Selasa, 15 Desember 2009

LINGUISTIK STRUKTURAL

Oleh M. Yunis*

PENDAHULUAN

Pada zaman moderen yang ditandai dengan renaisance dan Aufklarung pemikiran filsuf-filsuf beralih kepada pengetahuan alam moderen, seperti copernicus, johanes kepler, Galileo galilei dan Francis bacon. Begitu juga terhadap ilmu pengetahuan tentang bahasa, sebab bagimanapun juga bahasa sangatlah berguna untuk pengembangan metode ilmiah, logika dan epistemologi. Bersaman dengan itu, filsuf tersebut juga memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan analitik bahasa, seperti Rene Descartes dengan metode skeptisnya. Di Inggris pun terjadi demikian, seperti yang digalakan oleh John Locke, Thomas Hubes, Imanuel Kant dan David Hume, sehingga melahirkan Atomisme Logis di Inggris dan kemudian mempengaruhi aliran Psitivisme Logis serta Filsafat Bahasa Biasa.
Di Prancis terdapat pula perubahan yang sangat besar yang dipelopori oleh Ferdinan De Sausure, yang mana dia langsung meletakan dasar-dasar Filosofi bahasa pada Lingusitik. Pandangan ini muncul akibat reaksi dari ilmu bahasa tradisional. Kemudian ilmu bahasa baru ini dinamai dengan linguistik moderen yang dijiwai oleh strukturalisme. Hal ini membawa pengaruh yang cukub besar bagi perkembangan filsafat bahasa di Amerika, yang mana tokohnya yang terkenal adalah Bloomfield dan juga tidak ketinggalan di Indonesia sendiri. Alhasil, perhatian para filsuf terhadap bahasa yang menganggap bahasa sebagai objek material membopong lahirnya paradigma baru bagi perkembangan aliran-aliran linguistik.

PEMBAHASAN
1. Lahirnya linguistik Struktural
Ferdinan De Sausure sebagai pelopor strukturalisme, ternyata sejak dia remaja sudah menyenangi bahasa, karyanya yang berangkat dari Lingusitik historis cukup membesarkan namanya. Sebagai seorang filsuf yang predikat lulusnya magna cumlaude, maka sudah sepantasnyalah membangun sebuah disiplin linguistik baru yang kemudian memuncul dengan nama Lingusitik Strukturalis. Hal itu berawal dari mengajar di Universitas Paris sampai tahun 1891 yang mana spesifikasinya bahasa sanskerta dan linguistik komperatif, kemudian mengajar linguistik umum sampai 22 Februari 1913, ternyata berdampak baik bagi perkembangan linguistik selanjutnya. Alhasil, tiga seri kuliahnya tentang linguistik umum dikumpulkan oleh mahasiswanya dan dibukukan kemudian lahirlah linguistik moderen itu (Sausure, 1988).
Hal-hal yang menarik perhatian terhadap pandangan Sausure adalah tentang telaah sinkronik dan diakronik, perbedaan langue dan parol, perbedaan signifian dan signifie, dan hungan paradigmatik dengan sintagmatik.
a. Telah sinkronik dan diakronik
Telaah sinkronk menurut Susure adalah mempelajari bahasa dalam kurun waktu tertentu saja, sedangkan telaah dia kronik adalah telaah bahasa sepanjang masa, sepanjang zaman bahasa itu dugunakan oleh penuturnya (Chaer, 2003; 347), contohnya mempelajari bahasa Minangkabau harus dimulai dari sejak Minangkabau itu ada. Jadi telaah bahasa secara diakronik lebih sulit dari pada telaah sinkronik. Selama buku Sausure belum terbit bahasa hanya dikaji secara Diakronik, baru setelah buku itu ada barulah bahasa dikaji secara sinkronik, dimana bahasa dikaji dalam suatu kurun waktu tertentu saja. Hal inilah yang cukup menggugah bagi para linguis setelahnya.
b. La langue dan La Parole
Sejalan dengan di atas Sausure juga memperbandingan antara La langue dengan La parole. La langue adalah keseluruhan sistem tanda yang berfungsi sebagai alat komunikasi verbal antara para anggota suatu masyarakat bahasa, sifatnya abstrak. Sedangkaan La parole adalah realisasi La Langue oleh masyarakat oleh masing-masing angota masyarakat suatu bahasa, sifatnya konktrit karena La Parole itu tidak lain dari pada realitis fisis yang berbeda dari suatu individu dengan individu lain, inilah yang dapat diteliti karena wujudnya konkrit (Chaer, 2003; 347).
c. Signified (penanda) dan Signifier (petanda)
Sausure menyatakan bahasa adalah sistem tanda, suara-suara dapat dikatakan sebagai bahasa apabila dapat mengekspresikan, menyatakan ide-ide, pengertian tertentu, karena itu bahasa harus merupakan sitem konvensi dan juga merupakan sebagian sistem tanda. Tanda merupakan kesatuan dari suatu bentuk penanda dengan sebuah ide (petanda), keduanya tetap komponen tanda walau keduanya terpisah. Tanda adalah fakta dasar dari bahasa (Culler dalam Ahimsa Putra 2006: 35). Suara yang muncul dianggap sebagai penanda, sementara isi, ide adalah petanda seperti sebuah kertas yang mempunyai dua sisi. Sedangkan tanda kebahasaan adalah sebuah entitas yang arbiter yang mana hubungan antara elemen-elemen penanda dengan petanda semena-mena, tidak ada hubungan yang alami. Seperti babi disebut oleh orang Toboh Pariaman dengan kundiak, ciliang bagi masyarakat katapiang. Oleh karena itu yang dapat menentukan penanda adalah penanda, petanda adalah petanda itu sendiri adalah relasi.
Oleh karena itu Sausure membagi tanda ke dalam 2 bentuk, Signified dan signifier. Signified adalah citra bunyi atau kesan psikologis bunyi yang timbul dalam pikiran kita, sedangkan signifier adalah kesan makna yang timbul dalam pikiran kita (Chaer, 2003; 348). Kedua bidang tanda ini saling berkaitan satu sama lainya, hal inilah yang melatari lahirnya konsep semiotik Sausure (semiotik Struktural).
Jadi menurut Sausure: a) Tidak ada relasi alami antara penanda dengan petanda, b) Penanda dan petanda adalah pembagian yang semenan-mena, c) Penanda dan petanda ditentukan oleh relasi dengan penanda dan petanda yang lain, dan d) Unit kebahasaan bukanlah suara-suara yang kita hasilkan, tetapi unit abstrak yang penuh relasional.
d. Hubungan sintagmatik dan paradigmatik
Hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat di dalam suatu tuturan, tersusun secara berurutan dan bersifat linear (Chaer, 2003; 349). Hubungan seperti ini terdapat di dalam fonologi, morfologi dan sintaksis. Di salam fonologi dapat kita lihat dalam kata ‘saya’, ururutan fonem yang membangun kata ‘saya’ tidak dapat dirubah tanpa merusak makna kata ‘saya’. Begitu juga di dalam morfologi tidak dapat dirubah tanpa merusak makna kata itu, seperti kata ‘rumah makan’ tidak bisa dirubah menjadi ’makan rumah’. Sedangkan pada tataran sintaksis mungkin bisa dirubah, tetapi menimbulakan dua akibat; pertama makna kata berubah dan kedua makna kata tidak berubah.
Contohnya: Hari ini Fauza tidak hadir
Fauza tidak hadir hari ini
atau
Cina kampung
Kampung cina
Sedangkan hubungan paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat di dalam suatu tuturan degan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat di dalam tuturan yang bersangkutan (Chaer, 2003; 350). Hubungan ini dapat dilihat secara subsitusi baik pada tataran fonologi, morfologi maupun sintaksis.
Contohnya;
Fonologi, adanya fonem /k/, /g/ dan /d/, pada kata karam, garam, daram, maram.
Morfologi, pada prefik di-, ter-, dan meng-, pada kata diobat, terobat, mengobat.
Sintaksis, penenmpati posisi subjek, predikat dan objek, seperti pada kaliamat;
Andi membaca koran
Ani menyapu rumah
Ayah pergi ke ladang
e. Wadah
Menurut sausure bahasa harus mengandung differential structure, adanya sebuah sitem untuk membedakan kata-kata dan bahasa merupakan sebuah sistem dari istilah-istilah yang saling tergantung dimana nilai dari setiap istilah adalah hasil dari kehadirannya yang lain sekaligus dan ditentukan oleh lingkungannya. Jadi nilai-nilai dari bahasa muncul dari sitem, bahasa mempunyai nilai karena dia bersifat differensial, berbeda dan nilainya ditentukan bukan oleh isi positifnya tetapi ditentukan secara negatif oleh relasi-relasi dengan istilah lain dalam sebuah sitem.



2. Aliran Praha
Pada tahun 1926 yang dipelopori oleh Vilem Mathesius (1882-1946) lahirlah aliran praha, diiringi oleh Nikolay S. Trubetscoy, Roman Jakobson, dan Morirs Halle. Di bidang fonologi perbedaan fonetik dengan fonologi sangat diutamakan, fonetik mempelajari bunyi-bunyi dan fonologi mempelajari bunyi itu di dalam sitem. Struktur bunyi dijelaskan dengan memakai kontras dan oposisi. Kemudian digolongkan bunyi kedalam bunyi tidak distingtif yang mana bunyi itu tidak menimbulkan perbedaan makna, maka bunyi itu disebut tidak fonemis, sebaliknya bunyi dikatakan destingtif apabila bunyi menimbulkan perbedaan makna.
Bunyi yang dikatakan destingtif seperti pada fonem /p/ dan /b/, seperti pada kata ‘pada’ dan ‘bada’, kedua kata ini memiliki makna yang berbeda karena adanya fonem /p/ dan /b/. Sebaliknya ada pula bunyi yang tidak destingtif seperti yang terjadi pada bahasa jepang pada fonem /l/ dan /r/, dan perbedaan fonem pada akhir kata, hal ini hanya bersifat varian saja, seperti fonem /b/ dan /p/, contohnya dalam kata ‘jawab’ dan ‘jawap’, maka bunyi ini tidaklah destingtif. Maka, ketiadaan oposisi atau kontras inilah yang dinamakan dengan netralisasi dan varian yang dihasilkannya disebut akrifonem, lazimnya dilambangkan dengan huruf besar.
Seiring dengan itu, di dalam bidang fonologi aliran praha juga memperkenalkan konsep morfonologi, yaitu bidang yang meneliti tentang perubahan-perubahan fonologis yang terjadi sebagai akibat hubungan morfem dengan morfem (Chaer, 2003; 353). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa antara fonem /b/ dan /p/, tetapi apabila diberi sufik –an maka hasilnya tetap jawaban dan bukanlah jawapan. Di bidang sintaksis tokoh Praha ini juga menelaah kalimat dengan pendekatan fungsional, seperti yang dilakukan oleh Vilem Mathesius. Menurutnya kalimat dapat dilihat dari struktur formalnya/gramatikal (subjek dan prediket) dan juga dari struktur informasi yang terdapat dalam kalimat yang bersangkutan, yaitu mengangkut situasi faktual saat kalimat itu dihasilkan. Unsur itu dinamakan dengan rema dan rema, tema adalah apa yang dibicarakan sedangkan rema adalah apa yang dikatakan dengan tema (menerangkan tema).
Contohnya dalam kalimat ‘Andi merayu laila’, di sini Andi sebagai subjek gramatikal sedangkan Laila objek gramatika, namun keduanya dapat bertukar posisi menjadi seperti ini, ‘’Laila merayu Andi’. Namun begitu subjek gramatikal tidak selalu berada di depan seperti halnya yang terjadi dalam Bahasa Inggris. Contohnya, ‘This moment I go back’. Subjek gramatikal adalah I, dan objek gramatikalnya dalah This moment, namun menurut alirah praha This moment adalah tema (subjek psikologis) dan I go back adalah rema (objek psikologis).

3. Aliran Glosematik
Aliran ini lahir di Denmark yang dipelopori oleh Louis Hjemslev (1899-1965), dia adalah penerus Sausure. Analisisnya ini dimulai dari wacana, analisis atas konstituen-konstituen yang mempunyai hubungan paradigmatik dalam rangka forma, substansi, ungkapan, dan isi, yang akhirnya menghasilkan glosem, morfem menurut Bloomfield.
Sejalan dengan itu dia mengatakan teori bahasa harus merupakan suatu sistem deduktif semata-mata (bersifat sembarangan) dan harus dapat dipakai sendiri untuk dapat memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang timbul dari premis-premisnya. Kemudian bahasa dianggapnya mengandung 2 segi, ekspresi dan isi, masing-masingnya mengandung forma dan substansi, sehingga akhirnya memperoleh forma ekspresi, substansi skspresi, forma isi dan substansi isi. Menurutnya forma dan subtansi berlaku untuk semua hal yang ditelaah secara ilmiah sedangkan isi dan ekspresi hanya berlaku untuk telaah bahasa saja.

4. Aliran Firthian
John R. Firth (1890-1960) ialah salah seorang guru besar di Universitas London, dia terkenal dengan fonologi pasodinya dan pandangannya tentang bahasa, katanya telaah bahasa harus memperhatikan komponem sosiografis, yang mana pada intinya bahasa dikaji berdasarkan situasinya. Sedangkan pasodi menurutnya suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Teori ini terdiri dari fonematis yaitu berupa unsur-unsur segmental (konsonan dan vokal) dan satuan pasodi yaitu ciri-ciri atau sifat-sifat struktur yang lebih panjang daripada suatu segment tunggal.
Ada tiga pokok utama dalam pandangan pasodi John R. Firth ini, di antaranya:
a. Pasosi yang menyangkut gabungan fonem: struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan, dan gabungan vokal.
b. Pasodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda.
c. Pasodi yang realisai fonetisnya melampaui satuan yang lebih besar daripada fonem-fonem suprasegmental.

5. Linguistik Sistemik
Aliran ini ditokohi oleh MAH Haliday seorang penerus Firth yang mengembangkan teori mengenai bahasa. Dia juga dikenal dengan Neo-Firthian Lingustics, kemudian bermetamorfosa menjadi Sytemic Linguistics. Di dalam aliran ini mengemukan beberapa pandangan tentang bahasa, di antaranya:
a. Lingusistik sitemik memberikan perhatian penuh pada segi kemasyarakatan bahasa, terutama mengenai fungsi kemasyarakatan bahasa dan bagaimana fungsinya terlaksana dalam bahasa.
b. Memandang bahasa sebagai pelaksana dengan mengakui pentingnya perbedaan antara langue dengan parole.
c. Lebih mengutamakan pemerian ciri-ciri bahasa tertentu serta variasi-variasinya, dan kurang tertarik pada semestaan bahasa.
d. Mengenai adanya gradasi atau kontinum, sebab batas butir-butir bahasa seringkali tidak jelas. Seperti bentuk gramatikal dan bentuk tidak garamatikal sering tidak jelas batasannya.
e. Menggambarkan tiga tatarn utama bahasa, yaitu subtansi, forma dan situasi. Subtansi adalah bunyi yang diucapkan pada waktu berbicara dan lambang yang digunakan waktu menuli. Pada bahasa lisan disebut subtansi fonis, pada bahasa tulis disebut subtansi grafis. Forma adalah susunan subtansi dalam pola yang bermakna. Forma ini dibagi menjadi dua bagian; 1) leksis yaitu menyangkut butir-butir lafas bahasa dan pola tempat butir itu terletak, 2) gramatika yaitu yang mengangkut kelas-kelas butir bahasa dan pola-pola tempat terletaknya butir bahasa tersebut. Sedangkan situasi meliputi tesis, situasi lansung dan situasi luas. Tesis itu sendiri adalah apa yang dibicarakan, situasi lansung merupakan situasi pada waktu suatu tuturan benar-benar diucapkan orang, dan situasiluas menyangkut semua pengalaman pembicara (Chaer, 2003; 355)..

6. Leonard Bloomfield dan strukturalis amerika (1877-1949)
Aliran ini berkembang di Amerika setalah Blommfield menerbitkan karyanya yang pertama tahun 1933 dengan judul Language, karyanya ini selalu dikaitkan dengan Strukturalis Amerika. Kemudian Sausure sendiri menyatukan strukturalis itu dengan linguitik yang kemudian dikembanghkan oleh Bloomfield. Aliran ini sangat berkembang di Amerika karena adanya beberapa sebab, di antaranya:
a. permasalahan berangkat pada Bahasa Indian yang belum banyak terperikan dengan cara baru, maka timbullah keinginan untuk memerikannya secara diakronis. Sebab selama ini sejarah indian itu sangat sedikit diketahui orang, makanya sangat susah menelitinya secara historis.
b. Sikap Bloomfield yang menolak pandangan behaviorisme tentang bahasa. Karena ini penelitian bahasa di sini lebih mendasar pada kaitan objek yang dicocokan dengan kenyataan tanpa menghiraukan makna, sebab makna tidak bisa diamati secara empirik.
c. Di ntara linguis itu terjalin hubungan yang sangat baik
Kaum strukturalis ini sering disebut dengan kaum distribusional sebab penekanannya terhadap objek, bentuk-bentuk satuan bahasa diklasifikasikan berdasarkan distribusinya. Contohnya penentuan kata sifat dan kata kerja, seperti pada kata, ‘’mati’’ termasuk kata sifat tapi bisa menjadi kata kerja setelah menjadi frase ’’mati dengan tenang’’. Aliran ini sering juga disebut dengan taksonomi karena aliran ini menganalisis dan menglasifikasikan bahasa berdasarkan hirarkinya (Chaer, 2003; 359).

7. Aliran tagmemik
Aliran tagmemik ini dipelopori oleh L. Pike dari Summar Institute of Lingustic pewaris pandangan Bloomfield. Sifatnya strukturalis dan juga antropologis. Menurutnya satuan dasar dari sintksis berasal dari tagmen (susunan) yaitu korelasi antara fungsi gramatikal atau slot dengan sekelompok bentuk-bentuk kata yang dapat saling dipertukarkan untuk mengisi slot tersebut.
Rumusnya: S: FN+P: FV+O: FN
FN: Frase benda
FV: Frase kerja
Rumus di atas dapat dibaca menjadi fungsi subjek diisi oleh frase nomina diikuti oleh fungsi predikat diisi oleh frase kerja diikuti oleh objek diisi oleh frase nomina. Kemudian fungsi dan bentuk juga ditambah dengan peran dan kohesi (Chaer, 2003; 361).

Kesimpulan
Aliran-aliran Linguistik muncul setelah terjadinya pertarungan antara pandangan lama dengan pandangan baru yang dimunculkan oleh sejumlah ahli lingusitik Moderen di suatu pihak, linguistik tradisional di pihak lain. Siap yang tidak kenal dengan Ferdinan De Sausure? dialah yang pertama memunculkan konsep-konsep baru tentang liunguisitk moderen, tepatnya bisa disebut sebagai penggagas dari linguistik moderen itu sendiri.
Namun perkembangan linguistik selanjutnya melahirkan banyak tokoh-tokoh linguistik yang nyatanya masih melanjutkan pemikiran-pemikiran terdahulu, seperti Blooomfield (strukturalisme Amerika) dan Louis Hjemslev (Glosematik) meneruskan struktural Sausure, MAH Haliday seorang penerus Firth (linguistik sitemik) dan Vilem Mathesius (aliran Praha) yang dilanjutkan oleh Nikolay S. Trubetscoy, Roman Jakobson, serta Morirs Halle.
Jadi, di dalam linguistik struktural itu sendiri terdapat 3 tokoh kunci yang menjadi perkembangan bagi linguistik struktural itu sendiri, di antaranya Sausure, Firth, dan Vilem Mathesius.

DAFTRA BACAAN
Chaer, Drs. Abdul. 2003. Linguitik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Kridalaksana, Harimurti.2005. Mongin Ferdinan De Sausure (1857-1913). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Putra, Heddy Shri Ahimsa. 2006. Strukturalisme Levi Strauss, Mitos dan Karya Sastra. Yokyakarta: Kepel Press.
Kaelan, M.S, Drs. 2002. Filsafat Bahasa. Yokyakarta: Paradigma Offset.

*Mahasiswa Pasca Linguistik Budaya Universitas Andalas

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987