Kamis, 25 Februari 2010

INTERNASIOANAL SEMINAR INDONESIA MALAYSIA IV


MALAY IDENITITY AND MULTICULTURAL DYNAMICS ON CHALENGE FOR 21TH CENTURY
JUNI 07-08 2010
ANDALAS UNIVERSITY CAMPUS ON LIMAU MANIH, PADANG, WEST SUMATRA, INDONESIA.


JOINTLY ORGANIZED BY
FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS ANDALAS, FAKULTI SASTERA DAN SAINS SOSIAL UNVERSITAS MALAYA, BALAI KAJIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL (BPSNT) PADANG.
Padang, 25163
Telp/Fax: 62-751-71227

COTACT PERSON
Unand, Indonesia
M.Yunis (+6281363960136)
Eka Meigalia (+628129712902)
UM Malaysia
Prof. Dr. Hanizah Idris (+60178856665)





1. Latar belakang
Jazirah melayu telah membentuk dirinya sebagai kawasan serumpun namun dengan keberagaman nilai, ide, perilaku, dan karya budaya yang kaya. Perwujudannya adalah keberagaman identitas sehingga membentyk bangunan multicultural. Multikulturalitas itu terbentuk sejak ratusan tahun bahkan ribuan tahun yang lalu. Hal itu tidak saja sebagai bentuk internal spirit melainka juga eksternal responsible. Apablia spirit internal lahir dari kearifan local masyarakat melayu nusantara yang diwarisi dari leluhur mereka, maka respon eksternal merupakan buah dari enteraksi dengan pihak luar melalui kontak dagang; politik; social; dan budaya.
Masing-masing subkultul melayu menjalani dan memakai internal spirit dan berbagai aspek external responsible secara berbeda. Akibatnya, dinamika sosio cultural melayu berlangsung dalam dua domain, yaitu domain internal sub kultur dan domain multi cultural supra sub kultur.dari berbagai dampak yang, prihal yang mengemuka adalah adanya fenomena krisis identitas dan kehilangan orientasi nilai generasi muda melayu dalam menjalani dinamika social budaya internal hampir semua kawasan. Akibatnya, system nilai yang menjadi identitas sub kultur tidak lagi menjadi rujukan prilaku. Sementara itu, secara cross cultural terjadi berbagai bentuk representasi prasangka, sentiment dan konflik, yang menafikan semua tali  temali histories dan sosio cultural melayu yang telah terbina sejak lama.
Tentu saja kondisi itu begitu memprihatinkan. Oleh sebab itu, langkah-langkah rekontruksi nilai-nilai yang relevan dalam memajukan peradaban dan kebudayaan melayu ke masa depa merupakan langkah strategis yang krusial. Salah satu upaya kea rah itu adalah perbincangan lmiah dan dialog cultural secara multidisiplindan nterdisiplin mengevaluasi diri dan identitas, dinamika serta pemberdayaan potensi demi menghadapi tantangan abad 21 yang pasti lebih berat.

2. Tujuan
1. Mendiskusikan identitas cultural dan dinamika multicultural.
2. Mendiskusikan praktik-praktik social, politi, dan cultural melayu nusantara.
3. Mendiskusikan pemberdayaan potensi material dan cultural melayu dalam menghadapi tantangan abad 21.

3. Tema.
Identitas dan dinamika multicultural melayu dalam tatangan abad 21.

4. Sub tema
Sub-sub tema yang berkaitan adalah sebagai berkut;
  1. identitas, sejarah, dan kearifan local melayu nusantara.
  2. etnisitas, nasioalitas, dan multicultural melayu nusantara.
  3. parktik keagamaan, pendidikan,  keilmuan, kesenian, kebahasaan dan kesusasteraan melayu nusantara.
  4. dunia melayu nusantara dalam isu-isu kontenporer komunikasi, hokum, politik, social, gender, rasial, migrasi, tenaga kerja, kepariwisataan, dan peradaban global.
  5. Pemberdayaan potensi ekologi, demografi, teknologi, dan ekonomi bagi kesejahteraan social melayu nusantara.




Padang, 23/3/10

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987