Senin, 01 Maret 2010

SASTRA LISAN BUTUH PENCERAHAN


Oleh: M. yunis
Tidak dapat dipungkiri, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seolah-olah menyudutkan kreativitas masyarakat. Pengaruh-pengaruh dari luar secara tidak langsung telah merobah pola pikir masyarakat Minangkabau. Dalam hal ini, kesalahan tidak bisa ditujukan kepada salah satu kelompok orang saja. Menurut Newton (hukum sebab-akibat) adanya aksi akan memunculkan suatu reaksi. Oleh Karena itu, penyebab hilangnya kerativitas masyarakat tersebut tidak akan terlepas dari beberapa faktor yang signifkan tentunya.
Dengan  dibukanya sistim perdagangan internasional, akan membawa dampak yang lebih besar lagi terhadapat perkembangan masyarakat Minangkabau. Kebebasan keluar masuk terhadap suatu negara, akan memungkinkan cepatnya psroses mobilisasi pola pikir masyarakat. Rasa kekeluargaan yang selama ini diagung-agungkan lambat laun akan terlupakan begitu saja. Filsafat hidup oleh, dari dan untuk kita akan tinggal nama belaka, faham individualisme akan hidup subur di tengah masyarakat Minangkabau. Setiap  individu tentunya akan berpandangan, kemajuan adalah segala-galanya, tidak menghiraukan lagi hubugan interen di antara mereka, sebab sikap antusias untuk  meraih popularitas mendominasi alam pikiran .
Falsafah ‘’adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah’’ tidak seakan  tak relevan lagi dengan kehidupan sekarang, itu ialah bayangan masa lalu  yang sangat ditakuti. Pengaruh budaya luar sebenarnya secara tidak langsung telah menjajah kebudayaan kita. Kemajuan berkiblatkan barat, dan adanya pandangan masyarakat bahwa budaya luar paling sahih, sementara kita tidak mampu mengekspor corak dan kepribadian yang kita miliki, sehingga berkembangnya faham westernisasi dalam tubuh masyarakat kita.
Dengan sangat berat hati, kita harus mengakui bahwa kita telah dilanda bencana global, yang kian hari korbannya semakin berjatuhan. Masyarakat tidak lagi mengindahkan pranata-pranata sebagai alat kontrol sosial, hal ini sudah dianggap kuno dan ketinggalan zaman.
Contohnya sastra lisan Ulu Ambek yang sekarang masih berkembang di Pariaman. Pada awalnya Ulu Ambek menduduki posisi terdepan dalam dinamika kehidupan masyarakat Pariaman sebagai alat komtrol sosial. Dalam sastra lisan ini, terdapat unsur-unsur yang saling terkait antara satu dengan lainnya, aspek budaya tradisi yang merupakan cerminan hidup masyarakat Minangkabau pada masa lalu. Kesimpulannya, apa yang dapat dilihat itulah realiatas yang dapat dijadikan acuan dasar dalam bertindak serta bertingkah laku dalam bersosialisasi dengan masyarakat. Tapi sekarang kejayaan tersebut kian hari kian surut di tengah-tengah masyarakat Pariaman. Bukan tidak mungkin sastra lisan yang satu ini hilang begitu saja.
Untuk mempertahankan, serta untuk mermbangkitkan kembali pola berfikitr masyarakat seperti dulu, membutuhkan usaha yang sangat serius tentunya. Dengan mengadakan penelitian dan pendokumentasian terhadapnya, hendaknya dapat membantu  mempertahankan sastra lisan ini agar tidak hilang dalam peredaran zaman. Terutama kita dapat mengetahi bagaimana masyarakat berdaptasi dan belajar dari kesenian tradisi yang dihasilkannya, sehingga dalam pewarisan nilai-nilai tersebut tidak terjadi pemutusan generasi (stagnasi). Walaupun hal ini terlihat sulit, secara moral kita wajib memperetahankan kekayaan yang kita miliki ini. Namun, untuk melakukannya, tidaklah segampang yang kita bayangkan. Kita sebagai peneliti harus menempuh proses-proses yang sangat panjang, dan membutuhkan biaya yang cukup besar, mungkin  inilah  yang di namakan perjuangan.
Untuk lebih terarahnya sebuah penelitian, penulis akan berusaha memberikan seidikit gambaran dalam melakukan sebuah penelitian. Melalui objek pennelitian ini, seorang peneliti harus mampu mengkaji makna, bagaimana sastra lisan tersebut dapat  membentuk kepribadian dan jati diri masyarakat Minangkabau. Kita tentunya dapat melihat dari beberapa aspek tertentu : apa fungsi penampilan sastra lisan sebenarnya?, apa makna sastra lisan tersebut bagi masyarakat?, dan bagaimana sastra lisan dapat membentuk kepribadian masyarakat?.
Berkaitan dengan itu, kajian ini harus mebahas tentang usaha dalam mengatasi berbagai masalah yang ditimbulkan pada bagian awal tadi. Dalam menanggulangi masalah tersebut diperlukan cara-cara yang kongkrit, sehingga sastra lisan tersebut benar-benar dapat menggambarkan dan memperlihatkan unsur-unsur yang dapat membentuk kepribadian, mantap dalam bersosialisasi. Sehingga masyarakat Minangkabau tidak lagi mengimpor corak-ragam budaya dari luar.
Dalam melakukan sebuah penelitian tentu mempunyai tujuan, baik bagi ilmu penegetahuan, bagi masyarakat dan sekurang-kurangnya bagi peneliti itu sendiri. Secara umum penelitian ini hendaknya bertujuan menggali makna sastra lisan bagi masyarakat dan mendeskripsikannya secara mendetil, sehingga dapat direlevansikan kembali dalam kehidupan masyarakat, kerena budaya adalah salah satu kebanggaan kita yang patut depertahankan. Secara khusus, sebuah penelitian hendaknya dapat mendeskripsikan secara mendetil tentang makna sastra lisan pada saat penampilan, kedua sebagai motor penggerak dalam membangkitkan kembali semangat generasi muda untuk mewarisi peninggalan nenek moyang kita, ketiga membuat sastra lisan lebih dikenal  oleh dunia luar.
            Di samping tujuan, sebuah penelitian tentu pula juga manfaatnya. Salah satunya penelitian hendaknya bermanfaat dalam melestarikan kebudayaaan daerah, yang merupakan salah satu kebudayaan Nasional bangsa Indonesia. Penelitian ini harus mampu membuka jalan bagi generasi muda dan menunjukan pada mereka betapa berharganya budaya kita, sehingga warisan ini ini dapat dilestarikan sepanjang masa. Dan juga, penelitian tersebut mampu menunjukan kepedulian kita terhadap budaya tradisi, yang merupakan milik kolektif masyarakat Minangkabau. Karena berharhargaannya budaya kita dipandang dan disegani oleh masyarakat luar, tergantung pada kita sebagai pemilik budaya itu sendiri. Apakah kita menghargai budaya kita tersebut?, apabila kita sendiri tidak menghargainya, maka sangat mustahil masyarakat luar akan menghargai. Untuk itu sangat perlu membangkitkan kembali kesadaran kita untuk menghargai dan mempertinggi rasa kepemilikan kita terhadap kesenian budaya tersebut. Maka melalui penelitian inilah dapat kita mulai melangkah dalam menuju masa depan yang cemerlang. 
Penelitian ini, juga harus bermanfaat bagi peneliti itu sendiri, sekurang-kurangnya menambah wawasan dan pengetahuan peneliti  dalam bersosialisasi dengan masyarakat. Dengan pengalaman meneliti dalam observasi,  peneliti  hendaknya mampu meyesuaikan diri dengan masyarakat setempat. Dengan terjun kelapangan, peneliti akan melihat secara langsung  realitas sosial yang sedang gencar-gencarnya di bicarakan, sehingga  akan membentuk mentalitas peneliti sendiri.
            Sebelum penelitian dilakukan alangkah lebih baiknya peneliti melakuan tinjauan kepustaka. Karena, kajian pustaka dapat dijadikan sebagai pedoman dalam penelitian yang akan dilalakukan. Dan juga kajian pustaka membicarakan tentang penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, yang tentunya memiliki relevansi dan dapat dianalogikan dengan penelitian ini yang terkait dengan metode, kerangka teori dan hasil penelitian.
Pernelitian sastra lisan Minangkabau pernah di lakukan oleh berbagai peneliti sebelumnya. Seperti yang dilakukan Dosen-dosen Fakultas Sastra Unand, pertama Adilla (1989) meneliti sastra lisan pantun dengan judul ‘’pantun dalam pertunjukan bagurau’’. Penelitian ini pendeskripsian bagurau yang merupakan salah satu pertunjukan kesenian tradisi Minangkabau. Hadirnya pantun dalam pertunjukan bagurau merupakan hal yang sangat dominan. Sampiran dapat dibentuk dengan memperhatikan keadaan alam dan lingkungan sekitar (Adilla 1989: 35 dan 38).
            Kedua, Adri Yetti Amir (1990) merangkum sejarah penelitian sastra lisan Minangkabau. Tulisan ini mengumpulkan perkembangan penelitian dari sastra lisan Minangkabau. Masalah dilengkapi dengan kehadiran sastra lisan di tengah-tengah masyarakat Minangkabau, bentuk pertunjukan sastra lisan, serta cara pengumpulan sastra lisan di tengah masyarakat.
            Ketiga, analisis sastra lisan Minangkabau dilakukan oleh Bakar dkk (1981) dengan objek pantun, mantra dan pepatah. Dalam penelitian ini bakar lebih cenderung mengiventaris pantun, mantra dan pepatah. Bakar menyatakan pantun terdiri dari empat baris, enam baris, delapan baris dan lima baris. Sampiran dan isi mempunyai rima ab/ab, abc/abc, abcd/abcd, dan adakalanya aa/aa.
            Kempat, Evakrisna (1991), mengenai sastra lisan saluang sebagai kesenian rakyat Minangkabau. Eva hanya membahas keberadaan saluang di tengah-tengah masyarakat Minangkabau.
            Dengan adanya penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, sekurang-kurangnya dapat memberikan inspirasi dan sekaligus pembuka jalan bagi peneliti untuk meneliti sastra lisan di Minangkabau. Memang penelitian di atas tidak begitu relevan dengan penelitian yang akan dilakukan dan juga tidak berkaitan secara metodologis serta teoritis terhadap penelitian yang akan dilakukan. Tapi hal tersebut sangat beperan penting bagi kelancaran dan dapat dijadikan acuan dasar bagi seorang peneliti..
            Agar sastra lisan tersebut tetap bertahan di tengah-tengah masyarakat, maka ini adalah salah satu cara yang harus ditempuh dalam membangunkan kembali budaya tradisi yang sudah lama tertidur.  
Mahasiswa Pasca Linguistik Unand

Tidak ada komentar:

Link

Pemberian tahu!

  • Selamat kepada Nurhasni, Alumni Sastra Minangkabau Angkatan 2000 yang telah memperoleh beasiswa dari FORD FOUNDATION INTERNATIONAL FELLOWSHIPS PROGRAM DI INDONESIA , untuk melanjutkan program Masternya. Semoga selalu berjaya!
  • Selamat kepada Ibu Drs. Zuriati, M. Hum sudah diterima di Universitas Indonesia untuk melanjutkan program Doktor, semoga jalannya selalu dilapangkan oleh Allah SWT.Amin!
  • selamat kepada Hasanadi. SS, telah diterima di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Blog Alternatif

Siapakah Peneliti Melayu Yang Paling Anda Kagumi?

Istana

Istana
Rumah Kami

Video

Loading...

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto saya
Pariaman, Sumatra Barat, Indonesia
SEMOGA TULISAN TERSEBUT BERMANFAT BAGI PEMBACA, DILARANG KERAS MENGUTIP BAIK KATA-KATA, MAUPUN MENCIPLAK KARYA TERSEBUT, KARENA HAL TERSEBUT ADALAH PENGHIANATAN INTELEKTUAL YANG PALING PARAH DI DUNIA INI, KECUALI MENCANTUMKAN SUMBERNYA.

Bagimana Penilaian Anda tentang Blog ini?

Cari Blog Ini

Memuat...

Daftar Blog Saya

Pengikut

Sastra Minangkabau Headline Animator

SEJARAH MARXIS INDONESIA

UNIVERSITAS

GEDUNG KESENIAN DAN TEATER

LOVE

Al-Qur'an dan Al-Hadist


Tan Malaka

1897 - 1949

1921 SI Semarang dan Onderwijs

1925 Menuju Republik Indonesia (Naar de 'Republiek Indonesia')

1926 Semangat Muda

Aksi Massa

1943 Madilog

1945 Manifesto Jakarta

Politik

Rencana Ekonomi Berjuang

Muslihat

1946 Thesis

1948 Islam Dalam Tinjauan Madilog

Pandangan HidupKuhandel di Kaliurang

GERPOLEK (GERilya - POLitik - EKonomi)

Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Tan Malaka (1921)

Sumber: Yayasan Massa, terbitan tahun 1987

Kontributor: Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)

Kekuasaan Kaum – Modal Berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan.
Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan.

Kata Pengantar Penerbit

Lagi sebuah buku kecil (brosur) Tan Malaka berjudul “SI Semarang dan Onderwijs”, yang ejaan lama telah kita sesuaikan dengan ejaan baru, dan juga telah kita tambah dengan daftar arti kata-kata asing hal 34-36.

Brosur ini diterbitkan di Semarang pada tahun 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam). Karya pendek Tan Malaka ini sudah termasuk: “Barang Langka”. Brosur ini merupakan pengantar sebuah buku yang pada waktu itu akan ditulis oleh Tan Malaka tentang sistem pendidikan yang bersifat kerakyatan, dihadapkan pada sistem pendidikan yang diselenggarakan kaum penjajah Belanda. Bagaimana nasib niat Tan Malaka untuk menulis buku tentang pendidikan merakyat itu, kami sebagai penerbit kurang mengetahuinya. Mungkin Tan malaka tidak sempat lagi menulisnya karena tidak lama kemudian beliau dibuang oleh penjajah Belanda karena kegiatan perjuangannya dan sikapnya yang tegar anti kolonialisme, imperialisme dan kapitalisme. Terserah kepada penelitan sejarah Bangsa Indonesia nantinya untuk menelusuri perkara ini. Yang jelas tujuan Tan Malaka dalam pendidikan ialah menciptakan suatu cara pendidikan yang cocok dengan keperluan dan cita-cita Rakyat yang melarat !

Dalam hal merintis pendidikan untuk Rakyat miskin pada zaman penjajahan Belanda itu, tujuan utama adalah usaha besar dan berat mencapai Indonesia Merdeka. Tan Malaka berkeyakinan bahwa “Kemerdekaan Rakyat Hanyalah bisa diperoleh dengan DIDIKAN KERAKYATAN” menghadapi “Kekuasan Kaum Modal yang berdiri atas DIDIKAN YANG BERDASARKAN KEMODALAN”.

Jadi, usaha Tan Malaka secara aktif ikut merintis pendidikan kerakyatan adalah menyatu dan tidak terpisah dari usaha besar memperjuangkan kemerdekaan sejati Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Untuk sekedar mengetahui latar-belakang mengapa Tan Malaka sebagai seorang pejuang besar dan revolusioner itu sadar dan dengan ikhlas terjun dalam dunia pendidikan pergerakan Islam seperti Sarekat Islam ? Tidak lain karena keyakinannya bahwa kekuatan pendorong pergerakan Indonesia itu adalah seluruh lapisan dan golongan Rakyat melarat Indonesia, tidak perduli apakah ia seorang Islam, seorang nasionalis ataupun seorang sosialis.

Seluruh kekuatan Rakyat ini harus dihimpun dan disatukan untuk menumbangkan kolonialisme Belanda di Tanah Air kita. Persatuan ini harus di tempat di kawah candradimukanya perjuangan menumbangkan kolonialisme dan imperialisme. Inilah mengapa Tan Malaka pun tidak ragu-ragu dan secara ikhlas terjun dalam dunia pendidikan masyarakat Islam. Dalam lingkungan pendidikan Serikat Islam yang merupakan pergerakan rakyat yang hebat pada waktu itu. Jangan pula dilupakan bahwa usia Tan Malaka pada waktu itu masih sangat muda.

Memasuki ISI dari karya pendek Tan Malaka ini, dikemukakan oleh Tan Malaka TIGA TUJUAN pendidikan dan kerakyatan sebagai berikut :

1. Pendidikan ketrampilan/Ilmu Pengetahuan seperti : berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa dsb. Sebagai bekal dalam penghidupan nanti dalam masyarakat KEMODALAN.
2. Pendidikan bergaul/berorganisasi serta berdemokrasi untuk mengembangkan kepribadian yang tangguh, kepercayaan pada diri sendiri, harga diri dan cinta kepada rakyat miskin.
3. Pendidikan untuk selalu berorientasi ke bawah.

Si Kromo, si-Marhaen, si-Murba tanpa memandang kepercayaan agama, keyakinan dan kedudukan mereka, dalam hal ini termasuk golongan-golongan rakyat miskin lainnya.

Ketiga TUJUAN pendidikan kerakyatan tersebut telah dirintis oleh Tan Malaka dan para pemimpin Rakyat lainnya seperti Ki Hajar Dewantara, Muhammadiyah, pesantren-pesantren Nahdatul Ulama, SI dsb. Semua usaha, pengorbanan mereka itu tidak sedikit sahamnya dalam Pembangunan Bangsa/National Building dan dalam membangkitkan semangat perjuangan memerdekakan Rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan. Merek atelah memberikan yang terbaik dalam hidup mereka kepada Bangsa dan Rakyat Indonesia. Mereka telah tiada, tetapi jiwanya yang menulis, jiwa-besar mereka, pikiran-pikirannya yang agung akan tetap hidup sepanjang zaman.

Akhir kata dikutip di bawah ini ucapan tokoh besar pergerakan kemerdekaan dan pemimpin besar Presiden Amerika Serikat ABRAHAM LINCOLN sebagai berikut :

“WE MUST FIRST KNOW WHAT WE ARE, WHERE WE ARE AND WHERE WE ARE GOING, BEFORE SAYING WHAT TO DO AND HOW TO DO IT”

”Pertama-tama harus diketahui Apa kita, dan Dimana Kita serta Kemana Kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukanya”.

Penerbit,

Yayasan Massa, 1987