism, forum Pekerti XVII bertemakan Dasar-dasar Komunikasi, selanjutnya pada Meret tahun 2008 di forum AA XXIX bertemakan Alternative Assessment, 20 Agustus 2008 di forum Applied Approach Workshop XXXIV bertemakan Alternative Assessment, 28 Agustus 2009 di forum yang sama dengan tema Dasar-dasar Komunikasi dan Keterampilan Mengajar, 16 April 2009 di forum PEKERTI XXII bertemakan Evaluasi Hasil Belajar, 29 mey 2009 di forum PEKERTI XXII dan XXIII bertemakan Dasar-dasar Komunikasi dan Evaluasi Hasil Belajar, di forum PEKERTI Workshop XXIII 25-29 Mai 2009 bertemakan Evaluasi Hasil Belajar, di forum AA XXIX bertemakan Kontrak Perkuliahan, dan 1-4 Juni 2009 dan 21 juli 2009 di forum Applied Approach XXXVI dan forum Applied Approach XXXVII mengusung tema yang sama Alternative Assessment.



G.13 Reviewer

Dengan karir yang cukup bagus tersebut dia pun dipercaya oleh Unand dan Lembaga Penelitian sebagai Reviewer. Terhitung sejak tahun 2006 hingga 2008, editor ahli jurnal Linguistika Kultura sudah diminta sebagai reviewer dalam DIPA Research Reports, BBI Reports/(Young Lecturer Category), dan Hibah Bersaing and Fundamental Research. Namun, di bidang kepenulisan dia pun aktif sebagai editor ahli Working Papers in Edita Pusat Informasi dan Dokumentasi (Pusindok) Universitas Andalas.



G.14 Penelitian

Di bidang penelitian Sawirman juga aktif sebagai ketua peneliti. Sejak tahun 2006 hingga 2009, Sawirman sudah mengetuai sejumlah penelitian, yakni (1) Teaching Grand of Dikti (tahun 2006), (2) Kajian Keberadaan Sekolah Unggul/Kelas Unggul untuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sumatera Barat (dibiayai Balitbang Sumatera Barat tahun 2007), (3) Hibah Bersaing Dikti berjudul Simbol Lingual, Simbol Material dan Wacana Fotografis serta Kontribusinya kepada Kebijakan Nasional dan Revisi Undang-undang Antiterorisme (tahun 2007). Di tahun 2008, Sawirman mendapat dua award dari Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Sumatera Barat dalam tulisan berbasis penelitian berjudul Profil dan Multiefek Pariwisata Sumatera Barat (tahun 2008), Seni Tradisional sebagai Aset Pariwisata Sumatera Barat. Tahun 2009, yang bersangkutan mengetuai penelitian berjudul Program Pengembangan Pembelajaran Linguistik Berbasis Kompetensi dan Cultural Studies menuju Pembentukan Kurikulum Magister Linguistik dan Mazhab Linguistik Universitas Andalas melalui sponsor Hibah Bersaing DP2M DIKTI.



G.15 Makalah dan Artikel Ilmiah

Untuk urusan tulis menulis artikel, sang pemenang Award peneliti muda Universitas Andalas tahun 2008 ini tidak perlu diragukan. Memasuki tahun 2008, 25 Januari dia diundang sebagai pembicara oleh Universitas di Plaza Rocy Hotel yang bertemakan ’Jadikan Ancaman sebagai Peluang: Overview Pengembangan SMA di Sumatera Barat’. Kemudian masih pada tahun yang sama beliau dipercaya sebagai Learning Consultant for Lecturer Staff at Letters Faculty, namun fenomena itu tidak memupuskan semangatnya untuk berbuat. 11 Juni 2008 dia mulai mempromosikan paradigma barunya, dengan tema ‘Menciptakan Paradigma Wacana Berdimensi Cultural Studies (Disebut dengan “Eksemplar 135”)’ dia mewakili Fakultas Sastra dalam Selection Forum of lecturer achievement yang diadakan oleh Universitas Andalas, 21 Agustus 2008 disambung dengan Workshop of Applied Approach dengan judul e-135 sebagai Model Penilaian Alternatif Mata Kuliah Wacana, juga diadakan oleh Universitas Andalas.

Tidak berhenti di situ, Sawirman juga dilirik oleh Universitas lain seperti STAIN. 27 Agustus 2008 dia diundang sebagai pembicara di STAIN dengan tema E-learning, E-book, E-journal, E-mail: Strategi Belajar di Perguruan Tinggi, berlanjut kepada FBSS UNP sejak tangal 10-11 Oktober 2008 dalam ‘A National Seminar on Languages Literature and Language’ dengan topik pembicaraan Selamatkan Linguistik dengan e-135.

Di bidang kepenulisan (artikel dalam buku editor), Sawirman juga ikut andil menulis “Cultural Studies dan “Kemerdekaan Linguistik” dari Ranah Positivis, Nomotetis, dan Fondasionalis” serta “Kajian Linguistik Indonesia Kehilangan Esensi: Promosi Wacana Politik dan Eksemplar 135” yang masing-masingnya diterbitkan oleh Universitas Udayana tahun 2007 dan Universitas Andalas tahun 2009. Sementara itu, di jurnal Linguistika Kultura sendiri tahun 2008, Sawirman pernah menulis artikel review, antara lain berjudul “Teori Komunikasi Anna Wierzbicka Berbasis Cultural Studies”, “Filsafat Wacana Berbasis Cultural Studies Paul Ricoeur”, “Suprasegmental sebagai Lahan Cultural Studies” dan “E-135 dan Filsafat Seni Neo-formalisme Berdimensi Cultural Studies di Mata Noel Carrol”.

Kemudian, sebagai pimpinan editor jurnal, beberapa buah tulisan juga dikeluarkan Sawirman, antara lain berjudul “Wujudkan Mazhab Linguistik/Sastra di Indonesia”, “Tipologi Bahasa dan Wacana Perbudakan dalam “Eksemplar 135” dan Cultural Studies”, “Wacana Dakwah dalam Ranah Cultural Studies dan E-135”, serta “Memposisikan Halliday dalam Frame Cultural Studies dan E-135”.

Sawirman juga menulis beberapa buah artikel di jurnal yang berbeda di Indonesia di antaranya INDONESIAN JOURNAL OF CULTURAL STUDIES tahun 2006 dengan judul artikel “Eksemplar 135” dalam Teks Politik Tan Malaka (Sebuah Paradigma Alternatif “Cultural Studies”) dan dalam jurnal APRESIASI SENI tahun 2008 dengan judul artikel Wacana/Seni Tradisi: Apresiasi Cultural Studies Menuju Wisata Budaya Sumatera Barat. Selanjuntya dia juga menulis artikel fundamental di Jurnal Linguistika Kultura tehitung sejak 2007 hingga 2008 dengan judul artikel “Cultural Studies: Dimensi Pengembangan Linguistik Masa Depan”, “Eksemplar 135”: Embrio Mazhab Linguistik Unand Berdimensi Cultural Studies”, “Hermeneutika: “Payung E-135” Merangkul Cultural Studies”, ”E-135 Mempertalikan Paradigma (Formalis, Kritis, dan Cultural Studies)“.



G.16 Kiprah dalam International Forum

Selain pernah mengikuti Kongres 22nd Annual Applied Linguistics Association of Australia (ALAA) Congress, tanggal 19 Juli hingga 15 Agustus 2006 dalam kegiatan The Estimation of the Annual Risk of Tuberculosis Infection in Different Provinces of Indonesia yang diadakan oleh WHO and Department of Health Indonesia, Sawirman dipercaya sebagai salah seorang interpreter. Sawirman juga ikut terlibat dalam meliput forum PrepComm IV bulan Mei sampai Juni 2002 yang disponsori oleh PBB (UNITED NATIONS) dengan tema World Summit on Sustainable Development (WSSD). Di antara report yang pernah ditulis oleh Sawirman yang dimuat dalam Bulletin IPF adalah (1) Indonesia Needs Integrated Water Policy 26 Mei 2002, (2) A Drop of Water Means a Lot of to the Walking Skeletons 27 Mei 2002, (3) Whoever Caused the Damage Must Pay for It 3 mei 2002, (4) US$ 290 in Aid Drowns 10 Villages 1 Juni 2002, (5) On the Sexual Exploitation of Children 4 Juni 2002, (6) We Need a National Commission on Children 4 Juni 2002, (7) Fight Neo-liberalism 5 Juni 2002, (8) Indigenous People Fight for Their Rights 5 juni 2002, dan (9) Indonesian Minister of Welfare Tough on PREPCOMM IV 7 Juni 2002.

Sebagai salah seorang yang berani membuat pardigma baru, penulis tulisan“Presiden Iklan RI” dalam Padang Ekspres ini terus aktif melakukan promosi e-135, baik di blog maupun di jurnal. Di dalam blognya, Sawirman telah memunculkan beberapa tulisan terkait tentang e-135 sehingga blog tersebut dinamakannya dengan sawirman-e135.blogspot.com, sementara di dalam berbagai jurnal, puluhan tulisan bertemakan e-135 sudah diuntai.



G.17 Awards

Sawirman juga pernah memperoleh beberapa Award, antara lain (1) 18 Maret 1995 sebagai the Best Graduate/as having achieved the Highest Grade Point Average in English Diploma Graduate, on March 18, (2) 4 Agustus 2005 sebagai The Best Graduate/as having achieved the Highest Grade Point Average of Doctorate Graduate oleh Universitas Udayana, (3) Agustus 2007 To represent Faculty of Letters to follow Andalas University Award oleh Fakultas Sastra Unand, (4) 24 April sebagai The Best Lecturer Achievement of Letters Faculty oleh Fakultas Sastra Unand, (5) 11 Juni 2008 sebagai The Third Winner of Lecturer Achievement in Andalas University Selection 2008 oleh Rektor Unand, (6) Juli 2008 sebagai The Best Researcher of Letters Faculty oleh Fakultas Sastra Unand, (7) Juli 2009 sebagai The Best Researcher Achievement of the Social Category in Andalas University Award 2008 oleh Rektor Unand, (8) Juli sampai Agustus 2008 sebagai The Best Writer in Tourism Academic Papers Category (for West Sumatra Province level) oleh Head of Disparsenibud (Board of Tourism, Art, and Culture) Sumatra Barat, (9) Juli sampai Agustus 2008 The Best Writer in Art Academic Papers Category (for West Sumatra Province level) oleh Head of Disparsenibud, Sumatra Barat .



G.18 Obsesi Lima Tahun ke Depan

Suami dari Yessy Markolinda, M.Repro (Dosen PSIKM Fakultas Kedokteran Unand) ini akan tetap mempromosikan teori linguistik terapan e-135-nya sampai ke kancah internasional, baik melalui Penelitian Post Doktoral atau International Journal maupun melalui International Joint Research. Tahun ini, kata Sawirman dia sudah mengantongi tiga Letter of Support dari salah satu universitas ternama di Australia, tinggal menunggu keputusan dari Dikti ungkapnya mengakhiri. Selamat Berjuang e-135.



September 2009, M. Yunis.


3 komentar:

Syayid Sandi Sukandi mengatakan...

I do really proud to read all his great achievements. Hope that one day I can be the same as him.

Congratulation, mr Sawirman!

Anonim mengatakan...

Saya mengenal kanda Sawirman sejak tahun 1991, pada semester pertama saya menginjakkan kaki di Kampus Ungu (Kampus Selatan FPBS) IKIP Padang.

Bagi saya kanda Sawirman bukan hanya sebagai senior, tetapi lebih dari itu dia adalah teman berdiskusi, pemberi inspirasi dan kawan bermain.

Kanda Sawriman memang gigih, saya tidak heran dengan pencapaiannya. Dia sudah terbiasa bekerja di luar pakem yang ada pada zamannya.

Mengambil Magister dan Doktor di Udayana, jadi dosen di Univ. Andalas adalah pencapaian terbaiknya dengan segudang prestasi tentunya.

Ada satu hal barangkali yang barangkali penting saya kemukakan tentang Sawirman yang tidak diketahui banyak orang:
1) Sawirman masuk jurusan bahasa Inggris IKIP PAdang dan bertemu dengan banyak ornag yang seide dengannya. Dampaknya adalah banyak kawan seangkatannya yang memiliki achievement yang menyerupainya. Banyak angkatan 89 yang bekerja dan berprestasi di luar bidang pengajaran bahasa Inggris.Silakan tanya Kanda Sawirman tentang hal ini.

2)Sebagai junior, dengan persepsi dan kegigihan yang pernah kami diskusikan beberapa kali, banyak juniornya yang bekerja dan berprestasi di luar bidang pendidikan.

3) saya termasuk yang terinspirasi dengan hal-hal yang kami diskusikan dalam kurun waktu 1991-1994. Pertemuan dengan Kanda Sawirman pada bulan November 2000 pada saat sama-sama mengikuti LPJ di Padang Besi merupakan inspirasi bagi saya untuk berprestasi. Alhamdulillah, saya jadi satu di antara beberapa juniornya yang sukses berkiprah di luar bidang pendidikan bahasa Inggris. Tahun 2006 saya tamat dari Program Studi Ilmu Ekonomi Program Pasca Sarjana FE UI.

Dalam kurun waktu 2004-2006 ketika sedang mengikuti pendidikan di UI saya terus mencari info tentang kanda sawirman. Akhirnya saya tahu dia sudah Doktor tahun 2005.

Pertemuan terakhir dengan kanda Sawirman adalah tahun pada saat lebaran 2008, ketika kami sam-sama menghadiri reuni.

Sukses untu kanda Sawirman.

Nalfira S. Pamenan

Muhammad Yunis mengatakan...

terima kasih atas kemonter dari Bpak/Ibuk Nalfira S. Pamenan. salam M.Yunis, SS

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987